
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak ... apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget yak... thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Dita terbangun dari tidurnya, karena tiba-tiba ia hendak buang air kecil ditengah malam itu. Jam di dinding nya menunjukkan tepat di angka satu.
"Duh jadi kangen Anan yang selalu ada buat aku kapan pun, kalo si Nita mah ih bukannya jagain aku malah yang ada aku yang jagain dia." gerutu Dita.
"Nit, anterin pipis yuk." Dita membangunkan Anita.
"Hoaaaammm tinggal pipis ke kamar mandi sana aja pake bangunin aku." sahut Anita bangun dari tidurnya.
"Lagian hantu sih ***** banget kaya kamu." Dita berdiri menuju kamar mandi di ikuti Anita di belakangnya.
Dita menyelesaikan hajatnya dari dalam kamar mandi.
"Nit, kok lukisannya kebuka?" tanya Dita.
"Bukan aku Ta yang buka, mungkin ke tiup angin."
"Nit dengerin deh, kedengeran gak lagu Jawa tuh musik gamelan."
"Iya aku denger."
Dibelakang Anita dan Dita sudah berdiri hantu wanita di lukisan itu, wanita itu berlenggak lenggok menari dengan kibasan selendangnya ke arah Dita dan Anita.
"Ta, kok aku ikut goyang yak gak sadar ini." ucap Anita heran sambil ikut menari gerakan tarian gambyong.
"Iya Nit, ini kenapa aku juga ikutan yak."
"Kamu bawa duit gak?" tanya Anita.
"Buat apa?" bisik Dita sambil menari.
"Biasanya kan kalo penari gini minta di sawer kali aja dia pengen di sawer." bisik Anita.
"Ah ngaco kamu Nit, duh mbak yu, Tante udahan narinya aku capek masih ngantuk mau tidur, besok aja olahraganya." ucap Dita ke arah hantu wanita yang masih asik menari itu.
Setelah satu jam mereka menari musik gamelan Jawa itu akhirnya berhenti dan membuat mereka berhenti menari.
"Capek Ta, capek juga aku." Anita terduduk lemas di atas kasur.
"Aaahhhh aku juga Nit." Dita membaringkan tubuhnya di atas kasur kamar tamu rumah Anan.
Hantu wanita itu tersenyum pada Dita dan menghampiri Dita. Ditangan hantu wanita itu terdapat tusuk konde yang waktu itu pernah menusuk telapak tangan Dita. Dia melakukan hal yang sama kali ini menarik tangan Dita hendak menusuk telapak tangan Dita namun Anita bergerak cepat menghalanginya.
"Tuh kan Nit aku gak mimpi waktu itu, dia yang udah nusuk tangan aku." ucap Dita.
"Kamu pergi Ta cari Anan, biar dia aku yang tahan di sini." ucap Anita masih menahan hantu wanita itu.
__ADS_1
Dita tak bisa membuka pintu kamar itu berkali-kali ia mencoba membukanya namun tak berhasil.
"Anan please... kumohon dengarkan aku, tolong aku Nan." ucap Dita panik.
Berkali-kali Dita mencoba membuka pintu namun Anan tak kunjung datang.
"Ish si Anan pules banget kali yak... please Anan dateng dong." Dita masih berusaha membuka pintu sampai Anita tak dapat menahan hantu wanita lalu menghilang.
Hantu wanita itu lalu menusuk punggung Dita dengan tusuk konde nya.
"Aaarrgghhhh henti... kan...!!" pekik Dita.
Dita terjatuh kelantai perlahan mundur ke sudut kamar, bagaimana bisa pelayan yang begitu banyak di rumah itu tak mendengarnya. Hantu wanita itu makin mendekat, Dita berusaha membaca ayat kursi meski suaranya tak kunjung keluar sampai akhirnya hantu wanita itu mundur perlahan.
BRAK...!!! Anan mendobrak pintu kamar tamu yang Dita tempati dengan sekuat tenaga.
"Kamu gak papa Ta?" Anan berusaha mengangkat tubuh Dita. Mengangkatnya ke atas ranjang.
"Aku gak mimpi Nan, ini sakit banget." tangis Dita menyentuh ke punggungnya.
"Ada apa ini?" Tanya Bu Mey yang datang menghampiri Dita dan Anan.
"Lukisan itu Bu, dia menusuk ku." ucap Dita menunjuk ke arah lukisan wanita berselendang itu.
"Sebelah mana yang di tusuk Ta?" tanya Anan memperhatikan sekeliling tubuh Dita.
"Ini punggung aku Nan." sahut Dita.
"Baik den." Bu Mey langsung melaksanakan perintah Anan dan kembali dengan obat-obatan yang disuruh Anan bawa tadi.
"Sebelah mana Den? biar saya obati." ucap Bu Mey.
"Tak ada lukanya Bu." ucap Anan.
Sementara Dita masih menangis bersembunyi di balik selimutnya.
"Saya gak ngerti Den, tadi katanya luka." ucap Bu Mey heran.
"Saya juga heran Bu lukanya gak ada." sahut Anan.
"Ya sudah Bu, sebaiknya ibu kembali ke kamar lagi, istirahat saja." ucap Anan.
"Baik Den." Bu Mey pergi dari kamar itu dan kembali lagi ke kamarnya dengan perasaan bingung.
"Udah Ta, udah gak usah nangis."
"Habisnya kamu gak percaya sama aku, nih ya aku buktiin." Dita melempar kaus yang ia pakai ke lantai lalu menunjukkan bagian punggungnya sedikit ke Anan dan berusaha menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Gak ada Ta, halus mulus gini gak ada bekas tusukannya." Anan meraba punggung Dita.
"Tadi aku ditusuk di situ Nan, sakit banget rasanya." Sahut Dita kesal.
__ADS_1
Anan menggeser tali bra Dita menurunkannya dari pundak.
"Aaarrghh kamu ngapain copot tali beha aku ?!" pekik Dita.
"Lah kata kamu sebelah sini lukanya ya kali aja ketutupan tali cuma mau mastiin doang kok gak ada maksud apa-apa." Anan membela diri.
"Modus nih, bilang aja mau ngintip, ambilin tuh kaos aku di bawah..!"
"Iya yak maaf ni kaosnya."
"Jangan ngintip balik badan sana!"
Dita memakai kaus nya kembali.
"Kamu kalo gak percaya sama aku tanya deh sama Anita." Dita celingukan mencari Anita bahkan sampai ke kamar mandi.
"Anita mana ya Nan?" Tanya Dita.
" Kok tanya sama aku? mana aku tahu kan dia tidur sama kamu."
"Tadi dia terpental terus ngilang." ucap Dita mencari Anita di kolong kasur.
"Emang bisa Anita ada disitu?"
"Ya kali aja Nan."
"Udah jam tiga, dah tidur lagi sana."
"Gak mau aku takut, temenin."
"Bisa di gerebek Bu Mey kita tidur bareng."
"Aku kan cuma bilang temenin bukan ngajak tidur bareng Nan...!" Dita melotot ke arah Anan.
"Iya maksudnya tidur satu kamar gitu..."
"Ya udah sih kamu keluar dari raga Manan."
"Kalo aku keluar terus dia kan gak pake alat bantu kaya di ICU nanti kalo dia ikutan lewat gimana?"
"Oh iya yak, ya udah pintu dibuka aja kamu tidur di sofa luar depan kamar, bawa Sofanya ke depan pintu sini."
"Ih ribet banget sih."
"Anan mah... pleaseeee..." Dita memasang tatapan maut memohon pada Anan.
"Oke oke aku turutin, huh untung cinta." Anan menggeser sofa ke depan pintu Dita menemani Dita tertidur sampai subuh tiba.
***
To be continued
__ADS_1
Happy Reading... 😘😘😘