Pocong Tampan

Pocong Tampan
Permintaan Hantu Nyai


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍


***


"Si Tasya tidur sama Pia ya emang gak sempit kan kasurnya cuma satu." ucap Anan yang sudah terbaring di atas kasurnya tanpa lapisan apapun menutupi dada bidangnya.


"Si Pia nya gak mau tidur di kamar tamu, tadinya malah Tasya maunya tidur sama Bu Mey." sahut Dita sambil membersihkan wajahnya dengan skincare malam hari.


"Segitu takutnya dia ya, sampai nyari temen buat tidur."


"Daripada dia minta tidur sama aku nanti..."


"Enggak enggak enak aja nanti gangguin kita lagi." Anan langsung memotong pembicaraan Dita.


"Gangguin apa?"


"Gangguin nyicil buat kepala bayi." Anan langsung menarik Dita menuju dekapannya.


***


"Maafin Papi Nan, maafin papi, hiks hiks." Arjuna menangis memeluk Anan.


"Papi kenapa sih kok nangis?" tanya Anan disekitarnya hanya ada ruang gelap tanpa ada bidang pembatas apapun di sekeliling Anan.


"Maafin Papi ya Nan, maafin papi." ucap Arjuna masih menangis.


"Papi, papi, papiiii...!" teriak Anan membangunkan Dita yang terbaring disampingnya.


"Yanda kenapa kok keringetan pucat gini?" tanya Dita membangunkan Anan lalu memberinya segelas air putih.


"Minum dulu." ucap Dita.


Anan langsung meneguk airnya sampai habis.


"Aku mimpi ketemu Papi Ta, terus dia meluk aku nangis dan bilang maaf ke aku." Anan mencoba menjelaskan mimpinya.


"Minta maaf?" tanya Dita.


"Iya dia bilang maafin papi ya Nan sambil nangis."

__ADS_1


"Mungkin hanya mimpi Nan, masih jam dua pagi dah tidur lagi." perintah Dita menyelimuti Anan kembali yang terbaring.


"Tapi aku jadi kepikiran sama papi Ta."


"Udah gak usah di pikirin, nanti kalau om Kevin sudah sembuh kita cerita sama Tante Dewi biar dia yang bantu menyelidiki keadaan papi sama mami kamu di Jepang." ucap Dita.


"Ta itu siapa ya?" Anan menunjuk sosok perempuan yang duduk bersimpuh sambil menunduk.


"Astaga itu kan Marina jadi dia dari tadi disitu, jangan-jangan dia ngintip olahraga kita tadi lagi." Dita menimpuk sosok Marina dengan bantal.


Sosok hantu Marina menghilang dan tertawa.


"Yeee udah berani ngeledek sekarang." ucap Dita lalu melanjutkan tidurnya kembali menutup wajahnya dengan selimut dan mendekap Anan.


***


"Non ini ayamnya yang hidup mau buat apa?" tanya Pia membawa ayam jago yang masih hidup dari pasar.


"Di potong lah terus darahnya taruh di mangkok yak!" perintah Dita.


"Buat apa non? wah jangan-jangan non pesugihan ya?"


"Sembarangan, udah sih diem aja tuang darahnya ke mangkok, nanti Bu Mey pingsan lagi lho." bisik Dita.


"Oh buat Bu Mey hehehe." ucap Pia asal sambil tertawa.


Dita hanya menoleh ke Pia ikut tertawa akibat ke salah pahaman Pia.


"Nih darahnya, aku mau nanya dong sama nyai?" ucap Dita meletakkan darah tersebut di depan lukisan nyai.


"Hmmm kurang sedap sih tapi tak apalah, apa yang ingin nona tanyakan?" tanya hantu nyai itu sambil menjilati darah ayam di mangkuk.


"Dih tadi mah kalau mau makan tuh soto ayam gitu apa ayam bakar enak tuh bumbunya dijilatin, lah ini darah hiiyy." Dita bergidik jijik melihat cara hantu nyai itu makan.


"Cepat apa yang ingin kamu tanyakan?"


Nyai mulai tak sabaran dengan keberadaan Dita.


"Hubungan kamu sama papi nya Anan, pak Arjuna." sahut Dita.


"Kalau cuma darah seperti ini, tak ada versi lengkap yang bisa ku ceritakan." sahutnya.


"Eh ngelunjak si nyai, aku jodohin sama om item tau rasa nih entar."


"Hahahahahah... pocong item maksud kamu, pocong yang terlantar itu aku tak sudi!" sahut hantu nyai.


"Bukan om item, badannya besar keren gagah gueeedeee banget cocok dah sama nyai."

__ADS_1


"Tak mau! selama Arjuna belum mati aku hanya setia padanya." sahut hantu nyai menghabiskan tetes darah terakhirnya.


"Terus kalau mau denger versi lengkap kamu sama papi Arjuna apa dong syaratnya?" tanya Dita.


"Darah manusia, perjaka atau perawan lebih segar dan enak." sahutnya.


"Duh makin berat aja nih, masa iya aku minta stok darah di rumah sakit terus aku tanya sama yang jaga ini bedain darah perawan sama perjaka kaya apa ya? yang ada aku di sambit sama yang jagain." sahut Dita menggerutu.


"Terserah, dulu Arjuna mudah sekali membawakan ku itu, selebihnya kan kuberi kau harta berlimpah seperti Arjuna." hantu nyai tertawa dengan sangat menyeramkan.


"Oh ya, iyakah wah harta berlimpah wah... aku enggak mau, udah punya harta tuh." ucap Dita sedikit sombong.


"Baiklah, aku adalah istri Arjuna, kami dipertemukan saat dia mencari wangsit di laut selatan."


"Ngapain sih papi Arjuna cari pangsit sampai ke laut selatan, di sebrang sana aja tukang bakmi enak banyak yang ada pangsitnya." ucap Dita memotong ucapan hantu nyai.


Hantu nyai tiba-tiba pergi menghilang meninggalkan dita.


"Lah dia ngambek, huuuu awas lho enggak bakal aku sediain darah lagi." sahut Dita menunjuk lukisan nyai dengan jari tengahnya.


"Sayang ngapain? ayo temenin sarapan terus ke rumah sakit." Anan menegur Dita dari depan pintu kamar yang dia buka.


"Oh aku lagi kepoin hubungan nyai sama papi Arjuna mau tanya-tanya aja eh dia malah minta aneh-aneh." sahut Dita menghampiri Anan dan menutup pintu kamar itu.


"Minta aneh-aneh gimana?" tanya Anan penasaran.


"Iya dia minta darah perawan atau perjaka, ya mana aku tahu ya seandainya aku ke bank darah yang di rumah sakit kamu tus aku tanya Mbak suster yang mana darah perawan apa perjaka, auto di suntik rabies aku sama susternya." ucap Dita kesal.


Anan tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Dita yang sangat lucu baginya.


"Lagian kamu syarat kayak gitu di pikirin, nanti juga kalau dia mau curhat dia curhat gara-gara nyariin papi, kasih aja darah ayam lah." ucap Anan.


"Iya ya namanya cewek pasti suka curhat, eh Tasya rajin banget bersih-bersih." sapa Dita.


"Iya non, saya bingung mau ngapain jadi saya kerja aja bersih-bersih sama kayak Pia."


"Waduh mana panggil aku non lagi, panggil aja Dita, kamu tuh saya bawa kesini buat jadi sahabat saya jadi temen saya."


"Terus saya gak ngapa-ngapain gitu, wah gak tau malu saya udah di tampung disini." ucap Tasya.


"Hmmm ok deh kamu jadi asisten saya, segala keperluan saya kamu yang siapin okey?" tanya Dita


"Siap non."


"Panggil Dita aja, nah siap-siap gih kita kerumah sakit." ajak Dita.


****

__ADS_1


To be continued...


Happy Reading... jaga kesehatan ya teman-teman... 😘😘😘


__ADS_2