
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Jangan bosen juga bacanya ya...
Happy Reading 😊😊😊
*****
Tiba-tiba dari arah kanan Dita muncul sebuah bis berisikan penumpang yang oleng menuju ke arah Dita.
"DITA.....!!!"
Tasya berteriak sekuat tenaganya. Anan langsung menarik Dita sampai mereka terjatuh. Tubuh Dita menimpa tubuh Anan.
"Kalian gak apa kan?" tanya Tasya.
"Aku gak apa kok Sya," sahut Dita.
"Tapi aku yang kenapa-napa ini berat lho," ucap Anan kesakitan karena tertindih tubuh Dita.
"Sembarangan, emangnya aku berat banget apa," Dita menopang tubuhnya dengan tangannya di atas dada Anan.
"Awwww... makin sakit aja tau...!" pekik Anan.
Tasya membantu Dita berdiri dan membantu membersihkan pakaian Dita dari debu jalanan.
Bis tersebut menabrak pengendara motor yang datang dari arah berlawanan. Pengendara tersebut terpental beberapa meter dari motornya dan naas kepalanya terlindas truk tronton yang melintas. Banyak saksi mata yang berteriak kala melihat kepala pengendara itu terlindas termasuk Dita dan Tasya. Dita yang tak sanggup melihat bersembunyi di bahu Anan yang juga menyembunyikan kepalanya sehingga dahi mereka bersentuhan tanpa sadar.
"Ta itu lihat!" Tasya menunjuk hantu pengendara motor itu yang keluar dari tubuhnya dan kebingungan menyaksikan orang-orang yang mengerumuni tubuhnya yang tewas seketika.
"Jangan lihat Sya, pura-pura gak lihat, " bisik Dita.
Anan dan hantu pengendara itu tak sengaja bertatapan. Hantu itu menghampiri Anan.
"Dia kemari," ucap Anan langsung bersembunyi di balik tubuh Dita.
"Makanya jangan di liatin, udah sekarang kita balik badan aja, kita pulang Sya... Tasya? astagfirullah dia malah kepo ikut berkerumun di sana sama Doni, ampun dah," Dita menepuk dahinya sendiri.
"Dita, ini mas nya ngeliatin aja," ucap Anan masih bersembunyi di balik tubuh Dita dengan memegangi pinggang Dita.
"Sssttt udah sih jangan berisik, diem aja udah pura-pura gak lihat," bisik Dita.
"Kalian gak bisa nipu saya, kalian bisa lihat saya," ucap hantu itu.
Tadinya Dita hanya memandangi kaki si hantu yang kulitnya mengelupas akibat terseret di aspal jalan, lama-lama tatapan Dita naik ke tubuh si hantu yang tak ada luka tapi penuh tetesan darah. Dita akhirnya memberanikan diri mengangkat kepalanya untuk melihat wajah si hantu yang ternyata hancur. Tengkorak yang retak dengan kulit mengelupas memperlihatkan daging pipi yang penuh darah segar. Bola matanya yang satu lepas dan satunya lagi hampir lepas. Mulutnya menganga tanpa terbungkus kulit lagi.
Meski terbiasa dengan para hantu, tapi tetap saja kaki Dita gemetar seakan tak kuat lagi menopang tubuhnya. Anan tak sengaja juga melihat wajah si hantu dan...
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaa...!!! Anan berteriak sambil berlari menarik Dita tak tau arah tujuan.
Mereka tak sadar memasuki sebuah masjid yang di dalamnya sedang di adakan acara akad nikah.
Anan dan Dita tak sadar langsung duduk di hadapan meja penghulu.
"Ini pasangan yang mau di nikahkan?" tanya Pak penghulu.
"Bukan pak itu anak saya baru sampai," ucap Pria di sampingnya.
"Maaf, maaf banget, kamu sih main duduk aja di sini," Dita menyikut Anan.
"Kan panik Ta, lagian mana tau kalau ada acara akad nikah gini, maaf ya pak maaf semuanya," ucap Anan.
Keduanya langsung pindah ke belakang bersama tamu lainnya menyaksikan acara akad nikah itu.
"Hantunya masih ngikutin gak?" bisik Anan.
"Gak mungkin lah, Ini kan rumah ibadah, gak mungkin dia masuk sini," Dita balas berbisik.
Ponsel Dita berbunyi membuat semua yang ada di sana menatap Dita.
"Hehehe maaf ya," ucap Dita yang menarik Anan keluar area masjid.
"Gak sopan kita ada di sana tau, halo kenapa Sya?"
"Kamu dimana Ta?" tanya Tasya dari seberang sana.
"Aku ada di masjid Agung nih, tadi sembunyi dari hantu tadi," sahut Tasya.
"Ya udah saya kesana, saya juga tadi lari-larian dari dia, tunggu ya," Tasya menutup sambungan ponselnya.
Akhirnya Dita dan Tasya bertemu di depan gerbang masjid.
"Doni mana Sya?" tanya Dita.
"Saya jadiin tumbal, dia di kejar sama hantu tadi hihihi," sahut Tasya.
"Pak bos pucat banget mukanya?" tanya Tasya saat melihat Anan.
"Takut dia hihihi," Dita menutup mulutnya saat menertawakan Anan dengan telapak tangannya.
Anan meringis kesakitan karena sikunya terluka dan berdarah.
"Kita pulang aja sekarang Sya, kamu ikut aku pulang aja biar nanti aku obati, " ucap Dita pada Anan.
"Gak usah makasih gue bisa kok, obati sendiri," sahut Anan.
"Terus kamu gak mau di bayar gitu?" tanya Dita.
"Oh iya gue belum di bayar," Anan pun akhirnya mengikuti Dita pulang.
"Tau gak tadi kan helm nya hancur ya terus pas di buka rambut sama kulit kepalanya nempel di helm eh otaknya berceceran dimana-mana pas helm nya di angkat idih mengerikan Ta," ucap Tasya menjelaskan
__ADS_1
"Hueeeekkkk...." Anan langsung menembakkan isi perutnya ke selokan tepi jalan karena mual mendengar penjelasan Tasya.
"Dih kamu kenapa?" tanya Dita.
Anan tak menjawab malah menunjuk Tasya karena masih mengeluarkan isi perutnya.
"Hueeekkk...!!"
Dita memijit tengkuk Anan.
"Beliin minum Sya," pinta Dita.
Tak berapa lama Tasya kembali dengan botol air mineral di genggamannya.
"Nih..." Tasya menyerahkan pada Dita.
"Coba minum du..."
Belum juga Dita mengakhiri ucapannya, Anan sudah meraih botol di tangan Dita dan meneguknya sampai habis.
"Lain kali kalau ngomong di jaga dong, masa hal menjijikan kayak gitu lu ceritain gitu aja," protes Anan pada Tasya.
"Lah, kita mah udah biasa menghadapi hantu kayak gitu, malahan pak Bos lebih pro," sahut Tasya.
"Tapi gue kan bukan pak Bos lu!" sahut Anan.
"Sudah...sudah... hentikan...! tuh jadi kayak sinetron kan bahasa aku barusan, udah lah buruan ayo jangan di jalanan kaya gini, mana malu-maluin aja pake muntah pinggir jalan," Dita bersungut-sungut.
"Iya maaf habisnya sih dia..."
"Stop!"
Telunjuk Dita mendarat tepat di bibir Anan, membuat pria itu langsung berhenti berucap dan seolah tubuhnya ikut membeku dengan sentuhan Dita yang tiba-tiba.
Tasya mengamatinya dengan penuh suka, kedua tangannya menyatu gemas sambil berjingkrak-jingkrak pelan.
"Aarrghh lupa ih kamu kan habis muntah...!" Dita mengusap telunjuknya di pakaian Anan.
"Ih emang gue najis apa pakai di usap ke baju gue!" pekik Anan.
Dita membiarkan teguran Anan dan melanjutkan perjalanan pulangnya.
"Buyar sudah adegan romantis barusan!" gumam Tasya mencibir Dita.
***
Sesampainya di rumah toko milik Dita
"Maaf di bawah gak ada sofa jadi kita ke atas aja," ajak Dita saat memasuki lantai satu rumahnya.
"Tapi gak apa nih gue naik ke atas, kalian kan perempuan semua?" tanya Anan.
Pak Herdi duduk di samping Anta yang masih terlelap, ia asik menonton kartun Barney yang tadi Anta tonton.
"Ada gitu ya pocong demen banget nonton kartun," bisik Tasya ke arah Dita.
"Ada tuh buktinya hahaha," ucap Dita.
"Ya ampun ada hantu bungkus permen di sini," Anan bergegas hendak turun tapi Dita cegah dengan menarik lengan Anan.
"Gak usah takut dia itu baik, dia penjaganya anak aku," ucap Dita.
"Sejak kapan hantu buka jasa baby sitter, jangan-jangan bisa buka saja asisten rumah tangga lagi," gumam Anan.
"Eh sembarangan menyan," sahut Pak Herdi menunjuk Anan yang langsung bersembunyi di balik tubuh Dita.
"Hantu bungkus permennya jangan kasih kesini serem juga tau mukanya pucat gitu," pinta Anan.
"Hahaha sumpah lucu banget saya lihat versi pak Bos yang kaya gini ya Don," ucap Tasya menepuk bahu Doni.
"Iya aku juga lucu banget ya," sahut Doni.
"Eh kok bisa nabok kamu Don? coba ya saya tabok lagi," kali ini Tasya memukul kepala Doni.
"Awww sakit Sya," sahut Doni
Tasya kali ini memeluk Doni. "Yeeayyy udah bisa dipegang," ucap Tasya berteriak kegirangan.
"Kalau kayak gini mah, aku rela banget Sya,"
"Hu.... modus," Tasya mendorong Doni.
"Ngapain si menyan kamu bawa pulang?" tanya Pak Herdi.
"Tadi habis bantuin aku buat bagi-bagi makanan sekalian promosi pembukaan toko besok," sahut Dita.
Anan dan Pak Herdi saling menatap tajam dan berputar mengelilingi Dita perlahan-lahan.
"Awas ya kalau kamu sampai nyakitin Dita," ucap
Pak Herdi mengancam Anan.
"Eh bungkus permen, siapa yang nyakitin? malahan dia tau yang nyakitin gue nih," Anan menunjukkan sikunya yang berdarah.
"Udah sih pada berhenti gak, jangan sampai pada berantem terus guling-gulingan lagi nih kayak dulu, siniin tangannya." Dita menarik tangan Anan yang terluka.
"Aduh aduh aduh, sakit tau, pelan-pelan apa Ta," rengek Anan.
"Ini juga pelan-pelan."
Dita membersihkan lula Anan lalu mengobati luka Anan yang cukup lebar, kemudian membalutnya dengan kasa.
__ADS_1
"Dah selesai, bentar ya aku ambil uang bayaran kamu, tapi aku mau ke toilet dulu duh mules," ucap Dita langsung berlari menuju kamar mandi.
"Dimana-mana yang di obatin yang bayar, bukan yang ngobatin, huuuuu...!!" Pak Herdi mengejek Anan.
"Eh namanya kerja ya di gaji lah, emang elo kalau kerja kaga di gaji apa?" sahut Anan.
"Sorry ya, gue sih bos punya penghasilan sendiri," ucap pak Herdi dengan nada mulai sombong.
"Heh bungkus permen, elo tuh udah jadi hantu jangan belagu, elu tuh bukan bos lagi tau gak!" Anan menarik ikatan pocong di kepala Pak Herdi.
"Wah si menyan ngelunjak, emang elu berani sama gua yang udah jadi hantu gini?" pak Herdi menantang Anan dengan mencubit pinggang Anan.
"Adaaawww mainnya kayak ibu-ibu nih cubit pinggang, lagian kalau hantunya kayak elu mah ngapain gue takut!"
Seru Anan lalu menyelengkat kaki Pak Herdi sampai terjatuh. Pak Herdi tak tinggal diam, dia membalasnya dengan menarik kaki Anan sampai terjatuh juga. Tubuh Pak Herdi kini sudah berada di atas tubuh Anan, menindihnya sambil menyikut dasa Anan dengan sikunya. Anan tak mau kalah, ia menarik tali pocong Pak Herdi dan menjambak rambut Pak Herdi. Keduanya bergulingan, berputar-putar saling menindih bergantian.
"Seru Don, kamu pegang siapa?" ucap Tasya yang sedari tadi bersama Doni tertawa melihat perkelahian Anan dan Pak Herdi.
"Aku pegang pak Bos, aku kan setia sama pak Bos, selalu membela pak bos," ucap Doni.
"Kalau gitu saya bela Pak Herdi ya, deal!" Tasya mengulurkan tangannya pada Doni.
"Kalau Pak Herdi kalah saya cium kamu, tapi kalau Pak bos yang kalah kamu cium saya, deal!" Doni menjabat tangan Tasya.
"Oke deal," sahut Tasya.
"Bentar Don, perasaan kok ada yang aneh sama perjanjiannya ya?" gumam Tasya tapi pertandingan Pak Herdi dan Anan makin seru untuk di lihat.
Dita keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat perkelahian keduanya.
"Astagfirullah... kejadian juga kalian berantem lagi ampe kayak gini...!!" pekik Dita.
Dita menghampiri Anta untuk menutup telinga Anta dengan penutup telinga berbulu agar tak mendengar kegaduhan yang berkelanjutan itu.
Dita menyiram Pak Herdi dan Anan dengan segelas air putih yang dia ambil barusan.
"Eh kok gue di siram sih?" pekik Anan.
"Iya Ta, kok saya di siram sih?" Pak Herdi ikut berseru.
"Lagian kalian ini ya udah lama gak ketemu bukannya pada kangen-kangenan malah berantem terus sih," Dita bertolak pinggang setelah menaruh gelasnya ke atas meja.
"Lagian tuh bungkus permen mulai duluan!" Anan menunjuk Pak Herdi.
"Lah jelas-jelas elo yang narik ikatan saya duluan!" Pak Herdi membela diri.
"Ayo turun, pak Herdi tetap di sini, tuh jangan sampai Anta bangun!" Dita berseru pada Pak Herdi dan menarik lengan Anan menuju lantai bawah.
"Yaaaahhh udah deh, terus yang menang siapa Sya?" tanya Doni.
"Gak ada yang menang, alias seri... Lagian saya baru sadar siapapun yang menang saya rugi juga dan kamu untung terus, huuuu dasar modus! udah ah say mau mandi, awas ngintip, saya sumpahin mata kamu sama mulut posisinya tukeran!" ucap Tasya memperingatkan Doni.
Doni menyentuh mata dan bibirnya bergantian.
"Serem Sya bayanginnya hiiiyyy," gumam Doni.
Sementara itu di lantai bawah.
"Nih bayaran kamu, makasih ya udah bantuin aku tadi," ucap Dita sembari menyerahkan sejumlah uang pada Anan.
"Wah thank you banget nih ya, gue emang lagi butuh uang ini," sahut Anan.
"Butuh uang? buat apa? bukan buat yang macem-macem kan perempuan apa obat gitu?" tanya Dita.
"Eh sembarangan lo pikir gue cowok brengsek apa main perempuan sama obat, gue tuh minum obat kalau sakit doang dan gue lagi gak sakit!" ucap Anan memonyongkan bibirnya.
Duh gemes banget sih lihat bibir cipokable kamu ih jadi kangen...
"Woi...! bengong aja ngeliatin gue? kenapa liat-liat, gue tampan ya?"
Dita langsung mengangguk secara spontan mendengar pertanyaan Anan.
"Eh udah sana pulang, udah malam udah gelap tuh langitnya!" ucap Dita.
"Ya lah namanya malam ya langitnya gelap, masa malam-malam terang ada mataharinya," sahut Anan lalu membuka pintu toko Dita untuk keluar.
"Dita, gue pulangnya nanti dulu ya..."
Anan kembali ke dalam menutup pintu toko Dita kembali.
****
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
To be continued...
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player
Vie Love You All 😘😘😘
__ADS_1