Pocong Tampan

Pocong Tampan
Om Beno


__ADS_3

"Tante maaf kalo boleh aku tanya, ini papanya Mar?"


"Iya, kenapa Nan?" tanya Tante Fani.


"Apa om ini sudah meninggal?" Dita berusaha bertanya perlahan agar tak menyinggung Tante Fani.


"Entahlah Nan, setahun lalu Beno menghilang."


"Tante sudah ke kantor polisi?"


"Sudah, semenjak kecelakaan di kapal waktu itu Beno di nyatakan hilang." Tante Fani berusaha menahan air matanya agar tak menetes dihadapan Dita.


"Maaf Tante, maafin Dita gara-gara Dita Tante jadi sedih."


"Sini peluk Tante Nan."


Dita mendekat dan mendekap Tante Fani, saat itu Dita sangat merindukan Ibunya. Seandainya Mar seceria Ali pasti kerinduannya akan Ali bisa teratasi hanya bermain dengan Anan.


"Tante berarti jasadnya om Beno tak di temukan yak?"


Tante Fani mengangguk.


"Padahal kecelakaan waktu itu bukan sedang melaut namun kapalnya sedang menepi dan meledak di bagian lambung kapal, namun jasad om Beno tak ditemukan itu yang Tante heran."


Kali ini Tante Fani sudah terisak tangisnya tak tertahankan.


Haruskah aku menemui om pocong merah diluar sana ya, tapi aku takut aku belum berani berbicara dengan om itu.


***


Jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Dita masih belum bisa terlelap.


"Oiya baju Anan."


"Aku tampan kan?"


Anan sudah memakai baju yang dibelikan oleh Dita tepatnya uang Pak Herdi.


"Hyunjin aaahhh." Dita terkejut dengan penampakan didepannya.


"Siapa? om jin?" enak aja masa aku kaya om jin." ucap Anan.


"Hyunjin Nan hyunjin straykids, idol idolaku jaman now." Dita tersenyum membayangkan sedang memeluk Hyunjin nya itu.

__ADS_1


Anan berjalan bolak-balik bak peragawan di atas cat walk memamerkan tubuhnya di depan Dita.


"Kenapa gak dari dulu aja kamu pake baju normal, gak kebungkus macam pocong gitu."


Ucap Dita memperhatikan Anan dengan seksama.


"Yee kan baru kamu manusia yang connect sama aku, lagi pula aku aja lupa dari mana asal ku kenapa bisa jadi pocong keliaran kaya gini."


Dita menyentuh dahi Anan yang terasa dingin mengacak-acak rambutnya mencari-cari sesuatu di kepalanya Anan.


"Kamu kenapa sih?" tanya Anan terkejut.


"Aku lagi cari luka di kepala kamu Nan, kali aja kamu amnesia pas matinya."


Dita sekarang mencoba meraba tubuh Anan mencari luka di sekujur tubuh Anan dan tanpa sadar mengangkat kaus Anan bagian depan.


"Aih ada roti sobeknya, kamu pocong sempurna amat sih mana mulus banget lagi badannya."


"WOI...!!! mesum banget sih emang nya aku cowok apaan di pegang-pegang gini."


Anan menutup kaosnya dan menjauh dari Dita.


"Kan aku lagi meneliti Nan kali aja ada luka gitu dimana gitu." Dita mencoba mendekati Anan lagi.


"Stop stop, kalo aku buka celana kamu mau neliti juga?" goda Anan yang mencoba membuka resleting celana jeans yang ia pakai.


Dita menutup matanya kali ini dan berbalik badan.


"Nah kan di tantangin aja takut padahal tadi tuh iler udah mau ngeces." sahut Anan menunjuk muka Dita yang merona kali ini malu dengan perkataan Anan.


"Idih emang aku cewe apaan sih." mencoba mengelap bibirnya takut kalo benar perkataan Anan jika ada air liur menetes disana.


"Nan, tapi kan aku belum beliin daleman emang gak perih kegesek hiyyyyy aku bayanginnya ngilu maaf ya Nan ahhahaha." Dita menutup wajahnya sambil tertawa saking lucunya membayangkan perkataannya.


"Yah... gitu... makanya besok beliin yak."


"Oke yang ceban dua biji aja ya di pasar." Dita mengacungkan jari tangannya membentuk ok.


"Gak ah gatel beliin aja yang di minimarket. deh terpaksa kan murah tuh satunya lima puluh ribu" sahut Anan.


"Ih jadi pocong aja sok gaya gengsi gede banget, jadi penasaran aku tuh waktu kamu idup kaya gimana ya?"


Ada raut sedih di wajah Anan yang lalu duduk di sofa samping Dita dan dia menangis.

__ADS_1


"Anan kok nangis." Dita menyentuh pipi Anan dan mengelap air matanya yang menetes.


"Aku bingung siapa aku, aku dulunya gimana juga aku gak tau yang aku tau namaku Anan." Anan menarik tubuh Dita yang berdiri dihadapannya.


Kini wajah Anan sudah terbenam di perut Dita dan Dita membalas dengan membelai rambut hitam lebat di kepala Anan itu.


"Ini kenapa jadi melow yak Nan, kan kita mau nanyain om pocong merah yang diluar Nan, huaaa Dita jadi ikut sedih kan." 😭😭


"Kamu sih yang mulai duluan."


"Lah kok aku kan... ah sudahlah, fokus ke inti yang aku mau kepoin."


"Apa? masa lalu aku lagi? kan tadi aku bilang gak tau!" Anan membalas dengan cemberut dan sekarang sudah berdiri berhadapan dengan Dita.


"Ih... bukan... kamu tanyain om pocong merah di depan itu, ada hal apa yang mau dia sampaikan ke aku, apa ada hubungannya sama Tante Fani dan Mar, gitu." Dita mundur kebelakang selangkah menjauh dari Anan.


"Enggak bisa lah, kan koneksi alam kita itu kamu, jadi ya cuma kamu yang bisa tau apa yang mau dia sampein."


"Harus aku gitu?"


"Ya siapa lagi kan cuma kamu yang bisa liat kita sekarang..!!"


"Hussshhh jangan berisik nanti pada bangun." Dita menaruh telunjuknya ke mulutnya .


"Mau aku teriak juga gak ada yang denger cuma kamu yang bisa, yang ada kamu tuh jangan berisik." sahut Anan.


Pukul tiga lima belas menit, Dita mencoba membuka kunci pintu rumah Tante Fani.


"Kamu duluan Nan."


"Ihhhh lebay banget deh nih cewek." Anan berjalan duluan keluar ke arah samping menuju depan rumah Dita namun tak dijumpainya sosok pocong yang tadi duduk disana.


"Kemana Nan? om pocongnya udah gak ada ya?" bisik Dita mengendap di belakang Anan.


"Ada... tuh dibelakang kamu sekarang."


Lutut Dita bergetar tak mau menoleh wajah nya sudah pucat pasi dengan rasa perut mulas tak karuan membayangkan sosok seram itu di belakangnya.


"Pantes leher belakang ku merinding." gumam Dita diam mematung tak bergerak.


***


To be continued

__ADS_1


Happy Reading...


Minta vote nya yak...😂😂😂


__ADS_2