Pocong Tampan

Pocong Tampan
The Wedding (Part 2)


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


****


"Kok kita gak ke KUA Tante?" tanya Dita heran.


"Siapa yang mau ke KUA? kita panggil penghulunya ke taman." sahut Tante Dewi.


"Maksud Tante?"


"Udah diem aja."


Dua mobil yang beriringan itu akhirnya memasuki sebuah taman kecil di sebrang kantor KUA.


"Tuh kamu lihat, KUA penuh jadi Tante sewa taman ini buat kalian, penghulu nya juga gak bisa jauh-jauh karena yang nikah barengan kalian itu banyak ada dua puluh pasangan tau." ucap Tante Dewi menjelaskan.


"Hah dua puluh pasangan?"


"Iya bener, dah yuk turun." ajak Tante Dewi.


Doni sudah menyiapkan meja untuk penghulu dan berhubung Dita tak punya saudara yang bisa dihubungi akhirnya Dita di wali kan oleh Kang Ujang.


Dita turun dari mobil mengenakan kebaya putih dengan bordir bangau yang cantik. Dita juga mengenakan kain batik yang senada dengan bawahan Tante Dewi dan Aiko.


Anan yang terkesima menganga memandang Dita, saking takjub dan lebarnya mulut Anan yang menganga ratusan lalat mungkin masuk di dalamnya. "Bos mingkem." sahut Doni berusaha membuat mulut Anan rapat.


"Fleh Fleh Lo habis megang apa sih Don, bau banget tangan Lo." bisik Anan kesal.


Kang Ujang yang mendengar hal tersebut ikut tertawa.


"Kang Ujang ...!" pekik Dita yang terkejut melihat kehadiran kang Ujang di taman itu.


"Neng Dita cantik banget, meni geulis pisan neng." sahut kang Ujang.


"Siapa yang jemput akang datang kesini?"


"Den Doni, katanya den Anan yang suruh datang saya juga baru tahu kalau pak bos Herdi udah meninggal."


"Iya kang, tapi pak Herdi masih ada dirumah besar." bisik Dita.


"Jadi pak bos masih mati penasaran?"


"Iya, akang nanti akang ketemu deh kalau ikut ke rumah besar." jawab Dita.


"Iya neng, ini gak apa-apa kalau akang wali in neng Dita?" tanya kang Ujang.


"Gak apa-apa kang, toh Dita juga udah gak punya siapa-siapa yang bisa dihubungi." sahut Dita.


"Yang mana yang mau nikah?" tanya pak penghulu.


"Saya pak, ini saya yang paling ganteng." sahut Anan yang langsung ditertawakan Tante Dewi dan mama Aiko.

__ADS_1


"Baik sini maju ke hadapan saya, kita mulai ya ijab kabulnya." Pak penghulu menjabat tangan Anan dan melancarkan ucapan akad yang selalu di ulang oleh Anan.


"Bos fokus dong." Sahut Doni.


"Bawel kaya pernah ijab kabul aja, ini gue mau fokus." Sahut Anan.


"Sabar Nan, tarik nafas coba tenang terus ulang lagi ya." Kevin menepuk bahu Anan.


"Ayo den kita ulang lagi ijabnya." Sahut Kang Ujang.


Dita hanya menahan tawanya karena sikap Anan yang seperti anak kecil selalu menggerutu.


Sampai akhirnya terucap kata "Sah...!"


dari pak penghulu di jawab secara bersamaan dengan ucapan sah yang sama oleh semua yang hadir di sana. Anan langsung berjingkrak-jingkrak saking senangnya mencium tangan pak penghulu sambil berputar-putar. Dita tertawa melihat ke Anan.


"Sudah ya, bapak masih mau menikahkan pengantin yang lain." Ucap pak penghulu lalu pergi.


"Makasih ya pak." ucap Anan.


"Cium dong tangan aku."


Anan mengulurkan tangannya ke Dita dan Dita meraihnya mencium tangan Anan.


"Cie... Cium yang lain dong." Sahut Doni.


"Heh masih bocah ingusan ngarep lihat lebih." Sahut Tante Dewi.


"Mana cincinnya Don?" Tanya Anan.


"Nah bentar, mana ya?" Doni merogoh sakunya tak ketemu.


Tante Dewi, Dita dan Anan berteriak bersamaan.


"Coba cari di mobil barangkali jatuh disana." Ucap mami Aiko.


"Doni langsung meminta kunci pada pak Kevin dan mencari kotak cincin Anan di dalam mobil.


"Ketemu...!"


Ucap Doni senang mengacungkan kotak biru berbahan beludru di tangannya. Doni lalu berlari menyerahkan kepada Anan namun dia terantuk batu dan terjatuh kotak Anan terbuka dan satu cincinnya menggelinding ke selokan.


"Ma...ma...maafin Doni bos." Ucap Doni ketakutan dengan pandangan Anan.


"Gue gak mau tau Lo cari di selokan sana sampai dapat!"


Bentak Anan yang kesal pada Doni.


"Gimana sih Don." Sahut Dita sedih.


"Maaf kak Dita, ini aku mau cari langsung demi kakak." Doni menggulung lengan kemejanya sampai siku bersiap merogoh ke dalam selokan.


Yang lainnya terlihat jijik tak mau melihat ke arah Doni.


"Tenang aku bantuin kamu Don."


Bisik Anita yang ikut merogoh ke dalam selokan mencari cincin Anan demi Doni.


"Ketemu...! Eh bukan deng ini apa ya?"

__ADS_1


Doni mencium lingkaran ditangannya yang ternyata besi lingkaran gantungan kunci.


"Duh bukan lagi, mana bau t*i nih." Ucap Doni.


"Ih jorok ih, cari yang bener makanya." Ucap Anita kesal.


"Gimana Don, dapat gak?" Tanya Tante Dewi yang ikut kesal.


"Ketemu nih." Anita menyerahkan cincin Anan ke tangan Doni.


"Ketemu...! Eh makasih ya Nit."


Doni langsung menyerahkan cincin itu ke tangan Anan.


"Cuci dulu Doni!" Pekik Anan.


"Aku elap aja sini bos." Doni meraih cincinnya mengusap di kemejanya.


"Gak mau lah pasti masih bau lah, cuci dulu sana!"


"Pakai apa bos?" tanya Doni polos.


"Pakai lidah Lo, terus Lo jilatin tuh cincin." Sahut Anan kesal.


Doni masih memperhatikan cincin itu dengan bingung bagaimana ia akan menjilati cincin tersebut batinnya.


"Itu ada selang air, numpang situ aja Don." Ucap pak Kevin.


"Aha Anda benar sekali, terima kasih sarannya pak."


Doni langsung berlari membersihkan cincin Anan.


"Doni , Doni." Ucap Dita dan Tante Dewi bersamaan sambil menggelengkan kepalanya.


"Sudah bersih sudah wangi nih pak." Doni hampir jatuh lagi menabrak tubuh Anan. Namun Anan dengan sigap meraih cincin ditangan Doni.


"Ini bocah kenapa ya, dari tadi kesandung terus." sahut Anita.


Mami Aiko menoleh kepada Anita secara spontan. Anita tersenyum kearahnya namun mami Aiko membuang muka ke arah lain.


Dita dan Anan saling menyematkan cincin.


"Sekarang aku cium yak." ucap Anan yang langsung mencium bibir Dita tanpa ampun di hadapan semuanya.


Anita dengan gemas memukul paha Doni melihat apa yang dilakukan Anan dan Dita. Pak Kevin menatap Tante Dewi sambil menggenggam tangan Tante Dewi dan tersenyum. Pak Kevin siap mendekatkan wajahnya ke Tante Dewi berharap bisa menciumnya namun Tante Dewi sadar dan melepas pegangannya dan menjauh.


"Balik kerumah yuk!" ajak Tante Dewi.


"Nah ide bagus tante, aku gak sabar mau siang pertama." sahut Anan.


"Apaan sih, siang pertama." ucap Dita mencubit pinggang Anan.


"Kita foto - foto dulu yuk disini." ajak Dita.


Tante Dewi meraih ponselnya dan berfoto ria bersama kedua pengantin baru itu. Anita juga tampak sibuk ikut serta berfoto bersama Dita dan Anan.


****


To be continued...

__ADS_1


Jangan lupa main ke 9 lives....😘😘😘


__ADS_2