Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Kematian Nenek Rose


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊


******


Sore hari yang cerah itu membuat Mark ingin berendam dan berenang bolak balik sepanjang jalur koran renangnya. Hari itu ia pulang cepat dari kampus dan ingin segera melihat wajah Dita. Istri orang yang tak seharusnya ia rindukan. Tapi sayangnya, Dita belum pulang. Ia masih sibuk mengurus restoran barunya bersama Anan dan Anta.


"Astaga... Mark cakep banget sih, badannya seksi abis gak nahan..." ucap Jerry yang berdiri di samping Tasya sambil menjaga nenek Rose yang duduk di kursi rodanya.


"Hush gak bisa lihat cowok cakep dikit nih!" Tasya menusuk pipi Jerry dengan ujung telunjuknya.


"Ya emang cakep kan? ya kan?" Jerry makin menggoda Tasya.


"Cakepan Pak Herdi, bos Anan juga cakep," ucap Tasya.


"Pak Herdi siapa sih?" tanya Jerry.


"Gak usah tau deh nanti kamu pingsan lagi," sahut Tasya.


Mark asik berbincang dengan Leona yang berbaring santai di ban pelampung besar berbentuk angsa di samping Mark.


"Rumah ini sebenarnya milik siapa sih om?" tanya Leona yang biasanya pendiam menjadi bersuara.


"Milik Granny Rose dan ibunya Om Kevin, memangnya kenapa?" tanya Mark.


"Lalu Om kenapa tinggal di sini?" tanya Leona.


"Ibuku itu anak dari Granny Rose, tadinya orang tuaku tinggal di sini, dan lima tahun lalu mereka mengalami kecelakaan pesawat," ucap Mark menjelaskan.


"Oh... begitu," ucap Leona.


"Ku dengar tante dan om ku mau mengadopsi dirimu, jadi kau akan tinggal di sini kan? bagaimana apa kau suka tinggal di sini?" tanya Mark.


"Rumah ini terlalu ramai, tapi aku suka," ucap Leona.


"Bagus kalau begitu, Ummm Leona apa kau masih mengingat peristiwa kemarin?" tanya Mark.


Leona hanya terdiam memandang langit dengan kacamata hitamnya.


"Sepertinya aku salah bicara," gumam Mark lalu berenang menepi lalu naik ke permukaan.


"Aku duluan ya Leona," ucap Mark meninggalkan Leona.


Mark melintas di hadapan Jerry dan Tasya sambil bergaya dengan kerennya. Dia goyangkan kepalanya berkali-kali sambil dia kibaskan. Percikan air dari rambutnya yang basah sampah di wajah Tasya dan Jerry.


"Fuuaahhh... kampret airnya masuk mulut tau!" pekik Tasya masuk ke dalam rumah untuk mengusap mulutnya dengan keran air di dapur.


Sementara Jerry malah senang mengusap wajahnya dengan percikan air dari rambut Mark.

__ADS_1


"Kenapa Sya, Aku tampan ya?" tanya Mark yang menurunkan handuknya dari wajahnya menoleh ke arah Tasya yang sudah menghilang. Tersisa Jerry yang memandangnya dengan tatapan genit dan manja.


"Astaga... boneka anabele bikin kaget aja!" pekik Mark.


Jerry malah mengedipkan matanya berulang kali menggoda Jerry.


"What are you doing?"


"Kita nonton bioskop yuk Mark?" pinta Jerry menggoda Mark.


"Idih... you wish..!!!" Mark melangkah pergi meninggalkan Jerry.


Jerry langsung mengikuti Mark, dia terlupa meninggalkan nenek Rose yang terlelap pulas di atas kursi rodanya. Sementara Tasya juga belum kembali karena harus mengangkat telepon yang berbunyi di rumah itu.


Leona naik ke permukaan dan mengeringkan tubuhnya. Ia melangkah maju menghampiri nenek Rose sambil bersenandung lirih. Leona menengok ke kanan dan kiri. Tak ada siapapun yang mengamatinya. Ia dorong kursi roda nenek Rose masuk ke dalam kolam renang, lalu menenggelamkan nenek Rose sampai kehabisan nafas. Ia tinggalkan nenek Rose yang tenggelam itu di dasar kolam.


"Sebentar lagi, kau akan mengapung, percayalah nek!" Leona berlari menuju kamar mandi dalam rumah dekat dapur.


Tak ada yang menyadari kematian nenek Rose, karena Mark yang mengumpat terus akibat kelakuan Jerry yang mengikutinya tak mendengar suara percikan kolam renang. Sementara Tasya berada di luar rumah, karena setelah mengangkat telepon dari Tante Dewi yang taksinya mengalami pecah ban di taman, Tasya segera membantu Tante Dewi untuk membawakan barang belanjanya.


"Pergi... pergi dari kamarku!" Mark meneriaki Jerry dan mendorongnya keluar.


Jerry membusungkan dadanya, ia menantang Mark agar menyentuhnya. Mark malah merasa jijik melihat dada palsu hasil operasi milik Jerry. Mark mendorong Jerry keluar lalu membanting pintu kamarnya.


"Aduh...!!!" teriak Jerry yang ujung hidungnya terkena bantingan pintu kamar Mark.


"Aku sumpahin kamu naksir berat sama aku lho Mark!" teriak Jerry dari luar kamar.


"Hmm ya sudah, astaga nenek Rose masih ketinggalan di deket kolam, nanti kalau dia berenang sendiri gimana nih..." Jerry segera berlari menuju kolam renang.


"Aaaaaaaaaaa...!!!" teriakan Jerry membuat Mark segera berlari menuju arah teriakannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Mark.


"Granny, Granny Rose..." Jerry menunjuk sosok nenek Rose yang tewas di kolam renang.


"Hubungi ambulance, Jer!"


"Hubungi ambulance, cepat...!!!" Mark membentak Jerry agar segera menghubungi ambulance. Jerry juga menghubungi pihak berwajib agar segera datang ke tempat kejadian perkara.


Tante Dewi dan Tasya yang baru tiba langsung terkejut dan menghampiri tubuh Nenek Rose yang sudah tak bernyawa itu di kamarnya.


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Tante Dewi sambil menangis menoleh ke arah Jerry, ia mencari pertanggung jawaban Jerry dengan tatapan tajamnya.


"Tapi saya lupa nyonya, saya bercanda sama Mark," ucap Jerry sangat menyesal.


"Jadi kamu tinggalkan nenek Rose begitu saja? iya kah Jerry?!" tanya Tante Dewi dengan wajah marah.


"Maafkan saya nyonya, maafkan saya," Jerry berlutut ia bersimpuh di kaki Tante Dewi memohon maaf.

__ADS_1


"Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu, kita tunggu Om Kevin yang memutuskan," ucap Tante Dewi menyeka air matanya.


Tasya segera menghubungi ponsel Om Kevin dan ponsel Dita untuk memberitahukan kematian nenek Rose, berharap mereka segera pulang.


"Maaf aku terlambat," ucap Hantu Samanta lirih tapi tetap membuat Tasya terkejut dan hampir melempar gagang teleponnya.


"Kenapa kau mengejutkanku?" bisik Tasya.


"Maaf aku terlambat menolong Granny, anak itu benar-benar kejam," ucap Hantu Samanta.


"Anak itu?" tanya Tasya.


"Ya anak itu, si anak baru itu, dia yang membunuh Granny Rose," ucap Hantu Samanta.


"Apa?!" Tasya menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangannya.


Dita dan Anan datang dengan cara membuka pintu begitu saja saking paniknya saat mereka mengetahui kematian nenek Rose.


"Ajak Anta ke atas Sya, gantiin baju dia," pinta Dita menyerahkan Anta pada Tasya.


Namun, sebelum Tasya membawa Anta ke atas menuju kamarnya, Tasya menceritakan semua kejadian yang di ceritakan hantu Samanta barusan.


"Astagfirullahalazim... ini gak bisa di biarkan," gumam Dita yang langsung memanggil Pak Herdi.


Dita menjelaskan semuanya pada Pak Herdi dan apa yang di lihat hantu Samanta perihal kejadian yang menimpa nenek Rose.


"Susah Ta, sekarang aku melihat sesuatu melindunginya, selain kejiwaannya yang terganggu, aura hitam yang ia miliki itu melindunginya agar hantu sepertiku dan Samanta tak bisa menyentuhnya, bahkan hantu Tuan Jhon dan Clara juga terkurung di dalam rumahnya tanpa bisa pergi bergentayangan keluar," ucap Pak Herdi menjelaskan.


"Aura hitam itu apa sama dengan aura sekte Ratu Masako?" tanya Dita.


"Tidak ini berbeda, ini bukan Ratu Masako, ini sekte lain yang mencoba melindungi Leona," ucap pak Herdi.


"Lalu bagaimana rencana kita selanjutnya untuk melindungi Tante Dewi dan Om Kevin, yanda?" Dita menoleh pada Anan.


******


Masih bersambung ya guys...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


-          Kakakku Cinta Pertamaku


season 1 END


-          9 Lives (END)


-          Gue Bukan Player (END)

__ADS_1


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2