
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading 😊😊😊
******
Anan sampai di rumah sakit mengunjungi ibu angkatnya dan Andri.
"Elo udah bertekad banget ya buat menghindar dari Hyena?" tanya Andri menepuk punggung Anan dan memberikannya satu kaleng soda.
"Habisnya gue serem banget kalau ngebayangin harus nikah sama Hyena," sahut Anan.
"Ya udah gue mah bakalan selalu dukung elo, tapi kalau kepepet ya gue tinggalin elu hahaha," ucap Andri.
"Eh kapan ibu pulang?" tanya Anan.
"Gue belum ketemu dokter penanggung jawab ibu, tapi kalau gak besok ya lusa kayaknya," jawab Andri.
"Eh iya, lupa kan gue, si ibu lagi istirahat kan? ikut gue yuk ke ruangannya Dewa, gue mau lihat dia udah sadar apa belum," ucap Anan menepuk bahu Andri agar mengikutinya.
Anan dan Andri sampai di ruang perawatan Dewa.
"Lho siapa itu ya di dalam? perasaan gue Dewa tinggal sendiri deh gak punya keluarga," gumam Anan saat mengintip kamar Dewa dari pintu.
"Temennya kali," ucap Andri ikut menengok ke dalam kamar dari kaca kecil di pintu kamar.
Anan membuka pintu ruang kamar Dewa.
"Halo Kamu keluarganya De..."
Pria dalam kamar perawatan Dewa langsung pergi dari kamar dengan tergesa-gesa sampai menabrak bahu Andri.
"Kenapa tuh orang di sapa malah kabur," Andri menggerutu.
Tiba-tiba tubuh Dewa mengalami kejang-kejang.
"Onta elu kejar orang tadi!" pekik Anan lalu memutus sambungan infus pada Dewa dan memanggil suster.
Andri bergegas berlari mengejar pria misterius yang memakai jaket hodie warna biru dongker dan memakai topi baseball warna hitam.
"Woi... berhenti elo...!!!" teriak Andri meneriaki si pria misterius tersebut yang menoleh padanya sekilas sambil berlari menuju pintu keluar dari rumah sakit.
Suster dan dokter jaga berhasil menolong Dewa dan membuatnya tetap hidup.
"Ini percobaan pembunuhan dok namanya, memangnya tadi suster gak tau kalau ada tamu buat pasien?" tanya Anan dengan nada kesal pada sang suster.
"Maafkan kelalaian kami pak, pihak rumah sakit akan menyelidiki ini, penjaga juga akan menyelidiki rekaman cctv mengenai tamu misterius tadi," ucap Suster pada Anan.
Dokter jaga masuk ke dalam ruang perawatan setelah tadi mengambil sample darah pada Dewa.
"Gimana dok?" tanya Anan.
"Begini pak kamu menemukan kandungan Magnesium Sulfat pada darah pasien yang untungnya baru sebagian kecil yang masuk ke tubuh pasien, ini obat penetralisir bagi pasien agar kandungan dalam darahnya bersih kembali," ucap sang dokter.
__ADS_1
"Ah syukurlah kalau begitu dok," Anan mengucap lega.
"Saya sarankan sebaiknya anda melapor pada pihak berwajib tentang percobaan pembunuhan ini, saya takut pasien masih memiliki musuh yang masih ingin mencoba membunuh pasien," ujar dokter jaga tersebut.
"Baik dok, saya akan segera membuat laporannya, terima kasih atas pertolongannya," ucap Anan menundukkan kepalanya sambil menjabat tangan sang dokter.
Setelah dokter jaga dan suster itu keluar dari kamar perawatan, Anan mencoba menghubungi Dita. Sebelum sempat ia berbicara pada Dita melalui sambungan telepon, Andri masuk ke dalam kamar perawatan Dewa dengan nafas terengah-engah.
"Sorry cong, gue gak berhasil ngejar dia, gila larinya cepet banget kayak setan," ucap Andri dengan nafas masih berat terasa capek dan letih.
"Tapi elo liat orangnya gak?"
"Gak bisa gue lihat jelas, terus gimana ini pasien?" tanya Andri.
"Gue kasih tau Dita dulu," sahut Anan menghubungi Dita dengan ponselnya.
***
"Cie yang mau di ajak makan malam sama pak Bos," goda Tasya melihat Dita sibuk di depan cermin dengan merias wajahnya lebih cantik.
"Iya dong masa di ajak makan malam aku mukanya lecek," sahut Dita.
"Terus itu si Anta kamu ajak? dia pules gitu sama temen barunya," ucap Tasya sambil menoleh ke Anta yang tertidur di pangkuan hantu dalam cermin tadi.
"Iya ya, Anta pules banget, tapi kalau di pikir-pikir lumayan ya Sya, aku gak usah sewa jasa baby sitter lagi kalau ada dia hehehe," ucap Dita menahan tawanya saat menoleh pada hantu cermin tadi.
"Iya sih, tapi bener-bener dah si Anta, anak lain mah ketakutan kali di temenin hantu kayak gitu lah dia girang banget," ucap Tasya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi dia belum ngomong kan masih diem aja?" tanya Dita.
Belum sempat Dita menjawab ponselnya berdering.
"Sssttt jangan ribut, yanda tersayangnya aku telpon," ucap Dita menutup bibir Tasya dengan telunjuknya.
Anan menceritakan semua yang terjadi pada Sadewa saat itu dan Anan menginginkan Dita datang ke rumah sakit untuk pembicaraan lebih lanjut. Dita menutup ponselnya.
"Kenapa Ta? muka kamu beda banget lho gak ceria?" tanya Tasya.
"Ada yang mau membunuh Dewa, Sya," ucap Dita.
"Hah?! yang bener? wah gak bisa di biarin tuh, musuh apa gimana itu yang mau bunuh Dewa?"
"Aku juga gak tau sih, udah ya aku ke rumah sakit dulu, naik ojek online aja biar cepet sampe, titip Anta ya Sya," ucap Dita.
"Tapi Ta, saya takut kalau sama dia doang," Tasya bergidik ngeri ketakutan.
"Kan ada Anta."
"Tapi kan Anta tidur, Pak Herdi kemana ya Ta?" tanya Tasya.
"Oh mau di panggilin Pak Herdi? tunggu ya," ucap Dita dan tak berapa lama kemudian Pak Herdi datang dan mengiyakan untuk menemani Tasya.
Dita pergi menuruni tangga rumahnya.
__ADS_1
"Sampai bosen saya jagain kamu terus," gumam Pak Herdi melirik Tasya.
"Ih si bapak mah gitu aja bosen, setiap saat jagain Anta gak bosen hayo..." Tasya melirik Pak Herdi gantian.
"Jangan liat - liat nanti jatuh cinta sama saya aja repot kamu," celetuk Pak Herdi.
"Idih... jadi pocong aja percaya diri banget kepedean huh..." sahut Tasya.
"Tapi ganteng kan?"
"Iya sih ganteng, eh biasa aja serem malah," sahut Tasya dengan kikuk memalingkan wajahnya dan merebahkan tubuhnya ke atas sofa.
Dita menunggu ojek online pesanannya di depan rumah tokonya.
"Duh jangan ngeliatin kayak gitu deh, serem tau om, kak, pak, mas entah siapa anda," ucap Dita saat melihat hantu pengendara motor itu muncul.
"Tolong bantu saya..." ucapnya lirih dengan wajah menyeramkan. Isi otaknya menetes ke pipinya.
"Haduh... belom belajar mode cakep lagi ya biar enak di liat gak serem kayak gitu," ucap Dita.
"Mbak Anandita ya?" sapa seorang pengemudi ojek online yang muncul di hadapan Dita.
"Iya pak saya sendiri," sahut Dita.
"Ini mbak helm nya terus alamatnya sesuai aplikasi ya?" tanya si pengendara.
"Iya pak sesuai aplikasi, pak kan aku pakai dress gini yak, aku duduk nyamping aja ya pak?" pinta Dita saat memakai helm pemberian si pengendara.
"Tapi pakai celana dalam kan mbak yang celana pendek gemes itu?" tanya si pengemudi.
"Ya pakai lah pak masa enggak," sahut Dita.
"Tolong bantu saya..." ucap si hantu pengendara motor itu dengan suara lirih mendekat pada Dita.
"Nanti ya jangan sekarang, aku mau buru-buru ke rumah sakit," ucap Dita membalas ucapan si hantu.
"Kenapa mba? ada yang salah sama saya?" tanya si pengendara yang mendengar Dita berbicara sendirian.
"Gak ada pak, udah jalan sekarang!" pinta Dita.
****
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â 9 Lives (END)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All 😘😘😘