
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
****
"Herdi...?" ucap Maya yang berdiri melihat Maya.
"Maya, kamu kenapa disini?"
"Herdi apakah kamu sudah meninggal juga san jadi pocong seperti ini?" tanya Maya.
"Memangnya kamu sudah mati? lho om Anwar bilang kamu dapat tawaran kerja di Hongkong?" tanya Herdi kembali dengan heran.
"Aku tak pernah pergi ke Hongkong Di huaaaaaa." Maya kembali lagi menangis.
"Jadi kalian berdua saling kenal?" tanya Dita.
"Iya Ta, dia sepupu saya, keponakan istrinya om Anwar." jawab pak Herdi memeluk Maya.
"Dunia sempit ya ternyata." sahut Anan melingkarkan tangannya di leher Dita.
"Jadi apa yang terjadi dengan kamu Maya?" tanya pak Herdi mencoba melepas lengan Anan di leher Dita namun Anan kembali merangkul leher Dita sambil melotot ke arah pak Herdi. Anita menahan tawanya melihat kelakuan Anan dan mantan bosnya itu.
"Om Anwar membawaku dia bilang ada kawannya yang akan memberiku pekerjaan di Hongkong ternyata dia membohongi ku, dia menjebak ku dan menjual ku kepada temannya di Club' House, sampai aku terbunuh Di huaaaaaaa..." Maya menangis lagi mengingat kematiannya.
"Duh ngilu kan lihatnya usus mu itu lho kemana - mana mbak." sahut Anita.
"Lagian ih Nit dari tadi merhatiin ususnya aja sih." Dita menepuk bahu Anita.
"Aku gemes Ta hehehe."
"Lalu kenapa kau bisa sampai disini?" tanya pak Herdi.
"Dia tahu tentang kematian ku, dia melihat bagaimana aku terbunuh." Maya menunjuk Anan. Pak Herdi menoleh ke Anan dengan tatapan tajam.
"Sumpah gue gak tau, gue gak inget gimana dia bisa mati kaya gini." ucap Anan membela diri.
"Bener pak Anan itu hilang ingatan saat dia menjadi hantu sekarang juga aku lagi selidiki kematian Anan eh malah ketemu sama mbak Maya." sahut Dita membela Anan.
"Tuh dengerin, jangan nuduh dulu makanya." ucap Anan.
"Jadi bagaimana sekarang?" pak Herdi menatap semua mata di ruangan itu.
"Kita jalankan rencana awal rencana buat bawa James dan Shane untuk kita interogasi, aku akan mengumpulkan kekuatan supaya kalian bisa terlihat dan menakuti James dan Shane bagaimana?" tanya Dita.
"Bagaimana jika tidak berhasil?" tanya pak Herdi.
"Harus berhasil pak, ini jalan satu-satunya asal mereka jauh dari Club' House."
__ADS_1
"Aku sih setuju aja nanti aku suruh Doni buat bujuk Shane datang dan Shane bawa James datang ke kita ya kan?" tanya Anan
"Tepat sekali." sahut Dita
"Kalian pada ngapain berduaan di sini?" Tante Dewi datang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
"Kita gak berduaan kok, kita berlima." sahut Dita.
"Berlima? jadi sekarang rame nih ruangan?" Tante Dewi masih berdiri di sudut agak takut.
"Biasa Tante, lagi bincang-bincang sebentar."
"Gimana persiapan pernikahan kalian?"
"Enggak ada yang perlu di siapkan Tante kita tinggal datang ke penghulu terus pesta kecil-kecilan sama orang terdekat terus buat anak deh." Anan menyenggol siku Dita.
"Ih apaan sih." bisik Dita.
"Oh... baiklah, oh iya Tante sudah menghubungi mami kamu Nan, dia bilang selamat buat kalian dan dia setuju terus akan ada hadiah yang dia kirim buat kalian nanti."
"Wah mami kira-kira kirim hadiah apa ya?"
"Mana Tante tau."
"Oh iya bagaimana perkembangan pak Kevin Tante?" tanya Dita.
"Tante bingung Ta kondisinya sudah membaik tapi ingatannya belum pulih terus masa iya Tante harus ikut dia pulang."
"Jangan Ta, jika memang Kevin sengaja di celakai seseorang sebaiknya jangan pulang kerumah, karena mereka yang mau Kevin celaka pasti sudah menunggu dirumah." sahut pak Herdi.
"Lalu?"
"Hmmm bawa kerumah Tante gimana?" Dita memberi ide gila.
"Gila... masa Tante harus satu apartemen sama dia idih ogah."
"Ya mau gimana lagi Tante demi keselamatan pak Kevin lho, terus sewa penjaga buat jagain pak Kevin kerja."
"Ide bagus Ta." sahut pak Herdi.
"Tapi penjaganya bapak yang bayar yak." ucap Dita.
"Beres minta kartu saya sama Kevin nanti buat kamu."
"Caranya?"
"Nanti kita bicara sama Kevin saat dia sudah boleh pulang."
"Oke pak siap." ucap Dita kepada pak Herdi.
"Dita ngomong sama siapa Nan?" tanya Tante Dewi.
"Sama tofu basi hahahhaha."
"Tofu basi?"
__ADS_1
"Iya soalnya bentuknya kaya tofu terus bau basi hahaha." Anan kemudian ditarik jatuh oleh pak Herdi ke lantai.
"Menyan sialan, rasakan ini." ucap pak Herdi menahan leher Anan.
"Aduh lepasin gak, nantangin banget nih." Anan membalas pak Herdi.
"Tante keluar aja yuk, Dita laper biarin aja Anan sama pak Herdi, pegel ngomelinnya." Dita mengajak Tante Dewi keluar.
"Ta, aku gak ikut ya, aku mau ajarin Maya dulu nih." ucap Anita, Dita mengangguk sambil tersenyum meninggalkan Anita dan Maya serta pak Herdi dan Anan yang masih saling menyerang dan bergulat.
***
Di rumah Aiko.
"Hadiah ini bagus tidak yak?" gumam Aiko sambil melihat satu set perhiasan Swarovski dalam kotak berwarna biru beludru.
"Permisi nyonya, Yang Mulia memanggil nyonya." ucap salah satu pelayan yang memakai jubah hitam.
"Baik aku akan kesana." ucap Aiko. "Apa yang kau lihat mas? sudah disini saja kau tak perlu ikut ya."
Aiko menuruni anak tangga rumahnya perlahan lalu masuk ke dalam sebuah mobilnya menuju sebuah tempat dimana ada sebuah ruangan dengan beberapa orang berjubah hitam sudah berkumpul disana.
"Ada apa gerangan yang mulia memanggil ku." ucap Aiko sembari berlutut.
"Sang ratu akan datang, dia perlu media untuk kembali ke dunia ini." ucap seorang wanita dengan panggilan yang mulia itu.
"Bisakah beri hamba waktu, sebentar lagi putra hamba menikah dan ku serahkan cucuku nanti sebagai media sang ratu untuk kembali."
"Putra mu? putra yang jiwa dan raganya itu telah kau satukan?"
"Benar yang mulia, ku mohon beri tubuh dia waktu lebih."
"Apa kau yakin keturunan putra mu nanti cocok menjadi media sang ratu?"
"Seharusnya cocok yang mulia, kan ku pastikan itu demi kemajuan sekte kita."
"Baiklah, ku turuti kau kali ini Aiko, sementara dimana persembahan kita?" tanya yang mulia ke semua pengikutnya.
"Ini yang mulia." seorang pria menyerahkan seorang wanita duduk berlutut di hadapan yang mulia.
"Apa yang kau persembahkan untuk sang ratu?" tanya yang mulia.
"A a aku ingin menyerahkan putri ku, Minggu depan ulang tahunnya yang ke tujuh belas." sahut wanita itu.
"Apa kau yakin?"
"Aku yakin yang mulia demi kemajuan sekte ini." sahutnya.
"Baiklah, Minggu depan aku akan mengambil jiwanya, kau jaga saja jasadnya sampai sang ratu datang."
"Terima kasih yang mulia."
****
To be continued...
__ADS_1
Jangan lupa main ke 9 lives.