
Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.
Terima kasih and Happy Reading. 😘😊
*******
Sesampainya di halaman parkir Apartement Emas, Dita dan Tante Dewi saling memandang.
"Pertama kalinya saya ketemu sama Ibu Peri terus di ajak tinggal di sini dengan mudahnya," gumam Dita.
"Ibu Peri?" tanya Tante Dewi.
"Iya, maksudnya Tante gitu, Ibu Peri baik hati yang selalu sayang sama Dita," ucap Dita memeluk Tante Dewi dari samping.
"Ah, kamu mah bisa aja," sahut Tante Dewi.
"Yuk, kita menuju lantai dua puluh," ucap Andri.
"Emangnya, Elu tinggal di sana juga?" tanya Anan.
"Yoi, mungkin udah ada ikatan batin kali ya sama elu makanya gue pilih lantai itu, dan pas banget penghuni yang menyewa apartemen milik Tante lu itu baru aja meninggal, bunuh diri," jawab Andri.
"APA? Bunuh diri? terus dia gentayangan dong?" tanya Tante Dewi mendorong bahu Andri.
"Biasa aja dong, Tante."
"Tante, Tante, emangnya kamu keponakan saya manggil Tante? Terus itu yang bunuh diri gentayangan gitu?"
"Lah, mana saya tau, saya mah gak bisa lihat hantu, tanya nih sama Anan, mungkin dia tau nanti," ucap Andri.
"Tante gak mau ah kalau kayak gitu, mending tukeran apartemen aja, Nan," pinta Tante Dewi.
"Apaan sih, Tante. Udah sih biasa aja," sahut Dita.
"Tasya mau ikut sama kita apa tinggal sama Doni?" tanya Anan menoleh pada Tasya.
"Aih, saya kan belum halal sama dia, ya pastinya ikut Dita lah," sahut Tasya.
"Ya udah sih halalil, Aku merestui, kok," sahut Shinta lalu melangkah masuk menuju lobi.
Doni dan Tasya langsung bertatapan.
"Beneran, Kak Shinta?"
"Kalau kamu tanya lagi, malah aku malas lho nanggapin lagi, besok kalian nikah!" seru Shinta.
"Wah alhamdulilah... selamat ya Tasya, Doni, jangan tunggu lama-lama, keburu Shinta berubah pikiran, lho," ucap Dita menimpali.
"Oke, oke sebentar, di hadapan kalian semua..." Doni lalu berlutut di hadapan Tasya.
"Aww! panas juga lutut aku," ucap Doni mengusap tempurung lututnya.
"Lagian di aspal jalan gitu, pindahlah ke lobby," ucap Andri.
"Oh, iya... ayo Tasya pindah ke lobby!" ajak Doni menarik lengan Tasya.
"Udah deh, Don. Malu tau aku," ucap Tasya.
"Enggak, enggak usah malu, ummm... sebenarnya aku selalu bawa ini di saku celana aku ya kadang-kadang maaf suka aku umpetin di dalam cd," ucap Doni.
Ia lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan mini pouch berwarna merah yang berisi cincin emas 24 karat seberat sepuluh gram untuk Tasya.
"Ini emang gak mahal tapi aku cicil ini dari uang ku sendiri, dan sekaranglah saat yang tepat aku kasih ini buat kamu," ucap Doni seraya mengeluarkan cincin emas tersebut.
"Bentar, Don. Kamu taruh itu di dalam cd? iyuuhhh itu bau dong kena anuan kamu," ucap Tasya dengan polosnya.
Dita dan Anan tak bisa menahan tawanya sedari tadi dengan kepolosan Tasya dan Doni.
"Tante Dewi..." Anta menarik ujung pakaian Tante Dewi.
__ADS_1
"Apa?" Tante Dewi menoleh pada Anta.
"Anuan apaan, sih?" tanya Anta.
Andri yang mendengar pertanyaan Anta jadi tertawa sampai posisi jongkok di samping Anta.
"Haduh, tolong ya Tasya, Doni, bahasanya di kontrol, ada Anta nih..." ucap Tante Dewi memperingatkan.
"Ya, maaf... Enggak bau kok, Sya. Nih aku semprot hand sanitizer cincinnya."
Doni segera melakukan ucapannya.
"Oke, baiklah kamu siap ya, Sya?" Doni menghela nafas panjang.
"Tasya Kamilah, maukah kau menjadi istriku?"
Lantang Doni berucap di hadapan Tasya yang datar menatapnya.
"Kok gitu lihatnya? harusnya kamu taruh telapak tangan kamu di mulut kamu yang mangap, ceritanya kaget gitu, Aww Doni... manis banget sih, gitu..." ucap Doni kecewa.
"Hahahaha..." Anan makin tertawa sampai menyembunyikan wajahnya di bahu Dita yang juga tertawa. Kelakuan dua sahabatnya itu memang sangat menggelikan.
"Oh... jadi Aku harus kaget gitu, wow Doni aku terkejut, gitu?" tanya Tasya.
"Ah tau amatlah, udah nih terima, aku pegel nih..." keluh Doni.
"Ye, harusnya mah nunggu jawaban, kamu diterima apa enggak sama aku, bukan langsung nih... gitu."
"Emang gak mau nikah sama aku?" tanya Doni.
"Ya, mau sih..." sahut Tasya.
"Tuh kan mau," ucap Doni lalu mengangkat tubuhnya sendiri untuk berdiri.
"Eh, sebentar... Tadi kata kamu mau, kan?" Doni menegaskan pendengarannya seraya menunjuk Tasya.
Doni langsung menghamburkan dirinya memeluk Tasya dan mengangkat tubuh gadis itu seraya berputar-putar.
Suara tepuk tangan langsung bergemuruh dari Dita, Anan, Tante Dewi, Andri, Shinta dan Anta. Ditambah lagi para penjaga dan tamu maupun penghuni apartemen yang melintas juga ikut bertepuk tangan.
Dita yang memanggil Pak Herdi sedari tadi menoleh ke arah Pocong yang berdiri di sudut ruangan. Ia bertepuk tangan juga dan sesekali menyeka air matanya. Dita jadi ikut terharu melihat Pak Herdi.
"Kak Shinta..." seru Doni.
"Iya, kenapa?"
"Aku nikah besok ya, di KUA," pinta Doni.
"Oke..." Shinta mengacungkan dua Ibu jarinya setelah ia taruh Lee di dalam kereta bayi.
"Jadi, besok kita belum ke rumah besar aku kan, Bun?" tanya Anan.
"Tahan dulu deh, kita urus pernikahan Tasya dan Doni dulu," jawab Dita.
"Hmmm kita ke butik aja yuk, cari gaun pernikahan buat Tasya sekalian seragam buat kita, gimana, Ta?" tanya Tante Dewi memberi ide.
"Boleh, tapi kita taruh barang-barang dulu ya," jawab Dita.
"Tapi aku maunya yang sederhana aja, Tante," ucap Tasya.
"Ya udah ayo kita bebenah dulu. Sekalian ngomongin pesta kecil untuk kalian," ajak Anan.
"Tapi, aku ada perlu sebentar sama Tasya, bolehkan, Yanda?" Dita melirik ke arah Pak Herdi.
Anan seolah mengerti dengan permohonan Dita. Ia pun mengangguk mengiyakan.
"Jangan lama-lama ya," pinta Anan.
Pria itu lalu menggendong Anta dan masuk ke dalam Lift bersama Tante Dewi, Shinta, Lee, dan Andri.
__ADS_1
"Doni, kamu ikut Anan aja!" pinta Dita.
"Hmmmm baiklah... tunggu, Pak!" Doni bergegas menyusul masuk ke dalam Lift.
Dita menuju koridor di sudut pintu lift yang berjejer menghampiri Pak Herdi bersama Tasya.
"Kalian kenapa, pada ngeliatin saya kayak gitu?" tanya Pak Herdi.
"Pak Herdi kenapa nangis?" tanya Dita.
"Saya terharu aja, habisnya seneng banget lihat kalian bahagia seperti itu," ucap Pak Herdi.
"Peluuuukkkk..."
Dita dan Tasya memeluk Pak Herdi secara bersamaan.
"Ahhh... seandainya aja saya waktu jadi manusia punya dua istri seperti kalian ini," ucap Pak Herdi.
"Lepas, lepas, lepas, aku mah bayangannya kayak seorang adik peluk kakaknya ini malah bayangin punya dua istri," sahut Dita.
"Iya nih, aku malah bayanginnya kayak anak perempuan peluk ayahnya," ucap Tasya.
"Kejauhan, Sya, sekalian aja bayangin cucu meluk kakeknya, puaaasss?" Pak Herdi bersungut-sungut.
"Hahahaha kalian ini, udah yuk kita ke atas!" ajak Dita.
"Boleh minta sesuatu gak?" tanya Pak Herdi.
Dita dan Tasya menoleh bersamaan.
"Mau apa?" tanya Dita.
"Minta digandeng..." rengek Pak Herdi.
"Ih... turun derajat pocong kalau lihat ada kaumnya yang kayak gini ya, Ta," bisik Tasya.
"Ho oh... kagak nyangka..." sahut Dita.
"Ya udah gak jadi lah," ucap Pak Herdi yang melompat mendahului.
"Duh, jadi pocong ngambek mulu, nih..." ucap Tasya lalu menggandeng tangan Pak Herdi sebelah kanan dan Dita menyusul menggandeng tangan sebelah kiri.
Dita dan Tasya mengikuti Pak Herdi yang melompat memasuki lift. Untungnya tak ada orang yang memperhatikan mereka.
Saat pintu lift terbuka di lantai dua puluh, sosok hantu perempuan yang terlihat memandang jendela, ia memperlihatkan punggung seramnya.
"Duh, jangan-jangan ini hantu yang bunuh diri itu, Ta?" gumam Tasya yang langsung bersembunyi di belakang Pak Herdi.
"Bisa jadi," sahut Dita.
Rupanya bisikan mereka terdengar dan membuat hantu perempuan itu menoleh. Dan betapa terkejutnya Tasya dan Dita saat melihat hantu itu tertawa menyeringai, lalu hantu itu bersiap menghampiri mereka dengan berlari.
*****
Bersambung...
Mampir juga ke :
- 9 Lives
- Diculik Cinta
- With Ghost
- Forced To Love
- Kakakku Cinta Pertamaku
Vie Love You All... 😘😘
__ADS_1