
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya... Jangan bosen bacanya ya...
Happy Reading 😊😘
*****
Tasya tiba di lantai dua ruang bersalin.
"Suster maaf ada pasien yang namanya Dita gak?" tanya Tasya.
"Kamu temennya Dita ya, yang dulu pernah ke rumah sakit jemput Dita iya kan?" Suster Irma mengingat sosok Anita yang dulu menjemput Dita saat pulang dari kecelakannya.
Tasya mengangguk-angguk dengan menggaruk kepalanya meski tak merasa gatal, dia paham sepertinya suster tersebut membicarakan Anita.
"Iya suster, terus Dita di mana ya?" tanya Tasya lagi.
"Ada di ruang perawatan, tapi gak boleh di tengok dulu, tadi masih belum sadar karena pembiusan, kalau mau liat bayinya di kamar bayi di ujung koridor sana belok kanan," ucap Suster Irma menjelaskan.
"Wah... bayinya cewek apa cowok sus?"
"Bayinya perempuan."
"Berati cewek ya?" tanya Tasya dengan polosnya.
Suster Irma pun tertawa mendengar kepolosan Tasya.
"Iya cewek," sahut suster Irma sambil tersenyum.
"Aaahhh senangnya, yuk ah liat bayinya Dita," Tasya menarik lengan Pak Herdi tanpa sadar.
"Kok itu... hmmm aneh ya, tapi... ah cuma perasaan saya aja kali," gumam suster Irma melihat kelakuan Tasya.
Sesampainya di depan ruangan bayi, tiba-tiba Tasya menghentikan langkahnya.
"Pak Herdi itu siapa pake daster lusuh gitu, mana rambutnya berantakan gak jelas gitu, ih serem itu orang apa setan yak?" Tasya menarik-narik lengan Pak Herdi.
"Sakit Sya, jangan kenceng-kenceng, itu setan tuh liat kakinya aja gak napak," tunjuk Pak Herdi.
"Kaki Pak Herdi napak itu cuma ketutup kain kafan aja kan? tapi pak Herdi biar napak juga setan ya kan?" Tasya melirik ke arah Pak Herdi.
"Tasya...makhluk astral jangan setan gak enak denger ya," sahut Pak Herdi menoleh ke arah Tasya juga.
"Haduh... cakep ya, ganteng juga lama-lama sayang..."
"Sayang apa...?" tanya Pak Herdi bertolak pinggang.
"Sayang hehehe... sayangnya setan hehehe."
Tasya berlari menghindari Pak Herdi tapi malah menabrak hantu kuntilanak di depan jendela ruangan bayi.
"Eh kok bisa nabrak aku sih hihihihihi...." hantu itu cekikikan di hadapan Tasya yang tubuhnya langsung gemetar.
"Ma...ma...maaf Mbak Kunti saya gak sengaja," ucap Tasya dengan kepala menunduk.
"Ih jangan panggil mbak Kunti dong, panggil Tante Key," ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
"Hah? Tante Key...? kekinian banget manggilnya," guman Tasya.
"Eh bentar kok kayak pernah liat dimana gitu ya? aduh siapa ya kamu?" tante Key mengamati Tasya dari kepala sampai ujung kaki.
"Tapi saya gak kenal sama Tante," sahut tasya.
"Duh iya ih pernah liat," ucap nya.
"Eh ngapain tante Key di depan sini, hayo mau nyulik bayi ya?" Tasya menuduh Tante Key.
"Sembarangan, gak level saya mah nyulik bayi iiiihhhh enak aja! saya tuh mau liat bayinya temen saya tuh cakep kan?" Tante Key menunjuk bayi perempuan yang cantik di hadapannya.
"Bayi yang mana? ada lima kan tuh, tiga bayi cewek, dua bayi cowok kembar lagi," ucap Tasya.
"Itu yang itu anaknya Dita," ucapnya.
"Waduh kok sama sih, saya juga kesini mau lihat anaknya Dita," sahut Tasya.
"Aiiihh jadi inget kan kamu tuh temennya Dita yang dulu jemput Dita waktu di rawat di sini, pantes kayak pernah lihat," ucapnya menepuk bahu Tasya.
"Iya iya, tapi jangan kenceng-kenceng naboknya sakit tau, coba minggir aku mau foto bayinya," ucap Tasya menggeser Tante key.
"Cantik banget ya, eh bentar kok nama orang tuanya Dita sama Sahid bukannya nama bos Ananta apa Mananta gitu ya?" gumam Tasya yang heran melihat nama orang tua di papan bayi tersebut.
"Mana aku tahu, tapi yang nama ibunya Dita cuma bayi ini doang," sahut Tante Key.
"Sya, nengok Dita yuk!" ajak Pak Herdi.
"Haduh ganteng banget sih kamu mirip sama pocong Anan si tampan, eh tapi kamu lebih dewasa sih lebih tampan buat aku mah," ucap Tante Key langsung menghampiri Pak Herdi dan memeluknya dengan erat.
"Ih apa-apaan sih kenal juga enggak main peluk aja, eh tapi bener juga sih saya lebih tampan dari Anan, kok kenal Anan?" tanya Pak Herdi.
"Oh iya dong kenal, dia kan ketua para hantu di sini waktu dulu, mana paling cakep lagi hihihi," jawab tante Key.
"Kok kenal sama Anan?" tanya Tante Key.
"Dia itu suaminya Dita," sahut Tasya.
"Waaahhh seriusan? kok bisa jadi suami Dita, kan dia pocong?" tanya Tante Key heran.
"Ceritanya panjang nanti aku ceritain..." ucap Tasya.
Ketiganya menuju kamar perawatan Dita.
***
__ADS_1
Ponsel Sahid berbunyi kala dia di tahan oleh suster Irma di ruang tunggu pasien.
"Abi... Abi kemana?" tanya seorang anak kecil di seberang sana.
"Arga, kamu pakai telpon siapa nak?" tanya Sahid.
"Aku dibeliin ummi hape baru, kata ummi boleh telpon abi, sekarang arga tanya, abi ada dimana?"
"Abi ada di Nesia nak, jauh dari rumah."
"Abi kapan pulang?"
"Abi gak bisa pulang sayang, nanti kapan-kapan abi kunjungi kamu ya," ucap Sahid yang berjuang menahan tangisnya.
"Tapi abi..."
tut...tut...tut... sambungan ponsel tersebut terhenti.
"Pak di cari suster Irma," tegur salah satu suster rumah sakit.
"Iya sus, sebentar saya kesana," sahut Sahid mengusap satu tetes air mata yang terlanjur jatuh di pipi.
Sebenarnya ia sangat rindu pada putranya Arga yang berusia tujuh tahun, tapi apa daya semenjak memergoki istrinya selingkuh dengan sahabatnya sendiri sangat membuat Sahid terpukul. Terlebih lagi sifat istrinya yang tak bisa menurut apa kata Sahid, padahal lima tahun pernikahan terasa baik saja. Dua tahun belakangan istrinya berubah, entah karena pergaulan apa karena perselingkuhannya dengan sahabat Sahid sendiri.
Sahid menuju ruangan suster mencari suster Irma.
***
"Ini kamar Dita kan?" bisik Tasya ke Pak Herdi.
"Iya bener kan tadi aku kesini," jawab Tante Key.
Pak Herdi yang tak jadi berucap hanya menoleh pada Tante Key.
Tasya membuka kamar VIP nomor 215 itu.
"Assalamualaikum." ucap Tasya sambil membuka pintu ruangan itu.
"Walaikumsalam." jawab Dita lirih.
"DITA.....!!!!"
Tante Key dan Tasya berteriak bersamaan menghampiri Dita saling menyenggol satu sama lain.
"Eh kalian pada ngapain sih berebut gitu?" Tanya Dita.
"Mau peluk kamu..." Tasya memeluk Dita diikuti dengan tante Key yang ikut memeluk Dita.
"Selamat ya Ta, bayi kamu cantik banget." ucap Tasya sambil memeluk Dita.
"Makasih ya Sya, aku aja belum lihat anak aku hehehe," sahut Dita.
"Hmmm Ta, bau amis gak sih, agak busuk gitu?" tanya Tasya.
"Oh... ada tante Key ya ikut meluk pantes rada bau gitu hehehe... maaf jangan melotot gitu dong nanti cantiknya hilang," ucap Tasya yang takut juga saat melihat Tante Key melotot ke arahnya.
"Hahaha kalian ini bisa aja, eh Pak Herdi gak mau peluk aku?" tanya Dita.
"Emang boleh Ta?" tanya Pak Herdi penuh harap.
Dita merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan Pak Herdi.
"Aku janji Ta bakal jagain anak kamu sampai Tania nyuruh aku balik," ucap Pak Herdi saat memeluk Dita.
"Makasih ya pak, makasih selalu jagain Dita dan selalu ada buat Dita," ucap Dita.
Seorang suster masuk ke dalam kamar perawatan Dita.
"Mbak Dita udah buang angin belum?" tanya Suster Dina.
"Ummm kayaknya belum deh sus," sahut Dita.
"Eh bentar sus, apa hubungannya sama buang angin?" tanya Tasya penasaran.
"Pada umumnya saat dilakukan pembiusan umum selama operasi caesar, pasien baru di ijinkan minum dan makan setelah pasien dapat buang angin atau flatus. Hal ini di sesuaikan dengan efek obat bius terhadap kerja saluran cerna. Jadi harus nunggu buang angin dulu ya, baru nanti saya kasih minum dan minum obat pereda nyeri."
Suster Dina menjelaskan sambil mengecek aliran cairan infus Dita.
"Oh gitu toh." Tasya mengangguk-angguk.
Duuuuuuuuttt....
"Hehehe maaf ya, enak banget rasanya puas," ucap Dita dengan wajah menahan malunya.
"Astagfirullah bau banget Ta kayak abis makan bangke ihhh..." ucap Tasya dengan rasa kesal mencium aroma yang tercipta dari bokong Dita.
Tante Key dan pak Herdi memasang wajah mual dengan menutup hidungnya.
"Hueeeekkk... bikin ilfil aja ih Dita mah," ucap Pak Herdi mencibir.
"Ya udah bagus malahan, sebentar saya bawa obat buat kamu ya sama air minum, saya panggil suaminya juga yak," ucap Suster Dina lalu keluar ruangan.
"Suami...?" Dita menoleh ke Tasya dengan perasaan bingung.
"Anan dateng Sya?" tanya Dita penuh harap.
"Nah itu yang mau aku tanyain ke kamu, masa tadi nama anak kamu tuh di papan nama orang tuanya ya, nama ibu Dita, pas nama suami namanya Sahid masa, itu siapa ya Sahid apa jangan-jangan suster nya typo Ta?" tanya Tasya dengan penuh semangat dan ingin tahu.
"Sahid...? Perasaan baru denger tuh nama, siapa ya?" gumam Dita.
"Halo... saya Sahid."
__ADS_1
Sahid masuk ke ruang perawatan Dita dengan senyum manisnya. Pria itu mengenakan celana jeans dan kemeja putih yang di masukkan ke dalam celana. Ikat pinggangnya ber merek terkenal yang terbilang mahal. Jam tangan yang melingkar di kiri kanannya juga terlihat mewah dengan brand yang tak murah harganya.
Tasya tak hentinya berdecak kagum sambil memperhatikan Sahid dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Kamu Sahid? apa kita pernah kenal sebelumnya?" tanya Dita.
"Saya yang nolongin kamu pas di taman tadi," jawab Sahid.
"Wah baik banget sih kamu, udah ganteng, baik hati, ramah dan tidak sombong lagi, kenalin saya Tasya, sahabatnya Dita," ucap Tasya langsung maju mengulurkan tangannya dan berkenalan dengan Sahid.
"Hai, Saya Sahid," ucapnya membalas uluran tangan Tasya.
"Makasih banyak ya kamu udah nolongin saya, oh iya soal biaya nanti saya ganti ya, kamu kan pasti udah nalangin semuanya makanya saya bisa di tangani langsung operasi, ya kan?" tanya Dita.
"Iya sih, udah tenang aja santai, saya senang kok nolongin kamu,"
ucap Sahid dengan mata berbinar menghampiri Dita. Entah kenapa wajah Dita yang tampak polos dan terlihat masih pucat itu menggetarkan hatinya seketika itu juga. Aura Dita sangat terpancar keindahannya.
Sahid hendak duduk di kursi samping ranjang Dita, tapi Pak Herdi dengan isengnya menggeser kursi tersebut sampai Sahid jatuh terjengkang.
"Astagfirullah kamu gak apa-apa?" tanya Dita dan Tasya berbarengan.
Dita langsung menatap tajam ke arah Pak Herdi yang sedang tertawa dengan puasnya.
"Aduh sakit sih, tapi gak apa-apa kok," sahut Sahid sambil menepuk bokongnya membersihkan celananya.
"Eh boleh tanya gak? kok nama anaknya Dita, di tulisan suaminya tulisannya nama kamu ya, Sahid?" tanya Tasya.
"Ah masa sih? mungkin salah paham aja kali ya, karena tadi suster Irma sangka aku suaminya Dita sih, oh iya emang suami kamu kemana?" tanya Sahid.
"Huaaaaa huaaaaaa aku kangen Anan huaaaaaa," Dita menangis sekuat tenaganya.
"Eh aku salah ya? suaminya udah meninggal ya, duh maaf ya saya gak ada maksud buat ngingetin dia ke suaminya." Sahid dengan panik mencoba menenangkan Dita.
"Huaaaaaaaa huaaaaaaaa hiks hiks hiks..." Dita makin menangis dengan kencangnya.
"Aduh cup cup cup Ta, tenang ya pikirin anak kamu ya Ta," ucap Tasya mengusap punggung Dita menenangkannya.
Sementara Sahid hanya bisa memandang dengan wajah bingung.
"Maaf ya," ucap Sahid.
"Kamu gak salah kok, takdir yang salah," sahut Tasya.
Ponsel Sahid tiba-tiba berbunyi.
"Halo, oke, saya segera kesana," Sahid menutup sambungan teleponnya.
"Maaf ya saya harus pergi, rekan bisnis saya menunggu saya sedari tadi, oh iya ini kartu nama saya sebentar," Sahid mengeluarkan kartu namanya dan menyerahkannya pada Tasya.
"Kalau butuh bantuan atau ada sesuatu yang membutuhkan tanda tangan saya di sini karena saya selalu penanggung jawab ibu Dita, kamu bisa hubungin saya di nomor itu ya," pinta Sahid.
"Iya, makasih ya sebelumnya." Ucap Tasya meraih kartu nama Sahid.
Lalu kemudian Sahid pamit keluar ruangan di ikuti oleh Tante Key.
"Heh Tante Key mau kemana?" tanya Tasya menghentikan langkah Tante Key.
"Ih kamu mah gak lihat apa cowok keren kayak gitu, wajar dong akyu mau ikutin dia cyin," sahut Tante Key dengan nada genit.
"Idih dasar Kunti ganjen!" gerutu Tasya lalu mengambilkan Dita air minum.
"Aku telepon Tante Dewi dulu ya," ucap Tasya.
"Iya Sya, makasih ya hiks hiks." Dita masih sesenggukan belum juga reda tangisannya.
Pak Herdi menghampiri Dita makin dekat memenangkannya.
"Nih Ta, biasanya kamu suka peper ingus jamu di sini," ucap Pak Herdi mengulurkan ujung kain kafannya ke Dita.
"Tadi mah ambilin tisu masa ini, ya udah deh sini."
Srooottt....
"Keluarin terus Ta biar lega, ikhlas saya di jadiin tisu sama kamu," ucap Pak Herdi tak mau menatap Dita.
***
Selang satu jam kemudian, Tante Dewi dan Om Kevin datang ke rumah sakit tempat Dita melahirkan setelah di hubungi Tasya.
Mereka bergegas menuju lantai dua ruang bersalin tempat Dita di rawat.
*****
Bersambung...
To be continued...
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All 😘😘😘