Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Mark VS Tasya


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Happy Reading...


******


"Ih si Mark lucu banget sih sama pacarnya sampai gak mau pisah segala. Udah yuk sayang antar aku berangkat kerja, kamu kan juga mau wawancara kerja di sana nanti telat lho," Mitha menarik tangan Doni agar masuk ke dalam mobilnya.


Doni mencoba mengenali gadis yang bersembunyi di balik tubuh Mark itu. Tapi, prasangkanya dia tepiskan. Doni berharap gadis itu bukan Tasya. Doni melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya kemudian.


"Untunglah udah pergi," gumam Tasya melirik ke arah mobil Doni yang melaju.


"Kamu kenapa sih, modus banget ya mau peluk aku?" tanya Mark menepis tangan Tasya dari jaketnya.


"Ih kalau gak kepepet juga aku enggak bakal mau peluk kamu!" Tasya mendorong tubuh Mark sampai terjatuh dari motornya.


"TASYA...!!!"


Mark berteriak kesal memanggil Tasya, tapi gadis itu langsung berlari ke dalam menyelamatkan diri.


***


"Bunda..." Anan memeluk tubuh Dita dari belakang saat sedang mencuci piring. Mencium tengkuk Dita adalah kegiatan favorit Anan kini.


"Ini kenapa sih? manis banget perlakuannya?" tanya Dita.


"Emang gak boleh kalau aku selalu kangen sama kamu?" Anan membalikkan tubuh Dita dan menaikkannya ke atas meja pencuci piring tersebut.


"Ini belum kelar nyucinya, kerannya masih terbuka nih," ucap Dita meraih keran air dan menutupnya.


"Cantik banget sih istri aku," Anan menggesekkan ujung hidungnya ke hidung Dita dengan gemas. Pria itu langsung ******* bibir tipis milik istri tercintanya itu.


"Astaga... hargailah saya yang belum menikah." Pekik Tasya menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat hendak meraih botol minum untuk Anta dari lemari es.


"Haish... si Tasya mah ganggu aja!" celetuk Anan.


"Di kamar gih! jangan tempat umum begini, ini kan dapur milik bersama huh!" Tasya mengeluh dengan pandangan sinisnya ke arah dua pasangan tersebut.


Di belakangnya Mark sudah bersiap memotong leher Tasya dengan lengan kekarnya.


"Tanggung jawab nih, kepala aku kebentur terus berdarah nih kamu..." Ucapan Mark terhenti kala melihat kemesraan Dita dan Anan di dapur tersebut.


"Hmmm... masih pagi kali! lagian bisa kan di kamar aja begituannya jangan di dapur!" ucap Mark dengan wajah kesal.


"Yeee siapa juga yang mau begituan, cuma mau cium istri sendiri aja gak boleh," sahut Anan.


"Itu kamu sendiri ngapain peluk Tasya?" Dita meledek Mark yang seolah memeluk Tasya dari belakang.


Tasya dan Mark saling bertatapan.


"Idih... amit-amit...!" pekik Tasya mendorong tubuh Mark lagi sampai menabrak sofa dan terjatuh ke sofa itu dengan tubuh terbalik.


"Awwww... Tasya...!!!" pekik Mark.

__ADS_1


"Aduh, maaf ya hehehe..." Tasya buru-buru menolong Mark bangkit.


Dita dan Anan bukannya membantu malah asik menertawakan mereka.


"Obati luka aku dulu nih!" perintah Mark membentak Tasya.


"Iya bentar!" Tasya gantian membentak Mark.


"Ta, jodohin Tasya sama Mark yuk, biar bisa lupa dari Doni," bisik Anan seraya mencium telinga kiri milik Dita.


"Tapi Yanda, semalam itu Tasya sama Pak Herdi bikin baper lho."


Dita membalas ucapan Anan dengan cara berbisik juga.


"Apa? si tofu basi sama Tasya, duh jangan deh bun kasian," ucap Anan menoleh ke kanan, kiri dan dibelakangnya. Anan takut juga jika Pak Herdi mendengar ucapannya barusan.


"Tapi Yanda, ada lagi yang bisa di jodohin sama Tasya."


"Siapa?" tanya Anan dengan tatapan gemasnya.


"Logan, guru di sekolah Anta, anaknya tuan Worm."


"Ah nanti jahat lagi sama seperti ayahnya." Wajah Anan berubah cemberut tapi masih terlihat menggemaskan di mata Dita.


"Sifatnya baik kok, belum tentu dia jahat juga, jangan langsung nge-judge seseorang begitu aja yanda," ucap Dita lalu mencium kening Anan.


"Hmmm... mending sama Mark."


Anan memperhatikan Mark dan Tasya yang sibuk berhadapan di ruang tamu rumah itu.


"Sabar... lagian ini kenapa bisa berdarah banyak gini sih?" tanya Tasya seraya membersihkan luka di kepala Mark.


"Kan tadi kamu dorong aku sampai jatuh, pas aku mau berdiri motor aku juga mau jatuh, langsung tuh aku pegangin tapi kepala aku kepentok sama setang motor."


"Kepentok setang motor sih sampai berdarah gini."


"Kan rada tajam Sya, duh bakal ada bekas luka nih di muka aku bikin jatuh aja pasaran," gumam Mark.


"Idih, percaya diri banget sih, emang buka harga pasar berapa? palingan juga sama ama harga ikan asin di pasar," sahut Tasya sambil tertawa.


"Sembarangan! pasaran aku mahal tau, banyak tuh cewek antri di kampus." Mark terlihat membanggakan dirinya.


"Hahaha... bangga banget, kalau kamu banyak yang mau, masa hari gini masih jomblo huuuu."


Tasya mencibir Mark seraya memberi olesan obat di kepala Mark.


"Itu hak aku lah, belum ada yang cocok aja, belum ada yang aku suka. Sekalinya aku suka perempuan malah istri orang," gumam Mark.


"Hah, kamu bilang apa barusan?" Tasya tak mendengar dengan jelas gumaman dari Mark.


"Enggak, bukan apa-apa kok, udah belum nih?"


"Dikit lagi, tinggal kasih plester, dah beres." Tasya menepuk plester di dahi Mark dengan kencang lalu pergi menuju kolam renang menyusul Anta.


"Sakit, Sya!!!" teriak Mark.

__ADS_1


Sementara itu Anta sedang bermain dengan Jerry di kolam renang. Tante Dewi berada di samping kolam untuk berjemur di hangatnya mentari pagi saat itu bersama Om Kevin.


"Hai, Anta. Kak Jerry mana?" tanya Tasya yang duduk di samping Anta bermain pasir kinetik.


"Di rumah sana," ucap Anta sambil menunjuk ke arah rumah kecil di samping kolam renang.


"Kebetulan, ada Tasya. Sya, aku tuh teringat sesuatu tau gak," ucap Lily yang tiba-tiba keluar dari boneka barbie dan duduk di samping Tasya mengejutkannya.


"Masih pagi kali kalau hantu mau nakutin nongol kayak gini," ucap Tasya menepuk bahu Lily.


"Siapa yang mau nakutin, aku tuh mau cerita nih dengerin ya," ucap Lily.


Lily menceritakan tentang ingatan yang dia punya terhadap foto perempuan di dompet Jerry yang pernah ia lihat tempo hari Pada Tasya.


"Lalu, kamu mau aku menanyakan siapa foto tersebut sama Jerry?" tanya Tasya.


"Iya tolong tanyakan siapa wanita itu baginya, aku mau tahu kebenarannya Sya." Lily mengguncang tangan Tasya sampai bergeser dari tempat semulanya. Tasya yang hilang keseimbangan malah terjatuh menimpa tubuh Mark yang baru saja datang mau menjahilinya dengan berteriak di samping Tasya.


"Aduh... sial banget sih hari ini kenapa kamu terus sih selalu aja bikin aku sial!" Tasya dengan ketusnya memandang Mark.


"Berat banget badan kamu, bisa geser gak sih!"


"Ih... sembarangan." Tasya menekan dada Mark dengan kedua tangannya saat bangkit untuk kembali duduk.


"Jelas-jelas yang menimpa badan aku tuh kamu, malah nyalahin aku dan bilang aku bikin sial, udah jatuh gak jelas gitu cih."


Mark mencibir Tasya dengan tatapan sinisnya.


"Yeee jelas-jelas kamu yang mau iseng kan sama aku? ngapain coba kamu tiba-tiba ada di samping aku, mau teriak kan di kuping aku?" Tasya balas menatap Mark dengan sinis.


"Kalian orang dewasa pada ngapain sih berantem kayak anak kecil?" tanya Anta yang mendangakkan wajahnya melihat pertengkaran Tasya dan Mark.


"Arisan...!!!"


Sahut Mark dan Tasya bersamaan menyentak Anta yang langsung punggungnya di beri tepukan oleh Lily.


"Sabar Ta, sabar ya... jangan kaget jangan sawan," ucap Lily seraya menepuk punggung Anta pelan berkali-kali.


*****


Masih bersambung ya guys...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


- Kakakku Cinta Pertamaku


season 1 END


- 9 Lives (END)


- Gue Bukan Player (END)


Vie Love You All 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2