Pocong Tampan

Pocong Tampan
Ketegangan di Mulai


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya... Jangan bosen bacanya ya...


Happy Reading 😊😘


*****


Malam itu Dita berada di beranda depan kamarnya memandang langit. Tiba-tiba sosok pocong melompat di sekitar beranda. Dita melirik ke arah sosok tersebut. Kemudian ikatan tali pocong itu mengintip dari sisi dinding rumahnya.


"Yanda...!!!"


Dita berteriak kegirangan langsung menyambut dan memeluk sosok penampakan pocong di dekatnya itu.


"Aku tahu kamu pasti bakal balik ke aku kan yandaku sayangnya aku cintaku mmmuuuaaahhh." ucap Dita sambil memeluk sosok pocong itu.


"Ta... ini saya lho, seneng banget saya di peluk kamu kayak gini."


Pak Herdi menegur Dita, suaranya berhasil menghancurkan dunianya yang sempat kembali cerah ketika impiannya menginginkan Anan kembali sirna karena kedatangan Pak Herdi.


"Yah bapak, kirain aku kamu itu Anan." ucap Dita kecewa.


"Anan kemana memangnya Ta?" tanya Pak Herdi.


"Anan menghilang pak, huaaaaaaaaa...." Dita langsung memeluk pak Herdi sambil menangis.


"Kok bisa dia menghilang?" tanyanya heran.


"Lagian bapak sih ngilang mulu gak jagain aku huhuhu..." ucap Dita sambil menangis.


"Lah kamu kan gak pernah panggil saya, aku pikir kirain lupa, tadi aja gelang kamu bunyi makanya aku bisa ke panggil." sahut Pak Herdi memperhatikan gelang di tangan Dita.


"Rasanya aku gak mau hidup lagi deh pak." ucap Dita dengan raut wajah sedih.


"Eh kamu gak boleh bilang gitu, kamu masih punya banyak orang yang sayang sama kamu, dan kamu masih punya anak Anan yang ada di kandungan kamu." Pak Herdi mencoba memberi Dita semangat dan menenangkannya.


"Tapi Anan itu hidup aku pak." sahut Dita.


"Kamu tidur tuh udah malam, siapa tahu nanti Anan muncul di mimpi kamu, saya bakal jagain kamu Ta." ucap Pak Herdi.


"Oh iya kenapa aku gak kepikiran ya, siapa tahu aja dia hadir di mimpi aku."


Dita masuk ke dalam kamarnya menutup jendela. Pak Herdi melompat menembus jendela kamar Dita menyelimuti Dita saat Dita berbaring.


"Pak Herdi..." ucap Dita lirih.


"Ya..." sahutnya.


"Nyanyi lagu buat aku dong!" pinta Dita.


"Hmmm ya udah aku nyanyi lagu nina bobo ya." jawab pak Herdi.


"Gak mau... aku maunya lagu dangdut, sambil goyang."


"Astaga Dita baru ini ada orang mau tidur minta lagu dangdut." ucap Pak Herdi tak habis pikir.


"Bawaan bayi pak pengen liat pocong goyang nyanyi lagu dangdut." ucap Dita memohon.


"Hadeh... kalau udah bawaan bayi apa mau di kata."


Pak Herdi menuruti apa yang Dita mau, meskipun malu, tapi melihat Dita tersenyum sudah sangat membuatnya cukup bahagia.


Padahal yang ada di bayangan Dita bahwa sosok pocong di hadapannya itu, pocong yang sedang menyanyi lagu dangdut dengan suara fals dan sumbang serta sambil berjoget di samping ranjangnya itu adalah Anan. Wajah Pak Herdi berubah menjadi wajah Anan seketika itu juga di mata Dita.


"I love you yandaku sayang..."


Ucap Dita lirih dengan buliran bening jatuh menetes dari kelopak matanya itu. Dita terus memandangi Pak Herdi yang berubah menjadi Anan di matanya itu sampai rasa kantuknya mendera, akhirnya Dita terlelap berharap Anan datang ke mimpinya.


***


Tante Dewi mengintip dari tirai jendelanya. Suara mobil Aiko terdengar di tengah malam dengan hujan gerimis itu. Aiko datang bersama dengan Bu Mey memasuki halaman rumah. Bu Mey mengambil payung untuk melindungi kepala dan tubuh nyonya besarnya itu agar tak basah.


"Nenek sihir itu pulang, aku akan lebih waspada liat saja besok, habis ku jambak rambut boneka mu itu." gumam tante Dewi sementara sang suami sudah terlelap di atas ranjangnya.


Setelah memastikan Aiko masuk ke dalam kamarnya Dewi berusaha menghampiri Bu Mey di kamarnya.


"Bu dari mana sama nenek sihir?" tanya Tante Dewi setelah berhasil mengendap-endap masuk ke dalam kamar Bu Mey.


"Saya tidak tahu nyonya." jawabnya.


Raut wajah Bu Mey berbeda, dia terlihat sangat sedih tapi tatapan matanya kosong.


"Lah kan kamu tadi pergi sama Aiko, masa gak tau di ajak kemana?" tanya Tante Dewi masih berusaha mencari jawaban.


Bu Mey kembali menggeleng.


"Bu... apakah anda baik-baik saja?"


Tanya Dewi menatap Bu Mey dengan lekat ada yang aneh dengan perempuan di hadapannya ini.


Akhirnya Dewi memutuskan untuk keluar dari kamar Bu Mey.


"Nyonya... saya mohon pergilah..." ucap Bu Mey lirih.

__ADS_1


"Apa? kenapa bu tadi ibu ngomong apa?"


Tanya Tante Dewi memastikan pendengarannya karena suara Bu Mey terdengar samar.


Wanita paruh baya itu kembali terdiam, tak ada jawaban dari bibirnya. Akhirnya Tante Dewi menutup pintu kamar Bu Mey dan kembali ke kamarnya.


***


Pagi itu di meja makan, Bu Mey melayani nyonya Aiko yang duduk dihadapan Tante Dewi dan Om Kevin. Lalu Bu Mey juga menuangkan air teh pada cangkir Tante Dewi dan Om Kevin. Mata Dewi yang tajam seperti memancarkan kilat yang menyambar ke mata Aiko.


"Bu coba panggilkan Anan dan Dita!" perintah Aiko.


"Baik nyonya," sahut Bu Mey.


BRAK....!!!


"Percuma Anan gak ada...! dia menghilang sama seperti kau ambil Manan, dasar wanita ular, ibu macam apa kau! ular saja masih mau merawat anaknya!"


Emosi Tante Dewi meluap kala melihat sosok Aiko yang masih tenangnya duduk menyantap roti sandwich dan secangkir teh nya.


"Aku tak mengerti apa yang kau maksud Dewi?" tanya Aiko dengan wajah polos bak malaikat.


"Sudahlah jangan berikan aku wajah polos yang menjijikkan itu! aku tahu semua yang kau lakukan pada kakakku."


Tante Dewi membentak kakak iparnya itu dengan perasaan kesal dan bulir air mata yang sudah jatuh di pipinya.


"Aku tak tahu apa yang kau maksud, mas Arjuna sedang pergi dalam perjalanan bisnisnya ke negara-negara Eropa." sahutnya.


Tante Dewi menyiram air teh dalam cangkirnya ke wajah Aiko.


"Dew, kendalikan emosi kamu."


Om Kevin menahan lengan Dewi agar kembali ke tempat duduknya.


Aiko mengusap wajahnya dengan tisu.


"Baiklah jika kau sudah tak ingin bersikap tenang dan sabar lagi kepadaku, kau yang minta aku melakukan ini, kalian tangkap dua orang ini!"


Aiko menunjuk Om Kevin dan Tante Dewi, lalu Bu Mey dan beberapa pelayan menangkap keduanya dan mengikatnya di kursi.


***


Tasya terbangun di kamar kos Shinta. Tubuh kakaknya Doni itu sudah menindih Tasya semalaman.


"Ih berat banget sih nih cowok mana mulutnya bau banget gara-gara makan bangke semalem kali yak, ih jijik banget saya sama nih perempuan," gumam Tasya mendorong Shinta berpindah dari atas tubuhnya.


"Kok saya jadi kepikiran Dita terus ya? apa saya telpon ya atau langsung ke rumahnya aja, di pasti masih sedih kehilangan pak Bos yang ngilang gitu aja," ucap Tasya pada dirinya sendiri lalu bergegas membersihkan tubuhnya dan bersiap-siap.


Tak lama kemudian, Tasya mengetuk pintu kos kamar Doni.


Tasya terus mengetuk pintu Doni sampai seseorang menggerakkan gagang pintunya dari dalam.


"Astagfirullah... Ih Doni porno!" Teriak Tasya dengan menutup wajahnya dengan tiga jarinya jadi kedua matanya masih sempat mengintip roti sobek milik Doni karena saat itu lelaki di hadapannya ini hanya mengenakan celana boxer.


"Hoaammmm... masih pagi tau Sya, kan kita libur." Sahut Doni mengucek ke dua matanya.


"Udah jam sepuluh Don, udah siang...!!!"


"Emang iya?" Doni melongok jam dinding di dalam kamar kosnya.


"Oh iya jam sepuluh hehehe." sahut Doni menggaruk kepalanya.


"Mandi ih sana! mana gak pake baju gitu." ucap Tasya lalu menghadap ke belakang tak mau melihat Doni.


Doni baru sadar karena dari tadi ia hanya memakai celana boxer.


"Aduh pantesan hawanya dingin, pantesan juga betah kamu Sya ngeliatin aku." ucap Doni.


"Huuuuuuu... pede banget udah buruan sana mandi, terus anterin aku ke rumah Dita," ucap Tasya.


***


Dita terbangun sambil menangis lalu memanggil Pak Herdi. Lemparan bantal demi bantal menghujani Pak Herdi.


"Ampun Ta...! ampun...! kamu ngapain kayak gitu ke saya?"


Pak Herdi mencoba menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.


"Bapak bohong katanya Anan bakal datang ke mimpi aku, mana? buktinya aku pules sampe jam segini Anan juga gak dateng!" Pekik Dita.


"Ya mana saya tau, cantik... kan saya bilang kali aja si menyan datang ke mimpi kamu."


Pak Herdi mencoba memberi alasan.


"Aku marah aku ngambek...!" ucap Dita.


Tiba-tiba teriakan datang dari arah bawah.


"Ta... denger tu ada yang teriak,"


ucap Pak Herdi menghentikan serangan bantal bertubi-tubi dari Dita.

__ADS_1


"Aku harus liat, kayaknya suara Tante Dewi."


Dita bergegas turun dari ranjangnya, perutnya berdenyut hebat seketika itu juga.


"Awwww... sakit, ini kenapa geraknya pada kenceng ya?" tanya Dita pada dirinya sendiri.


"Makanya pelan-pelan kalah gerak jadi dedek bayinya kaget tuh." sahut Pak Herdi.


"Enggak ini tuh beda banget pak." ucap Dita.


"Kamu duduk dulu, kamu tenang tarik nafas buang nafas." ujar Pak Herdi.


"Pernah ngajarin senam hamil ya pak?" Tanya Dita.


"Ta..."


"Iya iya maaf, udah tenang nih dedek bayinya, coba intip ke bawah yuk!" ajak Dita.


"Kok sepi pak?" Dita mengintip ke arah lantai bawah perlahan-lahan.


"Kau tau semua pelayan sudah aku libur kan kecuali dia dan dia."


ucap mami Aiko dan menunjuk ke arah Bu Mey dan Pia.


Suara jahatnya terdengar menggelegar sampai ke lantai dimana Dita berpijak. Dita melihat om Kevin sudah tergeletak tak berdaya di ikat di atas ranjang persembahan dalam rumah besar itu.


"Kau tahu apa yang akan ku lakukan?" tanya Aiko pada tante Dewi yang terikat di kursi makan sambil mencoba membebaskan dirinya.


"Lepaskan suami ku nenek sihir sial*n...!!!"


"Oh... Pasti akan ku lepaskan saat darahnya sudah mengalir untuk persembahanku, sayang sekali aku tak mendapatkan darah dari Arjuna, dan aku tak dapat menemukan Anan, setelah Manan ku persembahkan ruhnya, dan apa kau tahu Aiko terus menangis saat kehilangan anak-anaknya hahahhaha lucu ya...?"


Aiko makin tertawa menakutkan.


"Aiko? aku tak mengerti dengan yang kau ucapkan, lalu siapa kau jika kau menertawakan Aiko?"


Tanya Tante Dewi mengernyitkan dahinya.


"Hmmm bagaimana ya anggap saja aku saudara kembar Aiko, yang versi jahat hahahaha tapi kami terperangkap dalam tubuh yang sama, kami tak bisa berpisah hanya saling bergantian muncul." sahutnya.


"Kau sakit...!!!" Tante Dewi membentak.


"Aku sakit? hahahhaha aku sehat-sehat saja kok." ucap nya sambil mengusap wajah om Kevin dengan belati di tangannya.


"Hentikan... ku mohon hentikan, jangan lakukan apapun pada suamiku." pinta Tante Dewi, tak terasa air matanya menetes di pipinya.


"Nyonya aku membawa nona Dita untukmu." Pia menarik Dita dengan paksa.


"Dita kenapa kamu muncul sih...?" keluh tante Dewi.


"Aku gak akan tinggalin tante dan om, meskipun aku gak disini." sahut Dita.


"Bagus sekali kau memang menantu idaman, padahal Aiko sangat menyukai kehadiranmu waktu itu." Kini belati di tangan Aiko menari-nari di pipinya Dita.


"Dimana Ananku? katakan padaku karena dia adalah persembahan terakhirku, setelah itu sang ratu akan datang memasuki ruh bayi di dalam kandunganmu dan menjadikan tubuh bayimu sebagai tempat untuk dia lahir, bagaimana bagus kan, Ratu Masako akan kembali hahahaha." ucap Aiko dengan bangga.


"Aku aja enggak tahu dimana Anan, jangan-jangan sudah kamu sembunyikan ya?" tanya Dita.


"Kau itu lucu sekali ditanya malah balik tanya hahaha."


"Lah kamu lebih lucu mami ketawa mulu." sahut Dita.


"Hahaha lucu ya, aku masih heran kenapa Ratu sangat menyukaimu."


Belati Aiko masih menari di dagu Dita.


"Ikat dia...! aku lanjutkan persembahan ku selanjutnya..."


Aiko beralih ke tubuh Om Kevin.


Dua ajudan Aiko mengikat Dita di kursi makan samping tante Dewi.


"TIDAK.......!!!!"


Tante Dewi berteriak sekuat tenaganya.


*****


Bersambung guys…


Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku


“WITH GHOST”


ramaikan disana.


Baca juga :


-          Kakakku Cinta Pertamaku


-          9 Lives

__ADS_1


-          Gue Bukan Player


Vie Love You All… 😊


__ADS_2