
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Happy Reading...
******
"Hei Logan!" Dita menyapa Logan saat keluar dari restoran miliknya. Di sampingnya ada Anta yang melambaikan tangannya pada Logan.
"Halo, selamat malam nyonya, selamat malam Anta!" sapa Logan dengan senyum ramahnya.
"Kok Anta belum tidur, ini sudah jam sepuluh malam kan?" tanya Logan sambil mencubit pipi Anta dengan gemas.
"Anta belum ngantuk, Anta kan anak yang berbakti jadi bantuin bunda dong. Kan lagipula besok libur pak," ucap Anta mencoba protes.
"Iya sih besok libur tapi gak baik ah kalau jam segini anak kecil masih di luar, nanti kalau ketemu hantu gimana hiiiyyy," Logan mencoba menggoda Anta dengan cara menakutinya.
"Hantu, Anta mah gak tak..."
Dita buru-buru membekap mulut Anta. Pasti ada saja yang Anta bicarakan perihal hantu yang tak pernah sama sekali ia takuti pada Logan.
"Udah ya Anta, Pak Logan bener, yuk kita pulang!" ucap Dita tersenyum paksa pada Logan sambil menutup mulut Anta lalu menarik tangannya menuju mobilnya.
Logan yang merasa bingung dengan sikap Dita akhirnya pamit pergi menuju restoran ayahnya.
"Sya, ayo pulang!" ucap Dita.
"Ta, kamu yakin semuanya udah beres?" tanya Tasya saat memasuki mobil Dita.
"Udah sih, tadi juga Ratu Sanca udah bersih, di mandiin Anta," ucap Dita sambil cekikikan membayangkan adegan lucu saat Anta memandikan ular besar tersebut.
"Aku kok kayak lihat sesuatu ya, itu tuh menggeliat di sana tapi gak bisa masuk ke halaman kita," Tasya menunjuk ke arah cacing besar bertanduk yang anehnya punya kaki dan tangan untuk berjalan.
"Wah... gak bisa di biarkan nih," ucap Dita melepas seat belt lalu turun dari mobilnya.
"Dia gak akan bisa masuk, Ta. Taburan mutiara hitamnya kan sementara ini bisa menjaga wilayah Ratu Sanca. Cuma, mutiaranya habis nanti kalau kamu kena larva parasit dari cacing itu gimana?"
Pak Herdi mencegah Dita untuk menghampiri monster cacing tersebut.
"Hmmm... baiklah ada benarnya juga omongan bapak," sahut Dita.
"Nah bener kan, ya udah kita pulang!" ucap Pak Herdi lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Tasya, di kursi belakang. Keduanya sempat memandang kikuk satu sama lain, lalu bersamaan mengalihkan pandangan mereka ke arah lain.
***
"Bagaimana hari ini, jadi acara pembukaan restoran kalian?" tanya Tante Dewi saat berada di meja makan yang sama untuk sarapan pagi itu.
"Emmm sepertinya di undur tante, sampai kondisi Anan pulih." ucap Dita memberikan dua lembar roti yang sudah di beri selai kacang kesukaan Anan ke atas piringnya.
"Bunda lagi," pinta Anta menyodorkan piringnya ke hadapan Dita.
"Baru lima menit, sudah habis aja," celetuk Tasya.
__ADS_1
"Biarin, tante sirik aja sama Anta," ucap Anta menjulurkan lidahnya sedikit pada Tasya.
"Ih cubit nih...!" Tasya mencoba mencubit pipi Anta dengan gemas namun Anta sudah siap untuk mengelak.
"Heh, ini kok lagi sarapan bareng malah bercanda aja sih," ucap tante Dewi melerai Anta dan Tasya.
"Tapi bukannya kemarin Anan sudah di operasi ya?" tanya Om Kevin.
"Sudah om, tapi yang saya takutkan selama masih ada monster cacing milik Tuan Worm, larva parasit di tubuh Anan bisa datang lagi mengganggunya," ucap Dita menaruh dua lembar roti di piring Anta.
"Monster cacing?" tanya Tante Dewi dan Om Kevin bersamaan.
Dita akhirnya menjelaskan perihal tentang para cacing yang berada di pizza milik tuan Worm. Dita juga menceritakan keberadaan monster cacing yang menyerang restorannya semalam.
"Oh jadi gitu serem juga ya perbuatan tuh manusia," ucap Tante Dewi memberi respon atas cerita Dita barusan.
"Berarti yang secara tidak langsung menyebabkan kematian ayahku itu si Worm ternyata, ini gak bisa aku biarkan."
Om Kevin meremas taplak meja di hadapannya lalu mengepal tangannya dan menggebrak mejanya.
"Ih kaget aku," ucap Jerry yang baru masuk dan bergabung di meja makan.
"Maaf, habisnya saya kesel sama tuan Worm, saya harus memberi balasan padanya." ucap Om Kevin.
"Caranya bagaimana mas, kan mas gak ada bukti, masa iya hal gak logis yang Dita utarakan tadi bisa di bawa ke persidangan?
Om Kevin mengiyakan juga pertanyaan istrinya.
"Lalu bagaimana caranya?" tanya Om Kevin.
"Dita bingung tante, gimana caranya mengalahkan. Monster cacing itu ya?"
"Mmmmm.... bagaimana kalau di kasih obat cacing tuh di apotik kan banyak dijual," sahut Tante Dewi dengan santainya sembari mengunyah roti dan selai coklatnya.
"HAH...?!"
"Memangnya cacing dalam perut Anta apa di kasih obat cacing di apotik, ini tuh monster tante, monster..." ucap Dita gemas melirik ke arah tantenya yang tertawa bersama Om Kevin.
"Anta tau bunda, gimana kalau lawan ultraman?" celetuk Anta.
"Astaga... mau nyari di mana ultraman kayak di video yang suka Anta tonton itu," Dita menepuk dahinya sendiri.
"Itu ada pak Anan, nanti si Jerry yang cariin kostum ultraman buat lawan monster cacingnya, gimana Ta?" celetuk Tasya sembari melirik ke arah Anta dan Dita.
"Astaga...kalian Ini bener-bener ya, ihhhh."
"Pada ngomongin apa sih, Jerry gak ngerti deh. Omong-omong nih ya ada Fun Fair di deket taman, kesana yuk!" ajak Jerry yang akhirnya bergabung dengan pembicaraan mereka.
"Asik Anta mau, nanti bisa naik banyak permainan terus bisa jajan banyak makanan, boleh ya bunda ayo kita kesana," pinta Anta dengan wajah mautnya yang memelas.
Dita menatap ke arah Anan lalu menjawab bersamaan dengan Anan.
"Oke!"
__ADS_1
"Asik...!!!" Anta bersorak kegirangan.
***
"Kamu ngapain jongkok di depan motor aku seperti Itu?" tanya Mark yang bersiap pergi kuliah.
"Anting aku jatuh tadi lari ke sini," ucap Tasya seraya menunjukkan telinga kanannya yang kehilangan anting.
"Anting bisa lari, aneh-aneh aja!" ucap Mark mencoba menaiki motornya melangkahi Tasya.
"Ih kurang ajar banget nih!" Tasya memukul paha Mark dengan kesalnya.
"Aduh kuat banget tangannya, sakit tau aduh pedes paha aku!" pekik Mark.
"Lagian gak sopan banget, boro-boro gitu bantuin cari anting aku," ucap Tasya memandang Mark dengan tatapan tajam.
Di seberang sana Doni dan istrinya keluar dari rumah. Doni akan mengantar istrinya itu pergi ke tempat kerjanya menjadi asisten konsultan di kantor yang sama dengan Tina.
"Aduh gawat nih." gumam Tasya.
"Gawat kenapa?" tanya Mark yang tak mengerti.
"Udah deh diem aja, tutupi aku biar gak kelihatan sama mereka," ucap Tasya menarik jaket hitam Mark untuk menyembunyikan wajahnya agar tak terlihat Doni.
"Hai Mark!" sapa Mitha dari seberang sana.
"Hai... apa kabar?" sahut Mark membalas sapaan Mitha dan melambai ke arahnya.
"Aduh... kenapa sih kamu pakai kenal segala sama dia," gumam Tasya.
"Lah orang kenal sih gak boleh, terus kenapa memangnya?" tanya Mark mencoba menarik jaketnya menepis tangan Tasya.
"Aduh please... jangan di tarik."
Tasya malah memeluk tubuh Mark menyembunyikan wajahnya.
Deg...
Mark yang tersentak dan tak siap menerima pelukan Tasya itu langsung merona wajahnya.
******
Masih bersambung ya guys...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
- Kakakku Cinta Pertamaku
season 1 END
- 9 Lives (END)
__ADS_1
- Gue Bukan Player (END)
Vie Love You All 😘😘😘