Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Pergi ke Festival (Part 1)


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Mampir ya ke Novel terbaru aku yang uwwu


"Diculik Cinta" yang siap mengocok perut kalian.


Happy Reading...


******


Saat berada bersama Tina, Om Kevin merasakan cinta lama mereka yang belum selesai itu muncul kembali. Meskipun mereka coba menahannya, akan tetapi ledekan dari para rekan mereka membuat mereka malah tambah dekat.


Ponsel Kevin berbunyi, ia lihat layar ponselnya, lalu ia ijin pamit dari hadapan Tina. Siapa lagi kalau bukan tante Dewi yang menghubunginya. Firasat wanita memang tak pernah salah, terlebih ketika sang suaminya menjalin hubungan dengan perempuan lain.


"Iya, sayang... besok aku pulang," ucap Om Kevin, lalu menutup sambungan ponselnya.


"Itu dari Dewi, ya?" tanya Tina.


Om Kevin mengangguk.


"Hmmm... ya sudah, aku mau balik ke kamar dulu," ucap Tina dengan surat wajah kesedihan karena ia tak dapat memiliki Om Kevin seutuhnya.


Pria itu duduk di balkon sebuah rumah kayu tempat mereka menginap. Sementara itu, teman-teman mereka sudah pulang lebih dulu kemarin. Pandangannya jauh ke arah hutan pinus. Om Kevin lalu mengacak-acak rambutnya kesal sendiri. Kenapa bisa ia sampai khilaf melakukan perbuatan terlarang tadi bersama Tina.


Tangannya mengepal, sesekali ia pukul dinding kayu di hadapannya itu dengan kesal.


"Maafkan aku, dewi," lirihnya.


***


Dita, Anan dan Anta memutuskan untuk pergi ke pameran budaya Jepang. Sementara Tasya pergi bersama Logan. Tadinya Jerry ingin sekali ikut, tetapi Tante Dewi menahannya. Wanita itu ingin Jerry menjaga rumah dan tak pergi. Walau sebenarnya ia merasa takut berada di rumah sendiri, oleh karena itu ia tahan Jerry.


"Bunda, kita ke sekolah dulu ya," pinta Anta.


"Lho, memangnya mau ngapain, Ta, kita ke sekolah?" tanya Dita.


"Mau jemput Rian, kasian tau bunda dia pasti mau ikut, kan lumayan buat jagain Anta, soalnya tante Lily di rumah jagain rumah sama tante Yerry," sahut Anta.


"Itu kenapa dua makhluk itu minta dipanggil tante sih sama Anta?" celetuk Anan dengan nada sedikit meledek.


"Udah sih biarin aja dipanggil tante, biar seneng hehehe...," sahut Dita.


"Okelah kita ke sekolah, apapun yang Anta mau juga yanda turuti," ucap Anan lalu melajukan mobilnya menuju sekolah Anta menjemput Rian.

__ADS_1


Sesampainya di festival budaya Jepang, Anta langsung turun dari mobilnya dengan penuh antusias. Dita langsung menahan tangan putri kecilnya itu seraya menunjukkan tatapan tajamnya.


Di akhir pekan musim panas itu lumayan ramai pengunjung. Terdengar suara tabuhan taiko (genderang besar khas Jepang) dan pawai warga yang bersemangat membawa mikhosi dan dashi. Perbedaan yang mencolok dari dashi dan mikoshi terletak pada cara membawanya. Dashi dibawa dengan cara ditarik, sedangkan mikoshi dipanggul di pundak orang-orang sambil berjalan mengelilingi kota dengan menggunakan baju kimono khas Jepang.


Karena bagian atas dashi bisa dinaiki orang secara umum, maka Anta langsung dengan gerakan cepatnya memohon pada bunda untuk ikut serta naik daishi. Sedangkan mikoshi tidak bisa karena mikoshi dianggap sebagai kendaraan dewa menurut penuturan Anan yang disimak oleh Dita.


Banyak juga terdapat beberapa booth kuliner dan budaya Jepang yang memeriahkan festival ini. Ada juga panggung hiburan yang terdiri dari main stage yang akan menampilkan beragam kebudayaan tradisional Jepang, pop culture stage yang menampilkan budaya pop Jepang seperti cosplay dan lain sebagainya, serta chika stage yang akan digunakan komunitas lokal ujuk kebolehan.


"Kami mau foto bareng doraemon, gak?" tanya Anan.


"Ih, yanda... emang aku Anta apa, tapi aku mau fotoin yuk, mumpung Anta masih naik itu," ucap Dita menarik Anan untuk bergegas mengabadikan pertemuannya dengan boneka besar doraemon yang dijalankan manusia.


"Yanda... Anta mau ikut foto juga!" seru Anta.


Di sisi lain sudut festival ini, Tasya sedang bersama Logan menikmati hidangan ala Jepang di stand kuliner yang tersedia di sana. Makanan khas mulai dari sushi, udon, ramen, takoyaki, hingga minuman khas Jepang hadir di sini. Harga yang ditawarkan juga termasuk terjangkau. Banyak pedagangnya yang merupakan orang asli Jepang. Aroma masakan di sepanjang jalan sangat menggugah selera pengunjung yang ingin merasakan berbagai kudapan khas Jepang.


Tasya sedang menyantap gyoza yang baru saja dibelikan Logan untuknya. Tiba-tiba seorang pria menarik lengannya menuju ke gang sempit menjauh dari keramaian festival tersebut.


"Doni? kamu apa-apaan sih, bawa aku ke sini?" tanya Tasya dengan wajah kesal dan mulut yang masih mengunyah makanan tersebut. Saus sambalnya masih tertinggal di sudut bibirnya dan membuat Doni membersihkannya dengan, bibir.


"Hmmpphh...!!!" Tasya berusaha melepaskan ******* bibir Doni dengan mendorong dada pria itu sekuat tenaganya.


Pak Herdi datang seketika karena gemerincing gelang yang Tasya gunakan berbunyi. Pocong itu menarik rambut kepala Doni dengan paksa, lalu memukulnya.


Doni jatuh tersungkur dengan luka di pelipisnya akibat pukulan Pak Herdi. Tasya langsung bersembunyi di balik tubuh sosok pocong itu. Sungguh pemandangan yang aneh. Karena biasanya para manusia bersembunyi di balik tubuh manusia lainnya karena takut dengan sosok pocong, hal itu malah berlaku sebaliknya bagi Tasya.


"Kamu harusnya sadar, dong! kamu tuh suami orang, Don!" seru Pak Herdi mengomeli Doni.


"Tapi saya gak cinta pak sama dia, saya cintanya sama Tasya," sahut Doni.


"Hmmm... tapi kalau kamu terus memaksakan kehendak kamu seperti ini, kamu malah makin membuat Tasya malu," ucap Pak Herdi.


"Kenapa saya membuat Tasya malu?" tanya Doni seraya menyeka lukanya. Ia masih duduk di aspal tersebut dengan bersandar di dinding gang tersebut.


"Ya jelas aku malu tau, coba kamu bayangin bakalan banyak yang menghujat aku sebagai perebut laki orang alias pelakor jika aku terus saja membiarkan kamu mendekatiku," keluh Tasya.


"Tapi kan mereka gak tau yang sebenarnya," protes Doni.


"Mereka gak peduli dengan cerita yang sebenarnya terjadi, yang penting buat mereka itu yang mereka dengar sendiri meski baru katanya, lalu belum lagi jika gosip yang mereka dengar baru katanya itu ditambah-tambah," ucap Tasya dengan nada kesal.


"Nah, kan... dengar sendiri, tolonglah Don, hormati Tasya sebagai perempuan single." Pak Herdi mengulurkan tangannya untuk menarik tangan Doni agar ia berdiri.


"Ayo, Pak, kita pergi biarin dia di sini sendiri," bisik Tasya lalu berjalan mengendap-endap menyeka bibirnya dengan kesal.


Pak Herdi melihat ke arah Tasya sekilas. Sesungguhnya ia tau Tasya pasti sangat sedih mendapatkan ciuman itu dari pria yang dicintainya itu, tapi sayangnya status pria tersebut sudah menjadi milik wanita lain.

__ADS_1


"Tasya..." Logan menegurnya.


"Hai..." sahut Tasya.


"Kamu dari mana, sih? aku kan barusan cari kamu kemana-mana," ucapnya memberitahu.


"Ummm aku tadi ke toilet, hehehe mau pipis, maaf ya baru bilang."


Tasya menarik lengan Logan menuju pertunjukan tari-tarian warga Jepang dan penduduk lokal.


kembali ke Dita, ia tak sengaja menabrak bahu seorang wanita yang ternyata Mitha.


"Hai, kak Dita!" sapa Mitha yang dibalas sapa oleh Dita dan Anan pula.


"Mana, Doni?" tanya Anan.


"Ih... kesel banget masa dia hilang gitu aja sih, jangan-jangan dua samperin Tasya lagi," sahutnya bercampur kesal dan cemas.


Dita hanya tersenyum mendengar omelan Mitha tersebut. Namun, pandangannya tertuju pada kalung hang dipakai Mitha. Liontin itu ia hapal betul kalung itu pernah ia pakai saat Mama Aiko — mamamya Anan — memberikannya.


Cahaya liontin tersebut berpendar lalu muncul sapa hitam dari dalam liontin tersebut. Tak lama kemudian gumpalan asap wanita itu berubah menjadi sosok menyerupai seorang wanita yang membuat Dita langsung sontak mundur ke belakang.


"Kenapa, bun?" tanya Anan.


"Tuh, coba yanda lihat," ucap Dita menunjuk ke arah samping Mitha.


"Astaga...!!!" Pekik Anan melihat sosok tersebut. Sosok yang mereka pernah kenal dari masa tempo dulu.


******


Bersambung ya...


Mampir juga ke :


- Diculik Cinta


- With Ghost


- 9 Lives


- Gue Bukan Player


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2