Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Menjenguk Mark


__ADS_3

Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.


Terima kasih and Happy Reading. 😘😊


*******


"Itu tuyul apa siapa, ya?" gumam Dita yang perlahan-lahan mencoba mendekat.


Sampai akhirnya rasa penasaran Dita membuat ia menyalakan lampu dapur begitu saja.


Klik.


"Astagfirullahaladzim..."


Pekik Dita.


"Lee... itu tikusnya dilepeh, jangan dimakan, duh dapet aja lagi tikus buat Ratu Sanca, siapa sih yang taro di sini," gumam Dita.


Tak tahan melihat Lee mengunyah tikus tersebut, Dita segera memanggil Shinta dan membangunkannya. Doni yang mendengar keributan Dita di dapur langsung terbangun. Ia seka kedua matanya seraya menguap lebar.


"Ada apaan, sih?" tanya Doni.


"Itu, lihat aja di dapur, Don!" seru Dita menunjuk ke arah dapur saat dia menuju kamar Nenek Rose membangunkan Shinta.


"Apaan, sih?" Doni segera menuju dapur.


"Leeeeeee... kamu tuh ya bisa-bisanya sampai sini, hueeeekkk...." Doni tak bisa menahan rasa mualnya yang langsung menuju wastafel untuk muntah.


Lee menoleh pada Doni seraya meringis, menunjukkan enam giginya yang baru tumbuh dan penuh darah.


"Aduh, Lee... kamu ngapain sih di sini? ini pasti kamu ya, Don, yang kasih dia makan ini?" tuduh Shinta.


"Ya ampun, Kakak... Aku aja baru sampai di sini gara-gara Kak Dita tunjuk ke arah dapur," sahut Doni.


"Terus, jadinya aku harus nyalahin Dita, gitu?" Shinta menoleh ke Dita.


"Wooooo sembarangan, tanya dong sama anak kamu itu, dia sendiri lho yang jalan sampai sini, untung aja gak pelihara kucing atau anji*g, ngeri dimakan Lee doang," sahut Dita.


Shinta mendengus mendengar penuturan Dita, ia segara mengangkat Lee menuju kamar mandi.


"Ada apa, sih?" tanya Tante Dewi dari lantai dua dan menengok ke arah Dita.


"Mending gak usah tau deh, Tante. Udah balik lagi ke kamar nanti jijik kalau lihat Lee makan tikus punya Ratu Sanca," sahut Dita.


"Oke, gak usah diperdebatkan lagi, bye...." Tante Dewi kembali masuk menuju kamar, dan menggeser paksa tubuh Tasya yang menguasai satu kasur berukuran king size tersebut.


"Don, bersihin ya, aku mau pipis."


Dita langsung pergi meninggalkan Doni.


"Hadeh, apes banget aku punya keponakan kayak gitu, untung bukan turunan kanibal, hiyyyy gak bisa bayangin aku kalau Lee kanibal, Astagfirullah, jangan sampe hiiiii...."

__ADS_1


Doni bergidik ngeri dan segera mencari sesuatu untuk menutup hidungnya dan kedua matanya karena jijik melihat remahan bekas jasad tikus.


***


Keesokan harinya, Dita hendak membawa Samanta ke penjara menemui Mark, namun ia tak dapat keluar dari rumah tersebut. Dan akhirnya Dita dan Anan menuju penjara tanpa Samanta. Tante Dewi sebagai wali dari Mark ikut ke sana bersama Anta.


Setelah sampai di penjara, Dita dan yang lainnya bertemu dengan Logan dan Laura. Mereka menemui Mark yang tengah terbaring di ruang perawatan ruang kesehatan dalam penjara.


Mark masih saja memanggil nama Dita apalagi saat dia melihat Dita dan Anan datang bersama Tante Dewi, ia tak segan-segan ingin memeluk Dita. Namun, Anan segera menghalangi Mark.


"Jadi, kalian ke sini mau menertawai aku ya hahaha..." tawa Mark.


"Bukan itu, Tante tuh khawatir sama kamu, biar bagaimanapun juga sepeninggal Om Kevin, yang jadi wali kamu itu Tante," ucap Tante Dewi.


Logan masuk ke dalam ruangan tersebut dan menyapa Mark.


"Mau apa kau kemari? apa Ayahmu yang memerintahkan kepadamu untuk mencari tahu keadaan ku, iya begitukah Logan?" tanya Mark.


"Aku tak tahu di mana Ayahku berada sekarang, terakhir kali aku bertemu dengannya saat ia pamit hendak menuju Desa Anyelir menemui Nenek ku," jawab Logan.


"Kau memang selalu mudah digunakan dan dibohongi ya Logan, Ayahmu itu ke Desa Anyelir karena di sanalah pusat dari Ratu Monster Cacing, dia ingin meminta perlindungan dan aku yakin dia kini memakai tubuhku untuk bertahan hidup," ucap Mark.


"Aku tak mengerti dengan pembicaraan ini, apa yang kau maksud dengan monster Cacing?" tanya Logan.


"Hah, dasar bodoh!" seru Mark.


"Bukankah itu hanya dongeng semasa kecil ibuku saat menceritakan kalung mutiara hitam dan gigi monster Cacing yang ada dikalungku, ini?" tanya Logan.


"Apa yang kamu maksud tentang penumbalan suamiku? tolong jelaskan kepadaku!" Laura yang mendengar pembicaraan Mark dari tadi akhirnya memberanikan diri masuk bersama Anta ke dalam ruang perawatan Mark.


"Laura, it's that you?" (Laura, apakah itu kamu?)


"Iya, ini aku Laura, aku datang ke kota ini lagi karena telah kehilangan suamiku, apakah kau yang membunuhnya?" tanya Laura.


"A-aku, aku hanya ingin mendapatkanmu, tidakkah kau memikirkan perasaan aku, Laura...!" bentak Mark.


"Tapi bukan begini caranya buka dengan cara sihir hitam seperti ini..." ucap Laura.


"Tunggu, sihir hitam, apa maksudnya itu?" Logan menyentuh bahu Laura.


"Ya, Logan. Ayahmu dan Mark menggunakan sihir hitam bersama monster Cacing, dia menggunakannya untuk membuat restoran pizza-nya terkenal, dan membuatnya lebih muda, apa awet muda begitulah," Dita mencoba menjelaskan pada Logan.


"Apa Ayahku sejahat itu?" gumam Logan.


"Ya, memang Ayahmu sejahat itu dan dia juga yang membuatku jahat," sahut Mark.


Logan tertunduk lesu dan menangis. Anan berusaha menenangkannya dan membawanya keluar ruangan untuk sementara waktu.


Dita perlahan mendekati Mark untuk menanyakan perihal Samanta.


"Lalu, maaf Mark sebelumnya, apakah aku boleh tau sesuatu, tentang Samanta?"

__ADS_1


"Sudahlah, jika kau ingin menuduhku tentang kematian Samanta, baiklah aku akan mengaku," sahut Mark.


"Kenapa kau lakukan itu, Mark?" tanya Laura dengan perasaan marah.


"Karena kau, karena aku menginginkanmu. Tapi, aku tak sengaja harusnya Nenek Samanta yang mati dan bukan dia," tukas Mark.


"Om Mark, kenapa taruh kotak bedak di kolong kasur Nenek Rose?" celetuk Anta.


"Maksud, Anta?" Dita menoleh pada Anta.


"Iya Bunda, Om Mark bawa kotak bedak terus di taruh di kolong kasur Nenek, tadi Anta lihat sekilas di matanya Om Mark," ucap Anta.


"Apa? kenapa kamu bisa melihat pikiranku?" tanya Mark yang tak percaya dengan penglihatan Anta.


"Apa jangan-jangan itu abu jenazah Samanta?" tanya Dita.


"Aku, aku, aku tak tahu aaaarrrggghhh pergi, pergi saja kalian dariku, tinggalkan saja aku yang menjijikkan ini!" teriak Mark. Ia terus saja berteriak dan kehilangan kendali emosinya.


Dita jadi curiga dengan kotak bedak yang dibilang Anta tadi, ia lalu memberitahukan hal tersebut pada Anan dan menyuruhnya untuk membongkar kolong kasur mencari abu milik Samanta.


"Bagaimana dia dapat mengambil abu milik Samanta ya?" tanya Anan.


"Mungkin dia mencurinya," sahut Dita .


"Tapi, untuk apa dia mengubur abu Samanta di sana?" tanya Anan.


"Karena mungkin Mark merasa bersalah dan ingin mengenang Samanta sampai ia sembunyikan dalam rumah," sahut Logan.


"Sakit jiwa," ucap Anan.


"Ku rasa memang gangguan kejiwaan Mark sudah terlihat saat di kelas kimia waktu sekolah. Dia menyiram seorang guru dengan air kimia percobaannya hanya karena memberinya nilai E," ucap Logan.


Tante Dewi memandangi Mark yang berada di dalam ruang perawatan tersebut. Di dalam sana Laura perlahan mencoba membuat Mark menuturkan segala perbuatan jahatnya.


Rasa cinta yang sedikit itu masih ada, membuat Laura tak tega meninggalkan Mark pada akhirnya.


******


Bersambung...


Mampir juga ke :


- 9 Lives


- Diculik Cinta


- With Ghost


- Forced To Love


- Kakakku Cinta Pertamaku

__ADS_1


Vie Love You All... 😘😘


__ADS_2