Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Hantu Suku Ro


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading 😊😊😊


******


Setelah melihat kepala yang menggelinding dari atas tangga eskalator tadi ke bawah, lalu beberapa pengunjung mall dan spg menjatuhkan kepala mereka sendiri ke bawah kaki mereka.


"Kok kepalanya pada putus bunda?" Anan bergidik ngeri dengan tubuh gemetar.


"Iya yanda kok semua kepalanya putus ya?" sahut Dita yang juga bergidik ngeri.


Anan dengan paniknya menarik tangan Dita membawanya keluar dari mall yang menyeramkan itu. Seorang satpam menegur Dita dan Anan.


"Kenapa pak?" tanya satpam itu.


"Pak itu mall kan?" tanya Anan menunjuk ke arah mall tersebut.


"Mana pak? itu mah hutan kota pak, kalau mall di sana," Tunjuk satpam tersebut ke sebelah barat dari hutan kota tadi.


"Tuh kan yanda kita salah, pantesan aja ketemu banyak hantu di sana, mana laper banget lagi," ucap Dita mendengus kesal.


"Di sana itu dulu ada pembantaian suku Ro, karena di anggap sesat oleh masyarakat sekitar, kepala mereka di penggal," ucap bapak satpam tersebut menjelaskan.


"Ih pantesan aja kepalanya pisah semua, pokoknya putus aja gitu pak," ucap Anan mencoba menjelaskan.


"Kaya gini ya pak..."


krek krek krek


Satpam tersebut menarik kepalanya sendiri, memisahkan kepalanya dari tubuhnya sendiri di hadapan Anan dan Dita dan memegangnya seperti pengendara motor yang melepas helmnya.


"Ke-ke-kelapanya eh kepalanya putus..."


Anan bertatapan dengan Dita lalu berteriak bersamaan.


"LARI....!!!" ucap Anan dan Dita berteriak bersamaan.


Tawa satpam itu menggema menertawakan Dita dan Anan yang berlari dengan kencang.


BRUG...


Anan menabrak seorang laki-laki muda di hadapannya yang memakai seragam satpam.


"Pada dari mana nih?" tanya satpam muda tersebut.


"Jangan-jangan dia hantu lagi bun?" bisik Anan.


"Tapi kayaknya manusia deh yanda," sahut Dita berbisik.


"Ah tadi juga kelihatan seperti manusia, nyatanya tadi juga hantu," ucap Anan.


"Heh pada bisik-bisik apa itu?" Pak Satpam menunjuk pada Anan dan Dita dengan senter di tangan kanannya.


"Kamu pasti hantu kan? aku gak takut lagi tau!" Anan menghampiri satpam muda tersebut lalu menarik kepalanya berusaha untuk melepasnya tapi tak bisa.


"Awwww.... sakit pak!!!" teriak satpam itu.


"Yanda, kayaknya dia manusia deh," ucap Dita.


"Wah iya Ta ini kepala asli gak mau lepas kayak tadi... maaf pak satpam, maafin saya ya, saya pikir bapak sama dengan hantu yang nyopotin kepalanya tadi,"


ucap Anan sambil meringis memamerkan senyum canggungnya lalu menarik Dita untuk segera meninggalkan tempat tersebut.


"Ah dasar pasangan yang aneh huuu..." satpam muda itu menggerutu.

__ADS_1


"Kenapa mereka?" tegur satpam yang di temuin Anan dan Dita tadi.


"Eh pak, itu pasangan muda itu masa mau nyopot kepala saya katanya habis ketemu hantu yang bisa copot kepala sendiri," sahut satpam muda itu.


"Oh..."


"Eh tapi bapak siapa ya, perasaan saya tugas sama pak Yo deh?" tanya satpam muda itu.


"Oh saya? saya hantu yang di ceritain tadi, yang bisa nyopot kepala kayak gini," ucap hantu tersebut menunjukkan kepalanya yang bisa terpisah dari tubuhnya.


Satpam muda itu berteriak tanpa suara, entah kenapa dengan suaranya yang tak mau keluar dari tenggorokannya itu lalu dia tak sadarkan diri tergeletak di atas lantai kon blok itu.


***


Sesampainya di apartemen, ternyata lift dekat lobi rusak dan mengharuskan Dita dan Anan menaiki tangga darurat menuju lantai sebelas.


"Harus ya bunda kita lewat sini?" bisik Anan.


"Mau lewat mana lagi, ya cuma lewat sini yanda," ucap Dita.


"Tapi kan... tuh baru buka pintu aja udah ada nenek mata merah yang ngeliatin kita," ucap Anan.


"Kamu tutup mata aja deh, aku coba panggil Pak Herdi," Dita menggoyangkan gelang di tangannya.


"Ah parah saya capek tau kejar-kejaran sama si Michin," ucap Pak Herdi.


"Ya maaf, mana saya tau kalau dia bisa ngebucin sama bapak hehehe," ucap Dita meringis.


"Sekarang mau apa lagi?" tanya Pak Herdi.


"Mau minta tolong temenin, tuh banyak yang nungguin, kan sebagai hantu senior dan panutan nih, mungkin aja mereka juga takut sama Pak Herdi, apalagi kan tampilan bapak beda sendiri, dibungkus ngegemesin gimana gitu," ucap Dita.


"Najis..." celetuk Anan dengan suara pelan.


"Heh menyan, ngomong apa kamu?" Pak Herdi menunjuk Anan.


"Huh... iya dong saya mah emang ngegemesin selain saya juga tampan," ucap Pak Herdi memuji diri sendiri.


Dita memberi kode pada Anan untuk diam dan mengiyakan meski lirikan mata Anan terlihat sinis melirik Pak Herdi.


"Ayo saya temani!" ajak Pak Herdi.


Sampai di lantai sebelas setelah lelah menaiki tangga tersebut.


"Haduh capek banget yanda, gendong aku dong," pinta Dita merengek.


"Aku juga capek bunda..." Anan balas merengek.


"Apalagi saya yang lompat dari tadi, lebih capek saya!" sahut Pak Herdi.


"Lagian bapak mah aneh kenapa bapak gak ngilang langsung ke lantai sebelas, eh ini malah lompat-lompatan," celetuk Dita.


"Kan kamu minta temenin kalau saya ngilang langsung ke lantai sebelas ngapain kamu panggil."


"Ya maksudnya gak usah lompat tiap anak tangga kan bisa langsung hilang dari pintu darurat ke pintu darurat lainnya," ucap Dita.


"Udah sih ribut aja, ayo ah kerumah udah haus nih," sahut Anan.


Saat Anan keluar di lantai sebelas dari pintu darurat. Sahid dan Arga keluar dari pintu lift.


"Itu kok lift nya nyala sih?" Dita menunjuk ke arah lift tersebut.


"Barusan nyala pas aku datang ke apartemen tadi nyala," sahut Sahid menjawab pertanyaan Dita.


"Wah emang apes banget aku nih habis nengokin Dewa malah ketimpa sial mulu," sahut Anan dengan kesalnya.

__ADS_1


Arga bersembunyi di balik tubuh Sahid saat melihat hantu Pak Herdi.


"Eh Arga jangan takut, ini mah udah jinak bersahabat," Dita menepuk punggung Pak Herdi, tapi Sahid hanya melihat Dita sedang menepuk angin.


"Sembarangan, emang saya doggy apa udah jinak," Pak Herdi menarik rambut Dita dengan gemas.


"Eh hantu bungkus, sakit itu rambut istri gue elu tarik," Anan menarik ikatan pocong Pak Herdi.


"Udah di tolongin ngelunjak nih!" Pak Herdi gantian menarik rambut di dekat telinga Anan.


"Aduh aduh aduh..." Anan menendang kaki pak Herdi membuatnya jatuh ke lantai. Pak Herdi langsung menarik kaki Anan yang langsung membawa lututnya mendarat di lantai.


"Tuh gak usah takut Arga, hantunya baik kan, sampai di ajak bercanda sama om Anan," Dita menghindar dari pergulatan Anan dan Pak Herdi.


"Maksud kamu Ta, kamu punya temen hantu? dan si Anan juga bisa lihat kayak kamu dan Arga?" tanya Sahid, langkahnya mundur juga karena takut melihat Anan yang bergulat sendiri seperti orang gila.


"Iya, bener hehehe," sahut Dita.


"Tapi tante..." Arga masih takut melihat Pak Herdi.


"Kita gak usah takut, hantu itu kalau kita berani, justru dia takut sama kita, kalau kita takut para hantu malah makin berani," ucap Dita.


"Jadi Arga harus berani ya?"


"Iya dong, asal tau aja ya Ga, justru hantu kalau di lihat sama manusia dia yang apes kena sial, bukan kita yang apes bisa lihat hantu," ucap Dita.


"Berati saya hantu sial dong Ta? itu buktinya kamu sama yang lainnya bisa lihat saya terus?" tanya Pak Herdi yang memiting kepala Anan.


"Eh jangan di gituin suami aku itu pak, nanti kalau keterusan putus gimana?" Dita merengek memukul Pak Herdi agar melepaskan Anan.


"Huh... saya sebel ah jadi bete, mau ngambek," ucap Pak Herdi melepas tangannya dari Anan.


"Huuuu kaga pantes hantu bungkus ngambek, lagian udah tua ngambek," Anan mencibir Pak Herdi.


"Udah ah udahan ayo kita pulang masing-masing, ayo... lah Sahid sama Arga mana?" tanya Dita menoleh ke belakang mencari keberadaan Sahid dan Arga yang hilang.


"Sudah pulang dia, tadi kan aku sempet melirik kalau Sahid tarik tangan Arga terus jalan cepet pulang ke rumahnya, takut kali sama aku, hehehe," ucap Pak Herdi.


"Bisa jadi sih," sahut Anan lalu melangkah menuju apartemen nomor "3" di lantai itu.


Dita menekan bel pintu apartemennya lalu Tasya membuka pintunya.


Setelah saling mengucap salam dan menjawab salam, Dita terkejut karena Tante Dewi dan lainnya masih berada di sana, mereka tertidur pulas kecuali Anta dan Tasya.


Anta merengek memeluk bundanya lalu menangis.


"Anta kenapa Sya?" tanya Dita.


"Tanya aja Ta, dari tadi mintanya aneh," jawab Tasya.


"Anta kenapa kok nangis sih?" Dita menyentuh kedua pipi Anta.


"Anta mau kakak Maria, Anta mau main salon-salonan sama dia bunda..." rengek Anta.


*****


Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST


-          Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


-          9 Lives (END)

__ADS_1


-          Gue Bukan Player


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2