Pocong Tampan

Pocong Tampan
Kereta Hantu Part 1


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


****


"Maksud saya kenapa masih disini, di dunia manusia?"


Deg...


Dita dan Anan saling bertatapan...


Pertanyaan Pak Sugeng menyiratkan ia tahu tentang kondisi Anan.


"Dah ndak usah di jawab, mari bapak antar sampai stasiun."


"Makasih banyak pak." ucap Dita.


Mobil Pak Sugeng melaju sampai ke arah stasiun kereta api mengantarkan Dita, Anan dan Anita ke tujuan nya.


"Makasih ya pak, makasih banyak." ucap Dita saat tiba di depan stasiun.


"Sama-sama non, hati-hati yak." sahut Pak Sugeng.


"Bapak juga hati-hati pak." Dita, Anan dan Anita melambai pada Pak Sugeng yang mobilnya makin menjauh di tengah lalu lalang kendaraan.


"Nan, beli tiketnya dua, jangan tiga lagi." Anita menepuk bahu Anan.


"Iya beres."


"Aku beli roti dulu ya sama minum, laper hehehe." Dita menuju stand roti dan minuman dalam stasiun.


Dita menghampiri Anan yang sudah membawa kartu tiket masuk peron, Anan menggandeng Dita menuju peron keberangkatan kereta ke tempat stasiun tujuannya.


"Asik, naik kereta api tut tut tut." Dita mengayunkan gandengan tangan Anan.


"Hmmmm aku gak digandeng nih?" tanya Anita iseng mengganggu kemesraan Anan dan Dita.


"Ah cayangku Anita cini acu gandeng." ucap Dita manja.


"Jijik dengernya Ta, sumpah." Anita menoyor kepala Dita.


"Ih si Anita yak, kepala ku di fitrahin tau tiap tahun main toyor aja." Dita membalas Anita.


"Sepi banget ternyata ini gak ada penumpang apa yak?" ucap Anan sampai di peron tempat mereka naik sambil memakan suapan roti dari tangan Dita.


"Iya yak, apa udah malem yak, tapi masa sih gak ada yang pulang kerja gitu kan masih jam delapan." Dita melirik arloji di tangan kirinya dan menyeruput es teh manis yang ia beli tadi.


"Itu keretanya bukan?" ucap Anita menunjuk kereta yang datang.


"Iya kayaknya yuk naik." sahut Anan.

__ADS_1


"Coba tanya dulu." ucap Dita.


"Pak ke stasiun xx bukan?" tanya Dita di balas dengan anggukan sang penjaga keamanan dalam kereta api.


Mereka bertiga akhirnya naik kereta api tersebut. Dalam gerbang itu ada lima orang penumpang seorang ayah dan anak perempuannya yang balita, seorang kakek dengan tongkatnya, satu perempuan bertubuh tambun dan anak laki-laki memakai seragam SMP, dan seorang bapak petugas keamanan yang tadi Dita tanya.


"Kok aku merinding ya Ta?" Anita merapatkan tubuhnya pada Dita sambil melihat ke kanan ke kiri kursi kereta yang tampak lenggang.


"Ada hantu yak merinding kaya kamu, yang ada tuh aku yang merinding di deketin kamu Nit." bisik Dita.


"Ih Dita mah, serius nih akunya." sahut Anita kesal.


"Tapi iya ya, kok kaya ada yang aneh gitu yak, ini jalanan nya kok gelap banget gak ada kendaraan yang lewat gitu di deket rel." ucap Dita.


"Mana ada kendaraan lewat rel Ta, yang ada ketabrak lah." sahut Anan.


"Ya maksudku, disamping kanan kiri jalan gitu, coba ya aku lihat dari jendela." Dita melongok jalanan dari jendela.


"Eh astagfirullah." Dita kembali ke posisi duduknya.


"Kenapa Ta?" tanya Anan dan Anita berbarengan.


"Emang ada yak rel kereta lewat kuburan?" ucap Dita.


"Ya ada kali, emang kamu lihat kuburan?" tanya Anan ingin tahu.


"Iya barusan."


"Kamu udah pernah naik jurusan ini belum Ta sebelumnya?" tanya Anita.


"Belum baru ini, pertama kali sama kalian."


"Kenapa Nit, muka nya beda gitu?" tanya Dita yang melihat perubahan pada raut wajah Anita yang aneh.


"Kok bayangan ku ada di kaca jendela Ta, sedangkan kamu sama Anan gak ada."


"Ah masa sih." Dita berbalik badan menengok kaca jendela.


"Kok iya Nan bayangan kita gak ada." Dita menepuk bahu Anan.


"Ada yang aneh nih." sahut Anan mengamati sekeliling. "Coba kita pindah gerbong." ajak Anan.


Dita mengikuti Anan untuk pindah gerbong namun saat ia berpindah mereka kembali ke gerbong semula dengan penumpang yang sama.


"Kok sama Nan?" Dita makin erat melingkarkan tangannya di lengan Anan.


"La iya Ta, penumpangnya kembar kali kaya aku punya kembaran?"


"Masa kembar bisa ber lima, mas satpam nya aja sama."


Dita tersenyum pada bapak petugas keamanan dalam kereta, namun bapak itu hanya melihat Dita datar dengan wajah pucat nya.


"Ta, nyium bau gosong gak?" Anita mencolek pinggang Dita.


"Bau Andri kali."


"Lah kan Andri jagain Sandra gak ikut kita."

__ADS_1


"Kali dia tiba-tiba nongol ikut kita." Dita masih berjalan di belakang Anan.


"Iya Ta bener nongol yang gosong, tapi bukan Andri." Anita tak mau menoleh ke belakangnya karena yakin ada sosok yang menyeramkan berdiri di belakangnya.


"Maksud ka...mu aaaaaaaaaaa."


Dita terkejut saat menoleh ke arah Anita karena dibelakang Anita berdiri sosok perempuan berhijab yang wajahnya hitam hangus terbakar sedang tersenyum ke arah Dita lalu ia melangkah melewati Dita dan Anan dan duduk di kursi yang berada di hadapan Dita.


"Itu mbak nya hantu yak ngikut naik kereta?" tanya Dita.


"Kaya aku dong Ta?" Anita merapatkan tubuhnya pada Dita.


"Kayaknya bukan cuma mbaknya aja deh yang hantu coba lihat sekeliling." Anan menyuruh Dita dan Anita mengamati sekeliling.


"Itu satpam nya kenapa?" Dita menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Bapak petugas keamanan dalam kereta tadi tiba-tiba kepalanya jatuh kesamping tak tegak seperti tadi dengan tubuh hangus terbakar sama seperti hantu perempuan sebelumnya. bagian wajah sebelah kanan bapak petugas keamanan itu terkelupas memperlihatkan daging yang merah dan menghitam akibat luka bakar.


"Hadeh, ini adeknya kenapa ngeliatin aku aja sih Ta mana gak ada matanya yang bisa aku liat?" Anita menarik-narik tangan Dita ketakutan berhadapan dengan anak laki-laki berseragam SMP tanpa bola mata itu sedang tersenyum kepada Anita.


"Lah tanya lah, kan kamu sesamanya Nit, tanyain kenapa jam segini belom pulang sekolah gitu masih pakai seragam."


"Ih Dita mah asal jeplak aja kalau ngomong." Anita menepuk punggung Dita.


Seorang kakek mempersilahkan Anan dan Dita untuk duduk ke tempatnya seperti semula, kakek itu tampak normal sampai saat berjalan meninggalkan Anan dan Dita, kaki kanan semata kaki kakek itu tertinggal di hadapan Dita.


Dita makin menutup wajahnya di bahu Anan.


"Bilangin Nan, kakinya ketinggalan." bisik Dita.


"Udah tua kali Ta, lupa kakeknya hehehe."


"Ih Anan mah aku serius juga malah bercanda."


"Lah aku juga serius Ta, tuh kakek lupa kali."


"Balikin Nit." ucap Dita ke arah Anita.


"Kok aku sih, gak mau ah, ntar juga kalau dia butuh pas jari kakinya gatel dia inget lagi." sahut Anita yang makin ketakutan karena anak SMP tadi sudah pindah duduk di sampingnya.


"Aku rasa dia naksir kamu tuh Nit." ledek Anan.


"Apaan sih Anan mah, cakepan dikit kek masa gebetan ku anak SMP kaya gini mana gak ada matanya." Anita menepis tangan anak SMP yang dengan genitnya mencolek Anita.


"Cie Anita punya gebetan." ledek Anan yang sedari tadi memperhatikan.


Dita menepuk paha Anan.


"Nan jangan-jangan ini kereta hantu."


"Terus?" Anan menoleh pada Dita.


"Kita bisa keluar gak Nan?"


"Wah iya ya."


Anan dan Dita saling berpandangan dengan remasan tangan Dita yang ketakutan di tangan Anan.

__ADS_1


***


To be continued... 😊😊


__ADS_2