
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...
Happy Reading...
******
Visual Logan numpang lewat ya...
***
Tasya keluar dari kamar mandi di lantai atas dengan rambut basah yang ia keringkan dengan handuk. Mark yang buru-buru hendak masuk ke kamar mandi menabrak Tasya.
"Gak lihat apa ada bidadari segede gini di pintu kamar mandi," Tasya menggerutu sambil melirik ke arah Mark.
"What...? bidadari? kamu lagi halusinasi ya?" Mark menyentuh dahi Tasya.
"Apaan sih, emang aku gila apa di pegang dahinya, " Tasya menepis tangan Mark di dahinya.
"Lho memangnya kalau ada orang di sentuh dahinya, lalu orang tersebut di bilang kurang waras? bisa aja kan aku ngecek kamu demam apa enggak, takutnya demam makanya kamu berhalusinasi," sahut Mark meledek Tasya.
"Apaan sih gak jelas!" sahut Tasya dengan ketusnya.
Mark masuk dan langsung membuka kaus serta menggalkan celana jeansnya. Kini Mark hanya memakai boxer. Ia terlupa menutup pintu kamar mandi.
"Astaga Mark...! tutup pintunya woy...!!!" pekik Tasya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Hampir saja Mark menurunkan boxer di hadapan Tasya.
"Ya ampun, terus kamu ngapain masih di situ? mau ikutan emangnya?" Mark mencoba meledek Tasya.
"Idih amit-amit! najissss...!!!" Tasya melempar Mark dengan handuk dari kepalanya langsung tepat ke wajah Mark.
Sementara itu di lantai bawah, Dita sedang menceritakan kejadian yang menimpa Anan pada Tante Dewi seraya menunggu tetangga baru yang diundang tante Dewi makan malam itu.
"Kok bisa yak, padahal kan Anan bukan hantu lagi, bukan mayat masa di belatungin sih," ucap Tante Dewi.
"Nah makanya itu tante," ucap Dita sambil membantu Anan yang masih sibuk menggaruk punggungnya.
"Coba minum obat gatel dulu tuh!" ucap tante Dewi memberi saran.
"Udah minum tante, udah di kasih salep juga sama Dita," sahut Anan.
"Tapi belatungnya masih ada?" tanya Tante Dewi penasaran.
"Udah gak ada sih, gak tau deh nanti balik lagi apa enggak," sahut Dita.
Tak lama kemudian Jerry muncul membawa kabar bahwa tamu yang ditunggu itu datang juga.
"Halo selamat malam," sapa Shinta membawa anak laki-lakinya, di sampingnya berdiri seorang wanita bertubuh kurus dengan rambut panjang sebahu. Perempuan itu menggunakan kaca mata. Wanita berhidung minimalis itu tersenyum dengan bibir tipisnya.
"Hai Shinta..." Tante Dewi menyapa balik.
__ADS_1
"Shinta...???" Anan dan Dita mengucap bersamaan sambil menatap.
"Lho Pak Manan apa kabar?" Shinta langsung menyerahkan anak laki-lakinya pada Mitha dan menghampiri Anan.
"Kabar saya baik, kamu apa kabar?" tanya Anan.
"Baik pak," Shinta meraih tangan Anan dan menjabatnya paksa.
"Ehm ehm maaf ya mbak gak lihat nih ada istrinya di samping gini?" Dita menyentuh bahu Shinta dengan telunjuknya.
"Oh iya ada istrinya, hampir lupa saya habis gak kelihatan sih," Shinta masih saja mencoba meledek Dita.
"Ngomong-ngomong Lee mana?" tanya Dita.
"Gak tau hilang gitu aja, pamit gak pulang-pulang huhuhuhu..." Shinta langsung mencoba merebahkan kepalanya di dada Anan, tetapi Anan langsung menghindar.
"Hadeh masih modus aja mbaknya sama suami saya, gemes deh pengen cubit ginjalnya," Dita langsung menghalangi Shinta dari Anan.
"Gitu aja marah, kok kalian gak punya rumah sendiri sih, masih numpang aja sama ibu Dewi?" Shinta mencibir Dita.
"Yeee rumah yang kamu tempati itu rumah saya tau, tapi Tante Dewi gak ijinkan aku tinggal pisah dari dia, sepi katanya," sahut Dita.
"Oh gitu..."
"Eh kenalin nih istrinya Doni," Tante Dewi memperkenalkan Mitha di sampingnya pada Dita dan Anan.
Tasya yang menuruni tangga bersama Anta langsung terkejut tersandung beberapa anak tangga kala mendengar kata "istrinya Doni"
Dita menoleh pada Tasya dengan perasaan sedih.
"Halo saya Anan, ini istri saya Dita, itu yang di tangga anak saya Anta, di sampingnya adiknya istri saya Tasya," ucap Anan memperkenalkan Tasya sebagai adiknya Dita.
"Halo semuanya, semoga kita bisa menjadi tetangga yang baik ya," ucap Mitha.
"Yuk semuanya kita ke meja makan!" ajak Tante Dewi mengajak semuanya menikmati makan malam.
Tasya sebenarnya ingin menangis saat mendengar Doni mempunyai istri, namun air matanya ia coba tahan. Dia masih bertanya pada hatinya sendiri, masih sebesar apa perasaannya pada Doni?
Apakah dia sudah ikhlas dengan pernikahan Doni dan Mitha? Dan kini dia harus terbiasa tanpa Doni malah mulai terbiasa tanpa Doni, sehingga perasaan di hatinya mulai terkikis untuk Doni.
Tasya tak ingin bersifat seperti Shinta yang dengan beraninya masih memandang Anan, padahal jelas-jelas Shinta tau kalau Anan itu suami orang. Tasya berjanji dia tak akan menggoda Doni atau masih berharap pada Doni. Tasya memperhatikan Mitha dengan seksama. Sesekali Mitha yang tahu di perhatikan Tasya tersenyum ke arahnya.
Makan malam saat itu berlangsung dengan aman di iringi pula dengan perbincangan yang penuh dengan basa - basi.
***
Tasya masih bermain air kolam renang sambil menikmati pemandangan langit yang tampak indah kala itu.
"Hai Sya!" sapa Dita yang duduk di sampingnya.
"Aku gak apa-apa kok," sahut Tasya dengan lantang.
"Belum tanya, udah jawab aja kamu gak apa-apa hehehe," ucap Dita.
"Habisnya kamu pasti mau tanya kan perasaan aku saat tau Doni sudah menikah," ucap Tasya tanpa melihat Dita, ia hanya memandangi bayangan rembulan yang tampak di permukaan air kolam renang di hadapannya.
__ADS_1
"Nih...!" Dita menyerahkan gelang di tangannya pada Tasya.
"Buat apa Ta?" tanya Tasya.
"Kalau kamu mau curhat sama Pak Herdi, nih panggil dia," ucap Dita.
"Kamu ngapain sih ngomong gitu, kamu mau jodohkan saya sama pocong hahahaha," ucap Tasya menepis gelang di tangan Dita.
"Ih siapa yang mau jodohin kamu sama pocong, atau kamu mau saingan sama shinta yang nikah sama om item hihihi mau enggak?" Dita menggoda Tasya.
"Apaan sih Ta, gak lucu tau!" Tasya meraih gelang di tangan Dita tiba-tiba.
"Tadi katanya gak mau, sekarang di ambil juga," ucap Dita.
"Lumayan buat nemenin aku, habisnya aku takut juga kalau ada Samanta, tuh lagi ngeliatin kita gitu," ucap Tasya menunjuk ke arah Samanta dengan lirikan matanya.
"Wah iya ngeri juga ya hehehe, aku ke kamar ya, mau nemenin Anta tidur."
"Nemenin Anta apa Anan?" Tasya menggoda Dita kali ini.
"Nemenin Anta dulu kalau udah pules baru pindahin ke kamar kamu, terus nemenin yandanya deh hehehehe," ucap Dita seraya melangkah pergi sambil mengangkat tangannya melambai.
Tasya menggoyangkan gelang di tangannya dan langsung muncullah Pak Herdi di sampingnya yang sedang duduk memeluk kakinya sendiri itu. Sosok terbungkus kain kafan itu dia perhatikan dari ujung kaki sampai Tasya mendongak menengok ke arah wajah Pak Herdi yang langsung tersenyum hangat menatapnya.
"Kok tumben kamu yang panggil saya, bukan Dita?" tanya Pak Herdi.
"Lagi dipinjemin ke aku," sahut Tasya.
"Dipinjemin, emang aku barang apa?" gumam Pak Herdi seraya duduk di samping Tasya meski agak kesulitan menekuk kain kafannya dan membuat Tasya tertawa melihatnya.
"Kamu ngetawain saya? emang gak takut apa ngetawain pocong?" tanya Pak Herdi menatap Tasya tajam.
"Kalau pocongnya ganteng kayak gini ngapain takut pak, hehehe." Tasya mendorong Pak Herdi dengan gemas sampai jatuh ke lantai.
"Aduh... kok saya ngerasa tenaga kamu makin kuat ya?" keluh Pak Herdi membuat Tasya makin tertawa.
"Itu si Tasya kok ketawa sendiri ya, wah jangan-jangan kesambet tuh cewek," gumam Mark saat melihat Tasya dari beranda lantai dua rumah tersebut.
*****
Masih bersambung ya guys...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST (UP)
- Kakakku Cinta Pertamaku
season 1 END
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player (END)
Vie Love You All 😘😘😘
__ADS_1