
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up. Vie mohon dong, mohon banget, jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh.
Happy Reading...
******
Tiba-tiba terasa sesuatu menyentuh bahunya. Ia melirik ke arah bahunya dan melihat tangan manusia menepuk bahunya. Tante Dewi lalu menoleh ke arah si pemilik tangan tersebut.
Tante Dewi menoleh dan langsung merasa terkejut. Tubuhnya gemetaran dan ketakutan melandanya kala ia melihat sosok Tina dengan leher yang miring, karena mengalami patah leher, itu berdiri memandangnya sambil tersenyum.
Tubuh lebam dengan luka memar dan darah kering terlihat di sekujur tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan di sini, bukankah kamu sedang kritis, Tina?" tanya Tante Dewi dengan raut wajah ketakutan. Air liur yang berusaha ia telah itu terasa berat dan menyayat tenggorokannya.
"Hai, Dewi!" sapa Tina.
"Hai!"
Tante Dewi melirik ke arah kaki Tina yang ternyata tak menapak ke lantai.
"Tina, ka-ka-kamu, sudah mati, ya?" tanya Tante Dewi mencoba memberanikan diri.
Tina mengangguk namun tulang lehernya sudah tak mampu lagi menopang kepalanya sehingga saat mengangguk kepalanya malah langsung miring ke kiri.
"Duh, kepala kamu kok kayak mainan boneka Anta yang dari karet sih, elastis gitu lehernya," gumam Tante Dewi. Ia berusaha mundur ke arah pintu keluar tapi ternyata terkunci.
"Kau tak bisa lari dariku, karena aku yang ingin bertemu denganmu," ucap Tina.
"Kalau kamu mau cari Kevin, dia udah pergi duluan tadi, kamu telat sih, jadi gak bareng deh," ucap Tante Dewi.
"Tak, aku tak mencarinya, aku memang sengaja mencarimu sebelum aku pergi," ucap Tina.
"Duh, kamu mau apa? biasanya tuh kalah hantu penasaran yang dia cari Dita bukan saya," tukas Tante Dewi.
"Hahaha... aku tahu, tapi saya kan cari nya kamu, saya butuhnya kamu. Maafkan saya Dewi, karena saya telah membuat suami kamu berpaling malam itu, saya..."
"Sudah hentikan, saya paham, saya sudah tau kelanjutannya, kamu tak usah menjelaskan lagi, kalau kamu juga mau minta maaf, baiklah saya sudah maafkan kamu."
"Syukurlah kalau begitu, saya jadi lega. Oh iya tapi sebelum saya pergi, saya ingin berikan sesuatu padamu," ucap Tina.
"Gak usah! makasih, kamu gak usah kasih apa-apa lagi ke saya, saya juga gak butuh apapun dari kamu," tukasnya seraya mengibaskan kedua tangannya untuk menolak.
__ADS_1
Tina tersenyum menyeringai lalu perlahan maju menghampiri Tante Dewi. Ia makin mendekat. Tiba-tiba sesuatu keluar dari bawah roknya yang Tina ambil menggunakan kedua tangannya. Gumpalan darah merah atau seperti daging segar dengan sesuatu menyerupai tali itu ia tarik paksa.
Ternyata sesuatu yang di pegang Tina itu merupakan seonggok bayi yang belum sempurna. Ari-ari dan tali pusar masih menyambung ke tubuh Tina di bagian bawahnya.
"Aaaaaaaa jauhkan itu dariku...!" pekik Tante Dewi berusaha berteriak sekuat tenaganya.
"Harusnya ini anakku bersama Kevin, tapi sebaiknya ku berikan padamu saja," ucap Tina masih tertawa menyeringai.
"Enggak mau ih serem..."
"Hahahaha... ini lucu tau, tuh liat menggemaskan, bukan?" Tina masih menyodorkan gumpalan daging menyerupai bayi yang belum sempurna wujudnya itu pada Tante Dewi.
"Gak mau!" tante Dewi berusaha berteriak kembali sambil membuka paksa pegangan pintu itu berkali-kali.
Seorang petugas kebersihan rumah sakit membuka pintu tersebut sampai mengejutkan Tante Dewi yang langsung terjatuh menimpa petugas kebersihan rumah sakit itu ke lantai.
"Duh, sakit tau bu, ibu kenapa sih?" tanya petugas kebersihan tersebut.
"Anu, itu, aduh apa ya, itu tadi ada..." Tante Dewi menghentikan ucapannya lalu melangkah cepat bahkan berlari kecil menuju Dita. Sesekali ia menoleh ke arah hantu Tina yang masih saja mencoba memberikan bayi tersebut sambil tertawa.
"Tante kenapa sih?" tanya Dita.
"Duh, serem, masa aku ketemuβ"
"Tadi aku kan ketemu polisi yang menyelidiki kasus kecelakaan Om Kevin, eh kata dia barusan Tina meninggal lho " ucap Anan.
"Tante udah tau, barusan tante ketemu sama hantunya di toilet, terus hantunya kayak gini," ucap Tante Dewi lalu memperagakan bagaimana Tina mengeluarkan bayinya dan menyerahkannya pada Tante Dewi saat di toilet tadi.
"Tuh, serem kan?" tanya Tante Dewi mencoba mencari tahu tanggapan Anan dan Dita.
Bukannya merasa ketakutan karena seramnya cerita Tante Dewi barusan, melainkan Anan malah tertawa terbahak-bahak sampai berlutut di lantai melihat lucunya Tante Dewi memperagakan gerakan Tina barusan. Dita juga ikut tertawa meski ia masih coba tahan, daripada berurusan dengan kemarahan Tante Dewi nantinya.
"Kok, malah ketawa sih, kan serem tau!" Tante Dewi memukul Anan di bahu dengan kerasnya sampai Anan merasa kesakitan. Dita langsung mengusap bahu Anan yang dipukul Tante Dewi.
"Iya, iya serem banget kok, Tante, Dita sampai merinding, nih."
Dita mencoba berbohong seraya menunjukkan tangannya yang rambut halus di permukaan kulitnya saja tidak meremang.
"Tuh, serem kan? makanya tadi Tante takut banget hiyy... Tante pikir dia udah sehat jalan-jalan ke kamar mandi, eh taunya gak napak kakinya ke lantai."
"Iya serem banget! lebih seram malah kalau lihat Tante dari pada Tina," celetuk Anan yang langsung di beri tatapan tajam dan kepalan tangan oleh Tante Dewi.
***
__ADS_1
Menuju perjalanan pulang, Tante Dewi memutuskan untuk mampir sebentar di sebuah rest area di tepi jalan.
"Tante kok mabok ya, pusing, mual harus beli obat anti mabuk perjalanan, nih," ucapnya pada Anan dan Dita.
"Aku titip roti sama susu dong, Tante." pinta Dita.
"Anan juga Tante, kopi susu sama roti," sahut Anan ikut menimpali.
"Oke, Tante ke dalam dulu."
Tante Dewi memasuki mini market di rest area tersebut. Karena rasa mualnya yang teramat hebat, maka ia meminjam toilet untuk memuntahkan isi perutnya.
Tante Dewi lalu bergegas untuk memuntahkan isi perutnya di dalam toilet tersebut. Saat ia keluar dari toilet lalu menuju ke penjaga minimarket tersebut ia teringat dengan pesanan Anan dan Dita. Namun, rasa mual kembali menyerangnya.
"Apa nyonya sedang hamil?" tanya si penjaga mini market tersebut pada Tante Dewi saat wanita itu kembali dari toilet.
"Apa? aku hamil? yang benar saja nyonya," sahut Tante Dewi lalu membayar barang belanjaannya.
"Tapi dari raut wajah anda, anda tampak menunjukkan ciri wanita hamil, raut wajah yang sama seperti nyonya dalam mobil itu," tunjuk si penjaga mini market itu pada Dita yang terlihat membuka kaca jendela mobil saat menunggu Tante Dewi berbelanja.
"Hmmm... Mungkin hanya perasaan anda saja, terima kasih ya, kembaliannya ambil saja, saya permisi dan terima kasih telah meminjamkanku toilet." Tante Dewi melambaikan tangannya lalu melangkah menuju mobil Anan dan masuk ke dalamnya.
Kendaraan Anan pun melaju menuju rumah.
******
Bersambung...
Mohon maaf sekarang jadwal UP Pocong Tampan tak tentu yang penting tungguin aja upnya ya dengan tekan tanda love buat jadiin favorit.
Oh iya 9 Lives update lagi, cusss ditengok ya, dan mohon dukungannya di sana.
Mampir juga ke :
- Diculik Cinta
- With Ghost
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1
Vie Love You All... πππ