
Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up. Vie mohon dong, mohon banget, jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...
Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh.
Mampir ke 9 Lives ya sama Diculik Cinta.
Butuh dukungan viewer, like, dan komen di sana. Bintang lima juga jangan lupa hehehe...
Happy Reading...
******
Sebelum tidur, Dita sempat menghubungi Tasya untuk menanyakan keadaan dia dan Anta. Firasat seorang ibu ternyata benar, bahwa terjadi sesuatu pada Anta dan Tasya. Untungnya mereka masih dalam lindungan Tuhan dan dijaga oleh Pak Herdi.
Namun, menurut Dita, Tasya masih harus waspada tentang keberadaan Kakek Kanibal yang belum ditemukan selepas kematian istrinya. Setelah dia menghubungi Tasya dan Anta, akhirnya Dita terlelap di sofa rumah sakit bersama Anan. Suaminya itu merebahkan kepalanya di paha Dita dan terlelap bersama di kamar perawatan Tante Dewi.
Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Seketika itu juga Dita terbangun karena kandung kemihnya yang terasa penuh minta dikeluarkan. Dita mengangkat kepala Anan dan meletakkannya perlahan ke sofa. Ia lalu bergegas menuju ke kamar mandi.
Saat Dita duduk di atas kloset, tiba-tiba bulu kuduk wanita itu meremang. Bagian tengkuknya terasa ada yang meniup membuat Dita merinding. Hawa busuk tercium menusuk hidung seketika. Dita menoleh ke samping kanannya. Ternyata sosok hantu perempuan yang mengenakan pakaian pasien rumah sakit itu berdiri di samping Dita.
Kakinya penuh luka berongga memperlihatkan darah dan nanah yang mengering. Kulitnya berwarna biru lebam sangat pucat. Dita mulai menaikkan pandangannya perlahan-lahan ke atas. Perut sosok hantu itu terus mengeluarkan darah yang merembes di pakaiannya. Darahnya terus menetes ke lantai. Beralih menuju bagian wajah yang pastinya mengerikan.
"Tunggu tarik nafas dulu, aku yakin nih pasti lebih serem lagi mukanya," gumam Dita seraya menarik nafas panjang namun tetep menutup hidungnya agar tak menghirup bau busuk dari sosok hantu itu.
Benar saja, wajahnya penuh bekas luka yang menganga lebar memperlihatkan tulang pipi sebelah kanan dengan kulit wajah bagian bawah bergelambir seperti mau copot.
"Tuh kan serem," gumam Dita.
"Duh, amit-amit jabang bayi, jangan sawan ya dek kalau Bunda suka ngeliat jenis-jenis langka seperti ini," ucap Dita seraya mengusap perutnya berulang-ulang.
"Kamu gak mau pergi?" tanya Dita pada sosok hantu perempuan itu yang menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Hmmm tanggung akibatnya ya, soalnya aku sakit perut nih, tiba-tiba aja mules," ucap Dita.
Lalu kemudian, serangan demi serangan menghantam ke dalam kloset seiring dengan hembusan hawa busuk yang keluar dari bokong Dita.
"Bau, kan?" tanya Dita.
Hantu perempuan itu mengangguk.
"Nah, jadi sama kan baunya kayak badan kamu, jadi jangan suka muncul mendadak kalau orang lagi buang hajat di sini," ucap Dita.
Hantu perempuan itu merasa frustasi karena tak berhasil menakuti Dita seperti biasanya ia menakuti manusia-manusia yang memakai kamar perawatan ini. Hantu itu akhirnya melangkah pergi namun langkahnya tertahan karena panggilan Dita.
"Nona, tolong ambilkan aku tisu gulung itu!" pinta Dita pada hantu itu.
__ADS_1
Hantu itu meraih beberapa lembar tisu dan menyerahkannya pada Dita.
"Terima kasih, Nona."
Ucap Dita, seraya tersenyum padahal dia menahan ngeri juga saat memandang wajah hantu yang mengerikan itu.
Setelah selesai menuntaskan semuanya, Dita langsung terkejut saat membuka pintu ia melihat sosok laki-laki berdiri membelakangi pintu. Lalu, tubuh laki-laki itu menoleh dan tersenyum ke arahnya.
"Yanda... ih kamu mah nakutin aja," ucap Dita langsung menghamburkan tubuhnya dan memeluk Anan.
"Habisnya, kamu lama banget mana ngobrol sama siapa lagi di dalam, sampai kedengaran, tadinya mau aku dobrak eh ternyata kamu udah keburu keluar," tukas Anan.
"Biasa, tadi ada yang gangguin di dalam kamar mandi, tapi tenang aja dia udah pergi," ucap Dita.
"Sini gantian kamu tidur di paha aku," pinta Anan seraya menepuk pahanya untuk dijadikan alas kepala Dita untuk tidur.
"Yanda, apa kita bisa melalui semua ini ya, dengan keuangan kita yang mulai menipis, lalu kehamilan Tante Dewi, kehamilan aku..." ucapan Dita terhenti dengan helaan nafas yang berat untuk dihembuskan.
"Rejeki udah ada yang atur, toh Tante Dewi juga masih punya uang warisan dari Om Kevin, kita juga masih punya restoran masih punya rumah yang bisa kita sewakan. Aku mulai terbiasa kok hidup biasa-biasa aja asal sama kamu terus."
Anan memberi kecupan pada punggung tangan kanan Dita yang dia pegang seraya tangan kirinya mengusap kepala Dita berulang kali.
"Hmmm... Aku juga kok, apapun akan ku lalui asal selalu sama kamu," ucap Dita menatap lurus ke arah dagu Anan.
"I love you, Yanda."
Dita lalu menolehkan wajahnya je arah perut Anan dan membenamkan wajahnya di sana lalu mulai terlelap. Anan juga terlelap menyusul Dita.
Tante Dewi yang sebenarnya terbangun dari tadi dan berpura-pura memejamkan kedua matanya, lalu menatap ke arah Anan dan Dita. Air matanya mengalir saat melihat dua orang yang di cintainya itu terlelap.
"Kalian selalu saja menanggung beban berat, dan aku tak mau menyusahkan kalian. Besok aku harus cari pekerjaan di rumah sakit ini, aku gak bisa terus-terusan bergantung sama kalian dan uang warisan Kevin, aku harus bisa mengumpulkan uang demi kamu, Nak. Demi mereka..." lirih Tante Dewi seraya mengusap perutnya.
***
Malam itu, Doni memutuskan untuk tidur bersama Mitha. Ia ingin menanyakan bagaimana bisa ia menghamili Mitha, padahal ia tak ingat sama sekali kejadian itu.
"Mit, Aku boleh tanya sesuatu, gak?" tanya Doni yang merebahkan dirinya di samping Mitha di ranjang yang sama.
"Boleh, tanya aja..." ucap Mitha sambil tangannya bergerilya meraba tubuh Doni ke sana kemari, namun selalu ditepis oleh Doni dengan menyibukkan diri membaca buku atau sekedar membolak-balikin tubuhnya meraih air minum putih di meja samping ranjang.
"Kapan sih tepatnya kita malam pertama?" tanya Doni.
"Sebulan yang lalu, kamu lupa ya?" sahut Mitha.
"Kan, usia kandungan kamu 5 atau 6 minggu, kok bisa hamil?"
__ADS_1
"Ya, itukan perkiraan dokter, pokoknya pas kita pulang dari pameran budaya Jepang, kamu datang ke kamar aku terus kita malam pertama deh, seminggu yang lalu juga," ucap Mitha.
"ffuuaaahhh..."
Semburan air putih itu terhempas dari dalam mulut Doni yang terkejut mendengarkan penuturan Mitha.
"Kamu yakin itu aku?" tanya Doni.
"Ya, siapa lagi cowok di rumah ini kan cuma kamu, masa anak kecil si Lee."
Doni mengernyitkan dahinya.
Apa ada sosok lain di rumah ini yang aku gak tahu, ya.
Doni memperhatikan kalung yang dipakai Mitha.
"Itu kalung gak di lepas?" pinta Doni.
"Gak, ah. Aku suka kok." ucap Mitha.
"Ya udah kita tidur," ucap Doni.
"Kita main dulu yuk?" Mitha melirik genit ke arah Doni.
"Bentar, aku ada perlu sama kak Shinta, nanti aku balik ya," ucap Doni memberi alasan lalu bergegas keluar dari kamarnya.
Setelah satu jam hanya mondar-mandir memikirkan siapa gerangan yang meniduri Mitha di kebun belakang, tiba-tiba Doni melihat bayangan pria di balik tirai jendela kamarnya di lantai dua yang terlihat dari kebun belakang.
"Kok, ada cowok di kamar aku?" gumam Doni.
Lalu, bayangan pria itu terlihat sedang mencumbu Mitha dan menghilang dari tepi jendela.
*******
Bersambung...
Mampir juga ke :
- 9 Lives (Jilid II - On Going)
- Diculik Cinta (On Going)
- With Ghost (END)
- Gue Bukan Player (END)
__ADS_1
- Kakakku Cinta Pertamaku (END - Musim Kedua hiatus 😁)
Vie Love You All... 😘😘😘