
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Pukul setengah delapan malam ibu Mey sudah menyiapkan makan malam bagi para penghuni rumah besar itu.
"Ini Anan sama Dita belum turun Bu?" Tanya Tante Dewi pada Bu Mey.
"Belum nyonya masih asik kayanya." Bisik ibu Mey.
"Besok aku pulang ya Dew, aku takut mas Arjuna keburu pulang dan tahu aku kesini." Ucap Aiko mencoba mencari alasan.
"Baiklah kak, aku akan pesankan tiket untukmu." Sahut Tante Dewi.
"Sayang bisa ambilkan aku ayam panggang di depan mu itu?" Ucap Kevin menyodorkan piringnya.
"Tentu ini." Tante Dewi meletakkan ke atas piringnya.
"Kenapa kau tak menikahinya dew?" Bisik Aiko di dekat telinga Tante Dewi.
"Kakak, berhenti meledekku jangan buat aku jadi tak nafsu makan nih." Ucap Tante Dewi kesal membuat Aiko makin tertawa.
Anan menggandeng Dita menuruni tangga menuju ruang makan. Semua mata tertuju pada mereka. Apalagi rambut keduanya terlihat lepek karena hair dryer yang Anan pakai malah rusak. Dita hanya bisa menunduk menahan rasa malu.
"Ehm ehm ada yang mandi basah nih?" Ledek Tante Dewi.
"Dimana-mana mandi basah Tante masa mandi kering apalagi pakai pasir." Sahut Anan sedikit kesal dengan ledekan Tante Dita.
"Yee gitu aja sewot." Ucap Tante Dewi yang malah memperhatikan Dita dengan seksama namun Dita berusaha menunduk tak berani menatap Tante Dewi.
"Kalian mau pada kemana, rapih banget?" Tanya Kevin melihat pakaian Anan dan Dita yang rapih.
"Mau ke hotel om ada perlu tadi Doni udah pesenin kamar disana." Sahut Anan.
"Cie masih kurang Nan mau sampai hotel segala?" Sahut Tante Dewi tak bisa lagi menahan tawanya.
Kevin dan mami Aiko pun ikut tertawa mendengar ledekan Tante Dewi.
"Apaan sih Tante kepo." Sahut Anan kesal.
"Iyalah kepo apalagi Dita diem aja tuh kayak syok gitu ya Ta habis di terkam Anan sampai banyak gitu tanda cintanya." Tante Dewi meledek Dita menunjuk lehernya.
Dita menaikkan kerah bajunya menutup lehernya mukanya merona menahan malu tak mau menjawab Tante Dewi.
"Sudah ih kamu meledek saja dari tadi, kasihan kan Dita." Sahut mami Aiko.
"Iya iya maaf, habis Dita lucu sih."
__ADS_1
"Ayo Ta keburu malam kita samperin Doni." Ajak Anan.
"Pamit dulu Nan." Dita menghampiri mami Aiko, Tante Dewi dan Kevin mencium punggung tangan mereka semua untuk pamit begitu juga Anan.
"Ta, mami titip pesen yak, tolong kalung di leher kamu itu jangan sampai lepas, mami mau kamu selalu ingat mami dengan kalung itu." Ucap Aiko.
"Iya mi, gak akan Dita lepas." Jawab Dita.
"Oh iya besok mami pulang ya Nan." Ucap Aiko.
"Yah mi Anan belum ngobrol lama sama mami."
"Gak bisa Nan, nanti mami keburu ketauan sama papi jadi mami harus cepat pulang, maafin mami ya."
Anan memeluk mami Aiko dengan erat.
"Besok aku anterin mami pulang yak." Ucap Anan.
"Iya makasih yak." Ucap Aiko.
Anan lalu membawa Dita menuju ke hotel xx tempat Doni menyiapkan kejutannya bagi Shane dan James.
"Aku bawa pasukan ya Nan." Ucap Dita menggerakkan gelang ditangannya memanggil pak Herdi yang langsung hadir duduk di kursi belakang.
"Mbak Maya mana pak?" Tanya Dita.
"Nanti dia hadir bersama Anita." Jawab pak Herdi.
"Oke cap cus Nan." Sahut Dita penuh semangat.
***
"Lo dimana Don?" Suara Anan dari ponselnya menghubungi Doni.
"Saya diparkiran bos." Sahut Doni.
"Lah gimana sih katanya udah di kamar." .
"Nungguin Anita pak bos, tadi aku takut ketemu nenek ganjen di lift."
"Emang Anita kemana?"
"Lagi ambil mbak Maya."
"Buruan ke sini!" Anan menutup ponselnya.
"Gimana Nan?" Tanya Dita.
"Kita kan udah nikah Ta, panggilannya beda yuk, aku panggil kamu bunda, kamu panggil aku yanda." Ucap Anan memeluk Dita dengan gemasnya.
"Menyan aja udah ngapain pakai Yanda." Sahut pak Herdi dengan nada ketus.
"Sudah deh jangan pada mulai gak lucu tau di lobby hotel banyak orang lewat gini." Dita buru-buru melerai keduanya.
Tak lama Doni datang bersama Anita dan Maya. Dita langsung memeluk Maya.
__ADS_1
"Kenapa nih tumben?" Tanya Anita.
"Udah deh gak usah bahas pokoknya aku mau Deket kamu terus." Sahut Dita.
"Si Shane udah sampai mana Don?" Tanya Anan.
"Coba bentar aku telpon, sambil menuju ke atas yuk." Ajak Doni.
"Bentar kak, siapin mental tadi aku masuk lift ini sempet pingsan, untung ada Anita." cegah Doni menahan Dita.
"Emang ada apaan Nit?" Dita menoleh pada Anita.
"Kamu lihat sendiri deh, tapi mending pak Herdi sama Anan di belakang takutnya main nemplok aja kayak sama Doni tadi." ucap Anita.
"Apaan sih, mau ngomongin hantu lagi deh pastinya ya kan? gitu aja takut." ucap Anan lalu pintu lift terbuka.
"Mana enggak ada apa-apa tuh di sini?" tanya Anan masih dengan nada sok berani.
Seorang nenek dengan daster bunga compang- camping penuh dengan noda darah sudah hinggap di punggung Anan.
"Hai ganteng." ucap hantu nenek itu.
"Tuh apa aku bilang." sahut Anita yang tertawa berbarengan dengan mbak Maya dan pak Herdi. Berbeda dengan Doni yang ketakutan bersembunyi di balik pak Herdi. Sementara Dita juga bersembunyi di belakang Anita.
Bagaimana tak takut hantu nenek itu wajahnya tak mempunyai kulit terlihat daging yang menyeruak dengan darah bercampur nanah makin menimbulkan bau anyir nan busuk. Tangan keriputnya yang kulitnya juga mengelupas melingkar di leher Anan. Hantu nenek itu tersenyum memperlihatkan gusinya yang berdarah tanpa gigi.
"Duh ganteng banget sih kamu jadi mau cium." ucap hantu nenek itu mencolek pipi Anan.
"Duh wangi banget sih nek, sampai puyeng saya nih, coba nek turun dulu saya mau benerin baju saya dulu nanti gendong lagi." Anan mencoba mencari alasan, hidungnya sudah tak tahan menghirup anyir darah yang busuk di sampingnya.
Hantu nenek itu turun Anan langsung berlari ke belakang tubuh Dita.
"Nek gendong sama dia aja tuh badannya lebih gede." Anan menunjuk pak Herdi seketika.
"Wah ganteng banget." sahut hantu nenek itu dengan senangnya dan menghilang seketika.
"Neneknya kemana?" tanya Dita sambil memperhatikan sekeliling, Anan dan Doni juga mengamati.
"Tuh siapa tuh di belakang pak Herdi." ucap Anita menunjuk hantu nenek di punggung pak Herdi.
"Kok jadi nemplok saat sih nek?" sahut pak Herdi sedikit kesal.
"Kamu lebih ganteng dari dia hihihihihi." nenek itu tertawa terkekeh.
"Itu sih pasti nek." ucap pak Herdi bangga.
"Kalau kalah ganteng demi nenek itu, gue rela kok." sahut Anan.
Mbak Maya, Anita dan Dita langsung tertawa bersamaan sementara Doni mati-matian menahan pipisnya saking ketakutan.
****
To be continued...
Jangan lupa main ke 9 lives yak...😘😘😘
__ADS_1