
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya... Jangan bosen bacanya ya...
Happy Reading 😊😘
*****
Selang satu jam kemudian, Tante Dewi dan Om Kevin datang ke rumah sakit tempat Dita melahirkan setelah di hubungi Tasya.
Mereka bergegas menuju lantai dua ruang bersalin tempat Dita di rawat.
"Hai Ta...!" ucap Tante Dewi saat membuka pintu ruang perawatan Dita.
"Tante...." Dita langsung merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan dari Tante Dewi.
"Dimana anak kamu?" tanya Om Kevin.
"Tadi baru aja aku susuin, udah di kembalikan lagi ke ruang perawatan," sahut Dita.
Ngok...ngok...ngok...
"Ta denger suara ba*i gak sih? wah jangan-jangan ada yang miara ba*i ngepet nih terus di lepas di rumah sakit?" tanya Tante Dewi.
"Tuh bebinya, bebi kepala item hahaha," ucap Dita menunjuk Tasya yang terlelap dengan suara dengkuran keras di atas sofa kamar perawatan Dita.
"Astagfirullah anak perawan tidurnya... ampun deh udah ngangkang gitu ngorok juga mana ngiler lagi hadeh..." Tante Dewi menepuk dahinya sendiri.
Om Kevin berdua menahan tawanya dengan kaya cool abis melihat kelucuan Tasya yang sedang tidur.
"Ta aku mau ngomong nih..."
Tiba-tiba ponsel tante Dewi berbunyi.
"Halo dengan siapa ya?" tanyanya karena nomor yang menghubunginya tersebut tak di kenal.
"APA...???!!!"
Tante Dewi tak sadarkan diri lalu jatuh ke lantai tanpa sempat teramankan oleh Om Kevin.
"Coba om hapenya sini," pinta Dita.
Om Kevin lalu mengangkat tante Dewi dan membaringkannya di sofa samping Tasya.
"Halo dengan siapa saya bicara?" tanya Dita.
"Ibu Dewi, bu..."
"Tante Dewinya pingsan, ini telpon dari siapa ya?"
"Ini mbok Ratih, tadi saya kasih tau kalau Ibu Desi mengalami kecelakaan saat mau mengantar bapak Hendri, non." ucapnya menjelaskan dari sebrang sana.
"Terus keadaan mereka gimana?" tanya Dita mulai panik.
"Ibu Desi selamat sekarang ada di rumah sakit keluarga tapi Bapak Handri dan cucunya Andara meninggal, non."
"Innalillahi wa innalillahi rajiun... makasih ya mbok infonya." Dita menutup ponselnya, air matanya langsung bergulir kala teringat Andara yang sebulan sekali ia kunjungi bersama Tante Dewi.
"Siapa yang meninggal, Ta?" tanya Tasya yang terbangun sambil meregangkan tubuhnya yang terasa pegal sehabis tidur di sofa.
"Anaknya temenku Sya, kakeknya juga meninggal, neneknya masih selamat di rawat di rumah sakit ini katanya," sahut Dita.
"Bapak ibunya kemana?" tanya Tasya.
"Udah lebih dulu meninggal," sahut Dita mengusap air mata yang terus menetes di pipinya.
***
Dita menceritakan tentang Andri dan Sandra pada Tasya, kenangan bersama Andri tak akan pernah ia lupa. Kebaikan Andri dan Sandra selalu akan Dita ingat.
"Jadi Andri itu mantannya Tante Dewi?" tanya Tasya.
"Ssstt jangan kenceng-kenceng nanti Om Kevin denger," bisik Dita.
"Oh iya... Tante Dewi hebat banget sih, masa anak mantannya sendiri mau dia rawat, baik banget tuh orang," bisik Tasya.
"Dia emang baik, makanya aku beruntung banget ketemu Tante Dewi," sahut Dita.
"Ta... kita liat ibu Desi yuk!" ajak Tante Dewi merasa yakin dirinya sudah kembali fit.
"Aku sih mau, tapi kalau buat jalan masih perih rasanya di perut nyeri gitu," sahut Dita.
"Pakai kursi roda Ta," ucap Tasya memberi ide.
"Oke, bilang suster gih, nanti kamu yang dorong ya," pinta Dita.
***
Ibu Desi harus menjalani operasi karena kecelakaan tadi. Tante Dewi, Dita, Tasya dan Om Kevin menunggu di depan ruang operasi.
"Ta, aku mau ke toilet ya," ucap Tasya.
"Ya udah sana, buruan!" sahut Dita.
Bahu Dita di tepuk oleh seseorang tiba-tiba.
"Tadi bukannya kamu mau ke toilet Sya..."
Dita terkejut saat menoleh ke belakang, ternyata bukan Tasya yang harusnya ia lihat akan tetapi sosok Bu Desi yang sedang tersenyum.
"I...ib...ibu, kok di sini bukannya di dalam lagi operasi?" tanya Dita yang tiba-tiba menyadari kehadiran berbeda dari Bu Desi.
"Huaaa hiks hiks, ibu... maafin Dita ya bu, maaf Dita belum sempat berkunjung nengokin ibu," ucap Dita sambil menangis.
"Kamu kenapa Ta, kok tiba-tiba nangis?" tanya Tante Dewi, lalu mendorong kursi roda Dita ke sudut ruangan. Om Kevin langsung mengikuti mereka.
"Ibu Desi, ibunya Andri tante..."
"Kenapa sama ibu Desi?" tanya Tante Dewi.
"Itu ibu Desi lagi senyum sama Dita terus pamit tuh lagi dadah-dadah hiks hiks huaaa berati kan Ibu Desi udah gak ada tante hiks hiks..."
"Yang bener Ta?"
"Iya tante tuh lihat aja tuh!" sahut Dita meyakinkan.
"Ya mana tante bisa lihat sih hal kayak gitu," sahut Tante Dewi.
__ADS_1
"Ta, kok pada di sini?" tanya Tasya yang kembali dari toilet.
"Dita nangis Sya, katanya lihat hantunya Ibu Desi," ucap Om Kevin.
"Masa Ta?" tanya Tasya.
"Itu Sya," tunjuk Dita.
"Wah iya kakinya gak napak, mukanya pucat, terus senyum dadah-dadah," ucap Tasya menjelaskan.
"Ah masa sih kalian ini, berarti ibu Desi..."
ucapan Tante Dewi tertahan saat melihat dokter perempuan keluar dari ruang operasi.
"Gimana dokter keadaan Bu Desi?" tanya Tante Dewi.
"Maaf bu, saya dan tim sudah berusaha sekuat tenaga dan semampu saya, tapi Tuhan berkehendak lain, saya mohon maaf, pasien tidak dapat tertolong karena banyak kehilangan darah," ucap Dokter tersebut menjelaskan.
Tante Dewi langsung menangis memeluk om Kevin. Dita juga menangis dan dipeluk Tasya. Bu Desi pamit memeluk Dita dan Tante Dewi yang hanya merasakan hawa dingin memeluk tubuhnya.
***
Di ruangan perawatan Dita.
"Kamu tahu gak Ta, padahal tadi aku mau bilang kalau aku mau adopsi Andara, tapi hiks hiks..." ucap Tante Dewi sambil menangis.
"Ya gitu deh tante, manusia kan cuma bisa berusaha, berencana tapi Allah yang nentuin takdir manusia itu bakal kaya apa," sahut Dita.
"Iya Ta...hiks hiks,"
"Nah besok siapin pemakaman mereka dengan baik tante, tapi maaf tante tau kondisi Dita belum bisa ikut ke pemakaman nanti aku ziarah kubur ke mereka aja," sahut Dita.
"Iya Ta..."
"Sayang pulang yuk udah mau malam, biar Dita istirahat," ucap Om Kevin.
"Oke deh yang, kita pulang, kamu gak apa kan Ta, sama Tasya di sini?" tanya Tante Dewi.
"Gak apa kok, ya Sya?" Dita menoleh ke Tasya yang asik membaca novel online di ponselnya.
"Iya entar juga rame ada Tante Key sama Pak Herdi kalau dipanggil," sahut Tasya membuat Tante Dewi dan Om Kevin malah bergidik ngeri mendengar nama Pak Herdi si pocong.
"Tante Key itu siapa?" tanya Om Kevin penasaran.
"Kuntilanak penunggu di sini," sahut Tasya.
"Dew, pulang yuk buruan!" ajak Om Kevin menarik lengan Tante Dewi.
"Iya iya pulang, ya udah nanti tante suruh Doni anter makanan sama baju buat Tasya dan kamu ya Ta," ucap Tante Dewi.
"Iya makasih tante," sahut Tasya dan Dita.
***
"Woi... Dita...!!" seseorang memeluk Dita dari belakang.
"Siapa ya?" Dita menoleh ke belakang.
"Hai Dita...!" ucap nya sambil tersenyum.
Dita langsung berbalik badan memeluk Andri.
"Selamat ya, kamu udah punya anak, cantik lagi, tadi aku udah lihat," ucap Andri.
"Kamu ngapain kesini?" tanya Dita.
"Aku mau jemput Andara, tuh sama Sandra," ucapnya menunjuk Sandra yang datang sambil menggendong Andara.
"Mbak Sandra..." Dita menghampiri Sandra dan memeluknya.
"Hai Ta, apa kabar?" ucap Sandra.
"Baik alhamdulillah, hai Andara!" sapa Dita.
"Hai tante Dita," Andara menyapa balik.
"Lho kok udah bisa ngomong?" tanya Dita heran.
"Bisa dong, kan kamu masuk ke dunia kita, ke alam gaib kita," Sahut Sandra.
"Ah masa sih, bukannya ini di kamar rumah sakit ya?" Dita mengamati sekelilingnya.
"Iya emang kamar di rumah sakit, tapi kan yang lain gak bisa lihat," ucap Sandra.
"Itu Anita ya?" Andri menunjuk ke Tasya yang terlelap tidur sambil mendengkur seperti biasa.
"Bukan itu titisannya Anita," sahut Dita.
"Ih asik banget si Anita bisa reinkarnasi, kok gue jadi mau ya Ta," ucap Andri
"Hahahaha kakaknya lucu masa ngorok kaya ba*i," Andara tertawa dengan gelinya.
"Udah yuk kita balik, kan janjinya gak boleh lama-lama," ucap Sandra mengingatkan.
"Oh iya yuk balik, kita pamit ya Ta, nanti kalau udah ketemu sama lontong kisut bilang dapet salam dari gue," ucap Andri.
Dita tiba-tiba menangis mengingat Anan.
"Kamu sih Ndri, tuh Dita jadi inget kan sama Anan," Sandra menepuk bahu Andri.
"Iya maaf, maaf ya Ta, nanti juga ketemu sama Anan, kita pamit ya," ucap Andri memeluk Dita dan menenangkannya.
"Huaaa makin sedih kan, ketemu cuma bentar banget udah di tinggal pergi huaaa," tangis Dita makin meledak.
"Cup cup... maaf ya Ta, pokoknya kamu harus selalu berjuang menjadi ibu yang baik ya, aku percaya kok pasti kamu bisa," Sandra memeluk Dita dengan eratnya.
"Aku kangen banget sama kalian jangan pergi ya temenin aku," ucap Dita meminta penuh harap.
"Gak bisa Ta, kalau bisa juga kita maunya tinggal, kita pamit dulu ya," ucap Andri lalu bertiga bersama Sandra dan Andara pamit melambaikan tangannya ke arah Dita.
"Jangan pergi, jangan pergi, jangan pergi..."
Dita mengigau di atas ranjangnya.
"Ta.. bangun Ta... istighfar..." Tasya menepuk pipi Dita berusaha membangunkannya.
__ADS_1
"Andri mana Sya? Mbak Sandra mana? tadi tuh... astagfirullah aku mimpi ya?" ucap Dita yang terbangun.
"Kamu minum dulu ya Ta," Tasya mengambilkan segelas air minum untuk Dita.
"Makasih ya Sya," Dita meneguk segelas air putih dari tangan Tasya.
"Dah tidur lagi, aku juga mau ngelanjutin tidur hoaaammm..."
***
Dita akhirnya pulang ke apartemennya membawa si anak pulang. Doni yang menjemput Dita dan Tasya ke rumah sakit sesuai perintah Tante Dewi.
"Mau di namain siapa Ta dedek bayinya?" tanya Tasya.
"Emmmmm Ratu, Ratu Ananta gimana? nanti nama panggilannya Anta, cantik kan?" ucap Dita yang dengan gemasnya menciumi pipi Anta.
"Ih cantik Ta, kalau panggilannya Anta berarti Anan dan Dita hehehe, udah gitu ya anak kamu tuh gede banget kaya bayi udah tiga bulan gitu, padahal baru tiga hari," ucap Tasya mencubit pipi bayi Anta tapi di tepis tangan Dita segera.
"Gak boleh pegang, tangan kamu gak steril," cegah Tasya.
"Ih pegang dikit doang sih kaga boleh,"
"Boleh, nanti kalau tangannya kamu bersih wleeekkk," Dita menjulurkan lidahnya.
Sesampainya di rumah, Pia sudah menyiapkan ranjang bayi untuk dede Anta di sebelah ranjang Dita. Ranjang bayi yang baru di beli oleh Tante Dewi itu langsung di rapihkannya. Tante Dewi juga membeli lemari bayi untuk Anta. Untungnya Dita juga sudah mempersiapkan baju-baju bayi dan perlengkapannya seminggu yang lalu.
Dita masuk ke dalam kamarnya.
"Bagus banget ranjang bayinya, siapa yang beli Pia?" tanya Dita.
"Nyonya Dewi yang beli tadi barusan, tenang aja non semuanya udah saya steril semprot desinfektan biar bersih dari kuman penyakit, nih botol hand sanitizer juga udah ada di samping ranjang," ucap Pia.
"Nah saya cuci tangan pakai ini jadi bisa pegang Anta deh," Tasya menghampiri botol hand sanitizer di samping ranjang Anta.
"Sini Anta saya gendong, kamu ganti baju gih!" ucap Tasya memerintah.
"Oke deh," sahut Dita.
"Hap, berat banget sih si Anta," gumam Tasya menggendong Anta yang tersenyum memandang Tasya.
"Ih ni bayi udah bisa senyum gini, liat deh Don," Tasya menunjukkan bayi Anta pada Doni.
"Lucu ya Sya, jadi pengen punya anak ih," sahut Doni mau mencubit pipi Anta tapi Tasya cegah.
"Eits... pakai pembersih dulu tangannya, cuci tangan sana!" ucap Tasya.
"Iya iya, aku cuci tangan dulu ya dek," ucap Doni.
"Non, aku udah nyiapin makanan ya di meja, ada sayur asem, sambel teri, tempe tahu, lalapan timun, sama sambel terasi," ucap Pia.
"Apaan sih, jangan panggil saya non, panggil aja Tasya, kamu panggil non ke Dita aja kan dia bos kamu," ucap Tasya.
"Iya non, eh Sya, yuk makan!" ucap Pia.
"Nanti tunggu Dita," sahut Tasya.
"Aku boleh gak makan duluan?" pinta Doni.
"Heh, udah numpang makan minta duluan, nanti tunggu Dita!" perintah Tasya.
"Iya iya, sini coba aku mau gendong Anta," ucap Doni.
Tasya menyerahkan Anta ke tangan Doni.
"Hai Anta, duh lucu banget sih," ucap Doni menggoda Anta.
"Awas ati-ati anak orang sawan," sahut Tasya.
"Sya, kok anget sih tangan aku sampai ke perut ngalir gini, duh." Donk menggerutu.
Rupanya Anta mengompol di gendongan Doni.
"Hahahaha bayi aja bisa bedain orang sama wc makanya dia ngompolin kamu," Tasya mengejek Doni.
"Enak aja, orang muka aku ganteng gini di bilang wc huh, nih ambil nih Anta nya, awas ya Anta kecil-kecil udah nakal sama om awas gede nya nanti," ancam Doni.
"Mau di apain gede nya?" tegur Dita langsung meraih bayi Anta.
"Hehehe... Mau di jagain kok kak, tenang aja," sahut Doni.
"Sama gih ganti baju, pulang sana!" ucap Dita.
"Ya kan mau numpang makan kak," sahut Doni.
"Hahahaha ya udah kalau gitu siap-siap bau ompol," sahut Tasya menertawakan Doni.
"Enggak sih enggak bau, kan Anta masih minum ASI, ya udah siram air aja dikit bersihin sana!" ucap Dita.
"Beres kak, tapi jangan di tinggal makan ya," pinta Doni.
Tasya dan Dita hanya tertawa memandang Doni.
"Ganti popok yuk Nak," ucap Dita lalu membawa Anta ke kamarnya.
"Aku ikut mau lihat," Tasya bergegas mengikuti Dita.
*****
Bersambung...
To be continued...
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All 😘😘😘