Pocong Tampan

Pocong Tampan
Para Hantu di Rumah Anan


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


****


"Nit, bawa Doni ke dalam yuk kasian ini ngegeletak gini."


"Ah si Doni mah cemen banget sih, dikit - dikit pingsan." Anita menendang kaki Doni pelan.


"Pak nanti Dita balik ya, ini mau angkat Doni dulu." ucap Dita dibalas anggukan oleh pak Herdi.


Dita dan Anita menaruh Doni di sofa terdekat. "Kenapa non ini si adennya?" tanya Ibu Mey pada Dita.


"Pingsan Bu ketemu pocong di depan." bisik Dita sambil bercanda sebenarnya namun ditanggapi serius oleh Ibu Mey.


"Beneran non? beberapa waktu lalu saya juga liat non, mukanya hitam semua, idih saya takut non terus dia minta bukain ikatan pocongnya hiy jadi merinding ini non."


"Wah dia nampakin diri juga sama ibu ckckckckc keterlaluan mau hits rupanya tampak sana sini hehehe aku ke teras dulu ya mau ambil ponsel ketinggalan." ucap Dita.


"Ya hati - hati non, ini saya suruh pelayan pindahkan Aden ini kekamar tamu ya non?"


"Iya Bu terserah ke kandang molly juga gak apa hehehe." sahut Anita tertawa puas meski ibu Mey tak mendengar.


"Iya Bu silahkan." ucap Dita lalu beranjak pergi ke teras belakang lagi.


Tak lama Dita dan Anita kembali menemui pak Herdi. "Gimana pak?" tanya Dita.


"Dia pergi kerumah besar di seberang sana, sepertinya dia di kubur disana." sahut pak Herdi.


"Hmmmm berarti harus ke rumah besar itu ya? bagaimana ya enaknya biar gak mencurigakan." Dita mengetukkan jari telunjuknya ke dagu nya.


"Minta bantuan Tante Dewi atau langsung kapten Jihan." sahut Anita.


"Atas dasar apa kapten Jihan menggeledah rumah itu, masa iya kita bilang gara - gara pocong keder minta bukain tali pocongnya."


"Iya juga sih, tapi Ta tunjukin keberadaan pocong itu ke kapten Jihan gimana?"


"Idih ogah." sahut Dita kesal.


"Tunjukkan saya aja Ta." pak Herdi menyela pembicaraan Dita dan Anita.


"Hmmm oke deh coba besok ya kalau kapten Jihan kesini mantau perkembangan penyelidikan pak Kevin, aku ngantuk nih, tidur yuk!" ajak Dita.

__ADS_1


"Kamu ngajak saya tidur Ta?" Pak Herdi melompat mendekat ke hadapan Dita dengan wajah penuh harap.


"Ih si bapak pede banget, saya ngajak Anita pak, ya kali ngajak bapak bisa gak jadi kawin sama Anan." Dita mengetuk dada pak Herdi dengan tangannya agar mundur.


"Nikah Ta bukan kawin, kalau kawin mah kucing di pojokan pintu juga kawin hahahaha."


Krik krik krik...


Dita dan pak Herdi menoleh heran ke arah Anita.


"Ya pokoknya pak bos jangan berani-berani deh bisa habis nanti sama Anan." ucap Anita.


"Saya kan memang sudah habis Nit, sudah mati."


"Iya pokoknya gitu deh jangan dekati Dita." Anita menyilangkan tangannya di hadapan wajah pak Herdi.


"Udah - udah ah udah malam yuk tidur ngantuk nih Nit."


"Ayo... dah pak Herdi." Anita melambai pada pak Herdi.


Ibu Mey mengamati Dita sedari tadi dari balik tirai. "Si non Dita aneh banget sih mirip tuan Arjuna suka ngomong sendiri gak jelas di teras belakang hiiyy." Bu Mey memeluk dirinya sendiri penuh kengerian.


"Waaaaaa kenapa pocongnya jadi dua itu ya." Bu Mey melihat penampakan Pocong berwajah hitam bersama pak Herdi melompat di taman teras belakang menuju rumah besar di seberang belakang rumah besar Anan. Bu Mey pun berlari menuju kamarnya penuh ketakutan, langsung merebahkan dirinya di atas ranjangnya dan menutup semua tubuhnya dengan selimut.


*Di kamar yang Dita tempati.*


"Iya ya, masa Bu Mey taro Doni di kamar tamu waktu itu ya Ta?"


"Bisa jadi Nit, coba liat gih." pinta Dita.


"Enggak mau ah aku takut yang dulu aja aku lemes parah kan habis berkelahi sama dia." ucap Anita cemas.


"Dulu kan kamu belum sekuat sekarang Nit, pasti bisa lawan dia." Dita memberi semangat.


"Berdua yuk Ta." pinta Anita.


"Kamu kalau kalah kan cuma lemas menghilang sebentar kalau aku yang kalah nanti aku hilang gak jadi kawin Nit, eh nikah huaaa." rengek Dita.


"Hadeh... oke deh aku lihat Doni dulu." Anita menghilang keluar kamar Dita menuju kamar yang di tempati Doni.


"Hmmm Anita lama nih." gumam Dita sambil melirik jam di dinding kamarnya. "Bangunin Anan kali yak."


Dita memberanikan diri mengetuk pintu kamar Anan.


"Hooaamm... eh sayangku." Anan menengok ke kanan dan ke kiri. "Kangen ya sama aku?" bisik Anan.


"Huaaaa... pakai baju dulu apa." Dita menutup wajahnya saat melihat Anan hanya mengenakan celana piyama saja.


"Hmmm muna, besok juga maunya lihat aku gak pakai apa-apa, iya kan?"

__ADS_1


"Huuuu... sembarangan, sudah sana pakai baju dulu." Dita mendorong dada Anan ke dalam kamarnya.


"Eh apaan nih pegang - pegang bikin mupeng aja nih." sahut Anan menggoda Dita.


"Aaaaa aku gak sengaja Nan, refleks hehehehe."


"Sengaja juga gak apa-apa kok, nih silahkan semua milik kamu kok." Anan membusungkan dadanya yang bidang.


"Ah kamu mah cepet sana pakai baju, aku mau minta temenin samperin Doni di kamar tamu yang ada nyainya itu, tadi aku suruh Anita ke sana tapi belum balik - balik." ucap Dita cemas.


"Emang Doni tidur disitu?" tanya Anan sembari mengucek matanya.


"Kayaknya iya deh, yuk temenin Nan." pinta Dita.


"Kalau Doni sama Anita lagi ehem ehem gimana kita ganggu dong hihihi."


"Anan ih dari tadi ya otaknya mesum banget, ayo buruan pakai baju." Dita memukul pipi Anan pelan.


"Iya iya, gak sabaran banget sih." Anan mengenakan atasan piyamanya lalu menuju kamar tamu tempat Doni berada. Dita membuka pintu kamar tersebut dan melihat sosok nyai sedang beradu saling Jambak dengan Anita.


"Hei lepaskan sahabatku." ucap Dita mencoba melepas tangan nyai dari cengkraman nya di rambut Anita.


Srak.


Anan menggunting rambut nyai itu. "Aaahhh rambutku." ucap sosok nyai itu melepaskan dirinya dari mencengangkan Anita.


"Eh aku barusan mau potong rambut Anita kenapa jadi rambut dia ya." ucap Anan.


"Bagus Nan, aku jadi tahu kelemahannya." sahut Dita mendekati lukisan nyai.


"Nyai, ini rambut siapa ya, nih lukisan di gunting seru nih kayaknya." ancam Dita dengan wajah nya yang memberikan senyum licik ke arah sosok nyai.


"Ja jangan, jangan kau sentuh lukisan ku!" pinta sosok nyai.


"Mulai dari rambut seru kali ya." ucap Dita mulai menempelkan gunting di lukisan sosok nyai.


"Jangan...! kumohon jangan, aku beejanni tidak akan mengganggu kalian, kalau kau hancurkan nanti aku akan jelek, aku tidak berani lagi menghadap Arjuna jika aku tak cantik huhuhu." sosok nyai itu terisak menangis.


"Arjuna? maksud kamu papi aku?" tanya Anan.


"Ah... apakah kamu putra Arjuna, wah tampan sekali seperti Arjuna, maukah kau..."


"Eits nyai... mundur dari Anan, dia itu milikku jangan coba-coba yak." ancam Dita dengan gunting di letakkan di lukisan nyai. Wajah Anan berubah merona mendengar ucapan Dita barusan.


****


To be continued... Happy Reading


Mampir ke 9 lives ya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2