Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Obat Anan


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Happy Reading...


******


"Sarapan dulu ya Ry, tadi Dita udah masak nasi goreng enak," ajak Tasya menuju dapur. Tante Dewi masih berada di sana menyantap nasi goreng buatan Dita.


"Aku jadi mikir deh Sya, kira-kira Anan sakit apa ya? apa jangan-jangan dia di guna-guna?" tanya Tante Dewi saat Tasya masuk ke dalam dapur tersebut.


"Kok tante jadi nanya gitu, setau aku bukannya dirimu ya tante tak percaya dengan hal seperti itu semacam sihir atau guna-guna," tanya Tasya.


"Ya habis kasian Anan gak sembuh-sembuh jadi gak tega kan?" gumam Tante Dewi.


"Sebentar, Yerry bisa cari dukun terbaik di kota ini via online, nah yang follower-nya paling banyak biasanya paling laris paling hits, kita datangi buat bantu Pak Anan, gimana?" tanya Jerry memberi ide pada Tante Dewi dan Tasya.


Keduanya langsung tertawa mendengar penuturan Jerry.


"Emang dukun punya sosial media? hahaha, ada-ada sih kamu Ry," tawa tante Dewi.


"Adalah... hari gini mah cuma orang yang kurang pergaulan yang gak punya sosial media, ya gak Sya?" Jerry menoleh pada Tasya sambil mencari dukun terkenal via sosial media di ponselnya.


"Aku aja gak punya sosial media, berarti aku kurang pergaulan dong?" Tasya menunjuk dirinya sendiri.


"Masa sih gak punya, nanti aku buatin ya terus aku share ke temen-temen sosial media aku, biar pada follow kamu," ucap Jerry dengan tawa cekikikannya.


"Sebenernya aku tahu lho Sya yang bisa buat Anan sembuh," celetuk Pak Herdi mengejutkan Tasya karena sudah berdiri di sampingnya.


"Astaga, pocong satu ini ngagetin aja," Tasya mendorong tubuh Pak Herdi dengan gemas membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai.


"Sakit, Sya. Kok sekarang tenaga kamu kuat banget sih?" Pak Herdi menggerutu menatap Tasya tajam.


"Ya maaf hehehe..." Tasya menertawakan Pak Herdi.


"Bu, tuh Tasya kenapa ya?" Jerry berbisik ke tante Dewi.


"Udah biasa, paling lagi ngomong sama pocong," ucap Tante Dewi membuat matanya Jerry terbelalak.


"Kabur yuk, kamu bisa potong rambut kan?" tanya Tante Dewi membuat Jerry mengangguk.


"Potongin poni aku nih kepanjangan," pinta Tante Dewi.


"Ok, Sya aku potong poni bu Dewi dulu ya," ucap Jerry meninggalkan Tasya sebentar di dapur.


"Tadi mau ngomong apa, Pak Herdi bilang tau obat untuk Anan, apa itu?" tanya Tasya yang menarik lengan Pak Herdi namun karena terlalu kencang Pak Herdi langsung menubruk tubuh Tasya dan wajah mereka saling bertatapan.


"Jangan tatap aku seperti itu apa, Pak?" ucap Tasya lirih.


"Tau gak Sya, enak ya jadi kamu," ucap Pak Herdi memamerkan senyumnya.


"Lho kenapa enak jadi saya?" tanya Tasya tak mengerti.


"Iya, enak jadi kamu, soalnya kalau mau liat bidadari tinggal ngaca deh," ucap Pak Herdi.

__ADS_1


"Aduh mual saya di gombalin bapak, wlek..." Tasya mencubit Pak Herdi dengan gemas.


"Kamu lama-lama cantik sih, Sya sama kayak Dita," ucap Pak Herdi.


Kali ini hati Tasya terasa cenat-cenut, jantungnya berdetak kencang seolah di copot paksa oleh Pak Herdi kala mendengar kata cantik.


"Aduh fokus udahan gombalnya, coba cerita obatnya pak Anan apa sekarang!" pinta Tasya.


"Obatnya ada di restoran, " ucap Pak Herdi yang menyendok nasi goreng buatan Dita masuk ke dalam mulutnya.


"Di restoran? maksudnya rempah-rempah bumbu dapur gitu?"


"Bukan, Ratu Sanca obatnya," ucapnya dengan mulut penuh.


"Oh itu mah aku udah tau bubuk mutiara hitamnya kan?" tanya Tasya.


"Bukan, tapi jantung, jantung milik Ratu Sanca."


"Hah? jantung milik Ratu Sanca? berarti dia harus nati dong, demi mengobati Anan?"


"Nah, itu masalahnya. Anan dan Dita gak mau melakukan itu pada Ratu Sanca.


"Aku juga gak akan melakukan itu sih, selama masih ada pengobatan lain, pasti Dita dan Anan berusaha meraih obat tersebut dibandingkan mengambil jantung Ratu Sanca."


"Hmm..."


***


Setelah mengantar Anta ke sekolahnya, Anan melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit Happy menemui dokter Jhonson, dokter ahli penyakit kulit terbaik di rumah sakit tersebut.


"Tuan Anan harus dirawat ya, saya mau menstabilkan tubuhnya dulu besok baru saya lakukan operasi plastik agar pinggangnya tak berongga seperti itu," ucap dokter Jhonson.


"Iya, tapi saya juga belum tau parasit jenis apa ini, makanya saya ingin tuan Anan di rawat dulu untuk saya teliti lebih lanjut parasit tersebut agar penanganannya tepat."


"Baiklah dok, lakukan yang terbaik pada suami saya," ucap Dita menggenggam tangan Anan dan tersenyum padanya.


"Makasih bunda, I love you," ucap Anan.


"I love you too..."


***


Dita menghubungi Tasya dari ruang perawatan Anan.


Dia meminta tolong pada Tasya agar menjemput Anta di sekolah selama ia merawat Anan di rumah sakit ini.


Dita menoleh pada Anan yang tertidur pulas akibat obat yang baru saja di suntikan padanya. Anan merasa sangat mengantuk sampai tak sadar ia tidur dengan mulut terbuka dan mendengkur keras.


"Aduh lucu banget sih ni suami," ucap Dita sambil tertawa memandang Anan.


"Duh laper, aku tinggal dulu deh ke kantin." Dita mencium kening Anan lalu meraih tas kecilnya menuju kantin.


Dita memesan ayam goreng dan nasi serta kentang goreng yang di padu padankan dengan orak-arik telur dadar. Di mejanya juga ada lemon tea dingin yang ia pesan.


Saat memakan menu makanannya dengan lahap, seseorang datang ke hadapan Dita dan duduk bersamanya tanpa meminta ijin.

__ADS_1


"Hai, cantik!" sapa Mark yang tersenyum di hadapan Dita.


"Uhuk...uhuk..."


"Minum, Ta."


Mark menyerahkan segelas teh lemon ke hadapan Dita yang langsung meminumnya.


"Kamu kaget ya ketemu saya sampai tersedak gitu?" tanya Mark yang meraih kentang goreng di meja Dita.


"Kamu mau apa sih? seneng banget godain saya?" Dita menatap Mark tajam.


"Aku maunya kamu."


"Jangan sampai aku siram ya muka kamu sama air lemon ini," ancam Dita.


"Weits biasa aja dong, mending air lemonnya aku minum," ucap Mark seraya meraih air lemon Dita tapi langsung di cegah oleh tusukan garpu di punggung tangan Mark dari Dita.


"Aww... sakit Ta!" pekik Mark mengibaskan tangannya dan meniupnya.


Dita mencari gelang dan berniat memanggil Pak Herdi, namun ia ingat gelang itu dia berikan pada Tasya. Niatnya meminta tolong pada Pak Herdi jadi tak kesampaian.


"Jangan ganggu makan ku ya, selera makanku jadi berkurang gara-gara kamu!"


"Tapi gak gini juga kali, masa aku ditusuk garpu?" Mark menggerutu.


"Pergi deh daripada aku panggilan satpam buat usir kamu, lagian kamu ngapain sih ngikutin aku mulu?" tanya Dita.


"Lho aku tiap hari emang kesini kok, melakukan penelitian dan berkunjung ke temen aku yang di rawat di sini."


"Teman yang mana?"


"Tuh mau tau kan temen aku yang mana, cie... bikin aku seneng aja sih di kepoin," ucap Mark penuh percaya diri.


"Najong...!!!"


"Temanku banyak tau para penderita kanker jadi aku ke sini tuh mau hibur mereka," ucap Mark.


Dalam hati Dita merasa takjub dengan perbuatan Mark, namun karena sudah terlanjur kesal ia malah menatap Mark dengan tatapan sinis.


******


Bersambung ya...


Mau kasih Info nih Vie baru aja release novel baru judulnya "Diculik Cinta" .


Jangan lupa mampir ya, beri like dan komen.


Mampir juga ke


- With Ghost


- 9 Lives


- Gue Bukan Player

__ADS_1


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘😘


__ADS_2