
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Aku bilang apa, ayo masuk mobil!" sahut Anan, Dita dan Anita langsung masuk ke dalam mobil.
"Mbak Kunti siap - siap ya." ucap Anan menekan pedal gas mobilnya.
"Percuma Nan, dia bisa terbang." sahut Anita yang melihat kuntilanak berdaster ungu itu terbang.
"Awas Nan!" pekik Dita yang membuat Anan tiba-tiba mengerem mobilnya mendadak.
"Bener-bener yak ni Kunti tadi aja dasternya ungu lah ini dasternya kuning, endorse dari spanduk partai kali nih daster." Dita membuka pintu mobil.
"Mau kemana Ta?" Anan menahannya.
"Gemes aku Nan, sama mereka." sahut Dita
"Aku juga Ta." sahut Anita ikut turun dari mobil.
"Gak jadi Nan, pulang aja yuk." ucap Dita langsung masuk ke dalam mobil.
"Ah Dita mah gak jelas nih." Anita buru-buru masuk ke mobil.
"Cabut Nan, ayo cepetan aku gak mau mereka ngikutin kita nanti." Dita menepuk bahu Anan.
"Tadi aja mau nantangin, oke siap-siap mau ngebut nih."
"Hati - hati Nan aku mah udah metong lah kalian gak jadi kawin entar." sahut Anita dari bangku belakang.
"Bismillah..." ucap Dita mengencangkan sabuk pengaman nya, Anan langsung tancap gas menjauh dari area pemakaman itu.
***
"Gimana Tante hasil autopsi pak Herdi?" tanya Dita di meja makan apartemen milik Tante Dewi.
"Oh para napi tadi terindikasi racun sianida dan arsenik dalam makanan yang mereka makan berupa kue pisang dan bolu pandan."
__ADS_1
ucap Tante Dewi sambil mengunyah makan malamnya.
"Lalu apa sudah ada tersangkanya?" tanya Dita sambil menuangkan air putih ke dalam gelasnya dan gelas Tante Dewi.
"Wah kalau urusanku pihak berwajib Ta yang bisa kasih tau, Tante gak tau tadi perkembangan soal tersangka gimana."
Ponsel Tante Dewi tiba-tiba berbunyi.
"Halo kenapa sus? kecelakaan? Kevin yang pengacara itu? oke saya segera kesana hubungi juga dokter Handoko yak." Tante Dewi menutup ponselnya.
"Aku harus kerumah sakit Ta."
"Aku ikut Tante, itu kan pengacara nya pak Herdi, dia suruh aku ke kantornya besok padahal tapi kena musibah." ucap Dita sambil membereskan piring-piring di atas meja makan.
"Ada urusan apa Ta kamu di suruh ke kantornya?" tanya Tante Dewi meraih sweater dan kunci mobil serta tas nya.
"Nanti aku ceritain di jalan Tante." ucap Dita.
"Aku ikut ya Ta." sahut Anita.
"Yuk."
"Yuk sama siapa Ta? oh iya aku lupa pasti Anita ya?"
"Iya Tante yuk." ajak Dita.
"Gak usah Nit, sama Tante Dewi aja." sahut Dita.
"Ta ayo masuk buruan." ucap Tante Dewi dari dalam lift, lalu Dita segera masuk ke dalamnya menekan tombol close.
***
Selama perjalanan terjadilah pembicaraan serius tentang kejadian tadi siang antara Dita, Anan dengan pak Kevin sang pengacara pak Herdi, bahwa setengah kekayaan pak Herdi di berikan kepada Dita. Dita juga menceritakan percobaan pembunuhan yang pernah menimpa pak Herdi dan kemungkinan Pak Herdi juga mati terbunuh hari ini.
"Serem juga ya Ta, kamu harus hati-hati tuh Nerima warisan pak Herdi." ucap Tante Dewi.
"Gak ada yang tahu Tante soal warisan itu, pihak keluarga hanya tau seluruh kekayaan keluarga pak Herdi diberikan ke pihak yayasan. Hanya si pengacara, Anan sama Tante barusan yang tau soal warisan itu." sahut Dita.
"Oh begitu, Oke aku akan simpan rahasia mu."
"Tante apa jangan-jangan pak Kevin kecelakaan karena percobaan pembunuhan juga ya?"
"Bisa jadi Ta."
"Tolong selamatkan dia Tante, kasihan kan dia."
__ADS_1
"Siapapun pasiennya tujuan aku pasti menyelamatkan nyawa pasien Ta tenang aja, dah sampai yuk turun." Tante Dewi menyerahkan kunci mobilnya pada salah satu satpam rumah sakit untuk memarkirkan mobilnya dengan benar.
"Kamu tunggu sini ya, enggak usah masuk ke IGD!" Tante Dewi melarang Dita mengikutinya.
"Oke." sahut Dita lalu menuju sebuah lorong dirumah sakit menuju tempat mesin Snack berada.
"Ta, ngerasa gak sih kayak ada yang ngikutin kita?" Anita menarik tangan Dita.
"Perasaanku yang ikutin aku itu kamu deh." sahut Dita sambil tertawa kecil.
"Ih Dita mah, peka dong, eh Ta itu barusan apa?" terlihat sekelebat bayangan di dinding lorong itu.
"Ah perasaan kita aja kali Nit lagi jelek." ucap Dita menenangkan diri.
"Ta berasa ada yang lompat - lompat deh dibelakang kita." ucap Anita agak takut.
"Iya Nit kaya ada yang lompat - lompat gitu." Dita mencoba melirik dinding lorong.
"Nit kepalanya ada iketan tus lompat - lompat, gak mungkin kan itu Anan?"
"Ya gak mungkin lah, tapi itu sebangsanya Anan dulu kayaknya Ta."
"Coba tengok nit, itu kan juga sebangsamu."
"Kamu aja Ta, aku rela kok di bilang kamu rendahan sama bangsaku."
"Apaan sih Nit, cemen banget jadi hantu."
"Kalau serem mukanya gosong darah semua atau mukanya rata gimana kan serem Ta."
"Ih alesan aja nih, ya udah coba kita tengok pelan-pelan yak." ucap Dita mencubit lengan Anita.
"Oke aku setuju, ayo hitung bareng."
"Satu, dua, ti.... tuh kan kamu gak berani nengok." Dita mendorong bahu Anita dengan bahunya.
"Hehehe oke oke ayo kita nengok, aku hitung nih ya, satu, dua, tiga." Anita membuat badan Dita berbalik sementara Anita sendiri menutup matanya saat berbalik bersembunyi di belakang badan Dita.
Dita menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat berbalik lalu pelan - pelan ia membuka jari - jari tangan nya sedikit demi sedikit dan Dita melihat sosok penampakan yang ternyata hantu pocong yang tersenyum ke arahnya.
***
**To be continue...
Happy Reading...
__ADS_1
Jangan lupa di vote dan tengok novel baruku juga ya di 9 lives, ikuti tentang keseruan Zee si penyihir bersama para makhluk aneh lainnya. 😘😘😘**