Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Menyembuhkan Anan (Part 1)


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Mampir ya ke Novel terbaru aku yang uwwu


"Diculik Cinta" yang siap mengocok perut kalian.


Happy Reading...


******


Di lantai dua dalam restoran milik Anan, benar saja dugaan Tasya. Di lantai sudah banyak berserakan butiran mutiara hitam dari bulir tangisan milik Ratu Sanca.


"Ambil toples, Nta!" pinta Tasya memerintahkan Tasya untuk meraih toples bening tempat biasa yang ia pakai untuk mengumpulkan mutiara hitam.


"Oke tante, siap!" sahut Anta.


"Paling tidak ini cukup untuk mengobati sementara luka Anan sampai Ratu Sanca memberikan jantungnya," gumam Tasya memunguti mutiara hitam di lantai tersebut sampai ke bawah sofa.


Deg... sinar hijau berkilauan terpancar dari bawah sofa. Rupanya mata sang Ratu Sanca yang berkilauan. Tubuhnya menggeliat mencoba merayap keluar dari sofa.


"Astagfirullah... Ratu ih ngagetin aja!" pekik Tasya.


"Lho memang aku biasa tidur di bawah sofa, kok," sahutnya.


"Tadi kau bilang apa, sampai aku memberikan jantungku?" tanyanya.


"Oh, bukan kok, ratu salah denger kali," Tasya menepuk ekor Ratu Sanca yang berada di sampingnya


"Aku tak salah dengar! kau mengucapkan cukup jelas kalau kau membutuhkan jantungku? iya kan?" bentak Ratu Sanca.


"Sudah, sudah sudah hentikan! biar saya jelaskan!" Pak Herdi langsung muncul di hadapan Ratu Sanca melindungi Tasya.


"Jangan pak, Dita saja tak mau menjelaskan, sebaiknya jangan!" pinta Tasya.


"Gak bisa, Sya. Saya harus menjelaskan," ucap Pak Herdi menoleh pada Tasya.


"Tapi pak..."


"Ah kalian ini cepat jelaskan!" bentak Ratu Sanca.


Suara membentak Ratu Sanca mengejutkan semua yang mendengarnya, namun hantu Lily sudah sigap menutup telinga Anta lalu ia menepuk punggung Anta.


"Jangan sawan ya, Nta." ucap Lily dengan suara lirih.


"Sawan apa sih Tante? bukannya sawan tempat pak tani menanam padi ya?" tanya Anta dengan raut wajah polosnya menoleh ke arah hantu Lily.


"Ih Anta bikin gemes deh, kecil-kecil udah bisa main plesetan." Lily mencolek dagu Anta dengan gemas


"Ih kan Anta nanya sawan itu yang buat pak Tani menanam padi apa bukan?" tanyanya berulang sekali lagi.


"Hadeh gimana jelasinnya ya, itu lho maksudnya kamu nanti kagetan terus punya penyakit gak jelas gitu kayak anak bayi kena sawan, ya gitu deh tau ah!" Lily menyerah menjelaskan.

__ADS_1


"Berarti yanda kena sawan dong, kan penyakitnya gak jelas?" tanya Anta lagi lebih lugas.


Ratu Sanca menoleh pada Anta, ia mendengar ucapan gadis kecil itu barusan soal Anan yang terkena penyakit aneh.


"Jadi, Anan masih terkena penyakit aneh?" tanya Ratu Sanca.


"Ya, menurut Tuan Worm ada semacam sihir hitam yang membuat Anan sakit. Tubuhnya membusuk digerogoti belatung. Mutiara hitammu tak bisa menyembuhkan hanya menahan setelah itu luka busuk itu berpindah. Seseorang hendak mengambil tubuh Anan agar berpindah pada dirinya." Pak Herdi berusaha menjelaskan.


"Dan sihir hitam itu akan hilang jika Anan memakan jantungku?" tanya Ratu Sanca.


Pak Herdi menganggukan kepalanya pelan.


Ratu Sanca menyeret tubuhnya pergi menjauh dengan raut wajah yang sedih. Tiba-tiba tv menyala. Sebuah tontonan drama penuh air mata terpampang di layar besarnya.


"Tuh kan, apa aku bilang tv itu bisa nyala sendiri kan tanpa kamu sentuh?" celetuk Jerry yang baru hadir ke lantai dua itu.


Tasya menghampiri Ratu Sanca yang fokus menonton drama dengan raut wajah sedih.


"Ratu, sebenarnya, sesungguhnya Dita dan Anan tak pernah terlintas pun di pikiran mereka menyetujui ide ini. Mereka akan bertahan dengan pengobatan medis dan bubuk mutiara hitam ini. Karena saya yakin Dita dan Anan tak akan tega mengorbankan Ratu."


"Pergilah... pergi kataku! aku takut pikiranku yang kacau ini akan melukaimu!"


"Tapi Ratu..."


"Pergilah... !!!" bentak Ratu Sanca membuat Tasya mundur beberapa langkah.


"Sya, kamu ngapain sih di situ?" tanya Jerry yang mulai kembali ketakutan lalu mundur perlahan-lahan. Ia tak sengaja menginjak beberapa mutiara hitam di lantai dan tergelincir menuju anak tangga. Jerry berteriak saat meluncur ke bawah. Dua butir mutiara hitam tak sengaja tertelan oleh Jerry.


"Ohkk ohkk..." Jerry langsung tersedak dan kesulitan bernafas.


Betapa terkejutnya Jerry saat matanya terbuka kembali setelah terpejam ketika menelan mutiara tersebut. Sosok hantu Lily yang sedang memeluknya dapat ia lihat ketika hantu Lily melepas pelukannya.


"Anakku Yerry..." ucap hantu Lily penuh keharuan, akhirnya Jerry bisa bernafas lagi sangat membuat hatinya terasa bahagia.


"Aaaaaaa...!!!" teriak Jerry dengan kencangnya saat melihat wajah hantu Lily.


Tasya dan pak Herdi segera bergegas menghampiri Jerry. sementara Anta masih sibuk kembali memunguti mutiara hitam di lantai.


"Kamu kenapa, Ry?" tanya Tasya.


"Aaaaaaaa...!!!"


Jerry kembali berteriak saat melihat sosok Pak Herdi dalam balutan kain kafan yang disebut pocong. Jerry langsung tak sadarkan diri.


"Ini diapain si Jerry sampai teriak terus pingsan kayak gini?" Tanya Tasya yang menepuk pipi temennya itu berkali-kali.


"Tadi dia menelan dua mutiara lalu tak lama kemudian, dia bisa melihatku dan juga Pak Herdi," aku nanti Lily dengan wajah berbinar.


"Astaga, jadi sekarang Jerry dapat melihat kalian, hadeh..." Tasya menepuk dahinya sendiri.


"Aku bahagia... yeay, yeay, yeay, Jerry akhirnya dapat melihat ayahnya," ucap Hantu Lily dengan bahagianya.


"Yeay, yeay, yeay... saya makin tak bahagia nanti pasti si Jerry ikut-ikutan naksir saya deh, dia terpesona akan ketampanan miliki saya," celetuk Pak Herdi dengan menyentuh dagunya berkali-kali.

__ADS_1


"Haduh jadi pocong aja pede banget!" ketus Tasya seraya menatap tajam ke arah Pak Herdi.


***


Dita mengantar Anan menuju meja operasi seraya menggenggam tangannya.


"Tunggu sebentar suster, saya mau bicara dengan suami saya dulu," pinta Dita.


"Yanda yang kuat ya, kamu harus bertahan, ingat kamu punya aku dan Anta yang gak akan bisa ikhlas kalau kehilangan kamu," bisik Dita di telinga Anan.


"Iya bunda, pokoknya tenang aja. Cium aku dong..." pinta Anan dengan tatapan mautnya merayu Dita.


"Astaga yanda ada dua suster ngeliatin kita kamu malah minta cium, hadeh..."


"Tak apa nyonya, kami akan berbalik badan, silahkan di laksanakan permintaan suaminya," ucap seorang suster yang langsung memberi aba-aba pada rekannya untuk berbalik badan.


"Tuh kan, di bolehin, sini..."


Kecupan bibir Dita mendarat di bibir Anan yang menggemaskan.


Dengan berat hati Dita melepaskan genggaman tangannya dari tangan Anan.


"Operasi Pak Anan akan segera saya mulai ya, nyonya Dita sebaiknya menunggu di luar," pinta dokter Jhonson.


"Baiklah, saya mohon lakukan yang terbaik ya dokter. Sembuhkan suami saya," pinta Dita penuh harap.


"Saya akan berusaha dan selalu berusaha melakukan yang terbaik demi pasien."


Dokter Jhonson dan beberapa perawat masuk ke dalam ruang operasi Anan.


Dita mengeluarkan ponselnya menghubungi Tasya.


"Aku menuju kesana, Ta. Aku dan Anta sudah membawa satu toples bubuk mutiara untuk Anan," ucap Tasya dari seberang sana.


"Syukurlah... makasih ya, Sya. Kalian hati-hati di jalan."


"Tenang aja ada Pak Herdi kok yang jagain," ucap Tasya.


Dita memutus sambungan teleponnya dengan Tasya.


*****


Bersambung ya...


Mampir juga ke :


- Diculik Cinta


- With Ghost


- 9 Lives


- Gue Bukan Player

__ADS_1


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘😘


__ADS_2