
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading 😊😊😊
******
Lalu bayangan hitam tiba-tiba muncul dari cermin. Perlahan-lahan keluar rambut panjang lurus menyeret lantai. Lalu kepala perempuan itu keluar dari cermin menunjukkan ubun-ubunnya yang berongga fan penuh ulat burung yang menggeliat dari rongga kepalanya penuh darah dan nanah itu. Tangan penuh luka bolong-bolong di permukaan kulit di sertai kuku tajam yang hitam merangkak keluar cermin.
"Ta... itu setan berani banget sih, kita lagi rame- rame kayak gini dia keluar hiiiyyy," ucap Tasya mendekat ke arah Dita.
Anan yang berdiri di belakang Pak Herdi tersadar bahwa ia bersembunyi di balik hantu yang bisa menyeramkan juga. Anan langsung berpindah menuju ke belakang tubuh Dita.
Sementara Anta berdiri di samping Pak Herdi dengan wajah penuh semangat dan tak sabar sambil bertepuk tangan melihat sosok hantu yang akan keluar dari cermin tersebut.
"Yeaaayyy kakaknya keluar asek Anta punya temen main..." Anta bersorak kegirangan.
Hantu dalam cermin itu makin merangkak keluar. Kali ini tubuhnya sudah keluar semua dengan rambut menutupi wajahnya. Ketegangan berlanjut saat hantu dalam cermin itu perlahan menaikkan kepalanya untuk memperlihatkan wajahnya.
"Ta... kabur yuk," Tasya menepuk bahu Dita mendorongnya untuk segera turun ke lantai bawah.
Anan juga sudah berjongkok menutupi wajahnya di belakang kaki Dita.
"Ini pada kenapa sih?" bisik Dita.
"Serem Ta, serem, saya mau kabur ah," bisik Tasya dengan nada ketakutan.
"Ntar dulu tungguin dulu, Anta sini nak jangan deket-deket." pinta Dita.
"Gak mau bunda, ini Anta mau ajak kakaknya main," sahut Anta.
"Hantu perempuan itu sudah berada di hadapan Anta, perlahan-lahan rambut hitam panjangnya terbuka memperlihatkan wajahnya yang retak-retak. Urat-urat hitam pada wajahnya terlihat menyeramkan di tambah kedua bola matanya yang juga hitam dan meneteskan darah hitam dari pipinya.
"ANTA...MUNDUR...!!!" pekik Dita mencoba menghampiri Anta tetapi kedua kakinya di tahan oleh Anan.
Pak Herdi menoyor kepala hantu perempuan tersebut tiba-tiba membuat hantu perempuan itu menoleh ke padanya sambil melotot.
"Kalau depan anak kecil kayak gini tuh yang manis, jangan di serem-seremin gitu mukanya," ucap Pak Herdi yang melompat ke arah Anta dan sekarang berdiri di hadapan hantu tersebut.
Anan mengintip dari balik kaki Dita, meski takut menghinggapi dirinya, tetapi rasa penasaran jauh lebih kuat dan membuatnya menoleh untuk sekedar mengintip apa yang terjadi dengan Anta dan hantu tersebut.
"Om jangan gitu dong, kan kakaknya cuma mau main, yuk kak kita main salon-salonan, tapi kakak keramas dulu ya biar rambutnya bersih dan halus kayak rambut Anta," Anta menarik tangan hantu perempuan tersebut yang pasrah menyeret bokongnya ke lantai menuruti Anta menuju kamar mandi.
"Jiaah dia ngesot mana pasrah banget itu, ampun deh si Anta bukannya kayak anak lain yang teriak terus kabur," ucap Tasya masih bergidik ketakutan.
"Itu ngapain si menyan ngumpet begitu?" tanya Pak Herdi menunjuk Anan.
"Ta, itu si hantu bungkus permen nunjuk gue?" tanya Anan mendongak kan kepalanya pada Dita.
"Iya, lagian ngapain sih di sini, geli tau gak dari tadi megangin kaki aja," sahut Dita.
"Iya iya maaf," Anan segera berdiri dan menjauh beberapa inch dari Dita.
Pak Herdi tak henti-hentinya tertawa melihat Anan yang selalu ketakutan seperti itu. Anan yang tak terima di tertawakan menghampiri Pak Herdi. Namun, dia urungkan kembali niatnya karena tersadar dengan sosok Pak Herdi yang bisa saja berubah lebih menakutkan.
__ADS_1
"Eh ngomong-ngomong, Anta lagi apa tuh Ta?" tanya Tasya.
"Udah tenang aja, saya yang jagain, kelihatannya anak tadi baik kok, cuma belum mau ngomong aja," sahut Pak Herdi.
"Anak tadi? maksud Pak Herdi hantu perempuan yang sama Anta tadi?" tanya Dita.
"Iya, siapa lagi, dia masih muda gitu paling dia anak smp," jawabnya lalu melompat menghampiri Anan memperhatikannya dengan seksama.
"Perasaan masih sama kok, mukanya aja songong ngajak ribut, tapi kenapa jadi penakut gini sih? huh pengecut...!" gumam Pak Herdi memperhatikan Anan.
"Eh sembarangan siapa yang bau kecut?!" tantang Anan.
"Pengecut Anan, bukan bau kecut," sahut Dita menenangkan Anan.
"Nah itu lagi kurang ajar, enak aja gue di bilang pengecut, untung aja elu hantu, kalau enggak mah..."
"Kalau enggak kenapa?" tantang Pak Herdi.
"Kalau bukan Hantu, udah dari tadi gue ajak duel, berhubung situ udah jadi hantu aja gue rada..." Anan menghentikan ucapannya.
"Emang kamu berani sama pak Herdi?" tanya Dita melirik ke arah Anan.
"Enggak...!" sahut Anan dengan lantangnya tanpa pikir panjang lagi.
Dita dan Tasya langsung tertawa dengan menutup hidungnya. Sedangkan Pak Herdi sudah terbahak-bahak dari tadi dengan tertawa puasnya.
"Anta..." Dita memanggil Anta.
"Jangan lama-lama di kamar mandinya," Dita menghampiri Anta ke toilet.
"Astagfirullah Anta... Itu di apain kakaknya?" tanya Dita yang keheranan kala melihat hantu tersebut bermandikan satu botol sampo di kepalanya.
"Ini uletnya gak mau pergi, Anta tuh kesel," sahut Anta.
"Aduh Anta dia tuh bukan manusia kayak kita yang kamu keramasin sampai bersih gitu, mana diem aja lagi kamu jadi hantu," ucap Dita lalu menggendong Anta, tiba-tiba hantu tersebut menangis di toilet.
"Lah dia nangis," Dita menoleh pada sang hantu yang menangis di dalam toilet sambil menutup ke dua wajahnya.
"Hayoloh bunda kakak nya nangis, dia kecewa kan gara-gara bunda bawa Anta, padahal Anta belum selesai ngebersihin keramasnya." ucap Anta.
"Kok bunda sih, tanya dong kenapa dia nangis, nih ya bunda tanya, kamu tuh kenapa nangis...."
Ucapan Dita terhenti saat ia menoleh pada hantu tadi tetapi keberadaanya sudah menghilang.
"Kok hilang bunda?" tanya Anta.
"Udah biarin nanti juga balik ke cermin," sahut Pak Herdi.
Dita membersihkan tangan Anta dengan handuk. Anan menghampiri Anta dan langsung ikut membantu membersihkan Anta.
"Uwuuu so sweet jadi mau ambil foto keluarga nih.." gumam Tasya menggoda Dita dan Anan.
"Oh iya, gue mau ke rumah sakit dulu ya mau kasih tau si Onta kalau gue udah pindah," ucap Anan.
__ADS_1
"Yanda nanti pulang kan? kita main lagi ya yanda, boleh kan?" tanya Anta.
"Boleh dong, nanti yanda pulang, sini cium dulu pipi gemasnya," ucap Anan lalu mencium kedua pipi Anta dengan gemas.
Dita berpura-pura menyodorkan pipi kirinya pada Anan.
Cup...
"Nanti kita makan malam bareng,"
ucap Anan lalu bergegas pergi menuruni tangga dan menghilang ke luar rumah toko milik Dita.
Tasya menepuk-nepuk punggung Pak Herdi sampai kesakitan tangannya saking gemasnya dengan adegan yang ia lihat barusan.
"Astaga Dita..." Pekik Tasya kegirangan memeluk Pak Herdi dari samping.
Dita tergeletak di lantai sambil senyum-senyum sendiri memegang pipi kirinya.
"Bunda gak mimpi kan Anta?" tanya Dita kegirangan.
"Bunda kenapa sih?" tanya Anta.
Dita langsung menarik Anta dan menjatuhkan gadis kecil itu dalam pelukannya masih dengan posisi berbaring di lantai.
"Sayang banget sama Anta, sayang banget sama yanda, gemes ih gemes..." ucap Dita memeluk Anta dengan erat.
"Iya ih gemes banget, saya juga jadi seneng banget liatnya," sahut Tasya.
"Sya tapi jangan kenceng-kenceng meluknya ini aku sesek banget di peluk kamu uh..." Pak Herdi menggerutu.
"Eh iya maaf pak, kelepasan, gak sengaja hehehe..." ucap Tasya tak berani menatap Pak Herdi.
****
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
To be continued...
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player
Vie Love You All 😘😘😘
__ADS_1