
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍
*****
"CINDI..." Jojo berteriak dari tempatnya biasa berdiri terdiam.
Dita dan Tasya langsung menoleh takjub.
"Lah dia ngomong." tunjuk Tasya ke arah Jojo.
"Jojo, elo disitu, ngapain?" tanya Cindi lalu keduanya saling menghampiri.
"Kayak liat sinema India tinggal tambahin lagu terus Jojo gendong Cindi sambil nari-nari." sahut Tasya sambil tertawa cekikikan.
Dita memandang Tasya penuh Omelan menghentikan perkataan Tasya yang usil.
"Gue nungguin elo lewat sini Cin, gue mau pamit sama elo, gue belum sempet bilang cinta sama elo sebelum gue pergi waktu itu." ucap Jojo menangis di hadapan Cindi di depan pintu lift.
Meski banyak para manusia yang lewat dari sana namun mereka hanya bisa menembus Jojo dan Cindi yang saling menatap dan bicara di depan pintu lift. Seorang anak kecil yang memegang gagang payung di tangannya tak sengaja menabrak Cindi dan terjatuh.
"Barusan itu apa ya?" gumam anak perempuan itu sambil menoleh ke kanan dan kiri. Tasya dan Dita pura-pura tak memperdulikan anak perempuan itu. Keduanya pura-pura sibuk dengan ponselnya masing-masing.
"Aduh sakit banget kepala gue kena gagang payung, duh rese dasar bocah!" ucap Cindi meneriaki bocah perempuan yang berlalu pergi meski masih menoleh mencari sesuatu yang membuatnya terjatuh.
"Makanya pindah lagian ngobrol depan lift." sahut Dita.
Tanpa basa-basi lagi Jojo langsung mengangkat tubuh Cindi untuk pindah ke samping meja kerja Tasya.
"Jo, kok kamu bisa ngomong sih kemarin diem aja?" tanya Tasya pada Jojo.
__ADS_1
"Gue udah berusaha ngomong tapi gak bisa, mungkin karena gue udah bersumpah gue cuma mau pamit sebelum ketemu sama Cindi dan bilang ke dia kalau gue sayang banget sama dia." ucap Jojo memberi pengakuan.
"Ah so sweet banget sih Jo." ucap Dita melingkarkan lengannya di lengan pak Herdi yang terkejut.
"Eh maaf pak lupa kirain Anan." Dita segera melepas genggaman tangannya dari pak Herdi yang tersenyum sangat manis kala itu.
"Apa yang terjadi sama elo Cin?" tanya Jojo yang terlihat cemas mengamati Cindi dari ujung kepala sampai kakinya yang rusak, busuk dan tak bisa berjalan.
"Gue udah mati Jo, karena ulah penunggu gunung xx yang gue datengin pas hiking waktu itu, gue ambil batu permata dari sana terus gue diikutin sama dia dan gue mati kaya gini, sedih ya gue udah gak cantik lagi Jo, gue udah jelek punya kaki aja enggak." Cindi menjelaskan dengan raut wajah yang amat sedih penuh penyesalan.
"Elo itu tetap sempurna buat gue Cin, gue rela nunda kepergian gue buat nungguin elo datang kehadapan gue meskipun gue gak nyangka kalau elo udah jadi hantu." Jojo membelai rambut Cindi yang mulai kasar tak terurus berantakan.
"Duh pesen bakso Sya, enak kayaknya nih nyimak adegan mereka sambil ngebakso." ucap Dita yang sedari tadi menyimak pembicaraan Jojo dan Cindi.
"Bentar aku cari kang bakso yang lewat depan rumah sakit dulu ya." sahut Tasya.
"Es kelapa juga ya Sya kalau ada." ucap Dita.
"Siap, nanti ceritain ya lanjutan adegan mereka apa, saya cari bakso dulu." Tasya bergegas pergi ke luar rumah sakit mencari pesanan Dita.
"Gue jatoh dari motor pas ngejar elo naik busway, gue menerobos jalanan busway terus ke senggol busway, gue jatuh deh ke jalan raya, kepala gue ke bentur pembatas jalan pas helm gue copot, salah gue masang helm gak kenceng dan salah gue juga masuk ke jalan busway." Jojo mengakui kesalahannya sambil duduk di hadapan Cindi sambil menunduk penuh penyesalan.
"Elo mau ngapain ngejar gue Jo?" tanya Cindi.
"Gue mau balikin sarung tangan yang waktu itu elo pinjemin ke gue pas bibir gue luka di tonjok preman, inget kan?" tanya Jojo.
Cindi mengangguk "Iya gue masih inget." ujar Cindi.
"Mulai saat itu gue suka sama elo, karena elo cewek yang pertama yang perhatian ke gue kayak gitu, makanya gue ngejar busway elo waktu itu terus gue juga mau bilang kalau gue suka sama elo." ucap Jojo tersipu malu.
"Ah Jojo kok elo baik banget sih sama gue." sahut Cindi sambil menggenggam kedua tangan Jojo.
"Aduh pak Dita baper nih, mana gak ada tisu lagi." ucap Dita dengan suara lirih di samping pak Herdi.
Pak Herdi menarik ujung kain kafannya ke arah Dita. "Nih pake aja." ucapnya.
"Aaahhh bapak ih manis banget sih."
__ADS_1
srooooottt.... Dita mencemari kain kafan pak Herdi dengan air mata dan air kotoran dalam hidungnya alias ingus.
"Hmmmm ngelunjak kirain air mata doang." ucap pak Herdi menarik kain kafannya segera dari Dita.
"Sekalian pak maaf habisnya baper banget ternyata Jojo manis banget pengakuan cintanya." Dita tersenyum memandangi keduanya.
Tasya datang membawa dua es kelapa dan dua bungkus bakso dalam mangkok steroform di tangannya.
"Bawa tisu gak Sya, aku sedih nih baper parah sama pengakuan cinta Jojo ke Cindi." ucap Dita.
"APA? pengakuan cinta Jojo ke Cindi? yah saya ketinggalan jauh deh." sahut Tasya segera mengambil tisu dari tasnya dan menyerahkannya ke Dita.
Dita menyimak kembali perbincangan Jojo dan Cindi sambil menyantap bakso dan es kelapa di hadapannya. Sesekali Dita juga menyuapi Pak Herdi yang memasang muka pengen alias mupeng pada mangkok bakso di hadapan Dita.
"Jadi gimana Cindi, elo mau kan terima cinta gue?" tanya Jojo.
"Ummm gimana ya Jo, gue mah gak suka sama elo sebenernya gue sukanya yang rada putih kaya oppa Korea gitu." sahut Cindi.
"Ya elah udah jadi hantu aja masih pasang standar tinggi, udah sih terima aja." sahut Tasya menyela pembicaraan Jojo dan Cindi.
"Ih sirik aja elo, tuh gue maunya kaya oppanya Dita si pak bos, apa kayak ocong ganteng di sampingnya Dita." Cindi menatap pak Herdi dengan tatapan genitnya.
"Kalau elo gak terima cinta gue, gue gak mau pulang gue mau tetep ada disini aja." Jojo merengek di hadapan Cindi sambil merajuk.
*****
To be continued
Jangan lupa mampir ke novel ku lainnya ya guys...
- Kakakku Cinta Pertamaku
- 9 Lives
- Gue Bukan Player
Ku tunggu like dan komen kalian disana dan Vie mau ngadain Giveaway lho di novel Kakakku Cinta Pertamaku jangan lupa ikutan ya pembaca tersayang ku 😘😘
__ADS_1