
Jangan lupa vote sebelum membaca...😉😊
***
"Wangi banget ini masakannya." Dokter Dewi merenggangkan tubuhnya lalu menempelkan bokongnya di kursi makan.
"Pas banget udah mateng eh Tante bangun yuk icip Tante."
"Jago juga kamu masak opor ayam, ini juga sphagetinya enak, eh tunggu ini pasta kamu ambil dimana?"
"Di rak atas Tante."
"Udah cek expired nya belom? udah lama banget soalnya disitu."
"Jiaaahhh masa sih Tante." Dita beralih ke tempat sampah dapur demi mencari bungkus pasta yang ia masak tadi.
"Ketemu... Alhamdulillah enggak expired Tante seminggu lagi." Dita menarik nafas lega lalu menunjukkan bungkusnya ke dokter dewi
"Tetep aja Ta, seminggu lagi. Ahhh biar deh untung enak, makasih ya masakannya."
"Sama-sama Tante. Oh iya aku hari ini kerumah sakit kan?"
"Iya dong , abis ni kamu siap-siap terus temenin saya ke Rumah sakit."
"Tapi saya boleh ijin gak Tante mau kepenjara sebentar nengok bos aku."
"Oh soal kisah kamu itu, suster-suster udah cerita tuh terus saya juga udah ketemu sama kapten Jihan, kenapa kamu mau ketemu bos kamu? dia kan dalang kejahatan semua pembunuhan di wahana itu?"
ucap Dokter Dewi sambil menyuapi spagheti kedalam mulutnya.
"Sebenernya bukan dia Tante, ada makhluk jahat yang merasuk ketubuh Pak Herdi, semacam iblis pesugihan yang di pakai orang tuanya dulu tapi malah tak terkendali."
"Berhubungan sama cerita hantu lagi yak, gak ngerti deh tetep aja hal gak logis kaya gitu mana diterima sama persidangan nanti."
"Kapten Jihan juga bilang gitu."
"Yaudah kamu hati-hati nanti, sama siapa kamu kesana?"
"Sama Anan terus mungkin sama Andri."
"Andri?? siapa lagi tuh?"
"Dokter forensik yang pernah kerja di rumah sakit Tante."
"Bbbuuaaahh...!! Andri Brawijaya?"
"Gak tau nama lengkapnya."
"Dia kan dia..."
"Udah meninggal ? iya emang Tante."
"HAH...?! kok kamu bisa temenan sama dia?"
"Kapan-kapan aja Tante nanti saya ceritain."
__ADS_1
"Apa dia ada disini?"
"Enggam Tante, belum tau kayanya aku lupa ajak dia hehehehe aku tinggalin kemaren."
Dita merapikan piring bekas sarapannya dan mencucinya di wastafel dapur sambil memperhatikan sekilas sikap Dokter Dewi yang mendengar nama Andri.
Dokter Dewi tiba-tiba gugup mendengar nama Andri yang disebutkan Dita, setelahnya dia terlihat diam berwajah murung di meja makan yak seceria tadi.
***
Sesampainya di rumah sakit, Dita menuju ruangan Manan bersama dokter Dewi untuk memeriksa kondisi Manan.
"Kamu sini dulu yak, saya keluar sebentar."
"Dok, itu tangannya gerak!" Dita menunjuk jari tangan sebelah kanan Manan yang bergerak tiba-tiba."
Dokter Dewi memeriksa kondisinya tak lama jari kaki Manan juga bergerak tiba-tiba.
"Ini kemajuan Ta... saya panggil tim dokter yang tanganin dia ya sebentar."
Dita memandangi Manan dengan seksama.
Bibirnya seksi banget sih, cipokable banget ini, pipinya juga gemes deh, cakep banget sih Nan.
Dita menusukkan ujung telunjuknya ke pipi Manan yang berlesung sambil berdecak kagum, wajahnya sudah sangat dekat dengan Manan sekarang.
"Gak usah deket-deket liatnya...!!"
Sosok Anan sudah mengagetkan Dita membuatnya tersungkur mencium pipi Manan karena terkejut.
"Kamu mah ngagetin aja!"
"Gak sengaja Nan, kelepasan lagian kamu ngagetin."
Anan pergi keluar ruangan merajuk pada Dita.
"Dih ngambek... Manan aku pergi dulu yak, nanti main lagi kesini." bisik Dita ditelinga Manan.
***
Masuk lift menuju ruangan Manan itu harus ekstra membuat Dita sabar dan tahan karena pertemuannya dengan hantu kakek penunggu lift. Namun saat bersama dengan dokter Dewi tadi ia tak nampak malah sekarang saat Dita sendiri kakek itu nampak lagi.
"Kek saya lagi gak mood deh main cilukba nya, mundur dong kek, nafasnya agak bau nih maaf." Dita tak berani menatap kaca di lift cukup kaki si kakek yang melayang saja yang berani dia intip dari pantulan dinding lift didepannya saat dia tertunduk.
Anan datang tepat disampingnya menjauhkan si kakek dari Dita.
"Aaahhh kirain ngambeknya seharian, makasih ya udha ditemenin."
Anan hanya terdiam menoleh ke arah kakek itu yang sudah mundur ke sudut lift.
Tring...
"Bagus yak, ninggalin gue...!" sosok Andri sudah berada di hadapan Dita dan Anan.
"Maaf Ndri lupa bilang, aku sekarang tinggal sama Dokter Dewi tantenya Anan kepala rumah sakit di sini."
__ADS_1
"HAH serius kamu ke apartemennya?"
"Kok kamu tau rumah dokter Dewi di apartemen?"
"Ya emmm ya pernah denger aja."
Andri terlihat gugup sama seperti sikap yang ditunjukan dokter Dewi tadi.
"Aku mau nengokin Pak Herdi? ada yang mau ikut?"
tanpa berkata apapun Anan dan Andri sudah mengikuti Dita bak bodyguard tapi kasat mata di belakang Dita.
***
"Gimana ke adaan kamu Ta?" tanya Pak Herdi.
"Alhamdulillah baik pak, bapak sendiri gimana, aku denger sidangnya masih Minggu depan yak?"
Pak Herdi mengangguk.
"Kejahatan saya udah viral ya Ta?"
"Aku belum liat tv sih pak sama baca koran, kalo sosmed hape aku aja jadul hihihi, dimakan pak opornya."
"Iya Ta, oh iya nanti ketemu pengacara saya yak?"
"Buat apa pak?" tanya Dita.
"Saya mau titip yang buat keluarga almarhum Doni sama Anita, terus uang buat Kang Ujang juga sama kamu."
Pak Herdi tiba-tiba menangis terlihat sangat menyesal dengan kejadian ini.
"Udah Pak, aku tahu bapak gak salah."
"Mereka gak tau Ta, keluarga mereka pasti benci banget sama saya." ucapnya sambil terisak.
Dita mencoba menenangkan Pak Herdi dengan menepuk-nepuk punggung Pak Herdi lalu secara spontan pak Herdi merangkul pinggang Dita dan memeluknya.
"Modus banget nih cowok perlu gue ..."
Andri menahan Anan menghampiri Dita dan Pak Herdi yang berpelukan.
"Gak lucu kan kalo ketangkep cctv ada lontong kisut terekam kamera nyerang tahanan." ucap Andri.
"Elo liat dong tempe angus itu tuh modus emang pengen si Herdi meluk Dita Mulu, gue aja jarang kok."
"Jiah dia cemburu wkkwkwkw, Ta si lontong cembokur nih." teriak Andri
Dita menoleh kearahnya lalu melepas pelukan Pak Herdi dan ijin pamit.
"Nanti saya jenguk lagi ya Pak, sekarang saya permisi dulu."
"Kamu sendirian diluar sana Ta? tinggal dimana?"
"Tenang aja pak, saya ketemu bidadari cantik terus ditawarin kerja di rumah dokter Dewi tinggal dirumah dia juga, jadi saya gak sendirian."
__ADS_1
"Syukurlah." Pak Herdi membelai kepala Dita.
Dita keluar dari ruangan itu dan melambai ke arah Pak Herdi pergi pamit menuju apartemen Dokter Dewi.