Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Apartemen Anan


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading 😊😊😊


******


Sesampainya di depan gedung apartemen kecil Anan berlantai sepuluh yang terletak di seberang rumah toko Dita, Anan menurunkan Anta dari gendongannya.


"Kok rumah yanda sama bunda pisah ya?" tanya Anta dengan polosnya.


"Nanti ya Anta, yanda sementara di sini dulu," jawab Anan mencubit ujung hidung Anta sambil berjongkok.


"Mau mampir Ta?" tanya Anan mendongak kan kepalanya ke arah wajah Dita yang terasa bersinar karena pantulan sinar matahari itu.


"Eh emang boleh mampir?" tanya Dita lagi menegaskan pertanyaan Anan.


"Boleh lah kan ada Anta, kalau gue cuma ajak lo doang yang mampir baru tuh gak boleh. "


"Gak boleh kenapa?" tanya Dita.


"Ya... takut terjadi hal-hal yang di inginkan, repot nanti, udah ah yuk masuk," ajak Anan buru-buru memalingkan wajahnya menahan senyum dan wajahnya yang merona agar jangan sampai di lihat Dita.


Anan menekan tombol lift menuju lantai 5 rumahnya.


"Kok merinding ya, tapi gak bisa lihat apa-apa juga," gumam Dita.


"Jangan lah Ta, jangan sampe lihat apa-apa," sahut Anan yang mendengar gumaman Dita. Anta hanya meringis tertawa memandang dinding di lift.


Pintu Lift terbuka, ketiganya menuju rumah Anan yang berada di apartemen nomor 510 paling ujung koridor.


"Ini rumah ku, masih berantakan mohon maaf ya," ucap Anan saat membuka pintu apartemennya.


"Kamu bukannya tinggal sama Andri ya, kok sekarang sewa apartemen sendiri sih?" tanya Dita saat membuka tirai jendela rumah Anan yang terasa pengap dan gelap.


"Gak enak lah, itu rumah dari papinya Hyena, nanti kalau ibu udah sehat juga aku bawa pindah kemari, kan kamarnya ada dua di sini," sahut Anan.


"Berarti kalau ada Doni sempit dong Nan?" tanya Dita.


"Ya emangnya Doni selamanya apa tinggal sama gue? lagian siapa tau nanti badan dia kembali lagi tukeran sama om lu itu," Anan menuangkan jus apel dalam gelas plastik dan memberikannya ke Dita.


"Anta mana ya?" tanya Anan.


"Lah iya, Anta... Anta kemana ya?" Dita mencari Anta ke dapur dan kamar mandi.


"Di sini bunda," sahut Anta dari kamar Anan.


"Heh kamu ngapain masuk-masuk kamar orang gak bilang-bilang?" tanya Dita.


"Dih Anta ijin kok, Anta di ajak masuk sama kakak perempuan ini," Anta menunjuk sebuah cermin di kamar Anan.


"Nan, kakak perempuan? maksud Anta siapa ya Nan?" bisik Dita ke sisi kiri Anan.


"Mana gue tau, kan gue baru pindah di sini, nginep aja gue beloman, duh gue jadi takut kan nih merinding," sahut Anan ikut berbisik.


"Mana kakak perempuannya Ta?" tanya Dita pada anak gadis mungilnya itu.


"Ada kok di dalam cermin itu," tunjuk Anta.


"Gini aja, kalau emang ini cermin ada si kakak perempuan alias hantu, nah ini cermin elo bawa pulang, terus elu suruh si hantu bungkus temenin nih hantu cewek," pinta Anan sambil menurunkan cermin di kamarnya itu dan menyerahkannya pada Dita.


"Kok di kasih ke aku sih? tanya Dita saat menerima cermin itu.


"Karena elu sama Anta sama temen lu itu lebih kuat pas lihat hantu ini keluar dari cermin, daripada nanti gue gak kuat lihatnya terus gue kena serangan jantung, dih bawa aja Ta nih..." pinta Anan memohon pada Dita dengan tatapan tajamnya sambil memelas.


"Ya udah deh, tapi masa aku yang bawa, ini berat lho?" ucap Dita.


"Iya entar gue yang bawain ke rumah elo," sahut Anan.


"Anta ayo kita pu...lang, lah si Anta tidur pules," ucap Dita saat melihat Anta tertidur pulas di kasur lantai.


"Ya udah biarin, kebeneran kalau gitu," Anan tersenyum licik ke arah Dita.


"Kebeneran gimana?"


Anan meraih cermin dengan figura emas dari tangan Dita dan meletakkannya di dinding dengan arah cermin menghadap dinding.


"Kebeneran ada yang bantuin gue beres-beres," sahut Anan.


"Tapi Tasya kan sendirian di Toko," ucap Dita.

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Dita berbunyi.


"Halo kenapa Sya?" tanya Dita.


"Toko saya tutup ya, ini ada lima orang pelamar yang kamu panggil kemarin, jadi saya mau interview depan toko aja," ucap Tasya dadi seberang sana.


"Oh Iya bener Sya ada lima orang tuh, dua cowok, tiga cewek," ucap Dita mengintip dari jendela kamar Anan yang menghadap depan tokonya.


"Kok kamu tau Ta?" tanya Tasya heran.


"Aku ada di rumah Anan nih depan toko, apartemen Hijau," jawab Dita menjelaskan.


"Hah? apartemen Hijau rumah pak Bos? terus kalian... hayo ngapain di sana berdua hayo...?" Tasya meledek dan menggoda Dita.


"Aku sama Anta tau, dia lagi tidur terus aku di suruh bantuin Anan beres beres biar rapih," sahut Dita.


"Nah kan... Anta bobo terus kalian buat adek deh buat Anta, cieeeee..." Tasya makin jadi menggoda Dita.


"Enak aja, sembarangan! Anan aja belum inget aku gimana mau buat dedek untuk Anta huh..."


Anan menoleh pada Dita karena tak sengaja mendengar ucapan Dita barusan yang mengejutkannya.


"Udah ya Sya, nanti kamu kabarin ke aku siapa pelamar yang pantes bantuin kamu jagain toko," ucap Dita menutup sambungan ponselnya.


Anan menghampiri Dita dan mendekatkan wajahnya pada Dita tiba-tiba. Wajah Dita makin merona terlebih pantulan sinar matahari mengarah pada wajahnya. Wajah Anan makin dekat terlebih pipi kanan Anan dan Dita hampir bersentuhan. Jantung Dita berdetak lebih kencang kala kedua bola mata Dita dan kedua bola mata Anan bertemu pandang.


"Awas Ta, itu di tirai ada laba-laba tuh," sahut Anan lalu membuka jendela kamarnya dan membuang laba-laba berukuran satu biji anggur itu keluar dari kamar.


Oh kirain aku mau ngapain gitu apa mau adegan romantis kayak dulu, taunya mau ambil laba-laba yah nasib...


"Woi...! bengong aja, bantuin gue lah nyapu," ucap Anan lalu meraih sapu di sudut ruangan dan menyerahkannya ke tangan Dita.


"Nih," ucap Anan.


"Iyeeee... Tapi jangan lupa upahnya ya," ucap Dita melirik manja ke arah Anan yang langsung salah tingkah.


"Upah apa lagi, duit elu aja lebih banyak dari gue Ta," ucap Anan menghela nafas panjang.


"Emangnya upah itu harus selalu berhubungan dengan uang? ya enggak lah, aku maunya dapet upah ummm... nonton ke bioskop ngedate mau gak?"


Gak salah nih, Dita ngajakin gue ngedate?


Anan menoleh pada Dita sambil menatapnya, tanpa sadar kepalanya reflek mengangguk.


Anan mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Awas... aku mau nyapu nih, kalau kamu diem aja di situ, gimana aku bisa nyapu daerah situ?" Dita menggeser kaki Anan dengan ujung sapu di tangannya.


"Eh iya Ta, gue mau ke kamar mandi ya, mules gue gara-gara makan ramen nih," ucap Anan.


"Yee ramen di salahin, emang pencernaan kamu aja yang jelek hehehe, hati-hati ya..."


"Hati-hati kenapa Ta?" langkah Anan terhenti.


"Hati - hati aja, kali pas lagi buang air besar ada yang ngajakin ciluk ba sama kamu hihihi..." sahut Dita tertawa menggoda Anan yang langsung berwajah pucat pasi.


"Ta... jangan nakutin dong masa gue harus ajak elo ke kamar mandi buat nemenin gue sih?" rengek Anan.


"Idih ogah amat nungguin kamu nongkrong bau lah nanti aku pingsan, kalau nemenin nya lain mah aku mau hehehe."


"Dita...."


"Udah sana ah, baca doa dulu makanya sebelum masuk kamar mandi biar gak ada yang itu tuh nanti tau-tau muncul hiiyyy..."


"Dita...."


"Iya iya maaf," Dita langsung berbalik badan menuju kamar satunya untuk bersih-bersih.


Ponsel Anan yang tergeletak di meja ruang tamu berbunyi saat Anan berada di kamar mandi.


"Dari Hyena, aku angkat ah mau tau reaksinya kalau aku yang angkat hihihi..." gumam Dita lalu mengangkat ponsel Anan.


"Halo baby... kamu pindah kemana sih? kok gak bilang-bilang sama aku?" ucap Hyena dengan suara lantang dan membuat telinga Dita sakit dengan teriakannya.


"Halo..." ucap Dita.


"Eh siapa ini? kok kamu angkat hape Anan, kok hape Anan ada sama kamu sih?" tanya Hyena bertubi-tubi.


"Aku Dita, Anan lagi di kamar mandi," ucap Dita.

__ADS_1


"HAH...APA?! ANAN DI KAMAR MANDI...!!!"


pekik Hyena, membuat telinga kanan Dita berdenging saking kencangnya teriakan Hyena.


"Bangun-bangun makan ayam sambal..." sahut Dita yang terkejut hampir saja melempar ponsel Anan dan menjatuhkannya ke lantai tapi dengaj sigap Dita dapat menggapainya kembali.


"Heh jawab pertanyaan ku, ngapain Anan di kamar mandi?" tanya Hyena.


"Anan buang hajat lah di kamar mandi ngapain lagi," sahut Dita jadi ikut ketus karena sebal mendengar teriakan Hyena.


"Kalian gak habis ngapa-ngapain kan?" tanya Hyena masih dengan nada kesal dan teriak.


"Picik banget sih pikirannya apa ngeres mulu tuh otak sampe nuduh kayak gitu," sahut Dita.


"Lagian kamu tuh ya, kalau emang perempuan baik-baik, ngapain juga ada di tempatnya Anan sendirian, eh berduaan sama Anan hayo?"


"Eh maaf ya saya gak berduaan, saya tuh bertigaan sama anak saya, jangan kotor mbak punya pikiran," ucap Dita.


Anan menarik ponselnya dari Dita lalu mematikan hubungan ponsel itu dengan Hyena.


"Heh kurang ajar banget nih cewek, belum juga kasih tau my baby aku pindah kemana iiihhhh gemeeessss...!!!" pekik Hyena dengan gemas sambil berjingkrak-jingkrak berteriak meluapkan kekesalannya.


"Kok di matiin? kamu gak jelasin dulu sama dia kalau kamu pindah ke sini?" tanya Dita.


"Gak usah, gak penting...! aku ambil pel dulu ya biar sekalian di pel," Anan melangkah lagi menuju dapur tempat ia menaruh alat pel di sana.


"Aku...? biasanya juga gue hihihi," gumam Dita tersenyum senang lalu melanjutkan membersihkan tirai jendela.


***


Selesai membersihkan rumah Anan dan menata ulang rumahnya sampai rapih, Anan mengantar Dita pulang sambil membawa cermin tadi.


"Taruh di atas aja deh Nan!" ucap Dita menuju lantai dua sambil menggandeng tangan Anta.


"Hai kalian... saya masak macaroni scottel nih baru aja matang," ucap Tasya dengan bangga.


Pak Herdi yang berada di belakang Tasya mengibaskan kedua tangannya melarang Dita untuk makan.


"Pak Herdi kenapa sih?" tanya Dita.


Tasya menoleh pada Pak Herdi yang langsung diam berdiri tegak tersenyum pada Tasya.


"Emang Pak Herdi kenapa?" tanya Tasya.


"Enggak kok, cuma mau bilang masakan Tasya enak," ucap Pak Herdi memberikan senyuman palsu yang terpaksa.


"Eh hantu bungkus, bantuin gue napa, ini berat banget tau...!" Anan mengeluh memanggil Pak Herdi.


"Halaaaaah begitu aja ngeluh," ucap Pak Herdi mencibir Anan tapi menuruti juga membantu Anan membawa cermin tersebut.


"Kok di bawa kesini cerminnya?" tanya Tasya.


"Iya tante nanti di cermin ini ada kakak perempuan tadi yang ngajakin Anta main," sahut Anta.


Lalu bayangan hitam tiba-tiba muncul dari cermin. Perlahan-lahan keluar rambut panjang lurus menyeret lantai. Lalu kepala perempuan itu keluar dari cermin menunjukkan ubun-ubunnya yang berongga dan penuh ulat burung yang menggeliat dari rongga kepalanya penuh darah dan nanah itu. Tangan penuh luka bolong-bolong di permukaan kulit di sertai kuku tajam yang hitam merangkak keluar cermin.


"Ta... itu setan berani banget sih, kita lagi rame- rame kayak gini dia keluar hiiiyyy," ucap Tasya mendekat ke arah Dita.


Anan yang berdiri di belakang Pak Herdi tersadar bahwa ia bersembunyi di balik hantu yang bisa menyeramkan juga. Anan langsung berpindah menuju ke belakang tubuh Dita.


Sementara Anta berdiri di samping Pak Herdi dengan wajah penuh semangat dan tak sabar sambil bertepuk tangan melihat sosok hantu yang akan keluar dari cermin tersebut.


****


Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...


To be continued...


Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku


“WITH GHOST”


ramaikan disana.


Baca juga :


-          Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


-          9 Lives (END)

__ADS_1


-          Gue Bukan Player


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2