Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Ulang Tahun Anta


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya... Jangan bosen bacanya ya...


Happy Reading 😊😘


*****


Satu tahun kemudian...


Perkembangan Anta lebih pesat dari balita pada umumnya. Di usia yang beranjak 8 bulan, Anta sudah bisa berjalan dan sekarang di usianya di tahun pertama, Anta sudah bisa berbicara meski masih agak cadel.


Hari ini ulang tahun pertama Anta, tanggal dan bulan yang sama dengan hari lahir Anan.


"Unda, anda mana tih, kok gak puyang-puyang?" tanya Anta menarik ujung kain dress yang Dita kenakan senada dengan Anta.


"Nanti ya, bunda bilangin sama yanda supaya pulang," ucap Dita.


Dita berusaha menyembunyikan raut kesedihannya di hadapan Anta. Menurut Dita, Anta cuma boleh tau kalau ibundanya selalu bahagia.


Dita selalu menceritakan tentang Anan pada Anta sebelum tidur malam. Foto pernikahan Dita dan Anan yang berukuran besar terpampang di dinding rumah mereka.


"Hai... selamat ulang tahun ponakan aunti yang cantik," ucap Tasya langsung memeluk Anta.


"Ih... mana kadonya?" pinta Anta.


"Hmmm langsung minta kado aja, nanti lah di sana," sahut Tasya.


"Non semua bingkisan udah ada di mobil ya," ucap Pia.


"Oke kamu duluan aja, saya kasih Anta pita dulu," ucap Dita.


"Susi kemana Ta?" tanya Tasya mencari hantu Susi.


"Lagi ganjen dia, kamu tahu gak hantu gepeng yang kegencet lift dua bulan lalu?"


Tasya mengangguk menjawab pertanyaan Dita.


"Nah ceritanya udah bisa mode penampakan ganteng sama Pak Herdi, terus kepincut dah tuh si Susi sama tuh hantu gepeng hihihi," sahut Dita yang selesai mengikat rambut Anta.


"What...? dasar ganjen si Susi itu ckckck," ucap Tasya.


"Bunda, ganjen itu apa tih...?" tanya Anta ingin tau.


"Itu loh yang buat taburan kue onde-onde," sahut Tasya.


"Garing ih, Itu mah wijen, jauh Sya jauh..." Dita menoyor kepala Tasya.


"Hehe kan sama-sama Jen," sahut Tasya.


"Ya udah yuk keburu telat nanti ke restorannya," ajak Dita.


"Unda, om Heldi ndak boleh itut ya, nanti temen Anta pada atut," ucap Anta bertolak pinggang memandang Pal Herdi yang sedari tadi menyimak pembicaraan mereka.


"Iya om gak ikut, tapi bawain kue nya ya," pinta Pak Herdi.


"Beleeeeesss om..." sahut Anta.


Anta memang mempunyai penglihatan seperti Dita, hanya saja setiap ada makhluk astral yang mendekatinya, Anta tak pernah menangis ketakutan. Bahkan Anta bisa lebih berani dari Tasya dan Doni kala berhadapan dengan makhluk astral.


***


Sesampainya di restoran cepat saji di ruangan khusus untuk menyelenggarakan pesta ulang tahun, lima puluh anak yatim yang Dita undang telah tiba di sana.


Om Kevin menjadi juru kamera di pesta tersebut, semua momen kebahagiaan Anta ia tangkap gambarnya. Doni juga bertugas merekam acara tersebut dengan video recorder di tangannya.


"Nih aku punya hadiah buat Anta," ucap Tante Dewi memberikan sebuah motor listrik kepada Anta.


"Wah mamatih oma..."


"Eits enak aja oma, panggil Tante," ucap Tante Dewi.


"Ya elah sih tua mah tua aja gak bisa di cegah," celetuk Dita yang langsung di beri tatapan tajam oleh Tante Dewi.


"Iya Anta, panggil Tante ya sayang," ucap Dita langsung membetulkan ucapannya tadi.


"Mamatih ante..." ucap Anta langsung memeluk Tante Dewi.


"Ini boneka dari aunti Tasya," Tasya menyerahkan boneka perempuan yang bisa menari dan bernyanyi pada Anta.


"Idih masa Anta kamu kasih boneka Anabelle Sya," celetuk Doni.


"Sembarangan, Itu kan cantik wajahnya kayak saya, lagian juga mahal satu juta tuh boneka hasil tabungan saya, huh..." sahut Tasya mulai sewot pada Doni.


"Mendingan kado dari aku nih," ucap Doni seraya menyerahkan peralatan masak-masakan pada Anta.


"Berapa itu harganya?" tanya Tasya.


"Seratus lima puluh ribu," sahut Doni.


"Yeeeee masih majalah juga punya saya huh," cibir Tasya.


"Udah sih, yang penting Anta suka semua kadonya mau berapapun juga harganya, malu tau si denger para tamu tuh," ucap Dita melerai keduanya.


Acara pesta ulang tahun Anta pun di mulai dan berakhir sampai Anta memberikan bingkisan hadiah kenang-kenangan, nasi kotak dari restoran dan uang dalam amplop putih kepada semua anak yatim yang hadir.


"Makasih ya, Tante, Om, Tasya, Doni, Pia, kalian semua luar biasa udah repot-repot bantuin ngadain acara pesta ulang tahun buat Anta," ucap Dita dengan wajah tersenyum tulus.


"Iya Ta sama-sama, yang penting kalian bahagia," ucap Tante Dewi dan yang lainnya pun mengangguk mengiyakan.


Sahid datang terlambat ke acara pesta ulang tahun Anta.

__ADS_1


"Aduh maaf ya maaf banget om terlambat," ucap Sahid yang belakangan ini semakin akrab dengan Anta karena ia sering menemui Dita di taman saat mengajak Anta jalan-jalan pagi atau sore.


Doni dan Tasya langsung berhimpitan bersembunyi di belakang tubuh Tante Dewi dan Om Kevin kala melihat sosok di belakang Sahid.


"Iya gak apa, untung makanannya masih ada," ucap Dita yang ikut memperhatikan sosok di belakang Sahid.


"Om bawa temen ya?" tunjuk Anta ke belakang Sahid.


Sahid menoleh ke belakang nya, tak ada apapun dia jumpai di belakangnya.


"Om sendiri kok gak bawa temen," sahut Sahid.


"Itu..."


Dita langsung menutup mulut Anta sambil tersenyum kepada Sahid.


"Gak ada apa-apa tadi Anta iseng liat lalat di belakang kamu di bilang temen hehehe," Dita mencoba mencari alasan.


" Oh gitu hehehe oh iya selamat ulang tahun Anta, ini kado dari om," ucap Sahid memberikan sebuah boneka barbie lengkap dengan rumah dan perabotan lainnya.


"Ayo Anta bilang apa," ucap Tante Dewi mencolek bahu Anta.


"Makasih om," jawab Anta.


"Makan dulu yuk aku temenin," ajak Dita.


Sahid pun mengikuti Dita.


"Wuidih ini pasti baru beli di toko, harganya aja masih ada nih, satu juta dua ratus lima puluh ribu ckckckck mainan aja mahal banget ya," celetuk Doni.


"Ah kaya gini paling mah cuma lima ratus ribu, aku aja beli boneka itu tujuh ratus ribu," sahut Tasya.


"Dih katanya satu juta, taunya tujuh ratus huuuu..." Doni menarik rambut Tasya.


"Sakit Don...!" pekik Tasya.


"Eh kalian pada lihat apa sih?" tanya Tante Dewi ingin tahu.


"Ih mukana dalah temua, tuh ikutin om tahid," ucap Anta menunjuk sosok hantu perempuan kecil yang mengikuti Sahid kemanapun.


"Maksudnya Sya?" tanya Tante Dewi.


"Hantu anak kecil tingginya kayak Anta gitu, mukanya darah semua, jalannya nyeret kaki yang kanan kayaknya patah deh hiiyyyy, aduh nengok lagi mana melotot ke kita Don," Tasya menepuk-nepuk bahu Doni.


"Duh sakit Sya, lagian ngapain sih dia ngikutin Sahid?" bisik Doni.


"Anta ajak main ya," ucap Anta yang segera ditarik lengannya oleh Tante Dewi.


"Jangan Ta, jangan diajak main, kamu mah belom bisa ya bedain mana yang boleh kamu ajak main mana yang enggak," ucap Tante Dewi.


Anta hanya meringis menunjukkan gusinya yang baru ditumbuhi enam gigi.


***


"Biasanya kan sebelum nikah juga tante tidur sendiri, di rumah sendirian, lah kenapa sekarang manja banget pake minta ditemenin," Dita meledek tante Dewi.


"Ah kamu mah gitu, dulu kan tante gak pernah liat macam-macam pas sekarang sering keganggu sama hantu cewek yang suka nongol di cermin, kan serem juga, kenapa tante jadi bisa liat lagi," sahut Tante Dewi.


Dita melirik hantu Susi yang tertawa cekikikan duduk di tepian jendela rumah Dita.


"Yakin mau tidur di sini satu minggu?" tanya Dita.


"Iya nanti si Tasya sama Pia tidur di sofa, tante di kamar mereka, atau ikut tidur sama kamu dan Anta," jawabnya.


"Lah dia belum tau aja kalau tuh hantu ada di sini tuh lagi di jendela," tunjuk Dita.


"Ah kamu mah," Tante Dewi mendekat ke Dita.


"Hai oma, eh ante!" sapa Anta yang baru saja mandi sore di temani dengan Pia.


"Ante mau tidur sama Anta ya?" tanya Tante Dewi.


Anta mengangguk sambil tersenyum meringis.


"Ah... cantiknya, pinter ya Anta," ucap Tante Dewi sambil memeluk Anta.


"Tasya kok belum pulang ya?" gumam Dita sambil melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore.


"Jalan kali sama Doni, coba tante telpon," ucap Tante Dewi mengeluarkan ponsel dari saku celana panjangnya.


"Non, mau makan malam jam berapa?" tanya Pia.


"Nanti solat magrib dulu terus nunggu Tasya bentar jam tujuh udah pulang kali," sahut Dita.


"Eh Tasya lagi di jalan, udah arah pulang sih," ucap Tante Dewi setelah menutup ponselnya.


"Oke, bagus kalau gitu, Anta main sama tante Dewi dulu ya, bunda mau bantu mbak Pia," pinta Dita.


"Oke Nda," sahut Anta.


***


Jam di kamar Dita menunjukkan pukul dua dini hari. Tante Dewi tersadar dari tidur pulasnya karena dekapan kaki Dita di atas perutnya membuatnya sulit bernafas.


"Haduh si Dita tidurnya barbar banget gak ada anteng-antengnya," gumam Tante Dewi.


Tiba-tiba Tante Dewi terkejut melihat Anta yang berjalan ke arah luar kamar yang entah kenapa pintu kamar terbuka sendiri.


Tante Dewi mengucek kedua matanya memastikan anak kecil yang berjalan ke luar kamar itu Anta.

__ADS_1


"Ta bangun Ta..." Tante Dewi mengguncang tubuh Dita sampai terbangun.


"Apa sih tante, masih malam kali, masa mau pipis aja takut minta temenin," ucap Dita masih dengan mata terpejam.


"Anta itu lihat Ta, itu si Anta jalan mau kemana tuh," Tante Dewi menunjuk Anta.


"Hah, Anta? mana Anta?" tanya Dita panik.


"Itu keluar kamar lihat tuh!" Tante Dewi bergegas menarik Dita turun dari ranjangnya.


Dita dan Tante Dewi mengejar Anta.


Anta sudah berada di teras apartemen di lantai dua puluh itu.


"ANTA...!!!" Dita dan Tante Dewi berteriak dengan histeris.


Pintu penghubung teras beranda itu tiba-tiba tertutup dan terkunci. Dita tak bisa membuka pintu tersebut.


Anta menoleh pada Dita sambil tersenyum, dia sudah berada di terali besi apartemen.


Dita mengguncang gelangnya berusaha memanggil Pak Herdi yang langsung muncul.


"Tolongin Anta pak!" perintah Dita.


Pak Herdi langsung menarik lengan Anta, dan pintu penghubung itu terbuka. Dita langsung memeluk Anta dengan erat, mukanya panik setengah mati hampir saja ia kehilangan Anta jika jatuh dari apartemen.


"Kamu kenapa Ta kok bisa ada di sana?" tanya Tante Dewi pada Anta.


"Tadi ada yang mau ajak Anta main hehehe," jawab Anta dengan polosnya.


"Cewek apa cowok, pasti hantu ya?" tanya Tante Dewi.


"Cewek," sahut Anta.


"Anta tau gak? Anta tuh tadi ngikutin hantu dan bisa aja Anta jatuh lho terus berdarah-darah meninggal," ucap Dita.


"Meninggal apa cih unda?" tanya Anta.


"Kayak om itu udah meninggal jadi pocong, jadi hantu," Dita menunjuk Pak Herdi.


"Atik... Anta bisa jadi hantu, keleeen," Anta berteriak kegirangan.


"Astagfirullah nih bocah ya bener-bener belum paham," Tante Dewi menepuk jidatnya sendiri.


"Anta, pokoknya bunda gak suka Anta ngikutin hantu apa manusia yang gak dikenal, Anta harus nurut dengerin bunda kalau Anta sayang sama bunda," ucap Dita memperingati Anta putrinya.


"Emang napa unda?" tanyanya lagi.


"Belum tentu mereka baik sama Anta, bunda takut mereka jahat, ngerti!" ucap Dita.


"Iya iya hoaaammm."


"Bawa Anta tidur tante aku mau ngobrol sama Pak Herdi bentar," ucap Dita.


Tante Dewi bergidik, tengkuknya merasa merinding kala mendengar perkataan Dita tentang Pak Herdi.


"Anta ayo tidur!" Tante Dewi menggendong Anta menuju kamar Dita.


"Siapa yang gangguin Anta sampe ngunciin aku tadi ya pak?" tanya Dita ke Pak Herdi.


"Saya juga gak bisa lihat tadi cuma bayangan hitam aja terus ngilang," sahut Pak Herdi.


"Tapi kata Anta cewek, kan gak mungkin susi iseng sama Anta," ucap Dita memastikan pintu berandanya terkunci dengan rapat.


"Bukan Susi, kan dia lagi pacaran tuh si pohon bareng hantu gepeng," ucap pak Herdi.


"Terus kira-kira siapa ya pak?" Dita mengetuk dagunya sendiri dengan telunjuknya.


"Saya juga gak tau, tapi yang pasti saya bakal jagain Anta terus menerus." ucap Pak Herdi.


"Makasih ya pak, makasih banget bapak masih ada dan selalu ada buat saya sama Anta," ucap Dita lirih.


"Dengan senang hati Ta," ucap Pak Herdi dengan senyum manisnya.


"Aduh jangan senyum-senyum deh nanti aku baper repot malah, kan aku masih setia sama Anan, dan akan selalu setia, aku tidur ya pak," ucap Dita lalu berlalu masuk ke dalam kamarnya.


"Hmmm Ta, pasti kamu tahu lah kalau hati saya masih gemetaran sama kamu, dari kita ketemu pertama kali, cuma kamu perempuan yang buat saya bisa sayang banget sama perempuan selain sama Tania," gumam Pak Herdi.


Di kamar Dita, ia mendaratkan bokongnya ke sofa tunggal samping jendela kamar. Dita mengusap foto Anan lalu mendekap foto Anan dengan erat.


"Aku kangen banget sama kamu yanda," ucap Dita tak bisa menahan bulir bening di ujung kelopak matanya jatuh, dan kemudian Dita terlelap sambil mendekap foto Anan.


*****


Bersambung...


To be continued...


Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku


“WITH GHOST”


ramaikan disana.


Baca juga :


-          Kakakku Cinta Pertamaku


-          9 Lives

__ADS_1


-          Gue Bukan Player


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2