Pocong Tampan

Pocong Tampan
Di Rumah Adelia (Part 2)


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak ... apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget yak... thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


#Flashback Seminggu Yang Lalu#


"Duit mana?" tanya Roni kasar pada Aminah.


"Apa sih mas, kamu tuh duit mulu, kerja enggak, mau nya duit mulu." sahut Aminah.


"Banyak bacot kamu, aku tuh kerja cuma sekarang gak ada kerjaan aja buat aku."


"Mas kamu kan bisa pake motor buat ngojek dari pada nunggu kerjaan nyetak undangan gak setiap hari orang itu nyetak undangan."


"Aku ngojek? apa kata keluarga ku, aku tuh pengusaha, ogah aku jadi tukang ojek."


"Terserah kamu lah mas, aku mau berangkat kerja dulu."


"Tunggu tunggu kamu tuh kerja jagain toko emang gak bisa apa ambil sedikit demi sedikit uang hasil jualan di toko."


"Mas aku gak sehina itu ya, aku bawa Adel buat kerja."


"Serahin dompet kamu sini..." Roni menarik tas yang di bawa Aminah.


"Ini ada uangnya dasar pembohong." Roni mengambil dia ratus ribu dari dompet Aminah.


"Mas jangan itu uang untuk beli obat ibu."


"Ah banyak bacot, ini masih ada lima puluh ribu tuh aku sisain buat beli obat, lagian ibu kamu juga kerja kok suruh pake uang sendiri lah beli obatnya."


"Tapi aku gak tega mas liat dia jadi pembantu di sebrang sana, aku mau dia berhenti dan jaga in Adel dirumah."


"**** itu namanya, nanti yang bayar listrik siapa kalo ibu kamu gak kerja?"


"Astagfirullahaladzim mas ini rumah ibu kita yang numpang harusnya kamu yang pikirin soal bayar listrik."


"Banyak bacot...!" Roni melempar dompet ke wajah Aminah lalu pergi.


"Mama yang sabar yak." ucap Adel memeluk mamanya.


"Iya nak, oiya nanti beli bubur ayam dulu ya buat sarapan Adel." ucap Bu Aminah memeluk dan mencium kepala Adelia.


***


Nenek Ijah kembali dari pekerjaannya urat-urat di kakinya yang makin besar menonjol berwarna kebiruan membuatnya sakit saat berjalan. Nenek Ijah mencuci kakinya di kerab belakang rumah sampai ia mendengar suara berisik dari dalam rumah.


"Apa Aminah tidak bekerja yak?" gumamnya lalu membuka pintu belakang rumahnya dan betapa terkejutnya ia mendapati menantunya sedang meniduri perempuan yang bukan Aminah di lantai rumahnya.


"Dasar menantu sialan, berani-beraninya kamu membawa seorang ******* kerumah ini..!" nenek ijah memukuli Roni dengan jedua tangannya.

__ADS_1


Roni yang terkejut dengan pukulan Nek Ijah langsung bangun dari lantai tanpa busana ia mendorong nenek Ijah membentur tembok sampai tak sadarkan diri.


"Bagaimana ini bang?" tanya wanita panggilan itu dengan panik.


"Kamu pulang aja gih, biar Abang urus wanita tua ini, maaf ya Abang pikir dia masih lama pulangnya."


"Mana bayaran saya bang?"


"Baru mulai udah minta bayaran aja, selesai in dulu lah ke kamar aja nyok pulangnya entar."


Wanita bayaran itu menuruti Roni masuk ke kamar Aminah tanpa peduli dengan kondisi nenek Ijah.


***


Wanita bayaran itu pergi pamit meninggalkan rumah Roni. Nenek Ijah sudah tersadar dari pingsannya dan memukul Roni dengan gelas Yang ada di atas meja.


"Awwww... dasar tua Bangka sialan."


Roni mengambil golok yang menempel di dinding sebagai hiasan lalu memukul kepala Nek Ijah tanpa ampun dan akhirnya dia menebas leher nek Ijah hampir putus. Sadar melihat nenek Ijah tak bernyawa ia lalu membungkus nenek Ijah dengan seprai yang ditarik dari ranjangnya.


Roni membawa mayat Nenek Ijah ke dalam kebun kosong di belakang rumahnya. Karena jarak rumah disana agak jauh Roni yakin tak akan ada tetangga yang tau mengenai perbuatannya. Ia membuat lubang besar di kebun itu dan membuang mayat nek Ijah kesana. Terlihat beberapa tikus besar datang menjilati tubuh Nek Ijah dan menggerogotinya.


"Hahaha mampus kan kau dimakan tikus." ucap Roni puas ditangannya sudah menggenggam kalung dan cincin emas Nek Ijah yang merupakan simpanan hasil kerja Nek Ijah.


Roni mengirim pesan ke pada istrinya dengan gambar dua tiket ke kampung neneknya. Dia beralasan nenek Ijah ingin diantar pulang kampung karena kakaknya meninggal. Padahal kejadian sebenarnya Roni sedang bersama wanita simpanan nya menuju daerah kampung halaman nek Ijah dan memesan hotel disana bersenang-senang dengan uang hasil penjualan emas peninggalan Nek Ijah.


Saat menerima pesan dari suaminya ponsel Aminah tidak aktif dan saat mengaktifkannya Aminah sedang berduka karena kecelakaan yang menimpa Adelia putrinya. Ia berusaha menghubungi Roni yang bersama Nek Ijah agar segera pulang namun ponsel Roni sudah tak aktif.


***


"Aku akan berusaha lindungin kamu Ta." sahut Andri.


BUG...!!! Anan yang berhasil keluar dari raga Manan berhasil menyentuh Roni dan meninjunya sampai jatuh tersungkur.


"Apaan tuh, siapa yang mukul hah...??!!" Roni menyeka darah di ujung bibirnya.


"Yess dari tadi kek Nan udah bikin gue sport jantung aja nih." sahut Andri


"Emang jantung elo masih berasa apa, kalo elo gak bisa sentuh dia elo kan bisa sentuh tuh pukulan." sahut Anan.


"Ah **** banget gue gak kepikiran, oke hayo kita habisi dia... ciaaaaaattt..." Andri mengambil kayu besar dari lantai dan menghajar Roni bertubi-tubi.


"Telpon polisi Ta." ucap Anan


Dita langsung mengeluarkan ponselnya menghubungi polisi dan juga Tante Dewi agar segera membawa ambulance untuk menolong tubuh Manan segera karena terlepas dari Anan.


"Bu Aminah, Bu Bu bangun Bu." Dita menepuk pipi Bu Aminah pelan menyadarkan dari pingsannya.


"Ka kamu, kamu gak papa neng?" Bu Aminah menyentuh pipi Dita.


"Gak papa Bu." sahut Dita.

__ADS_1


"Ampun tolong ampun tolong..." Roni mencoba melindungi wajahnya dari pukulan Andri.


"Itu kok bisa itu melayang?" tanya Bu Aminah heran dengan apa yang dilihatnya.


"Dia emang pantes Bu di gituin."


"Hajar Nan, gue pukul elo tendang dia, hajar Nan, kita habisin ******** ini." pekik Andri.


Anan menuruti Andri menendang tubuh Roni dengan kesalnya. "Makan nih akibatnya hampir aja elo perkosa cewek gue!"


"Dimana Adel dan ibu saya?" tanya Bu Aminah setelah di papah Dita duduk di kursi nya.


"Di samping ibu, mereka peluk ibu sekarang." ucap Dita tersenyum.


"Maafin saya Bu maafin saya, saya gak bisa jaga ibu huhuhuhu...." Bu Aminah tak dapat menahan air matanya yang mengalir deras.


Nenek Ijah dan Adelia memeluk ibu Aminah sambil menangis.


Dita juga ikut menangis melihat kesedihan yang ada di hadapannya.


"Makasih ya kak, Adel sama nenek mau pamit dulu." ucap Adel memeluk Dita.


"Iy Adel, selamat jalan yak."


"Kak salam buat Bani, kak Jen sama kak Anita."


"Kakak belum ketemu Anita nih jadi sedih kemana ya dia sekarang?"


"Ada kok kak di rumah kakak."


"Haaa wah rese si Anita pulang gak bilang-bilang."


"Dah kakak..." Adelia dan Nenek Ijah melambai pada Dita dan menghilang ke dalam sinar terang di ujung sana.


"Nan, Ndri udahan entar dia mati repot lagi jelasinnya aku yang dituduh."


"Biar Ta biar mampus orang kaya gini."


Andri masih memukul Roni yang tak sadarkan diri.


"Udah Ndri, bener apa kata Dita lagian kalo dia mati jadi hantu ngejar-ngejar kita repot lagi entar, biar dia membusuk dipenjara biar dibantai dia disana." sahut Anan menghentikan aksi Andri.


Tak lama mobil polisi datang ke rumah Adelia menangkap Roni yang tak sadarkan diri. Sementara Bu Aminah sudah ditangani oleh pihak medis. Seperti biasa Dita terkena Omelan yang panjang dari dokter Dewi terkait kondisi Manan yang hampir saja tak tertolong tanpa bantuan alat-alat medis.


Dita masuk ke dalam mobil dokter Dewi menuju jalan pulang. Andri menolong Anan untuk kembali masuk ke dalam raga Manan di dalam ambulance.


"Astagfirullah masnya bangun." ucap salah satu suster dalam mobil ambulance yang ketakutan memeluk suster pria satunya lagi membuat Andri tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya.


"Hehehe... halo mbak, mas suster." sapa Anan.


***

__ADS_1


To be continued


Happy Reading....😘😘😘


__ADS_2