
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍
***
Pukul tiga pagi Dita sudah bangun dari pembaringan nya. Udara sekitar makin terasa dingin bukan karena air conditioner di kamarnya namun ditambah dengan hujan yang terjadi diluar sana dan makin membuat udara terasa dingin.
"Duh mau ke kamar mandi deh mau pip*s." gumam Dita buru-buru menuju toilet di kamarnya.
Selesai menuntaskan hajatnya Dita kembali ke kasurnya namun di perjalanannya ia melihat sekilas bayangan yang berbungkus di balik tirai jendela kamarnya.
"Itu pak Herdi bukan sih?" Dita coba mengguncang gelang di tangannya.
"Kenapa Ta tumben panggil saya?" ucap pak Herdi di belakang Dita.
"Dih kok bapak disini, lah itu siapa?" tanya Dita.
"Oh si item kali." jawab pak Herdi.
"Si item?" dahi Dita mengernyit.
"Iya kan mukanya item banget tuh kayak nempel di wajan yang gosong jadi saya manggil dia si item hahahaha."
"Dih si bapak sekarang kalau nyeletuk dalem nyelekit banget." Dita mendorong bahu pak Herdi.
"Hehehe, coba buka aja jendela kamu kali dia mau minta tolong." ucap pak Herdi.
"Haduh dingin pak, sama rada ngeri kan biasanya dia akrab sama Anita bukan sama saya." sahut Dita.
"Coba aja buka dulu." pak Herdi gantian mendorong bahu Dita pelan.
Dita mencoba memberanikan diri membuka tirainya dan terang saja si om pocong berwajah hitam itu sudah menampakkan wajahnya di depan kaca jendela.
"Tuh kan ngagetin, tuh dia cilukba kan." ucap Dita terkejut memegang dadanya sendiri.
"Jangan ngagetin Tem kebiasaan nih."
ucap pak Herdi pada si Item yang langsung nyengir memamerkan giginya.
"Wuih putih juga giginya kalah deh model iklan pasta gigi mah."
ucap Dita tertawa kecil.
Pocong item itu tiba-tiba menunjuk ke arah rumah besar di seberang rumah Anan yang terlihat dari jendela kamar Dita.
"Apaan sih pak, aku gak bisa lihat kan hujan deras." ucap Dita.
__ADS_1
"Aku cek ya Ta, bentar aku turun dulu, ayo Tem kamu ikut saya." pak Herdi mengajak pocong wajah hitam itu menghilang menuju rumah seberang.
"Aku nunduk aja kali ya dari pada ketauan." gumam Dita menurunkan tubuhnya berjongkok di teras kamarnya sambil menutup jendela kamarnya terlebih dahulu agar tak tertiup angin menimbulkan kegaduhan.
Dita menunggu sekitar sepuluh menit dengan memeluk dirinya yang kedinginan.
"Hatchi... Hatchi... hadeh lama banget sih para pocong itu cari info."
Gumam Dita yang mulai flu karena dinginnya pagi buta kala itu.
"Ta ternyata..."
"Astagfirullah ih si bapak ya kebiasaan banget ngagetin aku." Dita menepuk kaki pak Herdi yang terbungkus kafan putih itu.
"Maaf Ta, nih ya aku ceritain."
pak Herdi ikut berjongkok di samping Dita.
"Kayak apa ceritanya aku mau denger coba." ucap Dita menyimak wajah pak Herdi yang mau berucap.
"Lihat mobil box disana itu banyak manusianya rata-rata anak ABG Ta, masih muda-muda, perempuan maupun laki-laki."
"Hah, serius? terus masih pada hidup?" tanya Dita penasaran.
"Masih lah, mereka kelihatan orang asing deh orang luar negeri, mereka gak berkomunikasi gitu gak pada ngerti bahasa masing-masing." pak Herdi mencoba menjelaskan.
"Wah jangan-jangan perdagangan manusia nih." Dita mengetuk dagunya dengan telunjuknya mencoba berpikir.
"Dijual buat apa ya pak kira-kira?"
"Ya mungkin pekerja s*ks komersil atau lainnya gitu, atau malah ada yang di curi organ tubuhnya tapi ngelakuinnya gak disini, bisa jadi kan kayak si pocong ini."
pak Herdi menunjuk pocong berwajah hitam yang sudah ikut jongkok di depan Dita tanpa Dita sadari.
"Astagfirullah sejak kapan dirimu disitu ngagetin aja."
Dita mendorong dirinya sendiri ke belakang saking terkejutnya.
Pocong berwajah hitam itu hanya tertawa meringis menatap Dita lalu berkata.
"Tolong buka ikatan saya."
"Hadeh... ini dia orang sini bukan sih masa dari kemarin cuma ngomong tolong buka ikatan dia sih?"
Dita menepuk bahu pak Herdi.
"Lah tau ya Ta, dari mukanya mah orang sini sih cuma ke iteman aja itu mukanya rada gosong hehehe."
sahut pak Herdi yang disambut dengan tawa cekikikan dari Dita.
"Eh tunggu tunggu tadi bapak bilang apa, ada yang di curi organ tubuhnya kayak dia, lho emang dia organ tubuhnya ada yang hilang?" tanya Dita mengamati tubuh sosok pocong berwajah hitam di hadapannya.
Pak Herdi menarik pocong wajah hitam itu membuka kain lusuh yang membungkus tubuhnya.
__ADS_1
"Tuh samping perutnya ada sayatan, ini dia ginjalnya hilang nih dua-duanya."
ucap pak Herdi membuat Dita melihat dua bekas luka sayatan di pinggang sebelah kanan dan kirinya.
"Lah iya ya, kasian dong pak kalau gak ada ginjal nanti buang airnya gak lancar." sahut dita.
"Ta... otak masih disini kan?" pak Herdi mengetuk pelan kepala Dita.
"Ih si bapak mah kepala aku kan udah di bayarin fitrah main di ketok aja, ada otaknya disini jangan di ketok-ketok nanti otaknya buyar lho mencar-mencar, puas anda!"
sahut Dita mencoba bercanda dan menepis tangan pak Herdi.
"Coba kumpulin dulu otaknya ya."
pak Herdi memegang kepala Dita dengan kedua tangannya dan mengguncangkan kepala Dita.
"Ah bapak mah...!" pekik Dita.
"Lagian kamu pake nanya dia buang air lancar apa gak jelas-jelas dia udah mati." ucap pak Herdi dengan nada agak kesal.
"Dih bapak mah... marah ya sama aku, tuh kan bapak mah berubah udah gak manis kayak dulu, Dita sebel ah." rengek Dita
"Lagian kamu nya juga gitu."
"Tuh kan... bapak marah sama Dita."
"Enggak... Dita cantik, Dita manis yang paling baik hati, ramah, tidak sombong dan tidak suka menabung, saya gak marah sama kamu, cuma agak kesel, agak sedikit ya, sedikit kesel."
pak Herdi memberikan senyum manis nya pada Dita.
"Ah... jangan senyum kayak gitu apa pak, nanti aku jadi diabetes, lagian aku kan udah istri orang, gak baik tau pak godain istri orang." Dita menepuk pipi pak Herdi pelan.
"Ta, harusnya jangan bilang gitu." sahut Pak Herdi menahan tawanya.
"Emang kenapa pak?" tanya Dita.
"Tuh coba liat." pak Herdi menunjuk ke arah jendela kamar Dita.
Jeng jeng jeng....
Anan sudah berdiri menempelkan wajah dan kedua telapak tangannya di kaca jendela itu.
"HAH? Yanda ku tersayang sejak kapan disitu?"
pekik Dita yang mulai khawatir dengan raut wajah Anan karena terlihat jutek dan tak bersahabat.
***
To be continued ya...
Happy Reading...
Happy Fasting....
__ADS_1