
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍
*****
"Sya, kamu masih diluar kan?" tanya Dita dari dalam toilet.
"Masih... buruan sih, bau tau... mana baunya menyebar nih, untung aja gak ada orang lain disini." sahut Tasya sambil memencet hidungnya dengan ibu jari dan telunjuknya.
"Ta... buruan Ta, ini rambut siapa keluar dari lubang angin gini." Kaki Tasya gemetar ketakutan kala melihat rambut hitam panjang keluar dari lubang angin.
"Bilangin jangan keluar dulu tanggung nih dikit lagi, bentar ya aku cuci dulu." sahut Dita dari dalam toilet.
"Ta... kepalanya mulai nongol, terus matanya ngintip Ta..." Tasya menggedor-gedor pintu toilet dengan paniknya berharap agar Dita keluar.
"Ih berisik banget sih kamu Sya lagian mana ram...butnya..." Dita dan Tasya saling berpandangan dan "aaaaaaaaaa." keduanya kompak berteriak lalu lari keluar toilet.
Hantu perempuan itu bermuka hancur dari hidung ke bawah hanya kata dan dahinya yang masing utuh. Selebihnya hanya daging yang berdarah dan bernanah menunjukkan tengkoraknya.
Tasya tak sengaja menabrak Lee.
"Astaga ganteng banget." ucap Tasya memandang Lee.
"Heh! pacar gue nih!" ucap Shinta menepuk kedua tangannya di hadapan wajah Tasya.
"Ih kamu mah ngagetin saya aja, hai Abang." Tasya menyapa Lee yang tersenyum padanya.
"Woi! enak aja main manggil abang abang elo kata abang tukang bakso kali." Tasya mendorong bahu Tasya dengan telunjuk kanannya.
"Oh kalau gitu hai akang." sapa Tasya kembali ke arah Lee.
"Eh elo tuh ya..."
"Kakak jangan!" Doni menghentikan Shinta yang mau menjambak rambut Tasya.
"Ini lagi belain aja terus nih duo gembel." ucap Shinta dengan ketusnya.
"Eh dari tadi aku udah diem aja ya ngeliatin kelakuan kamu, tapi lama-lama ngelunjak pake ngatain aku sama Tasya." sahut Dita maju ke depan menantang Shinta.
"Emang elo berdua duo gembel sih, eh by the way nih ye kan di dalam suami elo tercinta lagi ngobrol sama cewek cakep kok gak marah sih, kalau gue mah udah gue jambak kali tuh cewek." ucap Shinta memanasi hati Dita.
"Aku mah gak picik kaya kamu, tuh cewe cuma rekan bisnis kok, aku percaya juga sama suami aku." sahut Dita.
"Ih elo liat aja kalau elo udah lahiran terus gendut pasti suami elo cari yang lebih montok dari elo." tunjuk Shinta ke Dita yang menatapnya dengan pandangan sinis.
"Bang kok mau sih sama nenek lampir macam dia?" tanya Dita ke Lee yang hanya tersenyum.
__ADS_1
"Sembarangan elo main bang bang aja, liat dong tampang udah oppa keren gini masa di panggil abang." Shinta mendorong bahu Dita yang langsung sigap di tahan oleh Tasya.
"Astagfirullah, ih kamu mah bener-bener nantangin ya, ayo maju sini lawan Tasya." Tasya mencicing lengan bajunya bersiap duel dengan Shinta namun lagi-lagi Doni menghalangi.
"Udah kak sana pulang! tolong anterin dia kak Lee!" ucap Doni yang sigap memegangi tangan Tasya.
Lee menarik tangan Shinta menuju mobil kerennya.
"Ih aku sumpahin biar berjodoh sama genderuwo." teriak Dita ke arah Shinta yang menoleh menjulurkan lidahnya.
"Ih amit-amit punya kakak ipar kaya gitu." ucap Tasya membuat Doni kecewa mendengarnya lalu pergi keluar dari area restoran.
"Sya, kasihan tuh Doni kesinggung, kan dia suka banget sama kamu." ucap Dita.
"Lah emang jangan sampe sih kak kalau punya ipar kaya Shinta hiyy serem lebih serem dari hantu tadi." sahut Tasya
Anan keluar dari dalam restoran menghampiri Dita.
"Kok pada di luar sih? emang udah mau pulang?" tanya Anan.
"Kamu memangnya udah selesai?" tanya Dita.
"Udah, udah beres dia bakal supply alat-alat kesehatan yang mahal-mahal dari Jepang, tapi dia minta kantor di sini, dia maunya di rumah sakit lagi, aku harus bilang sama Tante Dewi nih." ucap Anan merangkul bahu Dita.
"Perasaan aku gak enak ya kalau dia mau disini." gumam Dita tapi Anan mendengarnya.
"Eh udah ah gak boleh berburuk sangka, mungkin perasaan bunda aja yang lagi bad mood." ucap Anan.
"Iya bener aku bad mood banget gara-gara si Sintul tadi ih amit-amit jabang bayi dah jangan sampe anak aku mirip dia." Dita mengusap perutnya.
***
"Eh itu kan Doni!" Tasya menunjuk Doni yang sedang berjalan sendirian tertunduk lesu di trotoar.
"Bukannya tadi dia sama Shinta ya?" tanya Anan.
"Berhenti Yanda, kita panggil Doni dulu, kita ajak masuk, kan pasti dia mau pulang tuh." ucap Dita.
Anan menghentikan mobilnya. Doni tak memperhatikan mobil Anan dan masih fokus berjalan dengan kepala menunduk.
"DONI....!" teriak Tasya saat membuka jendela mobil Anan.
"ADUH...!" Doni yang terkejut menabrak tiang listrik di depannya lalu jatuh tak sadarkan diri.
"Waduh gawat nih jangan-jangan gegar otak." ucap Dita yang langsung turun dari mobil bersama Anan dan Tasya.
"Don bangun... Don bangun dong..." Tasya memangku kepala Doni di kedua pahanya sambil menepuk pipi Doni.
"Aku ambil minyak angin ya di tas." ucap Dita.
"Perlu di siram gak nih?" tanya Anan.
"Jangan dong Yanda malam-malam gini masa nyiram Doni, kasian nanti masuk angin." sahut Dita sambil mencari minyak angin di tasnya.
__ADS_1
Anan melihat gerak-gerik bibir Doni yang mulai maju beberapa centi alias monyong.
"Emmm gue paham nih, Sya kayaknya Doni butuh nafas buatan deh." ucap Anan.
"Ah masa sih pak, emangnya Doni habis tenggelam butuh nafas buatan?" Tasya menoleh ke Anan.
"Ya kali aja Sya langsung sadar kalau di kasih nafas buatan."
"Ya udah pak, buruan kasih."
"Kok gue sih, elo lah Sya biar makin seneng Doni langsung sadar."
Tasya terdiam bimbang, Anan memberi kode pada Dita yang datang dengan minyak kayu putih di tangannya.
"Ada apa?" bisik Dita.
"Doni butuh nafas buatan." sahut Anan.
"Lho kok bisa?" pekik Dita.
"Husss diem aja." bisik Anan lalu meraih kucing Oren yang melintas di sampingnya.
"Siap-siap Sya, ayo kasih nafas buatan buat Doni!" ucap Anan sambil memberi kode pada Tasya agar diam dan bergeser. Anan mengangkat kucing Oren itu ke arah Doni dan mendekatkan wajah kucing itu ke bibir Doni yang makin maju.
MEOOOOONG ARRRR HISH.....!!!
"Yanda ya kamu tuh iseng banget sih! untung aja tuh kucing gak nyakar muka Doni." Dita memukul bahu Anan.
"Habisnya modus banget, ya kan Don? hayo ngaku? sengaja kan Lo pingsan pura-pura biar di pangku Tasya?" Anan menunjuk Doni.
"Hehehe tapi sakit tau pak, mana perih lagi di cakar kucing, mana benjol juga nih kepala." ucap Doni sambil meringis.
PLUK... Tas kecil Tasya mendarat di kepala belakang Doni.
"Adaw...!!"
"Sukurin...!!!" Tasya masuk ke dalam mobil Anan.
"Udah Don, nanti di obatin di rumah." ucap Dita menggandeng Anan yang masih saja menertawakan Doni.
*****
To be continued
Jangan lupa mampir ke novel baru aku yak
"With Ghost"
dan novel ku lainnya ya guys...
- Kakakku Cinta Pertamaku
- 9 Lives
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Ku tunggu like dan komen kalian disana.