Pocong Tampan

Pocong Tampan
Rahasia Aiko


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya... Jangan bosen bacanya ya...


Happy Reading 😊😘


*****


Tante Dewi menelpon ke rumah besar milik Arjuna saat berada di bandara kedatangan.


"Bu Mey, ini Dewi, apa kak Aiko datang ke rumah?" tanya Tante Dewi.


"Iya nyonya Aiko datang ke sini, nyonya kemana aja sih?" tanya Bu Mey.


"Nanti saya ceritakan Bu, apa Pak Diki sudah datang kesana?" tanya Tante Dewi.


"Belum nyonya, memangnya ada apa dengan Diki? bukankah ia biasa mengikuti Tuan Arjuna?"


"Aduh... jadi Diki kemana ya? oke deh nanti saya coba cari tau."


Tante Dewi menutup sambungan ponselnya.


"Pak Diki udah ketemu? apa dia ketemu sama Bu Mey tante?" tanya Anan.


"Gak ada Nan, terus Pak Diki kemana ya? pas pemakaman Papi kamu kemarin dia menghilang, aku pikir dia pergi ke Bu Mey." sahut Tante Dewi.


"Nah itu dia tante masa bisa ngilang gitu." ucap Anan menimpali.


Dita meremas tangan Anan, dengan tubuh gemetar dan keringat yang bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.


"Bunda kamu kenapa?" tanya Anan.


"Aku gak tahu yanda, aku gelisah banget terus ini kenapa aku deg degan terus ya, perasaan aku gak enak banget." jawab Dita makin meremas tangan Anan.


"Kita ke rumah sakit deh." ucap Anan memberi saran.


"Gak usah kita pulang aja."


Setibanya mereka di halaman rumah besar Anan, tak ada Bu Mey yang biasa menyambut kedatangan mereka.


"Bu Mey kemana Pia?" tanya Tante Dewi pada Pia yang menyambut mereka tiba.


"Tadi Bu Mey ikut nyonya Aiko." sahut Pia.


"Kamu tahu nyonya Aiko pergi kemana?" tanya Tante Dewi.


"Gak tau nyonya." Pia meraih tas yang ada di tangan Tante Dewi lalu membawanya ke dalam rumah.


"Ada yang aneh nih, kenapa mami bawa bu Mey pergi." gumam Anan.


Tiba-tiba Dita jatuh tak sadarkan diri, tetapi Anan langsung sigap menangkapnya.


***


"Ini dimana nyonya?"


tanya Bu Mey sesampainya di rumah tua pinggir kota.


"Apa kau lupa rumah ini?" tanya Aiko.


"Saya bener-bener lupa, memangnya ini rumah siapa nyonya?" tanya Bu Mey.


"Lho ini kan rumah ku, kau dulu pernah kesini sewaktu mengantarku mengambil barang-barang untuk pindah ke rumah besar." jawab Aiko.


"Wah saya benar-benar lupa nyonya," ucap Bu Mey.


"Sekarang duduklah disini!" ucap wanita jepang berambut panjang itu.


Bu Mey menuruti perintahnya. Lalu Aiko memasangkan tali pada pergelangan tangan Bu Mey.


"Apa yang nyonya lakukan pada saya?" tanyanya sambil berusaha membebaskan dirinya.


"Apa yang nyonya lakukan pada saya?" Aiko mengulangi perkataan Bu Mey dengan nada yang sama seolah mencibir dan meledek wanita paruh baya itu.


"Kau pikir aku benar-benar nyonyamu?" ucapnya membentak Bu Mey.


"Lagi pula kau memang belum pernah kesini kok, aku hanya mengarangnya hahaha...," Aiko tertawa dengan puasnya.


"Maksud anda nyonya?"


"SUDAH KU KATAKAN AKU BUKAN NYONYAMU...!!!"


Aiko membentak Bu Mey lebih kencang lagi.


"Saya benar-benar tak mengerti nyonya," sahut Bu Mey, raut wajahnya berubah lebih takut dan tak mengerti.


"Sekarang kau berbalik, nah lihat siapa yang ada di hadapan mu kini," ucap Aiko lalu dengan bahasa jepangnya memanggil seseorang untuk membawa sesuatu dari dalam. Pak Diki terbaring di atas ranjang yang di dorong oleh seorang wanita dan seorang pria berjubah hitam.


"DIKI...! BANGUNLAH...!!"

__ADS_1


pekik Bu Mey meneriaki Diki yang terbaring tak berdaya karena hilang kesadarannya.


"Apa yang anda lakukan nyonya? lepaskan adik saya." pinta Bu Mey dengan air mata yang sudah berlinang membasahi pipinya.


"Sudah ku bilang aku bukan NYONYAMU...!!!"


Wanita keturunan negeri sakura itu terus saja mengaku kalau ia bukanlah nyonya Aiko.


#Flashback#


Di sebuah desa di pinggir kota Okinawa tiga puluh tahun yang lalu.


"Apakah Aiko jatuh cinta?" tanya seorang wanita tua dengan bahasa Jepang.


"Tidak, dia bilang dia hanya akan memperalat lelaki bernama Arjuna." sahut seorang wanita yang lebih muda di sampingnya.


"Bukankah ia sangat membenci laki-laki lalu kenapa ia mau menikah dengan Aiko?" tanya wanita tua itu.


"Anda lupa nyonya, nona Aiko mempunyai kepribadian ganda, mungkin sisi satunya jatuh cinta pada lelaki yang bernama Arjuna itu, tapi sisi satunya lagi tetap setia dengan sekte kita," ucap wanita yang bernama Minora.


Aiko datang menghampiri wanita tua itu yang ternyata neneknya. Dia membungkuk dan memberi hormat saat bertemu.


"Kau yakin menikahinya?" tanya nenek itu.


"Aku akan menikahinya dan mengorbankan seluruh keturunannya, tenang saja nek," ucap Aiko.


"Lalu bagaimana dengan kondisi saudara mu?" tanya Minora.


"Biarkan saudaraku ini berbahagia sesaat bersama si Arjuna sampai puas, nanti ada kalanya aku akan menguasai tubuh ini lagi untuk menjalankan semua perintah nenek demi mempertahankan sekte kita nek," ucap Aiko yang bersisi jahat itu.


Sisi baik Aiko terbang menemui Arjuna untuk melangsungkan pernikahan. Kadang sisi jahat Aiko datang silih berganti dengan sisi baik Aiko. Tapi tujuan mereka sama yaitu mensejahterakan sektenya. Hanya sisi baik Aiko sesungguhnya tak ingin melukai suami dan anak-anaknya. Namun, apa daya sisi jahat Aiko selalu bisa mengendalikan tubuhnya lebih banyak dan lebih kuat.


***


Di rumah kosong tempat Bu Mey di sekap, Aiko yang jahat makin berbuat lebih brutal. Kini di tangannya terdapat pisau yang tajam. Di dekatkannya pisau tajam itu ke leher Pak Diki. Kini ia menggorok leher Pak Diki dengan sadis, membuatnya tewas seketika dengan tubuh kejang-kejang sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


"DIKIIIII......!!!!"


Bu Mey berteriak sekuat tenaganya. Hatinya hancur teramat sedih kala adik kesayangannya meninggal di hadapannya secara langsung dengan cara yang keji. Aiko hanya memandang Bu Mey dengan senyuman menyeringai dan tatapan yang menyeramkan.


"Letakkan darahnya di pemujaan lalu bakar mayatnya sampai tak tersisa," ucap Aiko dengan bahasa Jepang pada para wanita berjubah itu.


"Dan kau..." Aiko menyentuh pipi Bu Mey yang segera menoleh dan menepisnya sambil menangis histeris.


"Kini kau ada dalam pengaruh ku."


"Bu Mey tersayang... mulai kini kau akan membantuku, bisa ya?"


Bu Mey mengangguk pelan dengan tatapan kosong.


***


Dita terbangun di sebuah istana mewah berlatarkan nuansa serba emas dan ungu yang berkilauan memantul menyilaukan mata yang melihat.


"Halo cah ayu, selamat datang di rumahku."


Ratu Kencana Ungu menyapa Dita yang masih heran kenapa bisa ia terbangun disana.


"Dimana aku kanjeng ratu, kenapa aku bisa disini?" tanya Dita.


"Aku mengambil ruh mu untuk datang kepadaku. Aku juga mengambil ruh suamimu untuk datang," ucapnya seraya menunjuk ke arah belakang tubuh Dita.


"Yanda..."


Dita memeluk Anan seketika ia menjumpai keberadaannya.


"Apa kau sudah bilang pada istri tercinta mu ini?" tanya sang Ratu.


"Bilang apa, apa yang yanda sembunyikan dari aku?" Dita menatap Anan dengan lekat.


"Aku sudah memilih bunda, aku memilih untuk menyerahkan anak kita pada Ratu, aku ingin dia menjaganya dan juga menjaga mu." ucap Anan.


"Lalu apa yang akan terjadi pada yanda?" tanya Dita.


"Maaf bunda ku sayang... Aku memang tetap harus pergi."


Anan menatap mata Dita dengan lekat, Anan menyentuh kedua pipi Dita.


"Maafin aku ya, aku gak bisa jaga kamu lebih lama lagi."


Ucapan Anan bagai petir yang menyambar Dita. Buliran bening menetes tanpa henti dari kedua matanya.


"Yanda gak boleh pergi... kamu gak boleh ninggalin aku... nanti aku sama siapa?"


Dita mengguncang tubuh Anan sambil memukul dada Anan berkali-kali. Hatinya hancur berkeping-keping.


"Aku harus pergi, lagipula tubuh Manan tak akan bisa ku tempati lagi."

__ADS_1


"Tapi papi bilang kamu bisa berreinkarnasi, kamu bisa tetap sama-sama aku." ucap Dita lalu ia menoleh pada Ratu Kencana Ungu.


"Anan bisa kembali kan kanjeng Ratu?" Tanya Dita dengan wajah penuh harap pada sang Ratu.


"Aku belum tau pasti sejujurnya, saat ini aku hanya fokus menjaga anakmu dan dirimu." ucap Ratu Kencana Ungu.


"Tapi ratu..."


"Kembalilah... jaga anak ini baik-baik." sang Ratu mengembalikan lagi Dita ke dunia seutuhnya.


Dita membuka kedua matanya perlahan. Cahaya lampu ruangan itu menyilaukannya. Kini Dita sudah berada di rumah sakit keluarga milik Anan.


"Tante... Dita sadar." ucap Tasya.


Tante Dewi langsung menghampiri Dita.


"Ta kamu gak kenapa-napa kan Ta?" tanya Tante Dewi.


"Anan... mana Anan tante...?" tanya Dita dengan wajah panik dan cemas.


"Kamu tuh gak sadarkan diri selama dua hari Ta, kamu tenang dulu ya, kamu minum dulu nih."


Tante Dewi menyerahkan segelas air putih ke Dita.


Dita meminum air putih pada gelas itu.


"Anan mana Tante?"


Dita mengguncang tangan Tante Dewi berkali-kali.


Semua mata menatap ke arah Dita dengan wajah sedih, tetapi saat Dita menatap balik para pemilik mata itu, semuanya menunduk tak ada yang mau mengatakan apapun.


"Dita mau cari Anan."


ucap Dita yang tiba-tiba berdiri namun terasa lemas tak dapat menopang tubuhnya. Tasya langsung memegangi Dita.


"Ta kamu belum pulih benar." sahut Tasya.


"Tapi Anan mana Sya?" tanya Dita ke Tasya.


"Pak bos ummmm... kemana ya?" Tasya menoleh pada Doni dan Tante Dewi.


"Pak bos... ummm tante aja deh yang bilang," ucap Doni.


"Haduh tunggu om Kevin aja deh nanti dia yang bilang..." Sahut Tante Dewi.


Dita menangis dengan kencang seketika itu juga.


"Ta udah ya cup cup..."


Tante Dewi memeluk Dita dengan erat.


"Anan udah pergi ya tante?" tanya Dita yang makin menangis dengan kerasnya.


"Ta... yang sabar ya, pak Bos pasti gak mau lihat kamu sedih kayak gini." Tasya ikut memeluk Dita.


"Iya kak Dita, pak bos pasti gak mau lihat kak Dita sedih." Doni mau ikut merangkul Dita tapi Tasya sudah menahan dada Doni untuk segera mundur.


***


Dita pulang ke rumah besar milik Anan bersama Tante Dewi dan Om Kevin. Bu Mey sudah menyambut Dita dengan memeluknya.


"Tolong bawa barang-barang ke dalam rumah ya Bu." perintah Tante Dewi pada Bu Mey.


"Baik Nyonya."


Malam itu Dita berada di beranda depan kamarnya memandang langit. Tiba-tiba sosok pocong melompat di sekitar beranda. Dita melirik ke arah sosok tersebut. Kemudian ikatan tali pocong itu mengintip dari sisi dinding rumahnya.


"Yanda...!!!"


*****


Bersambung guys…


Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku


“WITH GHOST”


ramaikan disana.


Baca juga :


-          Kakakku Cinta Pertamaku


-          9 Lives


-          Gue Bukan Player

__ADS_1


Vie Love You All… 😊


__ADS_2