Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Logan


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Happy Reading...


******


Tasya menjemput Anta di sekolah dan menabrak seorang pria yang merupakan salah satu pengajar di sekolah Anta.


"Maaf saya tak melihat anda, maafkan saya." ucap pria itu yang sempat membuat Tasya terpana.


"Halo...?"


"Eh iya hallo, nevermind, its okay!" sahut Tasya.


"Apa anak anda bersekolah di sini?" tanya pria itu.


"Bukan anak saya, saya belum menikah, tapi keponakan saya," sahut Tasya.


"Boleh berkenalan? nama saya Logan," ucapnya seraya mengulurkan tangannya pada Tasya.


"Oh tentu saja boleh, namaku Tasya," sahut Tasya menjabat tangan Logan.


"Tasya... kamu bukan warga asli sini ya?"


"Bukan saya baru pindah bersama keluarga saya," sahut Tasya.


"Tapi bahasa kamu bagus juga." puji Logan memamerkan senyum manisnya pada Tasya.


"Ah bisa aja, kamu mengajar di sini ya? tuh tertulis Mr. Logan, Teacher," Tasya menunjuk nametag yang pria itu kenakan.


"Oh iya saya guru di sini, baru satu tahun saya mengajar anak-anak junior high school."


"Oh gitu, muda banget ya," ucap Tasya.


"Ya sebenarnya saya masih kuliah, tapi saya butuh pemasukan juga, oleh Karena itu saya kerja sambilan juga di sini," ucap Logan.


"Oh begitu..."


"Lalu keponakan yang mau kamu jemput itu kelas berapa?" tanya Logan.


"Kelompok bermain, muridnya Miss Lucy." sahut Tasya.


"Oh... Lucy, mari saya antar!"


Di kelas Miss Lucy, Anta terlihat murung karena merasa tak ada seorang pun yang menjemputnya. Ia menangis di sudut ruangan sambil menarik rambut hantu perempuan yang menjadi penunggu kelas Anta dengan kesalnya.


"Anta, jangan gitu dong, tuh kasian mbaknya rambutnya pada lepas," Lily berusaha untuk mencegah Anta.


"Anta marah, Anta kesel katanya bunda cuma sebentar, yanda juga kemana lagi," gumam Anta yang sudah membuat rambut hantu perempuan itu lepas sebagian.


"Duh maaf ya mbak," ucap Lily.


"Its okay, saya sudah menyerah menakuti anak ini, malah dia terlalu kuat untuk saya lawan," ucap Hantu perempuan tersebut.


"Tuh tantenya aja gak marah sama Anta," ucap Anta.


Sementara itu di luar kelas Anta.


"Kamu siapa ya?" tanya Miss Lucy pada Tasya.


"Saya Tasya, tantenya Anta, saya mau jemput dia,"

__ADS_1


jawab Tasya.


"Maaf ya, selain orang tua tidak ada yang boleh menjemput anak itu, saya juga tak percaya begitu saja, saya takut kamu penculik," ucap Lucy dengan tatapan sinis pada Tasya.


"Hadeh... bentar ya." Tasya mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto dirinya bersama Anta dan bersama Dita juga.


"Tetap saja saya tak percaya itu kan bisa di edit," ucap Miss Lucy dengan ketusnya.


"Oke saya coba telpon bundanya ya," ucap Tasya tapi ponsel Dita tidak bisa di hubungi.


"Anta aja deh suruh kemari!" pinta Tasya.


"Tidak, biarpun Anta kenal dengan anda, tapi saya tetap harus waspada karena terkadang penculikan bahkan pembunuhan terhadap anak itu tersangkanya orang yang dia kenal," ucap Miss Lucy.


"Hadeh... gimana ini ya caranya jemput Anta," gumam Tasya.


"Kamu hubungi ayahnya dong!" pinta Miss Lucy.


"Oh iya bentar," ucap Tasya menekan nomor milik ponsel Anan.


Miss Lucy menyimak ponsel Tasya.


"Gak bisa di hubungi juga," ucap Tasya.


"Begini saja, biar saya yang antar Tasya dan Anta sampai rumahnya, saya bisa jamin kalau Tasya bukan orang jahat," ucap Logan menimpali.


"Tapi logan, ini peraturan sekolah yang harus saya jalankan!" ucap Miss Lucy.


"Sampaikan pada paman ku, aku akan datang je kantornya jika aku melanggar peraturan," ucap Logan dengan tegas.


Lucy akhirnya menyerah dan membuka ruang kelasnya, padahal ia ingin sekali bertemu dengan Anan saat itu.


"Anta..." panggil Tasya.


"Oh jadi anak ini keponakan kamu," ucap Logan tersenyum memandang Tasya.


"Lho om guru yang waktu itu kan..." Anta menunjuk Logan.


"Halo... Anak cantik... Si penyihir cilik," bisik Logan.


"Penyihir?" Tasya yang mendengar langsung menatap Logan.


"Baiklah Lucy sekarang sudah jelas ya siapa Tasya, nah sesuai janji saya tadi, saya akan mengantar mereka pulang," ucap Logan.


"Whatever..." Lucy pergi dari hadapan semuanya.


Sebelum keluar kelas Tasya sempat menoleh ke arah hantu perempuan yang ada di sudut ruangan itu menatapnya.


"Gak apa tante dia mah takut sama Anta," ucap Anta lalu melambai pada hantu itu dengan barbie Lily di tangannya.


"Anta laper, Anta mau makan ya," ucap Anta pada Tasya.


"Waduh alamat keluar duit banyak nih, tante bawa duit gak ya, soalnya makan kamu banyak," ucap Tasya menimpali.


"Gimana kalau aku yang traktir, kita makan di restoran pizza terkenal di sini," ajak Logan.


"Asik... Anta suka pizza," sahut Anta.


"Ah kamu mah sama kayak bunda, makan apa aja juga suka," Tasya mencubit pelan pipi Anta dengan gemas.


***


Logan membawa Tasya dan Anta sampai di sebuah restoran pizza yang ramai milik Tuan Worm.

__ADS_1


"Ini restoran pizza terkenal dan terenak yang kalian bakal suka banget, restoran ini milik ayahku," ucap Logan dengan nada bangga.


"Selamat siang Tuan Logan, mohon maaf ayah anda tidak ada di ruangannya, beliau baru saja pergi dengan rekan bisnisnya," ucap salah satu pelayan menyapa Logan.


"Aku tak ingin bertemu dengan ayah kok, aku membawa tamu, tolong siapkan tempat spesial untukku dan tamu ku," pinta Logan.


"Baik Tuan."


Logan, Tasya dan Anta lalu mengikuti si pelayan itu menuju ke lantai dua. Sofa warna warni dan miniatur taman menyambut mereka. Udara terasa sejuk di lantai dua tersebut daripada berada di lantai bawah yang terasa pengap karena ramai.


"Anta mau makan pizza rasa apa?" tanya Logan.


"Rasa keju sama daging ayam yang ukuran besar," ucap Anta dengan gaya merentangkan tangannya.


"Hmmm maaf nih ya Logan, jangan kaget kalau Anta pesen makanan, nanti kalau merasa rugi kirimkan saja tagihannya ke bunda sama yandanya Anta ya," ucap Tasya langsung membuat Logan tertawa.


"Tenang aja, kan sudah ku bilang aku yang traktir," sahut Logan.


"Tuh kan... om aja gak protes tante bawel ih," celetuk Anta.


"Padahal baru usia lima tahun ya tapi Anta pintar sekali," ucap Logan memuji Anta.


Lima tahun? sebenarnya usia Anta kan tiga tahun, dasar Dita dia memalsukan usia Anta agar dikira setara dengan anak lainnya.


Batin Tasya sembari menatap Anta dengan gemas.


"Om, Anta tambah milo sama eskrim, sama roti keju yang kering ini, terus puding cokelat juga..."


Tasya langsung membekap mulut Anta.


"Udah tau di traktir jangan ngelunjak Anta," bisik Dita menatap Anta tajam.


"Fuuiihhh tangan Tante Tasya asin wleeekkk, kotor jijik..." celetuk Anta.


"Enak aja tante udah pakai hand sanitizer tau!"


"Hahaha kalian ini lucu sekali, oh iya aku ke kamar mandi dulu ya," ucap Logan seraya pergi menuju kamar mandi pria.


"Eh tante itu apa?" Anta menunjuk sesuatu di atas atap dekat pohon palem di sudut lantai itu.


Tasya menoleh ke arah yang di tunjuk Anta. Sosok cacing besar menempel di dinding. Tubuhnya penuh lendir yang berjatuhan ke adonan pizza. Anehnya cacing besar itu mempunyai tangan dan kaki yang panjang. Cacing raksasa itu menoleh ke arah Anta dan Tasya menunjukkan giginya yang tajam seperti gigi ikan hiu.


"Astaga mengerikan... kenapa mukanya manusia seperti itu..." pekik Tasya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Wah cantiknya kayak squisy..." Wajah Anta tersenyum senang, seperti baru saja menemukan mainan baru.


******


Masih bersambung ya guys...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


- Kakakku Cinta Pertamaku


season 1 END


- 9 Lives (END)


- Gue Bukan Player (END)


Vie Love You All 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2