
Assalamualaikum....
Hai, readers tercinta! Kangen sama Dita dan Anan si Pocong Tampan, nggak?
(Harus kangen pokoknya! Hehehe.)
Vie mau minta tolong ramaikan novel terbaru aku ya judulnya RUANG KOSONG DI SEKOLAH.
Tadinya versi chat story tetapi Vie remake jadi versi novel. Selain nggak bakat nulis CS, rata-rata dari kalian semua lebih suka baca novel ketimbang CS.
Di cerita ini, Vie bakal bawa kisah Dita dan Anan semasa SMA. Kok mereka bisa ketemu ya padahal kan di PoTam ketemuan pas Dita kecelakaan setelah lulus SMA?
Eiitsss, nanti dijelaskan kok kalau ternyata mereka pernah bertemu sebelumnya.
Terus kenapa mereka lupa? Dita kan juga bukan anak indigo sebelum dia kecelakaan?
Weits... santai ya. Nanti juga dijelaskan sama Vie. Pokoknya mereka berdua akan memecahkan misteri di ruang kosong sekolah yang mengerikan dan juga misteri hilangnya para murid di SMA Abadi Jaya. Makanya kepoin ya!
Makasih banyak loh ini buat yang selalu setia mendukung ceritanya Dita dan Anan sekeluarga. Lophe lophe sekebon buat kalian muuuaahhhh.
Terima kasih.
Vie love you all.... 🥰😘
Spoiler Bab 1
Pukul delapan malam di sebuah gang yang ada di perkampungan bernama Kampung Hijau, seorang gadis bertubuh ramping berjalan lebih cepat dari biasanya. Ada sosok tak kasat mata yang mengikutinya sedari tadi. Sosok itu melompat, mengikuti gadis belia di hadapannya.
Gadis berusia lima belas tahun yang baru saja mengikuti acara pelepasan di SMP itu membuka kain jarik yang menjadi bawahan kebaya yang dia kenakan. Dia lipat dan letakkan kain jarik itu ke dalam tas ransel miliknya. Rambut yang susah payah digelung oleh ibunya itu dia gerai.
Tepat di tikungan, gadis bernama Anandita Mikhaela itu segera bersembunyi di balik tiang listrik. Sampai sosok pocong itu muncul mencarinya.
__ADS_1
"Buaaaaa! Mau ngapain ngikutin aku dari tadi?" tanya Dita.
Sosok pocong berwajah hitam itu tersentak. Dia menoleh pada Dita.
"Tolong saya."
"Kyaaaaaa!" Dita memilih berlari karena geli kala melihat ulat dan belatung keluar masuk dari wajah hitam pocong itu. Apalagi di bagian rongga matanya.
***
"Kamu pasti ketemu hantu lagi, ya?" tanya Bu Indah, sosok wanita empat puluh tahun itu masih tampak cantik. Meskipun wajahnya mulai terlihat sayu karena didera keletihan.
"Astagfirullah, Bu, mukanya belatung semua. Tadinya mau aku ajak bercanda, eh malah nakutin."
"Kamu tuh ya kebiasaan banget. Masa hantu kamu ajak bercanda."
"Hehehe, aku mau mandi dulu ya, Bu. Tadi acara perpisahannya seru banget."
"Alhamdulillah, Yah, putri kita selalu saja membanggakan," lirih Bu Indah seraya mengusap bulir bening di pipinya.
Anan, panggilan masa kecil yang berubah menjadi Dita saat bersekolah di SMP itu, sudah menjadi anak yatim sejak usia sepuluh tahun. Ayahnya yang bekerja sebagai masinis saat itu mengalami kecelakaan kereta api yang parah dan menewaskan sang ayah saat itu juga.
"Bu, kok nangis?" Dita keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Selamat ya, Nan, ibu terharu dan bangga banget sama kamu."
Dita langsung memeluk ibunya.
"Oh iya, Nan, tadi ada surat buat kamu." Bu Indah segera mengambil sepucuk surat yang dia simpan di laci tadi. Lalu, menyerahkannya pada putrinya.
Dita meraih surat dengan amplop putih dari tangan ibunya. Dia membuka lembaran surat tersebut yang ternyata berisi pemberitahuan kalau seorang Anandita Mikhaela berhasil mendapatkan beasiswa seratus persen untuk bersekolah di SMA Abadi Jaya.
__ADS_1
"I-ibu, ibu ini serius buat aku?"
"Ya, Nan, itu buat kamu."
"Aku nggak mimpi kan, Bu?" Dita masih menatap tak percaya.
"Nggak, Nan. Kamu nggak mimpi. Kamu berhasil dapat beasiswa di sekolah favorit itu. Alhamdulillah, Ibu seneng banget, Nan."
Dita dan ibunya sampai berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil berpelukan. Kebahagiaan Dita bukan sekedar karena dia masuk sekolah favorit, tetapi karena dia mendapat beasiswa seratus persen. Itu artinya dia bersekolah di sana dengan gratis. Dia bisa meringankan beban ibunya yang seorang single parent.
Ali, adik laki-laki Dita satu-satunya muncul seraya mengucek kedua matanya setelah terbangun karena suara berisik ibu dan kakaknya. Dia terkejut akan jerit kegirangan kedua perempuan tersayangnya itu.
"Pada ngapain, sih? Kok, Ali nggak diajak lompat-lompatan?" tanyanya dengan polos.
"Aliiiii! Kak Anan seneng banget malam ini!" Dita langsung meraih adiknya. Dia mengajak adiknya bergabung melompat-lompat.
"Jangan lupa sujud syukur, Nan." Suara berat seorang pria terdengar.
Dita menghentikan aksinya lalu menoleh pada pria itu. Tak terasa bulir bening jatuh membasahi pipinya.
"Iya, Ayah." Dita mengangguk.
"Nan, kamu pasti lihat ayah, ya?" tanya Bu Indah menyentuh bahu kiri Dita.
"Iya, Bu."
"Yeayyy, ayah pasti ke sini karena besok ulang tahun Ali," seru anak lelaki itu.
Setiap ulang tahun Ali, arwah ayahnya memang kerap datang untuk berkunjung. Meskipun tak masuk di akal, tetapi Dita percaya kalau ayahnya memang bisa hadir untuk sekedar menyapa Ali. Lalu, pergi lagi.
Dita memang memiliki bakat melihat makhluk tak kasat mata sedari kecil. Namun, berkali-kali ibunya berusaha menutup mata batinnya tetapi tak bisa. Dita masih ingin melihat ayahnya. Gadis itu juga berusaha berjuang untuk tidak takut melihat makhluk gaib yang kerap datang menganggu.
__ADS_1