Pocong Tampan

Pocong Tampan
Keterangan Doni


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


Shinta keluar dari ruangan kamar perawatan Doni.


"Hmm lihat saja nanti, kalau Shinta sudah bertekad pak bos pun akan ku dapat." gumam Shinta.


"Ngapain Shinta?" tanya dokter Dewi yang hendak masuk ke dalam ruang perawatan tempat Doni dan Kevin.


"Habis ngunjungi adek saya dok." sahut Shinta.


"Oh udah selesai kunjungannya?" tanya Dokter Dewi.


"Sudah dok, saya mau balik kerja dulu nanti saya kembali."


"Oh iya Shinta, nanti kabari saya hasil autopsi mayat perempuan yang baru datang, dia pekerja di kantor Kevin, dia ada di tempat kejadian yang sama dengan Doni hari ini." ucap dokter Dewi.


"Baik dok segera saya laksanakan." ucap Shinta lalu pamit pergi.


Tante Dewi masuk ke dalam ruangan perawatan Doni dan Kevin.


"Hai semua, itu yang di ujung belum sadar dari tadi?" tanya Tante Dewi.


"Mungkin om Kevin jadi pangeran tidur Tante yang di cium cinta sejatinya baru deh matanya terbuka." Dita menggoda Tante Dewi.


"Maksud kamu apa sih Ta, gak jelas tau gak." sahut Tante Dewi agak kesal.


"Jelas lah, coba deh Tante kasih vitamin C buat om Kevin nanti pasti bangun."


"Apa hubungannya sama vitamin C, Ta?" tanya Anan.


"Ih nyambung dikit kek, maksudnya tuh C dari kata cium tau." ucap Dita mencubit ke dua pipi Anan.


"Ini apa-apaan sih seneng banget ngeledek tantenya." Tante Dewi menggerutu.


"Siapa yang ngeledek, cuma iseng kok hehehe." sahut Dita.


"Coba Don ceritain gimana ceritanya kalian bisa kayak gini?" tanya Tante Dewi pada Doni.


"Hmmm tadi kan kita berdua ketemu si Bu Eva di cafe Dixie tuh, terus pak Kevin ke kamar mandi pas kakak Dita telpon dia gak balik-balik taunya dia keluar ikut sama Bu Eva ya aku buru-buru ikut dong ke mobilnya."


"Kok gampang banget si Kevin ikut si Eva?" tanya Tante Dewi makin ingin tahu.


"Mungkin di ancam juga, orang pas didalam mobil aku di todong pistol ke kepala." ucap Doni.

__ADS_1


"Terusin Don." ucap Dita.


"Terus ya kita sampai ke kantor tuh, pas tiba di lantai kantor pak kevin yang badan gede itu langsung bekap satpam sama mbak resepsionis mereka di kurung di gudang sempit samping lift." Doni tak mau melihat ke arah hantu Marina di sampingnya.


"Dan mbak itu sampai meninggal karena asma nya kambuh, kasian yak." Dita menoleh pada Marina si hantu perempuan yang berdiri di samping Doni.


"Terus pas di kantor kamu ditembak Don?" tanya Tante Dewi.


"Mereka ancam pak Kevin di pukuli habis-habisan sampai ngaku dimana dia letakkan wasiat pak Herdi, aku kesel dong aku mau nolongin pak Kevin tapi aku di tembak terus aku pingsan." ucap Doni menjelaskan.


"Kasian ya Kevin wajahnya babak belur gini." Tante Dewi menyentuh wajah pak Kevin dengan lembut.


"Coba tadi kita gak telat ya Nan datangnya." ucap Dita.


"Ya kita mana tau kalau bakal kayak gini." sahut Anan.


"Terus si Eva itu ketangkap gak?" tanya Tante Dewi gemas.


"Masih dalam pengejaran polisi Tante, tapi tadi kata kapten Jihan semua data dia sudah disebar ke semua penjuru." ucap Dita.


"Bagus deh lekas ketangkap lebih baik, wasiat itu ada dimana Ta?" tanya Tante Dewi.


"Sudah di tanganku, pak Herdi yang suruh aku simpen, ada di brangkas rumah di simpan Anan." ucap Dita.


"Bagus kalau gitu." Tante Dewi melihat pergerakan pada pak Kevin yang tiba-tiba membuka matanya.


"Mas mau minum?" tanya Tante Dewi.


"Iya boleh." sahutnya dengan suara masih terdengar lemah.


"Makasih, sudah cukup." ucap pak Kevin.


"Ada yang mau aku ambilkan lagi mas? kue mungkin?" tanya Tante Dewi lagi.


"Iya boleh, saya mau kue bolu itu." ucap oak Kevin. Tante Dewi menyuapi pak Kevin dengan telaten.


"Kita pulang yuk Nan, gak enak gangguin nanti." bisik Dita.


"Iya aku juga capek mau rebahan di rumah." ucap Anan.


"Don jangan ngintip yak." Dita menarik tirai antara kasur pak Kevin dan Doni.


"Ini kenapa di tutup segala sih tirainya?" tanya Tante Dewi kesal.


"Biar gak ganggu privasi Tante sama om, lagian biar Doni istirahat juga hehehe." Dita langsung pergi menjauh.


"Dah Tante kita pamit." ucap Dita yang diberi tatapan tajam Tante Dewi yang melotot.


"Kak, ni mbaknya dibawa." ucap Doni menunjuk Marina.


"Ya elah takut amat sih, hayu Marina kalau mau ikut." ajak Dita lalu bersama Anan keluar ruangan menuju rumah.


***

__ADS_1


Di rumah Pak Kevin.


"Dimana mbok letaknya?" tanya Bu Eva pada pembantu rumah tangga di rumah pak Kevin.


"Di ruang kerjanya bos di belakang lukisan." sahutnya.


Bu Eva langsung menyuruh anak buahnya untuk memeriksa keadaan brangkas yang butuh waktu lumayan lama sekitar tiga puluh menit untuk terbuka.


"Sial, apa-apaan ini kenapa tidak ada apa-apa disini!" bentak Bu Eva pada si mbok pembantu disana.


"Saya gak tau bos, saya gak bisa bukanya saya cuma tau letak brangkasnya pas bersih-bersih." ucapnya penuh ketakutan.


"Dasar sial, ini pasti sudah berpindah tangan semua yang ada di dalam sini." Bu Eva menendang kursi di hadapannya dan berteriak marah.


"Bos kita harus sembunyi dulu, lari dari kota ini, demi keselamatan kita, nanti kita kembali untuk menuntut balas dan mencari wasiat keluarga Winata lagi." ucap pria berbadan besar itu.


"Huh, sia-sia sudah aku membunuh si Herdi sialan itu." ucap Bu Devi.


"Mari bos sebelum polisi berhasil menemukan kita." ucap si Ken pria berbadan besar itu.


Mereka pergi meninggalkan rumah pak Kevin hilang tanpa jejak.


***


"Selamat datang mbak Marina di rumah ku, eh rumah suami ku, aku panggil mbak apa Marina aja yak?" Dita menoleh ke hantu Marina saat tiba di halaman rumah besar Anan.


"Saya baru delapan belas tahun." ucap Marina membuat Dita dan Anan menoleh padanya.


"Delapan belas tahun kok tampangnya kaya udah dewasa banget mbak sekitar tiga puluh maaf nih ya maaf Dita keceplosan hehehe." ucap Dita.


"Make up nya kali Ta terlalu dewasa." sahut Anan.


Hantu Marina hanya terdiam sambil melihat sekeliling.


Bu Mey sudah menyambut Anan dan Dita di depan rumah.


"Anita dimana Bu?" tanya Dita.


"Anita, Anita yang mana non?" tanya Bu Mey agak bingung.


"Eh yang perempuan tadi saya suruh pulang sama Pia." sahut Dita.


"Oh Tasya, ada di kamar tamu."


"Kamar tamu yang mana? yang ada lukisan nyainya?"


"Iya non."


"Haduh Bu Mey."


****


To be continued...

__ADS_1


Happy Reading mohon maaf jika masih terdapat typo.


Stay safe stay health everyone 😘😘😘


__ADS_2