Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Di Panti Asuhan (Part 2)


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up... Vie mohon dong, mohon banget... jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh...


Happy Reading...


*****


Seorang wanita paruh baya dan seorang wanita berusia sebaya dengan Dita hadir mempersilahkan rombongan Dita untuk duduk.


"Selamat datang di Panti Asuhan Ceria, nama saya Elizabeth. Sudah lama ya Leona kita tidak bertemu? bagaimana keadaan orang tua asuh mu? oh iya dimana mereka?" tanya ibu Elizabeth sambil menunjukkan senyumnya yang hangat.


Leona tak menjawab dengan ucapan, dia hanya mengangguk sambip tersenyum.


"Kalian ini siapa ya?" tanya ibu Elizabeth.


"Saya Dewi, perkenalkan bu." Tante Dewi menjabat tangan ibu Elizabeth di hadapannya itu.


"Anda siapanya Leona?" tanyanya.


"Saya tetangganya Leona, sebenarnya kami kemari ini mau memberitahukan perihal orang tua asuh Leona yang sudah meninggal kemarin," sahut Tante Dewi.


"Orang tua asuh Leona meninggal?" tanya ibu Elizabeth seraya melirik ke arah Leona.


"Iya, mereka meninggal, dan ini pengacaranya yang akan memberikan wasiat mendiang keluarga asuh Leona," ucap Tante Dewi menunjuk ke arah Tina.


"Kalau ibu Tina saya sudah kenal, beliau yang dulu mengurus masalah adopsi Leona," ucap bu elizabeth.


"Hallo mam, long time no see," ucap Tina sambil mengeluarkan map biru dari dalam tasnya.


"Hallo... Cintya tolong ambilkan minum dan kudapan untuk para tamu jauh kita," ucap Nyonya elizabeth memberi perintah pada wanita di sampingnya itu.


"Baik nyonya," ucap Cintya seraya menuju ke dalam rumah.


"Saya jelaskan ya, di sini ditulis sejumlah uang warisan Tuan Jhon dan Nyonya Kate. Namun, mengenai hak milik rumahnya, sudah jatuh ke tangan Nyonya Dita." Tina menjelaskan pasal demi pasal wasiat tersebut.


"Rumahku?" Leona menoleh ke arah Dita.


"Nyonya Dita telah membelinya, karena nyonya Kate sebenarnya mengalami kebangkrutan," ucap Tina mencoba berbohong.


"Orang tua asuhku bangkrut?" Leona menoleh ke arah Tina kali ini.


"Ya, mungkin itulah yang membuat Kate melakukan kekejaman itu pada Jhon, bisa jadi kan, Leona?" Tina berusaha membuat Leona menyimak kebohongannya.


"Baru ini aku mendengar suaramu dengan lantang," ucap Tina dengan wajah smirk seraya mengeluarkan bolpoin hitam dari dalam tasnya.


"Memangnya apa yang terjadi dengan kematian orang tua asuh Leona?" tanya nyonya Elizabeth.


"Tuan Jhon meninggal dengan luka gorokan di leher, nyonya Kate di duga depresi, mabuk dan membunuhnya, lalu saat di penjara nyonya Kate bunuh diri."


Ada nada gemetar saat Tina menuturkan perihal kematian sahabatnya itu.


"Wah saya sangat menyesal mendengarnya, semoga arwah mereka tenang di alam sana," ucap Nyonya Elizabeth.

__ADS_1


"Boleh saya menumpang ke kamar kecil?" tanya Dita yang sedari tadi menahan buang air kecil.


"Oh tentu, silahkan masuk ke dalam lurus lalu belok kanan," ucap Nyonya Elizabeth menunjukkan jalannya ke arah dalam rumahnya.


"Terima kasih." Dita berdiri dan beranjak menuju kamar mandiri rumah itu.


"Hai Cintya toilet di mana ya?" tanya Dita mengejutkan Cintya.


"Oh nona, ka-kamu sedang apa di sini?" tanya Cintya dengan nada terkejut ketakutan seolah menyembunyikan sesuatu.


"Aku mau ke kamar mandi," sahut Dita.


"Di sebelah sana!" tunjuk Cintya.


"Oke terima kasih." Dita segera masuk ke dalam kamar mandi.


Cyntia membawa nampan berisi air minum dan kue kering untuk cemilan ke teras tadi.


Dita yang selesai menuntaskan hajatnya membuka pintu kamar mandi dan terkejut melihat sosok hantu yang mengejutkannya.


"Pak Herdi ih ngagetin aja kirain ada pocong lain di sini," ucap Dita menepuk lengan Pak Herdi.


"Eh Ta, nanti jangan kamu minum ya minuman tadi, perempuan itu membubuhkan sesuatu ke dalamnya," ucap Pak Herdi, mengadu memberitahukan Dita.


"Lho terus nanti Tante Dewi sama Tina gimana?" Dita segera melangkah cepat ke arah teras tapi langkahnya terhenti.


"Duh... kalau mau berhenti bilang-bilang dong, Ta!" Pak Herdi menabrak Dita saat melompat-lompat di belakang Dita.


"Sssttt... tuh dengerin deh." Dita mengendap-endap ke arah sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka.


"Astagfirullah... Mereka di ajari untuk membunuh, anak-anak ini belajar untuk menjadi psycopat," gumam Dita lirih.


"Apa yang anda lakukan di sini?" Cintya menegur Dita dan mengejutkannya.


"Ummm maaf sepertinya saya tersesat." sahut Dita asal berbohong lalu bergegas menuju teras bergabung dengan tante Dewi dan Tina.


"Silahkan duduk dan minum teh serta biskuit buatan kami nona," ucap Nyonya elizabeth mempersilahkan Dita.


"Terima kasih," sahut Dita.


"Tante Dewi ayo kita pulang!" ajak Dita.


"Kenapa Ta? saya kan mau urus adopsi Leona. Oh iya Leona pokoknya kamu tenang aja, saya akan mensejahterakan pendidikan kamu dengan layak," ucap Tante Dewi.


"Tante ayo kita pulang!" Dita merengek kali ini sambil mengguncang tangan Tante Dewi.


"Apaan sih Ta, sikap kamu macam Anta aja sih, gak jelas gitu!" Tante Dewi menggerutu.


"Minum dulu nona," pinta Nyonya Elizabeth.


"Tidak usah, terima kasih."


Dita mencoba menolak secara halus. Tina mencoba berdiri, akan tetapi dia limbung dan jatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Nyonya Tina, nyonya Tina..." Dita mencoba menyadarkan Tina dengan mengguncang tubuhnya. Tak lama kemudian hal yang sama juga menimpa tante Dewi.


"Tante...!!!" pekik Dita.


"Dia sudah tau terlalu banyak," ucap Cintya pada nyonya Elizabeth.


"Apa yang kalian lakukan terhadap mereka?!" bentak Dita.


"Hmmm... kami hanya ingin membuat mereka menjadi penurut, dan mau menuruti apapun yang kami minta, begitu juga dengan dirimu, kuharapkan kerja sama yang baik ya..." Nyonya Elizabeth tertawa dengan wajah lembut yang berubah jadi jahat.


Para anak kecil menahan Dita dan membuatnya duduk di kursi dalam rumah. Mereka mengikat tagan dan kaki Dita dengan kencang dan kuat.


"Siapkan serum penetralannya, cuci semua pikiran mereka!" ucap Nyonya Elizabeth dengan tegas memberi perintah.


"Halo tante... ada hal yang pastinya ku inginkan darimu, kembalikan rumah Tuan Jhon! kalau tidak..." ucap Leona dengan nada ancaman di sana.


"Kalau tidak kenapa, hah?!" Dita membalas ucapan Leona.


"Kalau tidak... aku akan membuat Anta seperti Granny Rose hahahaha..."


"Jadi benar dugaanku, kau pembunuh nenek Rose, dia meninggal karena ulahmu bukan karena kelalaian Jerry, dasar anak iblis!" pekik Dita.


"Wow benar-benar sanjungan yang membanggakan, Oh iya kalau ku pikir-pikir, tuan Anan tampan juga ya..." Ucap Leona sambil tertawa.


"Hei kau itu baru berusia delapan tahun, tak pantas rasanya bersikap genit seperti itu pada suami ku!" bentak Dita.


"Aku delapan tahun? hahahaha kau salah... usia ku sudah lima belas tahun di tahun ini, hanya saja aku di karunia wajah seperti bayi, cantik kan aku?"


"Cih... cantik seperti wajah iblis saja bangga, menjijikkan!" sahut Dita membuat Leona kesal dan menampar pipinya kali ini dengan keras.


"Ckckckc sabar Leona, kita masih butuh tanda tangannya untuk mengembalikan rumahmu, setelah itu, terserah mau kau habisi atau kau buang ke jurang itu terserah padamu," ucap Nyonya Elizabeth menyentuh kedua bahu Leona.


Keduanya tersenyum saling menatap bergantian dengan menatap Dita layaknya sebuah boneka yang siap mereka mainkan.


Pak Herdi masih menyimak, dia belum mau yang lain merasakan kehadirannya. Pak Herdi menunggu mereka meninggalkan Dita lalu dia akan mulai membebaskan Dita.


"Ayo kita siapkan dua perempuan tadi untuk cuci otak," ucap Nyonya Elizabeth membawa Leona pergi lalu meninggalkan Dita sendiri.


"Lepaskan ikatan ku pak, kita harus segera menolong Tante Dewi dan Tina."


******


Masih bersambung ya guys...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST (UP)


-          Kakakku Cinta Pertamaku


season 1 END


-          9 Lives (END)

__ADS_1


-          Gue Bukan Player (END)


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2