Pocong Tampan

Pocong Tampan
Hari Pertama dengan Tania


__ADS_3

"Sekarang tutup cepet kang kolamnya?" Dita bertanya pada Kang Ujang yang merapikan sekitar.


"Kalo untuk umum memang tutup cepat neng, tapi kadang para atlet renang suka menyewa jam malam disini yah sekitar jam tujuh."


"Kalo sekarang gak ada dong berarti."


Akang Ujang mengangguk.


"Neng Anita kemana?"


"Beli nasi goreng sama Doni tadi."


"Aduh anak itu, pacaran aja kerjanya."


"Loh memang Doni dan Anita pacaran kang?"


"Ya gitu kali neng, akang tinggal yak, berani kan?"


"Berani tenang aja." sahut Dita tersenyum.


cring cring


Anan muncul di samping Dita


"Kamu yakin tinggal di sini?" tanya Anan.


"Menurut mu? disini kan gratis Nan."


Jawab Dita memainkan gelang ditangannya.


"Kamu gak takut sama dia." Anan menunjuk arah hantu perempuan itu berada.


"Tania..., sepertinya dia baik hanya saja dia butuh teman, oh iya aku jadi inget foto dia bersama pak Herdi."


Dita menghampiri Tania.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Tania.


"Kan kamu bisa cantik juga, meski masih pucet sih di liatnya, kalo di dandanin cantik deh." Dita mencoba melucu namun gagal Tania tetap melotot ke arahnya.


"Kenapa kau ganggu rumahku?" Tania maju berusaha mencekik Dita.


Anan langsung menghampiri Dita menepis tangan Tania yang sudah berada di leher Dita


"Kau sakiti dia, maka kau hadapi aku!" sahut Anan dengan tegas.

__ADS_1


"Hahahaha apa hak mu terhadapnya, kau hanyalah hantu yang tak tau arah sama sepertiku kan? tak tau asalmu tak tau tujuanmu, ya kan?" Suara Tania lantang kali ini.


Anan terdiam, perkataan Tania memang ada benarnya.


"Aku tau tujuanku sekarang, tujuanku adalah melindunginya." Anan menunjuk ke arah Dita.


Dita yang masih memegangi lehernya yang sakit terperanjat dengan perkataan Anan.


Entah kenapa ada kebahagiaan mendengar ucapan Anan tapi Dita juga sedikit takut.


"Ta, makan nasi goreng dulu yuk." Suara Anita di sebrang sana memanggil Dita.


Dita masih memandangi Anan dan Tania yang masih bertatap mata saling melotot.


Dita beranjak pergi dari keduanya menghampiri Anita.


***


Anita sudah terlelap di pembaringannya, sementara Dita masih terjaga.


Dita menuju dapur mencari air dingin di kulkas sana. Sebenernya fasilitas didalam rumah ini sangat layak untuk di tempati. Pak Herdi memberikan Dita kulkas, kompor gas, rak piring, TV dan kipas angin, sama seperti rumah mess yang ditempati kang Ujang dan Doni.


"Astagfirullah kamu mah ngagetin aja, kenapa kamu mau cekek aku lagi?"


Kini Dita mulai berani berbicara dengan Tania seperti layaknya manusia biasa.


"Takut sih tapi aku lebih takut sama Allah lagian ada Anan tuh yang jagain aku."


"Kalo dia sudah memiliki mu, lalu bolehkah sahabatmu Anita itu kumiliki." Tania menyeringai menatap Anita.


"Heh macam-macam kau dengannya awas yak!" Dita mencoba mengancam Tania.


Tania tertawa cekikikan pergi menjauh namun Dita menahannya.


"Tania, apa kau tak ingat dengan Pak Herdi?" tanya Dita penasaran.


"Sudah kubilang aku tak tahu apapun kenapa aku masih disini bergentayangan." jawab Tania ketus.


"Tapi aku melihat fotomu bersamanya."


"Benarkah? Apa boleh kulihat?"


Tania sepertinya sudah membuka hatinya berteman dengan Dita dengan berbicara lebih lembut.


"Tidak ada di tanganku sekarang tapi ada di laci mobilnya."

__ADS_1


"Apa kau membohongi ku..??" Tania terdengar geram.


"Apa aku terlihat sedang berbohong? justru aku penasaran makanya aku bertanya."


ucap Dita ketus kali ini.


"Bawa pada ku foto itu mungkin aku bisa mengingat sesuatu." Tania menghilang setelah mengucapkannya.


Dita kembali naik ke kasurnya berbaring disamping Anita. Terdengar suara orang yang berjalan berkeliling, mungkin saja satpam kolam atau pak Ujang yang sedang berpatroli.


Pukul satu dini hari. Dita mencoba memejamkan mata namun sulit.


"Apa kau mau ku tiduri?" tanya Anan dengan polosnya.


"HAH... ??? gilak apa memangnya kau suamiku mau meniduriku, dih amit-amit, mesum kali otak mu itu." sahut Dita kesal.


Anita mengerang di sampingnya mencoba meregangkan otot tubuhnya namun tetap tertidur dan Dita menepuk-nepuk punggung Anita agar tetap tertidur.


"Maksud ku seperti itu, membuat mu tertidur."


Anan memperhatikan sikap Dita yang sudah seperti seorang ibu yang membuat anaknya terlelap.


"Oh maksudnya ini, jangan bilang meniduri dong, bilang mau tepuk punggungku atau membelai rambutku gitu."


"Berarti kamu yang otaknya mesum." sahut Anan.


"Huuu." Dita memonyongkan bibirnya ke arah Anan mencibirnya.


Anan menghampiri Dita duduk disamping kasur Dita lalu mencoba menepuk-nepuk agar Dita tidur.


"Anan..." ucap Dita.


"Ya... kenapa?" sahut Anan


"Kok pantat aku sih yang kamu tepuk."


"Eh maaf."


Tangan Anan sudah berpindah menepuk punggung Dita sekarang.


***


To be continued...


Happy Reading ...

__ADS_1


Vote nya jangan lupa please 💃💃😘😘


__ADS_2