
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Doni, kamu tuh ya di cariin dari tadi malah ngilang terus." tegur Shinta pada Doni yang membawa sekantong belanjaan di tangannya.
"Apaan tuh Don?"
"Ini titipannya pak Bos kak, aku lagi belajar jadi asisten dia kak."
"Wow suka banget aku dengernya, kamu pepet terus pak bos yah, kamu ceritain yang baik-baik tentang aku." ucap Shinta penuh percaya diri sambil meraih satu bungkus Chiki dan teh dingin dalam kemasan botol milik Dita.
"Yah, kak jangan diambil dong!" Doni mencoba meraih apa yang Shinta ambil.
"Emang kenapa sih? tinggal bilang aja kalau aku yang ambil, nanti juga pak bos gak marah percaya deh, thanks Doni." ucap Shinta seraya berlalu meninggalkan adiknya.
"Hmmm nasib punya kakak egois kaya gini nih." Doni bergegas menuju ruangan tempat pemotretan tadi.
"Nah ini dia orangnya dari tadi ditungguin juga." ucap Anita saat melihat Doni hadir.
"Maaf ya maaf tadi aku ketemu kak Shinta, Chiki kak Dita sama tehnya diambil, maaf ya kak."
"Ya ampun... minta di santet kali kakak mu Don." sahut Anita.
"Udah biarin aja masih ada punya ku makan aja yak." Anan memberikan Chiki dan minumannya ke Dita.
"Tapi nanti kamu gak makan, lagian kenapa sih Don, Shinta punya bakat tukang palak, nanti kalau dia palak Anan aku gimana?" Dita menekuk wajahnya.
Anan memeluk Dita yang duduk dihadapannya membenamkan wajah Dita pada bagian perutnya yang membuat para kaum hawa bergejolak darahnya memanas begitu pula Dita. "Gak akan ada yang bisa malak aku dari kamu." ucap Anan sambil membelai kepala Dita.
Doni menggigit - gigit ujung bungkus chikinya sementara Anita sedari tadi menepuk - nepuk bahu Doni kegirangan.
"Hihihihi lucu." sahut Citra menunjuk Dita dan Anan.
"Eh iya ada anak kecil lupa." Dita buru-buru mendorong Anan.
"Yah gak jadi adegan romantis lagi Don, lupa kita ada citra." sahut Anita menepuk bahu Doni kembali yang meringis dari tadi kesakitan.
"Citra cepet banget susu segede gaban gitu di abisin ckckckc." ucap Dita.
"Ada lagi gak kak?" tanya Citra sambil tertawa cekikikan.
"Hadeh... beliin lagi Don!" seru Anan menyodorkan uang ke Doni.
__ADS_1
"Aku balik lagi nih Pak?" tanya Doni.
"Iya siapa lagi masa aku nyuruh Anita, kali ini elo beli 5 kotak gede sekalian biar citra kenyang."
"Haduh... iya deh Pak, saya pergi sekarang."
"Doni, kali ini jangan sampe kena palak kakak kamu lagi!" sahut Anita geram.
"Iya, nanti aku ngumpet kalau ketemu kak Shinta." Doni keluar dari ruangan itu kembali menuju minimarket tadi.
"Nah Citra yang cantik, ayo cerita kan tadi udah janji."
"Gak mau, susu cokelatnya dulu."
"Yaa Allah ampuni Dita, ini boleh gak ya anak kecil ini saya unyeng-unyeng kepalanya hadeh gemes mau nanya doang bisa seharian ini di kerjain citra." ucap Dita gemas.
"Sabar Ta, orang sabar..."
"Pantatnya lebar kan? ogah aku kalo pantatnya lebar." sahut Dita segera memotong ucapan Anita.
"Mau datang bulan ya Ta, emosian gini tumben?" tanya Anan.
"Asik kakak mau di datengin bulan, aku mau lihat bulannya." sahut Citra sambil bertepuk tangan dengan senang.
"Ya ampun dek, bukan bulan yang itu." sahut Anan.
"Terus bulan apa om?"
"Ah pusing deh bulan apa."
"Gak mau! kakaknya jahat huaaaaaaa." wajah Citra berubah memerah mengeluarkan darah sama seperti wajah menyeramkan sebelumnya.
"Sabar Nit, sabar orang sabar...."
"Pantatnya lebar, iya aku tau, nyolot juga nih lama-lama ya bocah." Anita gantian kesal memotong ucapan Dita barusan.
"Citra mau nya apa sih?" tanya Dita
"Aku maunya om bule itu, om bule itu udah nabrak Citra!"
"APA?" sahut Dita, Anan dan Anita bersamaan."
*** Flashback ***
Paul yang mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi dan terburu-buru, tak sengaja menyerempet Citra yang sedang asik bermain sepeda di teras rumahnya. Paul menghentikan laju mobilnya segera saat melihat Citra terjatuh dari kaca spion, karena panik demi mengejar karirnya Paul terpaksa meninggalkan Citra tergeletak begitu saja. Kepala Citra terbentur cukup keras dan tubuhnya jatuh ke parit selokan.
Karena kondisi perumahan yang sepi, dan Citra tergeletak cukup lama dengan mengeluarkan banyak darah akhirnya setelah di temukan ibunya, Citra dilarikan kerumah sakit namun nyawanya tak tertolong.
Keesokan hari setelah kecelakaan Citra Paul pergi, dia pulang ke negaranya di Kanada melupakan kejadian naas yang menimpa Citra. Semenjak itu Citra mengikuti kemana Paul pergi, jika Paul merasa sakit di bagian leher atau punggung itu berarti Citra ada disana untuk mengingatkan perbuatannya yang tak kunjung Paul ingat atau sengaja ia lupakan.
***
__ADS_1
Citra tiba-tiba menangis memeluk Dita.
"Aku kangen mama kak."
"Iya kakak tau." Dita ikut menangis begitu juga dengan Anita.
Meskipun kedua mata Anan sudah berkaca-kaca namun ia mencoba bertahan agar tak menangis.
"Aku datang...." sahut Doni membuka pintu ruangan itu dengan menjinjing kantong besar berisi kotak-kotak susu.
"Aku mau susu kak." sahut Citra
Doni memberikan lima kotak susu pada Citra yang langsung di minumnya habis tak bersisa.
"Aku pikir yang badannya kecil rakus suka makan banyak cuma Dita, taunya nih bocah juga luas perutnya kaya Dita hehehe." ucap Anita.
"Sembarangan kalo ngomong, dirimu juga makannya banyak." sahut Dita.
"Jadi terus gimana ini?" tanya Anan
"Kita kasih tau Tante Dewi, biar Citra di jagain sama Anita da Doni."
"Tapi aku mau kembali sama om bule." sahut Citra.
"Ya udah Nit kamu sama Doni anter dia ke tempat si Paul aku nyari Tante Dewi ya?" ucap Dita.
"Oke, tapi carinya kemana?"
"Coba Nan telepon Tante Dewi." ucap Dita.
"Bentar aku coba ya telepon Tante ya." sahut Anan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Tante Dewi.
Beberapa menit kemudian setelah Anan selesai menelepon Tante Dewi.
"Pas banget, Tante lagi sama Paul di restoran pasta, ayo kita kesana." ajak Anan.
"Asik makan pasta, aku mau Nan." pinta Dita.
"Aku juga Nan." sahut Anita
"Kamu gak mau Don?" tanya Dita pada Doni.
"Memangnya aku boleh ikut?"
"Ikut doang mah boleh Don." sahut Anan.
"Becanda Don, ikut makan juga boleh gue yang traktir." ucapan Anan membuat Doni tersenyum sumringah.
Anita menggandeng tangan Citra mengikuti Anan dan Dita dari belakang bersama Doni ke parkiran mobil Anan.
***
__ADS_1
to be continued...
happy reading...