
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading 😊😊😊
*****
Anan menemani Dita dan Anta berada di rumah makan yang menyediakan ayam panggang yang sesuai dengan permintaan Anta.
"Bunda Anta mau pipis," ucap Anta.
"Ih beser banget dah ah, ayo ke toilet, bentar ya Nan aku anter Anta ke toilet, kamu lihat-lihat aja contoh model kedai di laptop, pakai wi-fi nih rumah makan aja lumayan gratis hehehe," ucap Dita.
"Oke," sahut Anan.
Saat laptop di nyalakan Anan terkejut dengan foto pernikahan Dita yang langsung muncul menjadi wallpaper pada laptop Dita.
"Kok ada gambar gue?" ucap Anan tersentak melihat gambarnya sendiri. Bukannya Anan mencari contoh untuk kedai kecil barunya, ia malah membuka folder yang berisi foto pernikahan Dita dan Anan.
"Oh iya suami Dita kan emang mirip banget ya sama gue, makanya sama persis sama gue, coba apa ada bedanya ya sama gue?" gumam Anan memperhatikan fotonya sendiri tanpa sadar.
Anan juga melihat foto-foto Anta saat lahir dan masih bayi. "Nih anak gemesin banget ya," gumam Anan.
Seorang pelayan mengantarkan makanan yang sudah di pesan Dita tadi dan meletakkannya di hadapan Anan. "Makasih ya mba," ucap Anan.
"Gimana udah nemu yang cocok model kedainya buat di pesen?" Tanya Dita mengejutkan Anan yang buru-buru mengklik browser dan mengetik toko pembuatan kedai atau stand untuk dia membuka usaha bersama Andri.
"Belum nih mau yang mana, mungkin elo bisa bantu milih, atau Anta aja yang pilih yang mana yang paling bagus Ta?" tanya Anan.
"Anta makan dulu ya, Anta laper," ucap Anta yang di balas tawa oleh Anan.
"Lucu banget sih Ta, kecil-kecil tua nih!" Anan mencolek pipi Anta.
Satu jam kemudian setelah selesai makan dan berhasil memilih kedai, Anan mengajak Dita menuju toko pembuatan kedai menaiki sebuah taxi online yang Anan pesan.
Sesampainya di sebuah gudang pembuatan kedai, Anan bertemu dengan seorang pria pembuat kerajinan dari kayu. Anan menunjukkan sebuah model kedai yang dia inginkan.
"Wah kalau ini kayaknya seminggu nih jadinya ya, itu juga udah paling cepet, gimana mau?" tanya si pengrajin pada Anan.
Anan menatap Dita yang mengangkat kedua bahunya. "Terserah," ucap Dita.
"Ya udah dek pak, saya boleh lihat jenis kayu dah cat warnanya gak pak?" tanya Anan.
"Oh silahkan." ucap si bapak itu.
"Bunda liat deh itu si kakak ngapain sih berdiri di situ?" ucap Anta menunjuk sosok perempuan berwajah pucat memandang ke arah Anta dan Dita. Sosok perempuan itu berambut panjang se pantat memakai gaun warna putih yang terlihat lusuh dan penuh darah di bagian perutnya. Sosok yang di tunjuk Anta tadi lalu duduk di tepi sumur tua dan menjatuhkan dirinya ke dalam sumur tua tersebut.
"Aaahhh bunda tolongin kakaknya...!!" teriak Anta membuat Anan dan bapak tadi terkejut dan menghampiri Anta dengan panik.
"Kenapa Ta?" tanya Anan menatap Dita dan Anta bergantian.
"Anta lihat hantu Nan, di sumur tua itu," ucap Dita menutup mata Anta agar tak melihat ke arah sumur tua tadi.
"Hantu...?" tanya bapak si pengrajin.
"Ummm maklum pak, kalau anak kecil suka liat penampakan yang mau iseng gitu," sahut Anan.
"Tolongin kakaknya bunda dia masuk ke sumur itu," ucap Anta merengek.
Bapak itu tiba -tiba mengambil sesuatu dari laci di sudut ruangan dekat pintu.
"Apa yang kamu lihat wajahnya sama sepertinya?" tanya si bapak pengrajin.
Dita dan Anta mengangguk bersamaan.
"Kalian bisa melihat Yuju?" tanya nya.
"Namanya Yuju pak?" tanya Dita.
"Iya dia anak saya," ucapnya dengan raut wajah sedih.
"Maaf pak sebelumnya, apa dia meninggal di dalam sumur?" tanya Dita.
"Iya, dia bunuh diri dengan menusuk perutnya sendiri lalu terjun ke dalam sumur," ucapnya tanpa sadar berlinangan air mata jatuh ke pipinya.
__ADS_1
"Maaf pak, bukan maksud kami membuat bapak sedih," ucap Anan.
"Gak apa tuan, saya juga sering denger para tetangga sering denger suara tangisan bahkan ada yang liat penampakannya dekat sumur yang sudah lama tak terpakai itu, tapi saya malah gak pernah bisa lihat anak saya," ucapnya dengan mimik wajah sedih.
"Masih ada Ta?" tanya Anan.
"Udah gak ada sih," jawab Dita.
"Ya udah pak, kita lanjut aja ke dalam buat lihat contoh kayunya," ucap Anan.
"Iya Tuan, nyonya mari ke dalam, saya jadi larut dalam kesedihan saya lagi jadinya," ucap si bapak mempersilahkan Anan, Dita dan Anta untuk masuk.
Saat Bapak Junu si pengrajin menjelaskan tentang tipe kayu dan warna pada Anan, Anta tak sengaja menyentuh lukisan yang tertutup kain dan terbuka tirai putihnya karena tertarik Anta.
"Bunda kakak ini jahat," ucap Anta menunjuk pigura lukisan Yuju yang di apit oleh seorang perempuan dan laki-laki.
"Maksud Anta?" tanya Dita.
"Iya kakak ini jahat," ucap Anta sekali lagi menegaskan.
Pak Junu menoleh pada Anta.
"Lukisan yang mana yang jahat?" tanya Pak Junu menghampiri Anta.
"Yang ini," Anta menunjuk sosok perempuan yang berada di samping Yuju pada lukisan itu.
"Masa jahat sih, itu adiknya Yuju, tapi sekarang sudah di negara barat bersama suaminya yang itu," ucap Pak Junu menunjuk pria di sebelahnya.
"Udah Ta, yuk bantu bunda tutup lagi lukisannya," pinta Dita yang menutup lukisannya lalu tiba-tiba Dita jatuh tak sadarkan diri.
Anan segera menghampiri Dita dengan wajah panik.
***
Dua tahun yang lalu.
Dita tersadar dan berada di sebuah ruangan dapur namun ia yakin jika dapur tersebut ada di dalam rumah ini.
"Yuju..." gumam Dita mencoba menyapa Yuju tapi ia tak melihat maupun menyadari keberadaan Dita. Yuju menggenggam sebuah pisau tajam sambil memotong apel.
"Eh Yuna ini lho kakak mau buat manisan apel buat Jhon," ucap Yuju.
Jhon, pria bule yang fotonya banyak terdapat di kamar Yuju itu akan segera datang ke rumah.
"Buat Jhon?" tanya Yuna.
"Kakak jadi nikah sama Jhon?" tanya Yuna.
"Pasti jadi dong, hari ini dua datang mau melamar kakak, apalagi ummm ini..." Yuju mengusap perutnya dan menunjukkannya pada Yuna.
"Maksud kakak? kakak hamil?" tanya Yuna penasaran.
"Ia, udah dua bulan, jangan bilang papa ya, nanti papa pasti marah sama kakak," ucap Yuju.
Yuna memaksakan untuk tersenyum tulus saat menghampiri kakaknya dan memberi ucapan selamat pada Yuju.
"Kak kita ke taman yuk buat manisannya di sana aja!" ajak Yuna.
Yuju pun mengiyakan dan mengikuti Yuna menuju taman yang berada di samping sumur tua.
"Yuna gak ngerti deh kenapa sumur ini di tutup ya?" tanya Yuna.
"Mungkin mata airnya kering," ucap Yuju.
"Masa sih, perasaan kayak ada airnya gitu kak," ucap Yuna membuka tutup sumur tua tersebut.
"Coba aja kakak liat, sini aku yang gantiin potong apelnya," pinta Yuna.
Yuju menurut dan menghampiri sumur tersebut tanpa curiga sedetik pun pada adik kesayangannya itu.
Yuna mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dab menyentuh pisau tersebut lalu menghampiri kakaknya.
"Ada air nya sih tuh Yuna cuma sedikit kayaknya," ucap Yuju dan membalik badannya menoleh ke arah Yuna dan...
__ADS_1
Jleb...
Yuna menghunuskan pisau tersebut ke perut kakaknya sampai dalam dan memutar-mutarnya. Dari mulut Yuju keluar darah segar bersamaan dengan wajah yang tak menyangka akan perbuatan adik satu-satunya yang dia sayangi itu.
"Kakak tau, sampai akhir hayat mama dia lebih sayang sama kakak dan papa juga lebih menyayangi kakak daripada aku, dan Ada lagi Jhon... dia sahabat ku yang sudah ku sukai sejak lima tahun lalu tapi kakak merebutnya dari ku, cukup kakak ambil kasih sayang mama dan papa tapi tidak dengan Jhon," ucap Yuna menusukkan pisaunya lebih dalam.
Yuna menaruh ke dua tangan Yuju di atas pisaunya dan menusukkannya lagi sampai Yuju tak bernyawa lagi. Yuna menjatuhkan Yuju ke dalam sumur beserta pisau yang digunakan sebagai senjata.
Terdengar suara mobil Jhon yang sudah sampai, Yuna buru menghampiri Jhon.
"Hai Yuna, mana Yuju? tanya Jun.
"Tadi pergi sama papa, kamu duduk aja dulu aku ambilkan minum," ucap Yuna dan Jhon menurutnya tanpa curiga sedikitpun dengan apa yang menimpa Yuju.
Yuna memberikan air kepada Jhon yang langsung di minum.
"Habiskan dong, karena setelah ini kau hanya mencintaiku dan menurut kepadaku," gumam Yuna dengan raut wajah bahagia.
***
Dita tersadar dari bayangan penglihatannya tentang kematian Yuju.
"Ini nak minum dulu," ucap Pak Junu membawa secangkir teh hijau untuk Dita.
"Anta bener Nan, perempuan di lukisan itu jahat," ucap Dita.
"Maksud nak Dita apa ya?" tanya Pak Junu.
"Maaf saya bukannya mau menakuti tapi... sebaiknya bapak bertemu dengan Yuju sendiri," ucap Dita lalu menghampiri hantu Yuju yang tiba-tiba hadir.
"Yuju saya sudah tahu semua yang menimpa kamu, sekarang pegang pundak saya, dan bapak Junu tolong pegang tangan saya," pinta Dita.
Anan masih tak mengerti dengan apa yang Dita lakukan, dia duduk sambil merangkul bahu Anta.
"Yuju..." Ucap Pak Junu sambil menangis saat melihat penampakan Anaknya sambil menangis.
Anan menutup telinga Anta kala Dita dan Yuju menceritakan kisah tragisnya yang di bunuh oleh adiknya sendiri hanya demi laki-laki.
"Papa janji Yuju, papa janji akan membuat Yuna bertanggung jawab atas kematian kamu," ucapnya sambil terisak.
Yuju memeluk ayahnya dengan erat.
"Yuju ikhlas pa, biar bagaimanapun Yuna adik aku, dan mungkin jika harus menghilangkan nyawaku dapat membuatnya bahagia, Yuju ikhlas, aku cuma mau papa tau kebenarannya, sekarang aku bisa tenang, aku tak lagi menangis sedih karena ingin bertemu papa, sekarang papa sudah bisa melihatku. Yuju pamit ya pa, dan biarkanlah Yuna bahagia bersama Jhon," ucap Yuju lalu menghilang.
"Yuju.....!!!"
Dita lalu merasa sangat lemas kehilangan tenaga dan buru- buru duduk di samping Anan. Sementara Pak Junu makin menangis meratapi nasib yang menimpa Yuju.
"Minum Ta," ucap Anan menyodorkan teh hijau pada Dita yang langsung di minum habis oleh Dita.
"Ya bunda, masa Anta gak di sisain, Anta kan juga mau," ucap Anta menghentikan tegukan Dita.
"Nih masih sisa dikit," Dita menyodorkan cangkir tersebut yang langsung di teguk Anta sisanya.
*****
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
To be continued...
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All 😘😘😘