
Jangan lupa di LIKE, KOMEN dan pastinya VOTE ya, VOTE please... 😊😁
Episode tambahan untuk mengobati rindu kalian pada Pocong Tampan.
(Aseeeeeekkk... bisa ae Thornya...)
Happy Reading.
*******
Tante Dewi menggenggam tangan Anta memasuki sebuah kedai makanan yang menjual mie ayam dan bakso. Sementara Andri masih mengikuti mereka di belakangnya.
Tante Dewi menoleh ke belakang, melirik tajam pada Andri yang membalasnya dengan senyuman lebar menunjukkan giginya yang berderet rapih.
"Mau ngapain ikutin kita?" tanya Tante Dewi pada Andri.
"Mau ikut makan lah, boleh ya Anta?" Andri melirik Anta.
"Boleh, tapi Om yang bayar," sahut Anta.
"Siap, beres itu mah."
Bibir Tante Dewi terlihat maju beberapa senti mencibir Andri.
Langkah Tante Dewi terhenti sebelum memasuki kedai mie ayam dan bakso dengan papan nama bertuliskan "Rasa Bintang".
Andri yang sedang fokus melihat layar ponselnya menabrak punggung Tante Dewi tak sengaja sampai memeluknya.
"Hisss nih Onta modus banget sih!" ketus Tante Dewi.
"Habisnya kamu berhenti mendadak seperti itu, gak bilang dulu mau berhenti, emang ada apaan sih?" tanya Andri.
"Coba kamu liat dulu Nta, ada yang aneh gak sama kedai ini, pake penglaris apa enggak?" bisik Tante Dewi ke arah telinga Anta.
Anta melihat sekeliling kedai dengan seksama, Lalu menunjuk ke arah suatu tempat yang langsung ditepis Tante Dewi.
"Jangan ditunjuk Anta, kamu ih gimana sih, kan udah Tante ajarin, biasa aja kalau lihat hal gaib," bisik Tante Dewi.
"Ada apaan sih? tunggu bentar ya aku mau beli cendol ungu yang kekinian itu di sebelah, bentar ya..." Andri melangkah menuju ke kedai sebelah di hadapan mereka.
"Kamu lihat apa, Nta? Tukang bakso pakai penglaris ya?" tanya Tante Dewi masih berbisik, padahal sedari tadi pelayan perempuan kedai bakso tersebut sudah menyodorkan buku menu ke arah Tante Dewi.
__ADS_1
"Bakso ini gak ada hantu aneh-aneh, tuh cendolnya, ada kakek-kakek gak pakai baju lagi netesin lendir warna ijo dari hidung, telinga, mulut ke dalam kendi air cendol yang gede itu," ucap Anta yang menjawab dengan berbisik juga.
"Hah? Cendol itu? Waduh si Andri main sedot habis aja tuh cendol segelas," ucap Tante Dewi yang akhirnya meraih buku menu dari tangan si pelayan tadi.
Anta memilih duduk di kursi kayu yang terletak di sudut kedai. Di samping tempat duduk mereka terdapat teras yang di bagian tengahnya ada air mancur dengan patung seorang dewi dari kisah-kisah Dewi Yunani.
Tante Dewi mengikuti Anta. Mereka lalu melakukan pemesanan makanan segera. Rasa lapar sudah menjangkiti keduanya sedari tadi.
Tak lama kemudian Andri sudah membawa tiga gelas plastik berisi cendol dawet ungu yang kekinian itu. Es cendol ungu itu memang menjadi salah satu kuliner favorit di pameran tersebut.
"Aku bawa cendol ungu yang lagi hits nih," ucap Andri dengan wajah bangga dan meletakkannya di atas meja.
"Huek... Aku gak mau ah, buat kamu aja ihhh..." sahut Tante Dewi menyodorkan kembali gelas plastik itu ke arah Andri.
"Kenapa sih, enak tau, bawaan bayi nih jangan-jangan. Kalau gitu buat kamu aja nih Anta." Andri menyodorkan ke arah Anta.
"Enggak mau! Anta gak mau minum es nanti gigi Anta sakit," ucap Anta melirik ke arah Tante Dewi yang menahan tawanya.
"Ih pada kenapa sih, ya udah aku yang ngabisin aja," ucap Andri.
"Pindah tempat kalau mau nekat ngabisin cendol itu!" seru Tante Dewi.
"Ya udah lah aku taro bawah meja aja. Udah pada pesen belom?" tanya Andri.
"Astaga, banyak bener pesenannya, ini porsi ibu hamil apa?" tanya Andri yang melihat dua porsi bakso urat, satu porsi mie ayam, satu porsi es campur, satu jus mangga, satu jus tomat, satu porsi bakso goreng, dua air mineral di atas meja.
"Bukan pesanan aku semua, aku mah cuma bakso sama jus tomat, air mineral," sahut Tante Dewi.
"Ini sisanya?" tanya Andri.
Tante Dewi menunjuk ke arah gadis kecil di sampingnya. Dengan lahapnya Anta menyantap mie ayam terlebih dahulu seraya tersenyum pada Andri.
"Duh, Anta makannya banyak banget, nanti gemuk lho," ucap Andri.
"Yang aku tahu, Dita juga makan banyak banget tapi gak gemuk, kayaknya gen di tubuh Anta mirip Dita deh," ucap Tante Dewi.
Andri masih saja berdecak tak percaya seraya memanggil si pelayan untuk memesan menu tersebut. Pria itu memesan satu mie ayam dengan bakso telur dan air mineral.
"Eh kamu banyak banget sih itu sambelnya, jangan pedes-pedes kasian dedek bayi di dalam perut kamu," ucap Andri yang mencoba melarang Tante Dewi menuang sambal terlalu banyak ke dalam mangkuk itu.
"Enggak enak kalau gak pedes tau!" Tante Dewi menatap Andri dengan tajam.
__ADS_1
Pandangan Anta lalu beralih seraya menyantap makanannya. Gadis kecil itu melihat sosok anak kecil yang bergelantungan di atas teras itu. Sosok anak kecil itu pastilah hantu karena di bagian kepalanya terbelah sampai ke arah hidung seperti terkena tebasan benda tajam.
Sosok hantu itu memakai daster putih yang warnanya lusuh. Noda bercak darah menyelimuti bagian dada hantu anak kecil tersebut. Tau ada yang sedang mengamatinya, hantu anak kecil itu melambaikan tangannya ke arah Anta dan dibalas oleh Anta.
Tante Dewi memperhatikan gerak-gerik Anta sedari tadi.
"Anta, kebiasaan nih, kamu pasti lihat hantu ya?" tanya Tante Dewi.
"Hmm... persis ayah ibunya, udah Nta cuekin aja," sahut Andri.
"Itu hantu anak kecil kayak kuntilanak versi kecilnya itu lucu banget, mau lihat gak?"
Anta meraih tangan Tante Dewi yang langsung menjerit spontan mengejutkan semuanya. Ia baru saja diperlihatkan Anta sosok hantu anak kecil yang Anta lihat tadi.
Jadi, jika Anta berkonsentrasi dan berniat menunjukkan sosok hantu yang ia lihat, ia cukup menyentuh tangan seseorang yang mau ia perlihatkan hantu itu.
"Apaan sih?" tanya Andri.
"Anta mah aneh, masa serem kayak gitu dibilang lucu, hadeh..." keluh Tante Dewi.
"Om mau liat gak?" Anta mengulurkan tangannya pada Andri.
"Enggak, enggak usah, makasih. Om mau makan dengan tenang."
Tiba-tiba Tante Dewi merasakan nyeri yang hebat dibagian perutnya.
"Aduh, sakit banget ini...!" pekiknya kesakitan seraya memegangi perutnya.
"Nah lho, aku bilang apa, jangan makan sambal banyak-banyak kan jadi mules tuh, aku anter ke kamar mandi yuk!" sahut Andri.
"Bukan itu, ini sakitnya beda, aduh..." Tante Dewi makin meringis memegangi perutnya.
"Wah, Anta mau ketemu sama Raja, asikkk..." sahut Anta seraya bertepuk tangan.
Andri ingat dengan nama Raja, nama yang diceritakan Doni agar diberikan pada anak yang dikandung Tante Dewi.
"Hah? Raja? Dewi kamu jangan-jangan mau..."
Tante Dewi mengangguk seraya berteriak kesakitan. Kepanikan langsung melanda semua yang ada di kedai tersebut.
*******
__ADS_1
Bayar tulisan Vie dengan VOTE dong, mau ya mau ya, pleaseee... 😁😁😁