Pocong Tampan

Pocong Tampan
Fans nya Anan


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


Di Rumah Sakit XX milik Anan.


"Pagi Tante pagi Anan, sarapan nasi goreng telur dengan daging sapi dan acar timun siap di santap." ucap Dita sambil membawa bekal sarapan untuk Anan dan Tante Dewi.


"Hmmm wangi banget masakannya, makasih ya sayangku." Anan hampir memeluk Dita dari belakang namun Tante Dewi sudah sigap menghalangi Anan.


"Eits mau ngapain hayo?" goda Tante Dewi.


"Eh Tante, aku mah ambil sendok di samping Dita kok."


"Ngeles aja kaya bajaj."


"Bajaj apaan sih Tante?" tanya Anan.


"Hahahaha. bajaj aja gak tau." ledek Dita.


"Ya gitu deh Ta gak pernah pake angkot sama tau kendaraan umum ya gitu deh."


"Ckckckkc kapan-kapan aku ajak naik commuter line deh apa busway keliling Jakarta ya Nan?"


"Asik... sekarang aja yuk Ta." pinta Anan.


"Eh no no no no. Kita mau ketemu klien Nan buat iklan promosi terbaru rumah sakit kita lho."


"Yah... besok ya Ta." rengek Anan.


"Kaya bocah ih lama-lama gemesin banget sih kamu Nan." Dita mencubit pipi Anan dengan gemas. Anan membalas mencubit pipi Dita penuh sayang.


"Ampun deh kalian ini bucin banget sih." Tante Dewi kembali memisahkan Anan dan Dita.


"Ganggu banget nih Tante." protes Anan.


"Ta sini deh." ucap Anita yang sudah berada di ruang kerja dokter Dewi.


"Aku keluar dulu yak, sarapannya di habisin yak." ucap Dita.


"Makasih ya Ta." ucap Anan dan Tante Dewi kompak.


"Kenapa Nit?" tanya Dita.


"Dicariin sama Andri nih."


"Gawat Ta, kamu harus ikut aku sekarang." ajak Andri.


"Kenapa Ndri?" tangan Dita ditarik Andri lalu Dita menarik tangan Anita.


"Mbaknya kenapa yak?" bisik dua orang perempuan yang melihat aneh cara berjalan Dita.

__ADS_1


"Stres kayanya." ucap perempuan satunya.


Pintu lift terbuka.


"Astagfirullah si kakek masih aja nungguin lift." Dita bersembunyi di balik tubuh Andri.


"Eits jangan maju jangan maju." Anita menghalangi hantu kakek tangan buntung itu agar tak maju.


Hantu kakek itu malah bertambah maju dan tersenyum nakal ke arah Anita.


"Genit banget ih si kakek, besok kita bawa perban Ta, biar gak netes gini darahnya."


"Kamu aja yang perban aku mah ogah." sahut Dita.


Langsung berlari keluar saat pintu lift sudah terbuka.


"Kenapa sih Ndri ?"


"Sandra pendarahan kayaknya anak aku mau lahir deh."


"Apa? kan belum bulannya."


"Gak tau tadi dia berdarah terus ibu bawa dia kesini tadi pagi."


"Ayah kamu sama siapa di rumah?"


"Sama suster yang di sewa ibu buat jagain ayah."


"Ini ruangannya?"


Andri mengangguk. "Tanyain Ta, kondisi Sandra."


"Kamu art nya dokter Dewi kan?" tanya suster yang bernama Cindi itu.


"Iya."


"Tuh kan aku sering lihat kamu sama dokter Dewi. Hai aku Cindi."


"Hai sus, aku Dita."


"Tadi nanya apa?"


"Pasien ini hamil Sandra namanya katanya pendarahan terus kondisinya gimana sekarang?"


"Oh pasien yang tadi pagi yak, masuk aja asa ibunya yang nunggu di dalem."


"Kan belum jam besuk emang boleh?"


"Boleh kok, dia ada diruang VIP nomor 415."


"Oke deh makasih suster cindi."


"Eh Dita tunggu, kamu dekat sama pak Manan kan?"


"Eh kok tau sih, iya aku pa..."


"Nah bener kan deket, aku mau minta nomor telepon nya dong, boleh yak? dia belum punya pacar kan? iyalah orang baru sadar dari koma masa udah punya pacar aja hehehe."


Jleb...

__ADS_1


rasanya tuh aku langsung terjun bebas ke lantai dasar kena muka duluan denger kaya gini. Belum pernah di godain om item nih kayanya suster mau ngajak ribut aja nanyain telepon Anan.


"Dih susternya pede banget." sahut Anita.


"Perasaan laki banget sih Anan ya, cakep dari mana coba?" Andri menimpali Anita.


"Cakep lah Ndri, mata mu picek kali bilang Anan gak cakep."


"Cakepan gue Nit, liat nih gue." Andri bercermin di jendela ruangan suster.


"Eh iya bayangan gue udah gak nampak yak."


"Hahahaha pede abis parah."


"Boleh ya, Dita please..?" tanya Cindi lagi.


"Aku gak bawa handphone gak tau nomor telepon nya."


"Bentar, aku minta nomor telepon kamu yak?"


Cindi menyodorkan ponselnya ke Dita.


Dita mengetik nomor sembarang di ponsel cindi.


"Kok gak bisa wa Ta?"


"Coba sini takut salah nomor."


Dita mengetik ulang kembali nomor ponselnya dengan benar kali ini ke penyimpanan ponsel Cindi, rasanya tak mungkin membohongi Cindi kali ini.


"Oke ceklis dua nanti kamu balas ya chat aku, thanks Dita."


"Sabar Ta orang sabar pantatnya lebar." ucap Anita sambil terkekeh.


"Ko aku bete ya Nit?"


"Iya lah orang kamu cemburu sih hahahah."


"Tenang aja Ta, jodoh mah gak kemana." Andri merangkul bahu Dita dan Anita.


"Berasa tuan tanah yang jalan sama dua istri ya Ndri?" Anita melirik Andri kesal.


"Iya bener hehehe."


Bug... Dita menyikut perut Andri.


"Awww sakit Ta, herannya kok cuma elo yang bisa nyentuh kita ya Nit?" Andri memegangi perutnya.


"Kalau pake golok terus aku tebas bisa gak ya?"


Dita melirik ke bawah perut Andri, paham dengan lirikannya Dita Andri menutupi bagian sensitif nya itu.


"Paham Ta, paham, jangan coba-coba yak hehehe."


*****


To be continued...


Happy Reading guys 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2