
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Gimana Tante keadaan pak Kevin?" tanya Dita.
"Hmmm kata dokter Bambang sih kemungkinan dia gegar otak ringan tetapi ingatannya balik ke waktu kejadian paling mengecewakan buat dia ya mungkin itu di tinggal istrinya jadi dia gak mau ngerasa di tinggal istrinya terus memori nya balik lagi deh dan dia nyangkanya aku istrinya."
Tante Dewi berusaha menjelaskan ke Dita dan Anan.
"Hmmm modus kali Tante biar bisa deket tuh sama Tante." ucap Anan.
"Tapi udah di cek sih Nan dan emang sepertinya kita para tim dokter percaya sama keadaan dia."
"Terus gimana nih, jangan - jangan kecelakaan pak Kevin di sengaja nih sama si pembunuh pak Herdi?" sahut Dita
"Bisa jadi Ta, karena harta warisan itu kan." Anan menimpali.
"Hmmm kita harus ekstra jagain pak Kevin kalau gitu." ucap Tante Dewi menegaskan.
"Oh tenang, nanti ada kak Herdi yang jagain dia, tapi sebaiknya ya kita laporkan ke kepolisian aja Tante soal dugaan kita biar pak Kevin ada yang jagain, apa sewa bodyguard gitu." Dita memberi ide.
"Ide bagus Ta, sewa bodyguard aja tuh, terus yang bayar siapa?"
"Anan."
"Kok aku, kenapa gak pakai uang pak Herdi aja." protes Anan.
"Oh iya nanti aku minta sama pak Herdi kartu sakti nya buat ambil duit hehehe." ucap Dita.
"Tante mau makan siang dulu ya, laper nih."
"Tunggu Tante, jadi mau pura - pura jadi istri pak Kevin nih cie... cocok juga lho Tan sebenernya." Dita menggoda Tante Dewi.
"Apaan sih, sana - sana aku mau cari makan nih laper!" Tante Dewi bergegas meninggalkan Anan dan Dita.
"Kan kita mau minta ijin Ta."
"Oh iya lupa aku Nan, ya udah nanti aja, sekarang aku mau makan siang terus beli baju jadi kita nge-mall yuk." ajak Dita.
__ADS_1
"Ok deh."
"Tunggu aku cari Anita dulu sama Doni biar pada ikut." Dita menarik lengan Anan mencari Anita dan Doni.
"Woy... dia pada mesra - mesraan disini." Dita mengejutkan Doni dan Anita.
"Yeee ini lagi ngolesin Doni salep buat benjolnya." ucap Anita
"Dilihat orang si Doni meringis sendiri gitu dikira gila nanti nih anak."
"Iya nih kak, saya dipaksa gini." sahut Doni.
"Udah diem aja." Anita masih sibuk mengoles salep di benjolan kepala Doni.
"Aduh sakit Anita." pekik Doni.
"Ayo buruan katanya mau makan sama cari baju!" ajak Anan.
"Wah bilang dong dari tadi." Anita menepuk benjolan Doni.
"Adaw sakit tau Nit huhuhu."
"Maaf Don abisnya gemes mirip tombol kuis di tv yang dipencet lampunya nyala wkwkwkwkw." Anita tertawa kegirangan.
"Dih gak jelas, garing Nit." sahut Dita lalu menggandeng lengan Anan menuju parkiran.
"Doni...!" teriakan suara perempuan yang dikenal semuanya memanggil Doni dari kejauhan.
"Perasaan ku gak enak Nit." ucap Dita.
"Ho oh Ta, kenal banget aku sama nih suara." Anita dan Dita menoleh bersamaan.
"Ya kak." ucap Doni membalas panggilan Shinta.
"Mau kemana?" tanya Shinta.
"Mau ikut pak bos, makan siang." jawab Doni.
"Aduh kenapa ngomong sih Don." Anita menoyor benjolan di kepala Doni.
"Aduh sakit." pekik Doni.
"Ih kamu kenapa lagi sakit sendiri gak jelas mana benjol gitu." ucap Shinta melihat benjolan di kepala Doni dengan seksama.
"Aku ikut boleh gak pak Manan?" pinta Shinta memelas pada Anan dengan tatapan manjanya.
"Emmm... gimana ya?" Anan menoleh pada Dita.
__ADS_1
"Kita mau cari gaun pernikahan lho Shin." ucap Dita.
"Hah?? menikah??"
"Iya, sama cincin juga, ya kan sayang?" Dita menoleh ke Anan dengan senyum mautnya yang manis.
"Iya, iya." sahut Anan.
"Serius kalian akan menikah?" tanya Shinta memastikan.
"Iya Minggu depan." sahut Dita bangga.
Hmmm gue harus cari dukun pelet nih, gak rela gue kalau Pak Manan nikah sama nih cewek busuk, gak pantes banget lah, harusnya gue yang nikah sama pak Manan gua kan sama pak bos serasi, cocok dan berjodoh.
Shinta memandangi Dita dengan tatapan kesal dan merendahkan.
"Syukurin, syok kan tuh denger Anan sama Dita mau nikah, cakep banget Ta suka banget sama ucapan mu barusan." sahut Anita.
Doni memandang Shinta dengan tatapan kasihan. "Kak, kok bengong, kak?" Doni mengguncang bahu Shinta.
"Eh enggak Don, lagi mikir aja."
"Mikir apa kak?"
"Aku gak jadi ikut yak, baru inget ada urusan." ucap Shinta langsung berlalu pergi melambai kan tangannya hanya kepada Anan.
"Lah tumben dia langsung pergi, kirain bakalan ngikutin Anan nemplok kaya lintah." sahut Anita.
"Sudah dong, kasian kakakku jangan kau hina terus." ucap Doni.
"Eh Don, kamu tuh harusnya sadar kakakmu itu nyebelin terus..."
"Nit, udah yuk gak usah di lanjutin kita hargain Doni." Dita memotong ucapan Anita.
"Hmmm okelah Ta."
"Kalau enggak ada Doni baru kita gibahin lagi si Shinta hehehe." bisik Dita tertawa merangkul Anita lalu mereka masuk ke dalam mobil Anan menuju mall XX, mall yang terdekat dari lokasi rumah sakit milik keluarga Anan.
***
To be continued...
Crazy up... spesial buat pembaca setia Pocong Tampan yang tercinta... 😘😘😘
Jangan lupa crazy vote juga dong buat novel ini biar Vie makin semangat dan sering - sering crazy up buat kalian... Jangan lupa tiap bab juga di like lho jangan dilewatin yak...
Love you all... 😘😘😘
__ADS_1