Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Gunung Hijau (Part 2)


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up. Vie mohon dong, mohon banget, jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh.


Mampir ke 9 Lives ya sama Diculik Cinta.


Butuh dukungan viewer, like, dan komen di sana. Bintang lima juga jangan lupa hehehe...


Happy Reading...


******


Setelah pemakaman Samanta, keluarganya memilih untuk pindah. Desas-desus mulai terdengar tentang kematian Samanta. Gosip beredar bahwa Logan yang telah membuat Samanta mati bunuh diri. Padahal hubungan keduanya baik-baik saja.


Logan memilih pergi dari kota itu untuk melupakan kenangannya pada Samanta. Dia tak pernah tau mengenai kejahatan yang dibuat Mark beserta Ayahnya terhadap kematian Samanta.


***


Kembali ke Gunung Hijau, di mana Tasya sedang berjalan mondar-mandir mendengarkan penuturan Logan.


"Udah," ucap Logan.


"Hah? cuma begitu doang? gak ada terusannya lagi?" tanya Tasya.


"Memangnya kamu pikir cerita saya ada jilid duanya, emang cuma segitu, kok."


Sebenarnya Tasya sempat berpikir untuk menuduh Tuan Worm. Namun, karena Logan adalah anaknya Tuan Worm, ia tak tega untuk mengatakan yang sebenarnya. Tujuannya kini adalah mempertemukan Logan dan Samanta dengan bantuan Dita.


"Kita pulang besok, kan?" tanya Tasya.


"Ya, karena kejadian tadi, pemilik sekolah memberi perintah untuk memulangkan rombongan semuanya, agar tak terjadi hal-hal yang tak di inginkan," jawab Logan.


"Oke, bagus kalau gitu, aku mau kamu ke rumahku," ucap Tasya.


Logan langsung berdiri dan mendekat ke arah Tasya.


"Apa itu undangan informal antara wanita dan pria ke arah lebih lanjut?" tanya Logan sambil tersenyum menggoda Tasya.


"Hmm... coba sini mendekat," pinta Tasya.


Logan langsung memajukan wajahnya mendekati wajah Tasya.


Tuk tuk.


Tasya mengetuk kepala Logan dengan kepalan tangannya.

__ADS_1


"Perasaan masih punya otak, tapi mulai gak waras," ucap Tasya mencibir Logan.


"Kok gitu sih ngomongnya, kan saya cuma usaha aja, Sya. Siapa tahu saya bisa mendekati kamu, soalnya sifat kamu, perilaku kamu mirip banget sama Samanta," ucap Logan.


"Heh, jangan sama-samain aku sama dia, ya. Jelas-jelas dia mah rambutnya kepang dua, dan matanya besar gak sipit kayak aku," ucap Tasya.


"Kok, kamu kenal sama Samanta?" Logan memegang kedua pundak Tasya dengan erat.


"Dia, eng... Dia ada di kamar Nenek Rose, makanya aku mau kamu ke rumah buat ketemu sama dia, soalnya dia pas jadi hantu, hilang ingatan," ucap Tasya.


"Kamu gak bohong kan, Sya?" Logan makin mendekatkan wajahnya ke wajah Tasya.


Brak!


Pak Herdi langsung membanting pot bunga di hadapannya ke arah Logan dan Tasya mengejutkan keduanya.


"Ummm... udah ya Logan, aku mau tidur, sebaiknya kamu juga, kamu gak mau kan digangguin pocong ngamuk?" Tasya langsung menepis tangan Logan dan melangkah pergi meninggalkan Logan yang masih memasang wajah takut melihat pot bunga itu sampai dikakinya berserakan.


Logan langsung berlari meninggalkan tempat itu. Sementara Pak Herdi masih saja tertawa terbahak-bahak sampai ia terhenti karena melihat sesuatu. Kakek Kanibal itu sedang mengamati area perkemahan dari balik pepohonan.


"Wah gak bisa dibiarkan ini, kalau sampe dia macam-macam, liat aja akan saya habisi kakek itu." ucap Pak Herdi.


Setelah satu jam mengamati sekitar, Kakek Kanibal itu tiba-tiba melangkah mengendap-endap ke arah perkemahan. Tenryata ia mendekati kamar yang dihuni Anta. Ia mencoba membuka pintu kamar yang terkunci itu dengan sebuah jepitan pembuka kunci.


"Apaan sih...?" Tasya menarik ikatan kepala Pak Herdi dengan kesal.


"Heh! apa-apaan ini masa berani-beraninya Pak Herdi..."


Pak Herdi langsung membekap mulut Tasya dan menyuruhnya diam.


"Ada apa?" bisik Tasya.


"Ada Kakek Kanibal di depan pintu, sepertinya dia mau membawa Anta atau Minnie," ucap Pak Herdi.


"Astaga, benarkah itu, sebentar aku coba hubungi kantor polisi setempat," ucap Tasya lalu meraih ponselnya.


Pintu kamar itu perlahan terbuka dan masuklah si Kakek Kanibal. Ia lalu mengincar tubuh Anta dan berusaha untuk membopongnya. Namun, tubuh Anta langsung berubah menjadi Pak Herdi yang tersenyum menyeringai ke arahnya.


Kakek itu langsung terkejut dan menjatuhkan Pak Herdi ke lantai seketika sambil berteriak. Ibunya Minnie, Anta dan Minnie langsung terbangun dan menyalakan lampu.


"Aaaaaaa..." Ibunya Minnie langsung menghajar si Kakek itu dengan gagang sapu yang berada di ruangan itu.


Tasya juga ingin memukuli si Kakek namun ia bingung dengan apa dia memukulnya. Tiba-tiba hantu Ayahnya Minnie memberikan pembersih debu dengan gagang yang tadinya menggantung di dinding pada Tasya.


"Makasih, Om!" bisik Tasya lalu ia langsung ikut memukuli si Kakek dengan pembersih debu itu.

__ADS_1


"Stop...! kasian tau kakeknya," Anta mencoba mencegah. Namun, Anta malah memukul kepala si Kakek dengan vas bunga sampai jatuh ke lantai tak sadarkan diri.


"Astaga Anta..." pekik Tasya.


"Hehehee habisnya Pak Herdi kasih ini ke tangan Anta buat pukul kepala si Kakek, katanya biar cepet," ucap Anta seraya meringis menunjuk ke arah Pak Herdi yang ikut meringis juga.


"Pak Herdi siapa ya?" tanya Ibunya Minnie.


"Udah pokoknya cepetan panggil Logan dan penjaga vila, Nyonya!" Tasya memerintahkan Ibunya Minnie sekaligus mengalihkan pembicaraannya dari pertanyaan tentang Pak Herdi.


Ibunya Minnie langsung bergegas memanggil Logan untuk menuju ke kamarnya. Akhirnya Kakek Kanibal itu dapat diamankan segera oleh pihak berwajib.


"Perasaan saya jadi lega, karena tadi sempet cerita sama penjaga perkemahan kalau Nenek Kanibal tadi punya suami, saya jadi kepikiran dong sama si Kakek, takut balik. Eh ternyata benar dia balik dan membahayakan nyawa anak- anak," ucap Logan dengan nada lega yang terdengar.


"Iya, bener aku juga jadi lega," sahut Tasya.


Akhirnya kegaduhan malam itu terhenti dan Logan memerintahkan semua anak-anak dan para wali murid kembali ke kamar masing-masing dan merapihkan barang-barang karena besok mereka akan pulang.


Sekali lagi Tasya berterima kasih pada Pak Herdi yang sudah siaga menjaganya. Setelah Ibunya Minnie, Minnie dan Anta tidur, Tasya merebahkan tubuhnya di kasur lantai.


"Kok, kamu gak tidur bareng Anta?" tanya Pak Herdi yang duduk di samping Tasya.


"Anta mah tidurnya semaunya bisa satu kasur penuh, gak anteng kayak si Minnie," sahut Tasya.


Tiba-tiba Tasya menahan tangan Pak Herdi untuk kembali duduk menemaninya sebelum ia menghilang.


"Minnie aja tidurnya dijagain Ayahnya, masa kamu gak jagain aku sama Anta," ucap Tasya. l


*******


Bersambung...


Mampir juga ke :


- 9 Lives (Jilid II - On Going)


- Diculik Cinta (On Going)


- With Ghost (END)


- Gue Bukan Player (END)


- Kakakku Cinta Pertamaku (END - Musim Kedua hiatus 😁)


Vie Love You All... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2