
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Jangan bosen juga bacanya ya...
Happy Reading 😊😊😊
*****
Dita mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang ada di layar ponselnya.
"GILA PARAH...!! ELO UDAH NIKAH SAMA ANAN???"
pekik Andri tak percaya saat melihat foto pernikahan Dita dan Anan.
"Lo udah nikah sama Anan?" tanya Andri menegaskan lagi.
"Harusnya gitu."
"Kok, harusnya gitu? emang kenapa?"
"Karena Anan lupa sama aku, terlalu rumit untuk aku ceritakan dari awal bisa sampai sepuluh bulan purnama baru kelar, hehehe..."
"Kenapa lu gak ngomong sama Anan?" tanya Andri.
"Dia gak akan percaya, percuma di paksain kalau emang jodoh juga nanti balik sama aku," jawab Dita.
"Kalau dia merit sama Hyena gimana?"
"Kamu bilang kan Anan kepaksa pacaran sama Hyena, jadi gak mungkin juga kan dia nikah kepaksa, kalau sampai kejadian kayak gitu, buku nikahnya nanti aku tunjukin, sekarang aku maunya Anan inget aku dengan sendirinya, paham?" Dita memandangi jendela restoran tersebut.
Tiba-tiba sosok hantu nenek tanpa tangan muncul di balik jendela menempelkan wajahnya yang menyeramkan.
"Astagfirullah... kan aku lupa kan, aku pamit ya," ucap Dita pada Andri menuju keluar restoran burger tersebut.
"Kau bilang akan membantuku?" hantu nenek tersebut sudah menagih janjinya.
"Ini aku inget kok, buktinya aku sampai kan kesini, emang mau minta bantuan apa?" tanya Dita.
"Tolong cariin cincin nikah saya," pinta hantu nenek itu.
"Mau cari dimana nek, tangannya aja gak ada gitu?" tanya Dita dengan serius memperhatikan tangan nenek tersebut yang meneteskan darah.
"Nek mode cantik apa nek, jangan serem kayak gini," Dita merengek.
"Kau pikir hantu macam apa aku bisa mode cantik, menjatuhkan harga diri hantu saja."
"Buahahahha udah jadi hantu gak usah gengsi apa, belum liat sih saya punya temen hantu, bentar ya nanti sa..."
"Dita... elu ngapain di situ?" Anan yang baru sampai menggunakan ojek online menegur Dita.
"Kok udah pulang? bukannya tadi kamu..."
"Aku kabur, males gue ketemu papinya Hyena, eh dia gak ganggu elu kan?" Tanya Anan yang langsung bersembunyi di balik tubuh Dita.
"Lah kalau dia gangguin aku emang kamu berani apa ngadepin dia?" tanya Dita yang tersenyum senang saat melihat tangan Anan berada di atas kedua bahunya.
"Ya gak berani lah, makanya ayo masuk!" ajak Anan masih ketakutan.
"Gak bisa, aku harus bantuin dia katanya minta cari cincin pernikahan dia," ucap Dita.
"Gimana cara carinya? tangannya ada gak ada, lagian kalau ketemu dia mau pake dimana itu cincin,"
ucap Anan yang makin meninggi suaranya di samping telinga Dita, mengganggu pendengaran perempuan itu seketika.
"Aduh pengeng nih, jangan marah-marah sama aku sama nenek itu coba sama tanyain..." ucap Dita menantang Anan.
"Idih... elu aja sana yang nanya!" perintah Anan.
"Heh kenapa kalian malah bertengkar?" tanya hantu nenek itu.
"Kita enggak bertengkar nek, cuma ribut selisih paham," sahut Dita.
"Sama aja Ta..." Anan mendorong bahu Dita pelan lalu menahannya kembali.
"Sudah bantu saya cari cincin pernikahan saya, karena saya ingin menyerahkannya pada cucu saya sebagai hadiah pernikahannya kepada calon istrinya nanti," ucap hantu nenek itu yang tiba-tiba terlihat sedih.
"Bagaimana kami mencarinya nek?" tanya Dita.
"Di belakang restoran ini ada tempat pembuatan sosis kan?"
Dita dan Anan langsung melongok tembok pembatas itu berbarengan sambil berjinjit.
"Ada ya Ta?"
"Iya ada," sahut Dita.
"Saya bekerja di sana, saya mengalami kecelakaan kerja saat itu, saya terpeleset lalu masuk ke mesin potong dan kehilangan kedua tangan saya. Karena saya kehilangan banyak darah, saya tak kuat lagi lalu..."
"Meninggal."
Sahut Dita dan Anan berbarengan.
Dita mengusap air matanya di jaket baseball Anan membuat laki-laki itu menoleh pada Dita dan menarik jaketnya.
"Sedih Nan, habisnya gak ada tisu," sahut Dita.
Anan menyodorkan jaketnya kembali pada Dita dan akhirnya melepas jaketnya untuk Dita.
Sroootttt....
Anan menatap Dita tajam saat melihat Dita menggunakan jaketnya untuk pembuangan ingus.
__ADS_1
"Nanti aku cuci hehehe," ucap Dita menunjukkan gigi putihnya yang sejajar saat meringis.
"Jadi nenek mau kita pergi ke tempat pembuatan sosis itu lalu mencari cincin nenek?" tanya Anan.
Hantu nenek itu mengangguk, mengiyakan.
"Ya udah yuk kita cari!" ajak Dita.
"Bentar, elu pikir gampang apa kalau kita cari, kalau cincin itu nyampur sama daging gimana? terus udah jadi sosis, lah kaya undian berhadiah aja beli sosis dapet cincin nenek, iya kalau cincin doang kalau ada potongan jarinya gimana hayo? masa iya kita beli semua sosisnya, kalau udah sampai di penjual apa supermarket, apa mini market kamu gimana?"
Tanya Anan bertubi-tubi pada Dita.
"Heh, bawel amat sih belum juga aku jawab pertanyaan yang satu, ini udah nanya lagi, nanya lagi hadeh..." Dita menepuk dahinya sendiri.
"Itu bukan mesin potong daging tapi mesin potong kemasannya, kalian hanya harus kesana untuk mencari cincin ku, ajak cucu ku agar bisa ijin masuk kesana!" ujar hantu nenek tersebut.
"Nah...!!"
Anan mengejutkan Dita dan hantu nenek itu berbarengan.
"Jangan ngagetin apa..." Dita menepuk bahu Anan.
"Maksud Gue, sekarang cari cucu nenek dimana?" tanya Anan.
"Kamu cari Dewa ya..."
"Nyari Dewa? sampai ke langit dong nek hehe?" Anan memotong ucapan si nenek.
Nenek tersebut mendekat menghampiri Anan.
"Jangan bercanda makanya," Dita menepuk lengan Anan dengan kencang kali ini.
"Sakit Ta...! Iya nek, ampun nek, jangan deket-deket." cegah Anan.
"Dewa nama cucu aku, dia tinggal di apartemen Anggrek, lantai enam nomor 605," ucap nenek tersebut.
"Oh gue tau tuh alamat, nanti gue kasih tau Ta, elu tinggal ke sono cari Dewa," ucap Anan menepuk bahu Dita.
"Ih kok aku doang yang kesana ya sama kamu lah," sahut Dita.
"Iya kamu harus temani dia atau aku akan menghantui kamu kemana pun," ancam hantu nenek itu.
"Hiy... Oke deh gue temenin lu biar gue gak di hantuin tuh nenek," ucap Anan akhirnya.
"Terima kasih nak," hantu nenek itu pergi ke sudut gang lalu menghilang.
"Ayo kita kesana!" ajak Dita.
"Besok aja deh, sekarang udah siang tau, lumayan jauh lho kalau kesana dan butuh waktu satu setengah jam naik bis, kalau naik motor, ya bisa satu jam, tapi motor gue kalau buat berboncengan ngambek keberatan," ucap Anan.
"Aku sih terserah ya biasa aja kalau tuh nenek ngikutin, tapi kalau kamu sanggup di ikutin dia ya udah," Dita melangkahkan kakinya menuju jalan raya.
"Eh iya tunggu, ya udah aku ikut sekarang kita kesana naik bis," ucap Anan menahan lengan Dita dan menggenggam tangan kanannya.
"Mahal... naik bis aja," sahut Anan.
"Aku yang bayar tenang aja sih," ucap Dita.
"Gue gak pernah di bayarin cewek ya, cuma Hyena yang pernah bayarin gue pas di rumah sakit, tapi itu juga bakal gue cicil."
Wajah Anan berubah jadi ketus dan terlihat kesal.
"Oke kalau itu mau kamu kita naik bis," ucap dita.
Anan tanpa sadar menggandeng tangan Dita menuju halte bis. Dita membiarkan sikap Anan tersebut sambil tersenyum senang.
"Tuh bisnya pas banget lewat, eh maaf ya," Anan sadar dan melepas genggaman tangannya di tangan kanan Dita.
"Gak apa kok,"
ucap Dita memandangi tangan kanannya itu dan tersenyum senang seolah-olah seorang artis idola baru saja menyentuh tangannya.
Keduanya lalu menaiki bis yang akan melintasi apartemen Anggrek.
"Lo pasti gak punya kartu bis ini kan?" tanya Anan.
Dita menggeleng, "Adanya uang tunai," ucap Dita.
"Ya udah pake kartu gue aja," Anan menggesek kartunya dua kali saat menaiki bis tersebut.
Dita mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Tasya.
"Sya aku pulangnya sorean ya, tolong jagain Anta, nanti aku telepon tante Dewi buat pulang kesitu nemenin kamu," ucap Dita..
"Emang kamu mau kemana Ta?" tanya Tasya dari seberang sana.
"Aku terpaksa harus menolong hantu nenek yang di gang restoran Anan, nanti aku ceritain deh."
"Kamu kan sendirian Ta, nanti kamu nyasar gimana lho?"
"Aku sama Anan kok," sahut Dita.
"Oh... paham deh kalau gitu, hati-hati ya," Tasya menutup sambungan telepon dari Dita.
"Dita kenapa Sya?" tanya Doni.
"Lagi kencan sama Anan hehehe," jawab Tasya.
"Oh iya, terus pada kencan kemana?"
"Nah itu, biasanya kan pasangan kencan ke taman, nonton, apa makan malam ya, nah ini kencannya nolongin hantu hahahaha, lucu ya?"
__ADS_1
Tasya tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa sakit.
"Iya lucu, kamu yang lucu Sya," Doni memandangi Tasya lebih dekat dengan berpangku tangan.
"Ih apaan sih, modus aja huuh." Tasya menepuk pipi Doni.
"Kamu jagain Anta ya," pinta Tasya menoleh pada Doni.
"Kan ada pak Herdi yang lagi nonton kartun bareng," sahut Doni.
Seorang gadis memperhatikan Tasya dengan perasaan aneh dan bingung mulutnya menganga, karena sedari tadi Tasya tanpa sadar berbicara dengan Doni yang tak bisa di lihat orang lain.
"Sya..." Doni memanggil Tasya.
"Oi..." Tasya menoleh ke arah Doni yang menunjuk ke gadis berseragam sekolah menengah atas yang berdiri di depan meja kasir.
"Eh... halo selamat datang," ucap Tasya.
"Ha-halo kak, tadi ngomong sama siapa?" tanya gadis itu.
"Oh... itu lagi latihan akting hehehehe bentar lagi saya mau syuting drama, percaya enggak kalau saya bisa jadi artis?" Tasya mengibaskan rambut panjang sebahunya.
Gadis tersebut menggeleng, lalu menyerahkan sekotak permen karet, roti coklat dan satu kaleng soda ke atas meja kasir.
"Gak percaya ya? Bagus kalau gitu," gumam Tasya dengan wajah menahan kesalnya.
***
Di dalam bis menuju apartemen Anggrek.
Kondisi penumpang dalam bis mulai penuh, seorang kakek naik dan Anan mempersilahkan kakek tersebut menempati kursinya yang berada di depan Dita.
Duh masih baik hati banget sih Anan-nya aku, unch gemes banget sih yanda.
Dita memandangi Anan dengan takjub tanpa henti. Posisi Anan kini berdiri di samping kursi Dita. Tiba-tiba bis berhenti mendadak karena ada kucing yang berlari begitu saja menyeberang. Anan tak bisa mengendalikan posisinya lalu terjatuh ke pangkuan Dita. Keduanya bertatapan saling terkejut lalu terpaku seolah waktu terhenti.
"Ehem... ehem..." seorang pria berambut panjang di kuncir sebahu dan menggendong tas berisi gitar di punggungnya yang tadi berdiri di samping Anan, berdehem memandangi Anan dan Dita.
"Duh berat tau!" ucap Dita membuat Anan tersadar lalu kembali berdiri sambil menahan malunya meski kedua pipinya dan pipi Dita sudah merona bersamaan.
Ini kenapa hati gue deg deg ser gini sih kalau deket Dita? apa jangan-jangan gue... ah dia kan istri orang mana boleh gue punya pikiran macem-macem ke dia.
Anan terdiam memandangi Dita. Namun, ketika Dita menoleh padanya, ia buru-buru membuang mukanya menatap ke arah lain.
Keduanya sampai di halte bis seberang apartemen Anggrek. Anan dan Dita turun di halte tersebut bersama si pria gondrong tadi.
Bug...
Dita tersenggol tas gitar si pria berambut gondrong tadi, yang kini tersenyum genit ke arahnya.
"Mau kemana?" tanya pria tersebut menyapa Dita.
"Mau kesana," Dita menunjuk apartemen Anggrek di seberangnya.
"Oh... kebetulan kalau begitu, gimana kalau kita bareng? saya juga mau kesana lho," ucap pria tersebut mengedipkan satu matanya.
"Eh, itu kenapa matanya mas? kelilipan yak?" Tanya Dita sambil menunjuk mata pria tersebut.
"Iya nih saya kelilipan, kelilipan cinta kamu, eyaakkk ...." ucapnya sambil tertawa kegirangan.
Dita dan Anan menatap pria tersebut dengan perasaan garing tak merasa terhibur. Pria itu makin mendekat ke arah Dita, membuat wanita itu merasa sangat risih saat berjalan di pepet seperti itu.
"Itu pacarnya ya?" tanya pria itu melirik ke arah Anan.
"Iya, saya pacarnya kenapa?" Anan menantang si pria berambut gondrong itu sambil menyela keduanya dan berada di antara Dita dan pria genit tersebut.
"Biasa aja kali bro, ok deh kalau gitu saya duluan, eh cantik, kalau udah putus hubungi saya di nomor ini ya, saya siap gantiin dia," ucapnya menyerahkan kartu nama pada Dita dan sengaja membenturkan tas gitarnya ke bahu Anan lalu pergi dengan langkah cepat.
"Wah ngajak ribut tuh orang, sengaja banget tuh banci nabrakin gitarnya ke gue," Anan bersungut-sungut sambil menunjuk ke arah pria gondrong yang pergi menjauh menuju apartemen Anggrek.
"Udah sih diemin aja kalau dia makin berlebihan isengnya, baru tadi saya mau tarik gitarnya terus pukul ke hidungnya," ucap Dita penuh semangat.
"Wuidih serem juga ya Ta," sahut Anan.
"Eh bentar, ini di kartu namanya tertulis Sadewa Bujana, gitaris band blackdog, wah alamatnya sama bener nih dia Dewa, anaknya hantu nenek tangan buntung," Dita menepuk bahu Anan berkali-kali sampai meringis kesakitan.
"Eh maaf ya, maaf banget habis kalau gemes suka gitu, yuk kita kejar dia," ucap Dita.
"Udah biarin, santai aja nanti juga ketemu di rumahnya," sahut Anan.
Kok gue berasa dejavu gini sih kayak pernah jalan sama Dita naik busway gini.
gumam Anan.
****
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
To be continued...
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
- 9 Lives (END)
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Vie Love You All 😘😘😘