
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading 😊😊😊
******
Hantu itu lalu berdiri dan mau menghampiri mobil Sahid dengan wajah menyeramkan penuh luka sayat di wajah dengan darah bercampur nanah.
"Sahid jalan sekarang! cepetan...!!!" Dita menepuk bahu Sahid berkali-kali.
Sahid menurut pada Dita dan langsung tancap gas segera, mobilnya menembus hantu perempuan itu.
"Minum dek, mukanya syok banget itu," Anan meraih botol minum di selipan kursi belakang Arga.
Sahid sempat melirik ke arah Anan mengamati perlakuannya pada Arga.
"Baik juga laki-laki ini," ucap Sahid dalam hati.
Arga meraih botol tersebut dan menenggak isinya sampai habis.
"Pelan-pelan minumnya, Ga," ucap Sahid. Arga meletakkan botol itu ke dashboard depan.
"Berhenti depan situ, itu mini market aku," ucap Dita menepuk bahu Sahid.
"Oke."
Sahid menghentikan laju mobilnya lalu ikut turun bersama Arga mengantar Dita.
"Ngapain sih ikut turun?" tanya Anan dengan ketusnya menatap Sahid dengan tatapan tajamnya.
"Saya mau antar Dita," sahut pria kekar itu.
"Gak usah, gak baik nganterin istri orang udah sana pulang!" ucap Anan.
"Anan... kamu tuh ya bukannya bilang makasih sama Sahid dan Arga," Dita menepuk bahu kiri Anan dengan kencang.
"Aduh... iya iya, makasih ya udah di antar pulang!" ucap Anan sambil mengusap bahunya yang terasa panas.
"Biasa aja kali gak usah nge gas!" Sahid membalas tatapan Anan dengan tajam.
"Saya pulang ya Ta, besok kita main kesini boleh kan?" tanya Sahid.
"Iya aku mau main abi, tuh ada stand burger sepertinya enak kalau besok buka," sahut Arga menunjuk kedai mini milik Anan.
"Oh iya dong pasti enak!" ucap Anan dengan bangganya.
"Nah kebetulan, besok pembukaan kedai barunya Anan, jadi besok Arga bisa sepuasnya makan di sini dan gratis," ucap Dita mencolek pipi Arga.
"Eh kok gratis Ta?"
"Udah sih aku yang bayar." Dita melirik Anan.
"Asikkk oke besok kita datang lagi ya bi," Arga menoleh pada Sahid dengan tatapan permohonan yang khas darinya.
"Iya boleh, ayo pulang!" ajak Sahid.
"Takut ketemu hantu yang tadi Abi," ucap Arga masih ketakutan.
"Abi setel ayat kursi di mobil nanti biar gak di ikutin, ayo!" Arga akhirnya menuruti Sahid masuk ke dalam mobil. Mereka melambaikan tangan pada Dita.
"Ayo masuk!" ajak Anan.
__ADS_1
"Hah? masuk? kamu mau masuk ke sini?" tanya Dita heran.
"Oh iya lupa," Anan segera berbalik badan tapi Dita menahan tangannya.
"Mau masuk dulu, sebentar?" pinta Dita.
Tanpa persetujuan hati dan pikirannya yang berkecamuk malam itu tentang jati dirinya dengan Dita, kaki Anan begitu yakinnya melangkah mengikuti kaki Dita ke dalam rumah toko milik Dita.
"Duduk dulu, mau duduk di sini apa di lantai atas? aku mau buatin kamu cokelat hangat dulu," ucap Dita.
Tiba-tiba Anan menarik tangan Dita membawa tubuh Dita ke pelukannya.
Deg... Jantung Dita berdegup lebih cepat bersahutan dengan detakan jantung Anan.
Entah kenapa Anan ingin memeluk Dita, merasakan hangatnya tubuh Dita yang membuatnya makin menggila kala berada di dekat Dita. Mengetahui Dita adalah istrinya saja benar-benar membuatnya kegirangan, tapi ego di pikirannya selalu menutupi, karena ia belum bisa mengingat bagaimana pernikahannya. Hal tersebut selalu membuat Anan sangat frustasi dan mencoba menjauh karena masih menghargai Dita sebagai orang yang baru ia kenal.
"Nan, kamu kenapa?" tanya Dita dengan suara lirih.
"Panggil aku yanda, Ta."
"Apa?"
"Dan aku akan mencoba memanggil kamu dengan sebutan bunda, meski aku belum ingat semuanya, bantu aku ya Ta untuk mengingatnya," pinta Anan masih memeluk Dita.
"Kamu yakin gak akan lari lagi dari ikatan pernikahan kita? kamu yakin kamu siap untuk jadi yandanya aku, yandanya Anta?"
"Iya Ta, aku siap, aku tadi mikir banget pas di pohon itu, aku merem terus aku berdoa, aku minta kalau aku merem tolong tunjukkin jodoh aku, eh aku lihat kamu di pikiran aku," sahut Anan.
"Aih so sweet banget sih, hehe."
Dita menertawakan penjelasan Anan.
"Kamu ngapain sih ada di pohon tadi?" tanya Dita makin erat memeluk Anan kali itu.
"Warna ungu? hmmm... pantes aja kamu betah dan aman," ucap Dita mengingat Ratu Kencana Ungu yang ternyata masih menjaga Anan dan dirinya.
"Ta, eh bunda kita perlu akad nikah lagi gak?"
Dita melepas pelukannya dari Anan.
"Akad nikah lagi?" tanya Dita.
"Iya biar aku yakin aja dan bisa leluasa deket sama kamu," ucap Anan.
"Hmmm ya udah sekarang lamar aku lagi!" pinta Dita menantang Anan.
"Tapi aku gak punya cincin," sahut Anan.
"Bentar ya aku masih simpen," Dita bergegas menuju lantai dua mencari kotak cincin di dalam brangkas kecilnya.
"Nah ini aku masih simpen cincin kawin kita," Dita menyerahkan kotak perhiasan tersebut pada Anan.
"Tapi ini aku yang beli kan? uang aku?" tanya Anan.
"Iya itu kamu yang beli pakai uang kamu gengsi amat sih, ayo lamar!"
"Agresif banget Ta."
"Habisnya daripada lama, buruan!"
"Hmmm baiklah, Dita... eh siapa nama lengkap kamu?"
__ADS_1
"Hadeh... Anandita Mikhaela."
"Oke, Ananditha Mikhaela maukah..."
"Mau...!!!" sahut Dita langsung saja tanpa mendengar Anan selesai berbicara.
"Ah gak seru nih, dengerin dulu!"
"Iya iya, maaf..."
"Anandita Mikhaela, maukah kau menjadi istriku?"
Kedua pasang bola mata Dita dan Anan saling bertatapan, keduanya juga saling melempar senyum.
"Mau, aku mau menjadi istri mu, Ananta Prayoga," ucap Dita mantap dan yakin pastinya.
Anan dan Dita saling menyematkan cincin di jari manis masing-masing. Keduanya kembali tersenyum dan tertawa. Anan menggaruk -garuk kepalanya meski tak gatal.
"Kan biasanya kalau habis kasih cincin, terus..."
"Di cium... nih...!!!" Dita menyodorkan bibirnya maju beberapa senti, memonyongkan bibirnya ke arah Anan yang langsung tertawa melihat kelucuan Dita.
"Kok gak di cium?" tanya Dita heran.
"Kamu lucu ih, si Hyena pernah kayak gitu tau," ucap Anan.
"Hah, Hyena pernah kayak gini? terus kamu cium?" tanya Dita bertubi-tubi dengan nada kesal mulai cemburu.
"Ya enggak lah, aku tinggal pergi malah dia hahahaha."
"Yang bener?"
"Bener Ta, bener dah gak bohong," ucap Anan meyakinkan Dita.
"Hmmm oke deh aku percaya sama yanda aku, cintaku, kasihku, mmuaah!"
Anan menyentuh kedua pipi Dita dengan tangannya. Ia mendekatkan wajah Dita ke arah wajahnya. Hidungnya dan hidung Dita sudah saling bersentuhan.
"Ta, memangnya kamu... oh maaf saya gak tau kalau kalian hehehehe," Pak Herdi datang membuyarkan adegan romantis yang hampir tercipta dari Dita dan Anan.
"Hantu bungkus elu tuh ya..." Anan menarik ikatan pocong milik pak Herdi.
"Lepasin menyan!" Pak Herdi membalas memiting kepala Anan.
Keduanya bergulat dengan serunya di lantai.
"Ini gak apa di biarin aja?" tanya Noey yang agak takut melihat Anan dan Pak Herdi bergulat.
"Udah biasa tenang aja," ucap Dita.
****
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â 9 Lives (END)
__ADS_1
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Gue Bukan Player
Vie Love You All 😘😘😘