
Cuplikan episode 1.
Malam itu di tengah gemuruh suara petir dan hujan deras, seorang gadis berparas ayu sedang berjuang untuk bertahan hidup. Kaki ramping gadis itu melangkah menuju ke tempat persembunyian yang menurutnya aman. Ia bersembunyi di lemari bawah tangga tempat penyimpanan barang tak terpakai layaknya gudang kecil di dalam rumah besar itu.
Suara derap langkah kaki tercipta dengan sangat cepat menuruni anak tangga. Isak tangis seorang gadis bernama Alina itu terdengar sesenggukan. Ia mencoba menahan dengan membekap mulutnya sendiri. Rambut hitam sepunggung itu tersibak saat ia bersembunyi di dalam lemari bawah tangga. Ia menahan deru napasnya yang seolah akan menjadi bumerang baginya.
Kedua mata lentiknya gadis itu mencoba mengintip dari celah kedua pintu lemari bawah tangga yang sedikit terbuka itu. Gadis itu terperanjat saat melihat sosok tubuh perempuan mengenakan pakaian tidur terusan berwarna hijau muda yang ia kenal.
Sedetik kemudian, gadis itu berusaha menahan teriakan yang ingin terlontar kala ia melihat tubuh seorang wanita itu terlihat terbaring dengan bersimbah darah. Di punggung wanita itu penuh dengan luka hujaman senjata tajam. Lebih menyeramkan lagi kala ia lihat di punggung wanita itu masih tertancap sebuah cleaver knife di sana.
“Ma-Mama,” lirih Alina, ia masih mencoba menahan diri dan tak mengeluarkan suara.
Seolah kedua kakinya terpaku di dalam ruangan itu sampai tak bisa bergerak meski tubuhnya gemetar ketakutan. Suara ponsel terdengar di tangan sang mama. Sosok itu menarik paksa ponsel tersebut dan meletakkannya di meja kabinet di samping hiasan keramik koleksi sang mama.
__ADS_1
Wanita yang terbaring di lantai itu masih berusaha merangkak meraih ponsel yang berdering di atas meja itu, akan tetapi sebuah guci dijatuhkan oleh sosok misterius itu tepat mengenai kepala belakang sang mama.
Sosok misterius itu lantas menarik pisau di punggung wanita itu lalu mengarahkan ke arah leher wanita itu. Ia menebas leher korban bagai sang jagal yang menyembelih hewan ternak.
Kepala wanita dengan rambut ikal itu lantas menggelinding sampai ke depan pintu lemari bawah tangga, tempat Alina bersembunyi. Kedua mata itu seperti menatap kosong ke arah Alina yang masih bersembunyi seraya menahan isak tangis yang ingin meledak.
Tak lama kemudian, sosok misterius itu pergi. Terdengar suara pisau itu yang dibentur-benturkan ke pegangan tangga saat si pembunuh itu menuju ke lantai dua. Alina mencoba keluar dari tempat persembunyiannya dengan cara mengendap-endap.
Dering ponsel itu masih terdengar, tapi Alina tak bisa temukan ponsel tersebut karena sang sosok misterius telah menggenggam ponsel itu. Tak lama kemudian, suara dentuman keras bercampur dengan suara pecahan kaca membuat gadis itu tersentak dan langsung menoleh ke asal suara.
"Papa...." lirihnya.
Tubuh lelaki itu terbaring dengan luka gorokan yang menganga di leher. Darah segar mengucur dari luka tersebut. Ayahnya sempat menoleh ke arah Alina sebelum menutup kedua mata dan meregang nyawa. Air mata deras mengalir di pipi gadis itu.
__ADS_1
“Aaaaaaaa…!”
Teriakan seorang gadis kini terdengar dari lantai dua yang membuat Alina yakin kalau suara itu berasal dari adik perempuannya, Kaila. Gadis itu meraih sebuah patung dewa yunani kuno yang akan ia gunakan sebagai senjata. Ia melangkah dengan gemetar menaiki anak tangga. Ia bertekad untuk menolong adiknya.
Namun, dirinya kembali terkejut kala melihat adiknya satu lagi yang masih berusia satu tahun sudah tergantung tak bernyawa di depan pintu kamar orang tuanya.
“Adek...."
Linangan air mata mengalir di pipi gadis itu seraya menyentuh wajah adik kecilnya yang sudah membiru tak bernyawa.
*****
Eh cerita apa ya barusan?
__ADS_1
Itu judulnya DERING ya, jangan lupa kepoin cerita baru aku di Noveltoon.
Yang suka horor dan misteri cusss merapat, klik profile aku cari novel berjudul "DERING"