
Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.
Terima kasih and Happy Reading. 😘😊
*******
"Wah, selamat ya buat kalian, duh aku jadi kangen sama anak yang dikandungan Shinta, kira-kira sudah seperti apa ya dia," gumam Om Item.
Dita dan Anan saling berpandangan dan menebar senyuman. Sebentar lagi pasti Om Item akan senang bertemu dengan Shinta dan anaknya.
Dita dan Anan memilih menaiki tangga darurat karena lift terlihat penuh.
"Shinta... Bagaimana keadaan Lee?" Dita datang langsung menegur Shinta yang masih duduk merenung.
"Belum ada kabar, masih nunggu," jawab Shinta.
Ia mengamati sekeliling Dita mencari Anan, "Anan mana?" tanyanya.
"Oh, ada... Aku punya kejutan buat kamu."
"Kejutan?"
Tak lama kemudian Anan datang dari balik pintu tangga darurat dengan aura tampan yang membuat koridor itu bersinar. Di tangannya ada
"Maksudnya kejutannya ayam goreng di tangan Anan apa Anan yang ganteng itu buat aku?" tanya Shinta seraya meringis menahan tawanya setelah membuat Dita kesal.
"Belum pernah ya di getok pakai tong sampah itu kepala kamu," ancam Dita.
"Bercanda, Ta..."
"Makanya fokus, nah itu kejutannya... taraaaa..."
Sosok Om Item yang sudah berubah menjadi Oppa Lee datang dari balik pintu tangga darurat. Tadinya ia masih tersenyum dan tertawa saat berbincang dengan Anan lalu tawanya berhenti kala melihat Shinta.
"Anan, inikah kejutannya?" lirihnya.
Shinta bangkit dari kursi dan berdiri menatap tak percaya ke arah Om Item. Ia pikir makhluk itu sudah hilang ditelan bumi karena perbuatan dukun sakti di kampungnya dulu. Ternyata sosok yang selalu menari-nari di pikirannya itu masih ada dan kembali ke rumah lamanya.
Shinta menyeka bulir bening yang jatuh ke pipinya, begitu juga dengan Om Item. Rasa haru menyeruak di antara keduanya yang perlahan demi perlahan mereka melangkah maju saling mendekat.
Dita merangkul pinggang Anan menyaksikan adegan Om Item dan Shinta.
"Bentar lagi pasti romantis, huhuhu aku kangen sama kamu, aku cinta sama kamu, ya gak Nda?" bisik Anan.
"Iya lah, seru nih bentar lagi, siap-siap tisu ah," balas Dita dengan berbisik juga.
Shinta dan Om Item sudah saling bertatapan penuh haru. Tangan pria itu sudah berada di pipi Shinta dan menyeka air mata Shinta. Lalu...
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Om Item.
Bug!
Tendangan kaki Shinta mengarah ke perut Om Item yang langsung berlutut. Sekarang Shinta mengincar rambut Om Item dan menjambaknya dengan keras.
__ADS_1
"Kamu kemana aja, sebel ih bukannya cari aku sama Lee, kamu malah balik lagi ke sini, pasti cari cewek lain apa genderuwo lain apa jangan-jangan udah main sama kuntilanak, ya?" tuding Shinta.
Dita langsung mengusap wajahnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
"Kirain bakalan romantis, hadeh..." lirih Dita melirik ke arah Anan yang menahan tawanya sedari tadi.
"Maafkan aku, Shinta, maafkan aku..." Om Item terus saja menahan pukul Shinta yang kesal bertemu dengannya.
"Eh, udah, udah... ini rumah sakit gak enak kalau kedengaran ribut-ribut, sekarang fokus sama Lee yang ada di dalam," ucap Dita mencoba melerai keduanya.
"Lee? siapa Lee?" tanya Om Item.
"Anak kamu," sahut Shinta.
"Laki-laki atau perempuan?" tanya Om Item dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan.
"Laki-laki, ku beri nama Lee juga sama sepertimu," sahut Shinta.
Om Item langsung berubah ke sosok awalnya dan menembus masuk ke dalam ruang operasi.
Shinta dan Dita saling bertatapan penuh tanya.
"Apa yang dia mau lakukan?" tanya Shinta.
"Tenang aja, paling dia cuma liat anaknya doang," ucap Dita.
Tak lama kemudian, Dokter Halimah yang menangani si Lee balita keluar dari ruangan dengan wajah pucat. Terlihat jelas kebingungan di wajahnya saat itu.
"Apa yang terjadi, Dok?" tanya Shinta.
"APA? maksud Dokter gimana, terus Lee baik-baik aja kan?" tanya Shinta yang mengguncang kedua bahu Dokter Halimah itu.
"Shinta sabar, kamu yg tenang, kasian kan dokternya," cegah Dita berusaha untuk menenangkan Shinta.
"Saya juga gak tau, Bu... yang jelas anak Ibu sudah sehat dan kembali seperti semula," ucap Dokter Halimah.
"Ah... syukurlah..."
Tak lama kemudian para suster yang bertugas di dalam berlari berhamburan ke luar ruangan dengan ketakutan.
"Suster, ada apa? pada kenapa itu lainnya?" tanya Dokter Halimah menahan salah satunya.
"Anak itu, anak itu, anak itu terbang dokter, terus si Suster Siti lihat makhluk item gede banget lagi gendong anak itu katanya, hiyyyyy saya takut Dokter."
Suster Siti langsung berlari menyusul kawan-kawannya.
Shinta dan Dita melongok ke dalam, rupanya benar Lee kecil sudah berada di tangan Om Item yang mengendongnya dan memeluknya sambil tertawa-tawa.
"Oh... itu mah lagi digendong sama Ayahnya, pantes aja anak saya langsung sembuh hehehe," ucap Shinta.
Brug!
Dokter Halimah langsung jatuh ke lantai tak sadarkan diri saat melihat sosok Om Item, di tambah dengan penuturan dari Shinta yang membuatnya langsung syok.
"Yah, dia pingsan..." sahut Anan melihat ke arah dokter itu di lantai.
__ADS_1
"Bantuin Yanda, kita bawa ke ruang sebelah, terus urus administrasi, terus pulang yuk sebelum ada kehebohan lain terjadi," ucap Dita.
"Om Item, jangan kayak gitu dulu penampilannya, jadi manusia dulu, terus kasih Lee sama Shinta, masa iya mau kamu gendong gitu aja, manusia yang gak bisa lihat kamu tuh taunya Lee itu lagi melayang," seru Anan.
"Oh iya ya, aku lupa, nih sayangku..." Om Item menyerahkan Lee pada Shinta lalu membantu Anan mengangkat Dokter Halima ke deretan kursi pasien.
"Kalian pergi gih, biar kita urus Dokter Halimah, nanti kita jelasin dengan penjelasan logis aja ke dia," ucap Dita.
"Baiklah, terima kasih ya Dita," ucap Shinta.
"Maacih ita."
Semua langsung menoleh pada Lee yang tiba-tiba meniru ucapan Ibunya.
"Lee... udah bisa ngomong? wajahnya..." ucap Dita penuh takjub.
"Anak Mamah pinter banget." Shinta memeluk anaknya dengan erat dan menciumnya begitu juga dengan Om Item.
"Aaahhhh... Kalian benar-benar keluarga yang serasi, semoga selalu dalam kebahagiaan, udah sana cepetan pergi," ucap Dita.
"Terima kasih Dita, aku sayang kalian." Om Item melambaikan tangannya pada Dita dan Anan lalu pergi bersama Shinta dan Lee.
"Keluarga serasi? iya kalau bentuknya kayak gitu, kalau bentuknya genderuwo mah keluar yang hehehehe..." celetuk Anan.
"Udah sih urus dulu nih Dokter."
***
Setelah memberi penjelasan pada Dokter Halimah dan mengurus pembayaran biaya rumah sakit Lee, Dita dan Anan pamit pulang.
Sementara itu, Shinta memutuskan untuk bersama sejenak dengan Om Item menuju alamnya, ia nekat masuk ke dalam pohon besar di parkiran rumah sakit itu membawa serta Lee kecil.
Anan memesan taxi online untuk membawa mereka pulang ke Apartemen Emas.
Tiba-tiba, seorang perempuan memanggil Anan dari kejauhan saat Anan dan Dita hendak masuk ke dalam mobil taxi online yang sudah datang itu.
******
Bersambung...
Stay safe, stay health buat semuanya. Jangan lupa selalu cuci tangan dan pakai masker kalau ke luar rumah.
Mampir juga ke :
- 9 Lives
- Diculik Cinta
- With Ghost
- Forced To Love
- Kakakku Cinta Pertamaku
Vie Love You All... 😘😘
__ADS_1